
"Sayang, mas sangat senang, akhirnya kamu hamil, dan kita akan memiliki anak," ucap Galaksi seraya mengelus perut istrinya itu.
"Iya mas aku juga sangat senang, alhamdulilah Allah memercayai kita untuk menjadi orang tua."
"Iya sayang."
Kini mereka tengah duduk, guna menunggu obat.
Tak lama nama Sky pun dipanggil, Galaksi pun langsung mengambilnya.
Setelah mengambil obat, kini keduanya pun pergi dari rumah sakit itu, dan kembali ke mansion.
Tak lama, mereka pun sampai di mansion, mereka pun turun.
"Hati-hati," ucap Galaksi, seraya membantu istrinya itu turun dari mobil.
"Mas kamu ini gak usah lebay deh, aku bisa sendiri."
"Sayang aku tuh gak mau terjadi sesuatu sama kamu, dan calon anak kita."
"Ya udah, lebih baik mas berangkat kerja."
"Kayanya mas gak mau pergi ke kantor deh."
"Loh kenapa?"
"Mas ingin menemani kamu sayang."
"Ya ampun, kamu gak perlu nemenin aku, kan ada banyak pelayan, terlebih lagi ada bi Inah, kak Lily, dan juga paman, jadi kamu gak usah khawatir."
"Tapi ... "
"Tuan, sebentar lagi meeting akan di mulai, klien dari Dubai sudah menunggu," potong Mike.
"Tuh denger, apa yang di katakan oleh Mike."
"Tapi ... "
"Kalian sudah pulang? Bagaimana, Sky sakit apa?" tanya Steven yang baru saja menghampiri mereka yang masih berdiri di halaman itu.
"Paman, aku punya kejutan untuk mu," ucap Sky.
"Oh ya, kejutan apa itu?"
"Aku hamil," jawab Sky dengan gembira.
"Benarkah? Wah selamat, paman gak nyangka, keponakan paman ini sebentar lagi bakal punya baby," ujar Steven memberikan selamat pada keponakannya itu, ia pun langsung membawa Sky kedalam pelukannya.
"Sudah jangan terlalu lama meluknya," ujar Galaksi, ia pun memisahkan pelukan antara paman dan keponakan itu.
"Ck." Decak Steven.
"Mas kenapa kamu belum berangkat? Berangkat sana," ucap Sky.
"Tapi aku ingin menjagamu."
__ADS_1
"Sudah lebih baik kau berangkat sana, masalah Sky, kamu tenang saja, ada aku paman nya yang akan menjaga dirinya," ujar Steven.
"Mas denger kan, ada paman yang menjaga aku, sudah berangkat sana."
"Huh baiklah, kalau gitu kamu hati-hati ya, dan kamu jaga istriku baik-baik, kalau terjadi sesuatu padanya awas kau," ucapnya pada Steven.
"Hey, dia adalah keponakan ku, mana mungkin aku membiarkan dia kena masalah," ujar Steven.
"Sayang aku berangkat ya, jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku," ucapnya seraya mengelus pipi mulus istrinya itu.
"Iya, kamu hati-hati ya."
"Assalamu'alaikum," ucap Galaksi.
"Wa'alaikumusalam," balas Sky dengan mencium punggung tangan suaminya itu dan di balas oleh Galaksi dengan mencium keningnya.
Akhirnya Galaksi pun masuk kedalam mobil.
"Ayo kita masuk, bumil harus banyak-banyak istirahat," ucap Steven pada Sky, setelah mobil Galaksi pergi dari sana.
"Dari mana paman tau kata-kata bumil itu, memang paman tau singkatannya apa?"
"Tau dong, bumil itu ibu hamil, kan."
"Wah, ternyata paman sudah lebih banyak tau kata-kata gaul, dibandingkan suamiku."
"Paman mu gitu loh," ucapnya dengan narsis.
Mereka berdua pun masuk kedalam mansion.
Keempat orang itu tengah menikmati makanan yang menjadi keinginan bumil, yakni makanan ala Sunda.
Seperti sayur asem, tahu goreng, tempe goreng, ikan asin, dan juga sambel.
Namun menu utama dalam makan malam ini, yakni jengkol.
Ya, Sky menginginkan balado jengkol. Awalnya Galaksi menolak, lantaran para koki yang bertugas memasak di sana tidak tau apa itu jengkol.
Lantaran para koki itu didatangkan langsung olehnya dari negara kelahirannya, dan para koki itu bertugas untuk memasak makanan ala western, dan negara lainnya.
Sebenarnya mereka bisa memasak masakan khas Indonesia, namun tidak semua makanan mereka tau, seperti jengkol ini.
Namun Sky yang terus merengek ingin memakan jengkol, alhasil Galaksi pun menyuruh salah satu pelayan untuk membeli jengkol dan bahan-bahan lainnya ke pasar.
