
Tak lama Galaksi dan Sky pun sudah sampai di mansion mereka.
"Kau! Kenapa kamu malah mengikuti kami sampai sini?" tanya Galaksi, pasalnya musuhnya itu mengikuti dirinya sampai ke mansion yang dimana hanya dirinya dan orang kepercayaannya saja lah yang tau mansion itu.
Dan kali ini, musuhnya tau dimana letak mansion nya berada, sungguh Galaksi tak berpikir bahwa pria itu mengikutinya sampai ke sana, ia pikir pria itu sudah kembali ke negaranya.
"Hey bung, kau lupa, istrimu adalah keponakan ku, tentu saja aku mengikuti kemana keponakan berada. Karena aku ingin memastikan dia baik-baik saja," jawabnya.
Ah ya, kenapa Galaksi sampai lupa bahwa musuhnya itu adalah paman dari istrinya, dan saat ini mereka sudah menjadi keluarga.
"Ck, kau pikir aku tidak bisa menjaga istriku dengan baik apa," sengitnya.
"Jika kamu bisa menjaganya, maka kejadian kemarin tak mungkin sampai terjadi," telaknya.
Dan Galaksi pun hanya diam, lantaran yang dikatakan Steven benar adanya, ia kecolongan untuk menjaga istrinya itu.
"Kenapa kau diam saja? Ucapan ku benar kan," ledek Steven.
"Kau ... "
"Sudah-sudah, kalian ini! Bisa tidak jangan bertengkar mulu, berisik tau aku," sela Sky.
Dan kedua pria beda generasi namun sama-sama tampan dan gagah itu pun diam seketika.
"Kau mau masuk ke kamar, jika kalian masih ingin bertengkar, bertengkar lah, aku tidak perduli," sahut Sky, ia pun berjalan masuk kedalam mansion.
"Sayang tunggu," ucap Galaksi seraya mengejar istrinya itu.
Sementara Steven ia berjalan dengan santai masuk kedalam mansion, seolah-olah itu adalah mansion miliknya.
Di dalam kamar, Sky duduk di tempat tidurnya, tak lama Galaksi pun ikut serta duduk di sana.
"Sayang," panggil Galaksi.
"Hm."
"Kamu marah?"
"Hm."
"Kok ' hm ' sih."
"Sayang maafin kalau aku punya salah."
"Sayang bicara dong," ujar Galaksi, lantaran istrinya itu masih diam saja.
__ADS_1
"Huffstt, boleh aku minta sesuatu padamu," pinta Sky setelah lama diam saja.
"Apa?" tanya Galaksi.
"Aku hanya ingin kamu dan paman ku berbaikan, jangan lagi bertengkar. Aku tidak tau pasti masalah apa yang kalian hadapi, sehingga membuat kalian bermusuhan. Jujur aku sangat tidak suka pertengkaran apalagi sampai merugikan orang lain," pintanya.
"Huh, sebenarnya sudah lama kami tidak bertengkar, hanya masa lalu antara keluarga ku dan keluarga pamanmu yang masih terus teringat sampai sekarang. Jadi sebab itu, aku dan paman mu masih saja bermusuhan, meski klan kami sudah tak lagi berkomflik."
"Apa klan? Apa maksud mu, jangan bilang kalau kamu juga seorang mafia? Sama seperti paman ku?" tanyanya.
Ya, Steven memang sudah menceritakan bahwa keluarga ibunya adalah seorang mafia, pada saat di rumah sakit tadi.
Namun ia belum mengetahui, bahwa suaminya itu adalah seorang mafia, meski waktu itu ia pernah melihat suami nya itu menembak.
Sky kira waktu itu hanyalah sebagai bentuk pertahanan diri saja.
"I- iya, sebenarnya dulu aku seorang ketua dari salah satu organisasi mafia di negara ku lahir. Dulu aku menggantikan posisi mendiang kakek ku saat itu, waktu itu sebelum kakek ku tiada, ia pernah berpesan bahwa aku harus mengurus klan mafia milik keluarga ku, yang sudah diturunkan turun menurun, jadi gitu," jelas Galaksi.
