
Waktu pun terus berlalu, tak terasa kini sudah satu bulan saat acara empat bulanan Sky.
Dan kondisi Mike pun sudah pulih paska sunat.
Dan pagi tadi, acara akad nikah antara Riri dan Mike sudah dilaksanakan.
Tinggal resepsi pernikahan yang nanti malam dilaksanakan, di sebuah hotel bintang lima.
Dan disinilah mereka berada, di sebuah ballroom hotel, tempat diadakannya resepsi pernikahan antara Mike dan Riri.
Kali ini Galaksi dan Sky tengah berbincang dengan beberapa tamu para pembisnis.
"Halo sweetheart, keponakan ku tersayang apa kabarmu?" ucap Steven seraya memeluk keponakannya itu.
"Paman, kenapa paman baru datang?" tanya Sky, setelah pelukannya terlepas.
"Baru saja, sebenarnya paman sudah tiba di Indonesia pada seminggu lalu, namun Minggu lalu, pamanmu ini pergi ke desa mu, untuk berjumpa dengan mendiang orang tua mu," jawabnya.
"Lalu kenapa paman tidak memberitahu ku, jika tau, aku pun pasti akan ke sana."
"Maafkan paman, tapi sepertinya kamu tengah sibuk mengurus pernikahan antara Mike dan Riri. Jadi sebab itu, pamanmu ini tidak memberitahukan mu," ucap Steven.
"Oh ya, kamu belum jawab pertanyaan paman, bagaimana kabarmu dan baby mu ini?" tanya Steven seraya mengelus perut buncit keponakannya itu.
"Alhamdulillah kabarku dan juga debay baik," jawabnya.
"Debay? Apa itu?"
"Debay itu, singkatan dari dedek bayi."
"Ohhh. Oh ya, dimana suamimu?" tanya Steven.
"Itu," jawab Sky seraya menunjuk suaminya yang tengah berbincang dengan beberapa kolega bisnisnya.
"Ckckck, dasar suamimu itu, bukanya menemanimu, ini malah sibuk dengan rekan bisnisnya."
"Tidak apa paman, lagi pula aku mau ke temanku Andin. Paman aku ke sana dulu ya," ucapnya seraya menunjuk ke tempat dimana Andin dan Agam berada.
"Oh baiklah, hati-hati. Paman mu mau menemui suamimu dulu," ujarnya.
"Iya."
Sky dan Steven pun berpisah, jika Sky pergi ke tempat dimana Andin berada, sementara Steven pergi ke arah Galaksi.
"Assalamu'alaikum, boleh aku ikut bergabung? Aku sendirian, suamiku sibuk dengan beberapa rekan bisnisnya, dan aku bosan jika harus menemani suamiku berbincang dengan mereka," ucap Sky sekaligus meminta ijin untuk duduk bersama Agam dan Andin.
"Tentu saja boleh, sini duduk," jawab Andin, ia pun menyuruh Sky untuk duduk di kursi yang ada di sampingnya.
"Terima kasih," ucap Sky, lantas ia pun duduk di kursi yang berada di samping Andin.
__ADS_1
"Resiko memiliki suami seorang pembisnis," ujar Agam setelah Sky duduk.
"Hehehe, kakak benar."
Sementara itu, Steven sudah bergabung dengan Galaksi.
"Halo, boleh saya ikut gabung bersama kalian?" tanya Steven setelah berada di sana.
"Bukankah anda adalah tuan Steven, pembisnis yang terkenal di negara Italia?" tanya salah satu rekan bisnis Galaksi.
"Oh, darimana anda tau?" tanya Steven.
"Tentu saja saya tau, siapa yang tidak mengenali anda, seorang pembisnis yang terkenal, sama seperti tuan Galaksi," jawabnya.
"Astaga, saya jadi tersanjung," ucapnya.
"Saya permisi," ujar Galaksi, tiba-tiba, seperti biasa ia menggunakan nada dingin dan datar jika bersama orang lain.
Namun, jika bersama dengan istrinya ia berbicara dengan nada santai.
"Tuan Galaksi anda mau kemana?" tanya salah satu rekan bisnisnya.
"Saya ingin menemui istri saya," jawabnya.
Galaksi pun terus berjalan, ke arah dimana istrinya berada.
"Kalau begitu, saya juga permisi," ucap Steven.
"Sayang," panggil Galaksi setelah berada di dekat istrinya, ia pun mencium pipi istrinya itu tanpa malu.