Beruntung di sana ada bi Inah, yang bertugas memasak makanan keinginan Sky, jadi keinginan istrinya itu bisa kesampaian.
Dan bukan hanya disitu saja, Sky menyuruh keempat orang itu untuk memakan jengkol, yang dimana keempat orang itu adalah seorang bule, meski Galaksi seorang blasteran Indonesia-Eropa, namun ia belum pernah memakan yang namanya jengkol.
"Sweetheart, maafkan paman mu ini, sepertinya paman tidak bisa memakan yang namanya jengkol lagi, soalnya paman sudah tua," ucap Steven pada Sky.
Ia tak tahan dengan aroma khas dari jengkol itu, baru satu gigitan rasanya ia ingin memuntahkannya kembali, namun ia tak bisa, lantaran tak ingin keponakannya bersedih.
"Lagi pula, apa hubungannya dengan tua paman? Bahkan banyak orang tua disini suka makan jengkol, yang meskipun pasti ada yang tidak suka," ujar Sky.
"Nah itu dia, paman mu ini tidak suka makan jengkol," ujar Steven namun dalam hati.
__ADS_1
"Sayang, paman mu itu hanya alasan saja. Sebenarnya dia tidak mau menuruti keinginan kamu sama anak kita," timpal Galaksi.
"Hey kau, jangan asal bicara ya. Memangnya kamu mau memakannya."
"Tentu saja aku mau memakannya demi istri dan calon anak ku, aku pasti akan memakannya meski aku tidak suka dengan aromanya," ucap Galaksi dengan jujur.
Galaksi dan Steven pun terus berdebat, sementara Lily dan Mike mereka hanya diam saja, sambil melihat perdebatan antara tuannya itu dengan paman dari istri dari tuannya.
Sky yang jengah pun, menyumpal mulut paman dan suaminya dengan tempe goreng, yang kebetulan ia duduk di tengah antara suami dan pamannya.
Dan seketika dua pria beda umur itupun berhenti.
"Paman, paman itu sudah tua, tapi kenapa malah seperti anak kecil," celetuk Sky.
"Hahaha kau dengar itu. Istriku saja mengakui kalau kau sudah tua, tapi kau malah tidak terima jika aku mengejek mu tua," canda Galaksi.
"Mas juga sama."
"Hahaha kau juga harus dengar, kamu pun sama sudah tua."
"Hey aku itu masih 27thn, beda denganmu yang sudah 37thn," sahut Galaksi tak terima.
"Sudah-sudah, kalian ini bisa diam tidak? Kenapa seperti anak kecil saja," ujar Sky, karena sudah lelah mendengar perdebatan antara paman nya dan juga suaminya itu.
"Maaf," ucap kedua pria itu.
Mereka pun mulai makan malam mereka.
"Nona apa kah kamu sangat suka dengan makanan yang namanya jengkol ini?" tanya Steven, lantaran ia melihat Lily yang begitu menikmati makan jengkol, tidak seperti dirinya.
"Kak Lily memang sudah terbiasa makan jengkol, lantaran dia sering makan denganku," jawab Sky.
"Benar begitu nona?" tanya Steven pada Lily.
"Benar tuan," jawabnya.
"Wow, sungguh tak percaya," ucapnya.
"Oh ya sweetheart, ada sesuatu yang ingin paman sampaikan padamu," ucap Steven setelah mereka selesai makan malam.
Kini tinggal Sky, Galaksi, dan Steven. Dan untuk Lily dan juga Mike, mereka sudah kembali ke kamar mereka masing-masing.
"Ada apa paman?" tanyanya.
"Besok paman harus kembali ke Itali, kamu tau kan paman mu ini selain seorang bisnis, paman juga seorang mafia," jawabnya.
"Paman, apa paman tidak bisa keluar dari dunia mafia?" tanya Sky.
"Maaf, bukan maksud Sky ikut campur, hanya saja Sky tidak ingin terjadi sesuatu sama paman," ucapnya.
"Sweetheart, dengarkan paman. Paman tidak bisa, maaf. Kamu tau, paman melakukan ini lantaran amanah dari mendiang kakek mu, meski pun, mendiang ayah paman tidak memberi amanah seperti itu, paman tetap akan meneruskan bisnis hitam ini, lantaran pamanmu ini hobi melakukan aksi yang cukup membahayakan ini," jelas Steven.
"Kamu tenang saja, paman tidak akan pernah melibatkan kamu, apalagi melibatkan anak kamu," jelasnya lagi
"Huh, seterah paman saja. Sky hanya bisa berdo'a semoga paman baik-baik saja," ujarnya.
__ADS_1
"Terima kasih." Steven pun lantas memeluk keponakannya itu dengan kasih sayang.