"Lalu sekarang? Apa kamu masih ... "
"Tidak, sekarang aku tidak lagi menjalankan bisnis haram itu, namun aku masih belum membubarkan anak buah ku yang dulunya berkerja bersama ku saat berada di dunia hitam. Alasannya hanya untuk berjaga-jaga dari musuhku, entah dari musuh lama saat aku masih menjadi seorang mafia, atau musuh dari pesaing bisnis yang ingin menghancurkan ku. Kamu ingat kan, waktu aku terluka saat berada di desa mu, itu aku dapatkan dari salah satu musuhku."
"Oh astaga, jadi kamu benar-benar sudah keluar dari dunia hitam itu?" tanya Sky dan di angguki oleh Galaksi.
"Aku turut senang, akhirnya kamu bisa terlepas dari bisnis haram mu itu," ucapnya.
"Tidak, tapi kalau kamu dan pamanku masih saja bertengkar, aku akan marah pada kalian berdua."
"Kalau untuk itu aku tidak tau, tapi aku pastikan aku dan pamanmu hanya berdebat saja, tidak ada pertengkaran fisik."
"Janji," ucapnya.
"Hm."
"Mas."
"Apa?"
"Janji dulu."
"Tapi maaf, aku tidak bisa janji."
"kenapa?"
"Karena aku takut melanggar janjiku."
__ADS_1
"Huh seterah kamu saja lah."
...***...
Empat Minggu kemudian.
Tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat, dan tak terasa sudah empat Minggu setelah kejadian penculikan Sky.
Sky pun kini sudah dinyatakan sembuh dari trauma yang ia alami.
Sudah empat Minggu pula Steven berada di Indonesia, kadang ia tidur di panthouse milik yang baru saja ia beli, ketika ia tau kalau Sky adalah keponakan nya.
Dan kadang ia juga menginap di mansion milik Galaksi, dan Galaksi pun tak keberatan akan hal itu.
Terlebih lagi saat ini hubungan keduanya sedikit membaik, mereka tak lagi saling membenci, lantaran benar apa yang dikatakan oleh Sky, kini keduanya sudah menjadi keluarga, jadi untuk apa bermusuhan.
Toh selama ini memang mereka tak saling bermusuhan, hanya kakek Galaksi dan juga ayah Steven lah yang saling bermusuhan, dan itupun terjadi begitu lama.
Dan pagi ini, di kamar Galaksi dan Sky. Saat selesai mereka malaksanakan ibadah sholat subuh, tiba-tiba perut Sky bergejolak, ia merasakan mual dan ingin muntah.
Dan di sinilah mereka berada, di dalam kamar mandi, Sky yang kala itu masih menggunakan mukenanya, memuntahkan yang berada di dalam perutnya.
Padahal ia masih belum makan apa-apa, hanya minum air putih saja.
Dan Galaksi pun memijit pelan tengkuk leher istrinya itu, ia pun sama dengan Sky, masih menggunakan baju Koko dan sarungnya, sementara pecinya sudah ia lepas.
"Sudah? Apa masih ingin muntah lagi?" tanya Galaksi setelah melihat istrinya itu membersihkan mulutnya bekas muntahnya.
"Sudah mas," jawabnya dengan lemas.
"Sebenarnya kamu kenapa, tidak biasanya kamu muntah-muntah begini."
"Entahlah mas, aku juga tidak tau. Akhir-akhir ini aku memang merasa mual."
"Apa perlu kita pergi ke dokter?" sarannya.
"Kau rasa tidak perlu mas, mungkin hanya masuk angin saja, nanti aku minta sama bi Inah buat kerok aku."
"Yasudah kalau gitu, ayo kita kembali ke kamar," ucap Galaksi, ia pun menuntun Sky yang lemah itu.
"Duduklah, sini biar mas yang bereskan," ujar Galaksi ketika mereka sudah berada di dalam kamar mereka.
Ia pun mulai membereskan peralatan sholatnya dan juga Sky.
"Lebih baik kamu istirahat saja, biar nanti mas yang meminta bi Inah mengantarkan sarapan kita ke sini."
__ADS_1
"Iya mas." Sky pun merebahkan tubuhnya, sementara Galaksi, ia pergi ke luar guna meminta bi Inah membawakan sarapan nya ke kamarnya.