"Mas," tegur Sky, namun suaminya itu malah diam saja, dan tidak perduli dengan teguran dari istrinya itu.
Sky pun hanya bisa menghela nafas, menyikapi sikap suaminya itu.
"Halo keponakan ku tersayang," ujar Steven.
Ia yang hendak mencium pucuk kepala keponakannya itu langsung di dorong ke belakang oleh Galaksi.
"Hey! Apa yang kau lakukan?" ucap Steven tak terima.
"Dilarang mencium istriku," ujar Galaksi acuh.
"Hey, kau lupa? Dia istrimu adalah keponakan ku, jadi tidak masalah aku menciumnya, selagi itu hanya kening dan pipi."
"Tetap saja, tidak boleh," ucap Galaksi dengan tegas.
"Ck." Steven pun berdecak, kemudian ia pun ikut duduk di sana, ia duduk di kursi yang di samping Galaksi.
"Kak Agam, Andin, maafkan mereka berdua, ya," ucap Sky meminta maaf pada Agam dan Andin, atas sikap kedua pria yang sama-sama ia sayangi.
__ADS_1
"Tidak apa," ujar Agam.
"Benar Sky, tak apa, santai saja," saut Andin.
"Oh, sorry ternyata ada kalian. Kenalkan aku Steven, paman dari Sky," ucap Steven memperkenalkan dirinya, sekaligus mengulurkan tangannya.
"Nama saya Agam, dan ini istri saya Andin," ujar Agam sekaligus membalas uluran tangan Steven.
"Ohh nama yang bagus. Agam, seandainya kamu belum menikah, pasti aku akan menikahkan kamu dengan keponakan ku ini, dan aku tidak akan membiarkan keponakan ku menikah dengan pria seperti dia," ucapnya seraya melirik ke arah Galaksi.
Tidak tau saja Steven, bahwasanya keponakannya itu dan juga pria yang ada dihadapannya dulu saling mencintai, namun mereka menyembunyikan rasa suka mereka.
Namun kali ini berbeda, keduanya sudah memiliki tambatan hati masing-masing, dan rasa cinta dulu terukir itu, perlahan telah pudar, dan diganti dengan nama orang lain.
"Hey, apa yang kau katakan? Dasar bujang lapuk," ucap Galaksi tak terima.
Jika Galaksi langsung naik pitam, maka lain halnya Sky dan Agam, mereka sama-sama kikuk, lantaran mendengar ucapan yang dilontarkan oleh paman dari Sky itu.
"Hey kau ... "
"Bisakah kalian diam, jangan bertengkar. Sungguh aku pusing mendengar pertengkaran kalian," potong Sky.
Kedua pria itu pun lantas langsung diam.
Sementara itu, disisi lain, tepatnya di pojok.
Arthur dan Monica kini tengah berpura-pura menjadi seorang pelayan, bukan hanya itu saja, wajah mereka pun di samarkan, agar tidak ada yang mengenali mereka. Saat ini mereka tengah melihat Galaksi dan Sky yang tengah asik berbincang dengan seseorang yang tidak mereka kenal.
Mereka melihat keduanya terlihat bahagia.
"Sungguh aku kesal melihat mereka bahagia," ucap Monica dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Kau tenang saja baby, sebentar lagi ... Sebentar lagi, kita akan menghancurkan mereka," ujar Arthur.
"Tapi kapan?"
"Kau bersabarlah."
"Tapi aku penasaran dengan pria yang satunya, yang duduk di samping Galaksi," ucap Arthur.
Yang dimaksud adat Steven, lantaran Steven duduk membelakangi mereka, sehingga Arthur dan Monica tidak bisa melihat wajahnya.
"Mungkin salah satu teman dari wanita j**ng itu, atau tidak teman dari Galaksi," ujar Monica.
"Ja**ng, kau sebut dia ja**ng. Cih, dasar wanita tak tau diri, justru kamu lah seorang ja**ng itu," batin Arthur.
Sungguh nya, Arthur sudah muak menyimpan wanita rubah ini, namun ia masih mempertahankan wanita rubah ini untuk menyalurkan kebutuhan biologis nya, sekaligus untuk ia jadikan bonekanya.
"Sudahlah lebih baik kita pergi dari sini, aku sudah tidak nyaman memakai pakaian pelayan ini," ucap Arthur.
__ADS_1
"Kau benar honey, lebih baik kita pulang, aku pun tak nyaman memakai pakaian pelayan ini."
Mereka pun pergi dari sana.