
(Rate 18+).
Sementara itu disisi lain, Arthur yang terus berlari tidak melihat ada mobil yang sedang melaju.
Untung saja mobil itu berhenti tepat waktu, jika tidak maka Arthur akan tertabrak oleh mobil itu.
"Akkhhh!!" pekik Arthur seraya terjatuh ke aspal lantaran terkejut.
Seorang pria pun keluar dan menghampiri Arthur.
"Apa kamu tidak pa-pa, anak muda?" tanya orang itu dengan nada dingin.
"Saya tidak pa-pa, tuan Steven?" ucap Arthur ketika melihat siapa orang yang ada dihadapannya.
Yang ternyata adalah Laiv Steven Fransisca, seorang ketua dari klan mafia Italia.
Ya, orang itu adalah Steven, paman dari Sky.
"Kamu mengenal saya?" tanya Steven.
"Tentu saja, bukankah klan mafia anda pernah menjalin kerjasama dengan klan mendiang ayah saya," jawab Arthur.
"Benarkah? Maklum saya sering bekerjasama dengan banyak orang, jadi saya tidak mengenal kamu dan ayahmu, ah bukan begitu, lebih tepatnya lupa."
"Tidak apa tuan, saya bias memakluminya."
"Oh ya, sedang apa kamu berlari di jalan sepi begini?" tanya Steven.
"Saya sedang berlari dari musuh saya, apa anda tau Galaksi Leonard? Saya dengar anda saling bermusuhan dengannya," jawabnya dengan mempengaruhi Steven, ia berharap Steven bia membantu dia membalaskan dendam pada Galaksi.
Secara ia tau bahwa Steven sangat membenci Galaksi.
Tidak tau saja Arthur, bahwa pria yang ada di hadapannya saat ini adalah paman dari Sky, wanita yang ia culik dan sekap itu.
"Kau benar, lalu kamu mau apa?"
"Bisakah anda membantu saya untuk membalaskan dendam saya?"
"Tentu saja, tapi sebelum itu, kamu ikut saya terlebih dahulu."
"Baik saya akan ikut dengan anda."
Arthur pun masuk kedalam mobil Steven.
Tidak tau saja dia, bahwasannya saat ini dia sedang masuk kedalam perangkap yang sudah dibuat oleh Steven.
...***...
Sementara itu di mansion Galaksi, kini Monica sudah berada di markas.
Ia ditempatkan di tempat yang seperti penjara, namun tempat itu jauh lebih buruk dibandingkan dengan penjara.
Bagaimana tidak, tempat itu hanya berukuran kecil, meski lantainya bersih, namun tempat itu pengap, tak ada jendela, tidak ada ventilasi udara, apalagi ruangan itu minim pencahayaan.
Di dalam mansion kini Lily tengah menuruni anak tangga, tujuan ia saat ini adalah markas yang letaknya berada di halaman belakang, di sebuah gudang, tetapi terdapat ruang bawah tanah yang luas, yang dimana itulah markas anggota anak buah Galaksi.
"Kau mau kemana?" tanya Mike, saat ini ia tengah duduk berdua dengan sang istri, lantaran istrinya itu ingin selalu dekat dengannya.
Jadi sebab itu, ia masih belum melihat Monica yang saat ini sudah berada di markas mereka.
"Tuan Mike ... Saya ingin pergi ke markas," jawab Lily.
"Untuk?"
"Saya ingin memberi hukuman pada wanita itu."
"Tidak, tuan belum memberitahu kita, kapan kita boleh memberikan hukuman pada wanita itu," tolak Mike.
"Kalau begitu ijinkan saya untuk menghukumnya, bila perlu tolong hubungi tuan, dan katakan padanya, bahwa biar saya yang menghukum wanita itu dengan cara saya sendiri. Lantaran saya tau, baik tuan maupun anda, pasti tidak akan menghukum wanita itu dengan berat," jelas Lily.
"Lalu kenapa tidak kau saja yang hubungi tuan," ucap Mike.
"Handphone saya berada di kamar saya, dan saya malah untuk naik ke atasnya lagi," ujarnya.
"Cih alasan, Tidak sebaiknya kita tunggu tuan pulang ke mansion, karena saat ini tuan sedang menunggu nyonya lahiran."
"Hanya sebentar saja tuan, saya yakin tuan Galaksi akan menerima panggilan telepon dari anda."
"Huh, kau ini memaksa sekali. Baiklah, saya akan hubungi tuan." Mike pun mengambil handphone-nya yang ia taruh di atas meja.
__ADS_1
Kemudian ia pun langsung menghubungi Galaksi.
"Halo," ucapnya saat sambungan itu terhubung.
" ... "
"Begini tuan, Lily meminta ijin pada saya dan anda, untuk menghukum wanita itu dengan tangannya sendiri, dia bilang, dia akan memberikan hukuman yang setimpal pada wanita itu."
" ... "
"Baik, saya akan kasih tau."
Sambungan itu pun berakhir, Mike pun kembali menaruh handphone-nya di atas meja.
"Bagaimana?" tanya Lily tak sabaran.
"Tuan mengijinkan kamu, tapi ingat! Jangan sampai kamu membunuhnya," ucap Mike memperingatkan, lantaran ia tau siapa Lily itu.
"Baik saya tidak akan membunuhnya, tapi saya akan membuat dia sendiri menginginkan kematian itu," ujarnya dengan nada menyeramkan.
Membuat Riri yang ada di samping suaminya merinding.
"Kalau begitu saya permisi."
"Hm."
"Mas, memangnya siapa wanita yang kalian bicarakan itu? Dan kenapa kalian ingin menghukumnya? Memangnya dia melakukan kesalahan apa, sehingga harus dihukum?" tanya Riri dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Sayang sebaiknya kamu tidak perlu tau, ini masalah kami," jawabnya, karena Mike tak ingin istrinya itu syok mengetahui siapa mereka sebenarnya.
"Huh baiklah, tapi kak Lily sepertinya benar-benar marah, lihat saja tadi nada bicara dan tatapannya, uhhh menyeramkan," ucap Riri.
Mike pun hanya tersenyum mendengar ucapan dari istrinya, ia pun mengajak istrinya itu ke kamar mereka.
Sementara itu, Lily kini sudah berada di dalam markas.
Ia pun langsung menuju ruangan dimana Monica di tahan, Lily pun terus berjalan melewati lorong dengan tatapan yang menakutkan, sehingga siapa saja yang melihat tatapan itu akan ketakutan setengah mati.
"Buka," ucapnya dengan dingin pada seorang pria yang menjaga ruangan Monica.
Pria itu pun membuka pintu ruangan yang terbuat dari besi.
"Halo bit*ch, apa kamu masih mengenaliku?" tanya Lily seraya duduk dihadapan Monica setelah meminta kursi pada pria tadi.
"Hmm, hmmmm," ucap Monica lantaran ia tak bisa berbicara karena saat ini mulutnya tengah di sumpal dengan kain.
"Heh." Lily pun membuka ikatan kain yang menyumpal mulut Monica.
"Huh, huh, huh. To- tolong ... Tolong bebaskan aku," ucap Monica setelah menghirup nafas dengan panjang.
"Apa kamu bilang? Meminta tolong untuk di bebaskan?" tanya Lily, dan Monica pun mengangguk.
"Heh, jangan harap kamu bisa bebas dari sini, dan jangan harap kamu bisa lepas dariku," ujarnya dengan menyeringai.
"A- apa maksud mu?"
"Maksud ku adalah, aku akan memberikan hadiah padamu, karena kamu telah menyakiti Sky, yang sudah aku anggap sebagai adikku."
Plak.
"Kau menamparnya seperti ini kan!!"
Dan ...
Plak.
"Juga seperti ini kan!!"
Lily pun terus menampar kedua pipi Monica, setelah itu ia pun mencengkram dagu Monica dengan kuat.
"Akan ku perlihatkan bagaimana aku akan memberikanmu pelajaran!" bisik nya dengan nada yang menyeramkan, setelah itu ia pun melepaskan cengkeramannya dengan kasar, sehingga membuat wajah Monica terhuyung ke samping.
"Bawa benda itu kemari!!" pintanya pada pria tadi.
Pria itu pun membawa benda yang diinginkan oleh Lily.
"A- apa yang ingin kau lakukan?" tanya Monica dengan takut, pasalnya benda itu terdapat pisau dan juga satu botol entah apa isinya, serta satu buah gunting.
"Tentu saja, aku ingin membuat karya, sudah lama aku tidak membuat lukisan di tubuh seseorang, apalagi di wajah seseorang," jawabnya dengan menyeringai.
__ADS_1
"A- apa? To- tolong, ampuni aku, jangan sakiti aku," ucap Monica dengan memohon.
"Cih, mengampuni mu, jangan harap. Apa kau juga waktu itu mengampuni Sky? Tidak kan? Jadi aku pun tidak akan mengampuni dirimu."
"Baiklah, apa yang harus kita gunakan lebih dulu," ucapnya seraya memegang satu-satu benda yang ada di sampingnya.
"Ah, sebaiknya kita menggunakan gunting ini terlebih dahulu, dan setelah itu kita kan mulai melukis, hahaha," ucapnya lagi dengan tawa yang menakutkan, ia pun memakai sapu tangan agar tangannya tidak kotor.
"Apa yang ingin kau lakukan?!!!"
"Tentu saja aku ingin menata rambut indah mu ini, bukankah gara-gara rambut ini, kamu menampar pipi Sky?" tanya seraya memegang rambut pirang Monica.
"Jangan aku mohon, ampuni aku," mohon Monica.
"Terus lah memohon, karena aku suka sekali orang yang memohon padaku," bisik Lily tepat di telinga Monica.
Monica pun dibuat merinding dan ketakutan, lantaran bisikan dari Lily.
"Baiklah, mari kita mulai membuat mahakarya." Lily pun langsung menjambak rambut Monica, sehingga wajah wanita itu mengadah ke atas.
"Akhhh!!" teriak Monica.
Lily pun langsung memotong rambut Monica dengan tak beraturan, dan ia pun terus menjambak rambut itu dengan kasar, saking kasarnya, rambut itu bahkan rontok.
Lily pun langsung membuang gunting itu ke sebarang arah, lalu ia menghempaskan kepala Monica hingga terhuyung ke depan.
Sungguh saat ini kepala Monica menjadi pusing, dan penampilan nya saat ini sudah kacau, dengan kedua pipinya yang memerah akibat tamparan, dan rambutnya yang tadinya panjang dan indah menjadi pendek tak beraturan.
"Mari kita ke pertunjukan selanjutnya," ucapnya, ia pun duduk kembali di kursi yang berada di hadapan Monica, setelah mengambil pisau kecil.
Lily pun kembali mencengkeram dagu Monica, setelah itu ia pun mulai menggoreskan pisau itu ke dua pipi Monica dengan membentuk sebuah bentuk abstrak.
"Akhhhh!!!" teriak Monica kesakitan, kedua pipinya pun mengeluarkan darah segar.
"Darah, aku suka darah, hahaha ... Aku sangat suka dengan bau darah segar, hahaha."
"Kau gila!" ujarnya disela-sela tenaga nya yang habis.
"Apa kau bilang? Aku gila?" tanya Lily seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, kau benar. Aku memang gila, dan aku masih kamu sesuatu, sebuah rahasia tentang diriku, apa kamu mau mendengarkannya?" tanyanya tepat di depan wajah Monica.
"Begini, rahasianya adalah, aku ... Aku dulunya adalah seorang psychopath. Dan aku suka sekali melukis, terlebih lagi melukis di tubuh manusia dan juga wajah manusia hahaha. Dan kamu tau yang paling aku suka? Yang paling aku suka ialah, darah segar," bisik nya, seraya memainkan pisau itu di leher Monica, dan lagi-lagi darah segar merembes keluar.
Dan mendengar bisikan dan penjelasan dari Lily Monica pun menelan ludahnya dengan kasar.
"To- tolong, ampuni aku, jangan sakiti aku," ucap Monica memohon, disisa tenaganya, lantaran saat ini ia sudah mulai kehabisan tenaga dan juga matanya mulai buram akibat darah yang mengalir di kedua pipi dan juga lehernya.
"Oh tidak ... Kau tidak boleh mati, jika kau mati maka aku akan bermain dengan siapa lagi," ujar Lily dengan wajah sedih.
"Baik aku akan mengeringkan darah ini, agar darah ini tidak cepat habis, dan agar kamu tetap hidup," ujarnya lagi.
Kemudian ia pun mengambil botol yang ternyata didalamnya berisi air keras.
Lily pun membuka tutup botol itu, dan menuangkannya ke kedua pipi dan leher Monica.
"Akhhhh!! Panas!!"
"Akhhhh!! Sakit!!" teriak Monica.
"Teriak lah lebih keras, aku sangat suka dengan teriakan mu," ucap Lily dengan gembira.
"Aku rasa hari ini sudah cukup, kita akan bertemu besok lagi, sampai jumpa besok, dah," ucapnya lagi, seraya menepuk bahu dan melambaikan tangan pada Monica.
Lily pun keluar dari sana.
"Tidak ... Tidak, aku tidak mau bertemu dengan wanita gila itu lagi, lebih baik aku mati, daripada harus bertemu dengan wanita gila itu," gumam Monica disela-sela kesadarannya.
Ia pun mengedarkan pandangannya, dan ia pun melihat pisau yang digunakan Lily tadi untuk menyakiti dirinya.
Monica pun mencoba meraih pisau itu, yang dekat dengan kursinya, menggunakan kakinya.
"Akhhh," lirihnya, saat pisau itu menggores telapak kakinya, pada saat ia mengambil pisau itu dengan kedua kakinya, lantaran tangan dan tubuhnya diikat.
Setelah pisau itu berhasil dipegangnya, Monica pun mulai membuka tali di salah satu tangannya, setelah tali itu berhasil dibuka.
kemudian ia pun mulai menancapkan pisau itu ke lehernya.
"Akhhh," teriaknya, dan seketika ia pun meninggal.
__ADS_1
"Ini belum seberapa, tunggu besok, aku akan membuat mu semakin menderita dari hari ini," gumam Lily saat berjalan ke dalam mansion.