
Dugh, dugh, dugh.
Dor, dor, dor.
Dugh, dugh, dugh.
Dor, dor, dor.
Suara tembakan dan suara perkelahian itu pun terdengar di dalam maupun di luar gedung yang tak terpakai itu.
"Heh, lihatlah, kau sudah kalah," ucap Galaksi, lantaran anak buahnya itu berhasil menumbangkan anak buah dari Arthur.
"Saya belum kalah," ujarnya seraya bangkit, lantaran ia tadi di hajar oleh Galaksi hingga terjatuh ke atas lantai.
"Benarkah? Tapi orang-orang mu sudah ditumbangkan oleh anak buah ku," ucapnya dengan senyum sinis nya.
"Heh, mungkin anak buahku banyak yang kalah, tapi saya pastikan, jika anda tetap akan mati ditangan saya."
"Benarkah? Tapi bagaimana caranya? Sementara seluruh bom yang ada di gedung ini sudah tidak berfungsi lagi, jadi bagaimana caranya kamu bisa membunuhku?" tanya Galaksi dengan senyum meremehkan.
"Apa itu benar, tapi bagaimana bisa?" batin Arthur.
"Tentu saja bisa, karena saya sudah menyuruh asisten saya untuk mematikan bom nya," ucap Galaksi seolah-olah ia tau apa yang ada di benak Arthur.
"Kau tidak percaya? Silahkan periksa sendiri," ucapnya lagi.
Arthur yang tidak percaya dengan perkataan Galaksi pun mencoba untuk menekan tombol yang ada di remote control, sedang ya pegang itu.
Dan benar saja, pada saat ia menekan tombol itu, bom yang sudah ia siapkan tidak aktif.
"Apa yang aku katakan benar, bukan?" ucap Galaksi.
Arthur pun hanya diam, tapi tiba-tiba ia tertawa dengan kencang. "Hahahaha, apa anda pikir saya hanya menyiapkan ini saja? Tentu saja tidak, ada satu hal yang harus anda tau, ini mengenai istri anda," ujarnya.
"Kamu apakan istriku!!" ucapnya terpancing emosi jika itu mengenai istrinya.
"Tenang lah, saya akan memperlihatkannya pada anda. Monica sayang, kamu bawa wanita hamil itu kemari, biar suaminya melihat keadaan istrinya itu," perintahnya pada Monica.
"Baiklah." Monica pun pergi ke atas yang dimana ruangan Sky di sekap.
Tak lama Monica pun datang dengan membawa Sky.
"Mas."
"Sky."
Ucap keduanya dengan sorot mata penuh kerinduan.
"Lihatlah, apa yang melekat di tubuh istri anda, sebuah bom," ucap Arthur.
Galaksi yang mendengarkan ucapan Arthur itu pun lantas melihat ke arah tubuh istrinya.
Dan benar saja istrinya itu di pakaikan rompi yang terdapat bom.
"Kurang ajar, apa yang kau lakukan pada istriku!!!" pekiknya.
"Hahaha tentu saja, ingin membunuhnya, dan melihat anda menderita, sama seperti saya yang menderita karena anda, karena anda lah yang telah menyebabkan ayah saya meninggal!"
"Itu kesalahan mendiang ayahmu bodoh, jika saja mendiang ayahmu itu tidak mengusikku lebih dulu, maka aku tidak akan pernah membunuhnya."
__ADS_1
"Tapi tetap saja, anda penyebab kematian ayah saya!!" teriaknya.
"Dan sekarang saya akan membunuh orang yang paling anda cintai, yakni istri anda. Dan setelah itu barulah anda menyusul kematian istri anda, hahaha."
"Aku tidak masalah, jika harus mati bersama istri dan anakku. Tapi asal kamu tau, kalian semua termasuk kamu, akan ikut mati bersama ku dan istri ku."
"Itu tidak akan mungkin."
"Mungkin saja, jika aku menyuruh asisten ku untuk mengaktifkan kembali bom yang ada di gedung ini."
"Sebelum itu terjadi, saya akan keluar terlebih dahulu," ucap Arthur, ia pun membawa serta Sky untuk bisa keluar dari gedung itu.
Lantaran di sana terdapat banyak anak buah Galaksi.
"Minggir kalian, atau saya tembak dia!" ujarnya seraya mengacungkan pistol ke arah kening Sky.
"Kalian minggir lah," ucap Galaksi, karena ia tak ingin Arthur berbuat nekad dengan menembak ke arah istrinya itu.
Anak buah Galaksi pun minggir, dan memberikan ruang untuk Arthur.
Monica pun mengikuti Arthur dari belakang, lantaran ia tak ikut terbunuh.
"Hey kau! Untuk apa kamu mengikuti ku!" ucap Arthur pada Monica.
"Tentu saja ikut bersama dengan mu honey," ujar Monica.
"Honey? Cih, aku sudah muak mendengar kamu memanggilku dengan sebutan itu. Lebih baik kamu pergi bersama dengan mereka, karena kamu pantas ikut mati bersama dengan mereka!" ujar Arthur.
"Apa maksud mu? Bukankah kamu mencintai ku?"
"Cinta? Cih aku tidak pernah mencintaimu, asal kamu tau saja. Aku menolong mu hanya untuk memanfaatkan tubuhmu saja! Dan aku tidak pernah mencintai wanita ja*ng sepertimu, asal kau tau gara-gara kamu menjadi sugar baby ayahku, ibu ku menjadi sakit, dan dia pun meninggal lantaran tekanan batin!" jelas Arthur.
"Akhhh!!" teriak Monica.
Setelah berada di luar, Arthur pun segera melepaskan Sky, dengan cara mendorong Sky, beruntung Galaksi cepat menangkap tubuh istrinya itu.
Sementara Arthur, ia sudah lari dari sana.
"Bawa wanita ini ke markas," ucap Galaksi pada anak buahnya.
"Baik tuan."
Dua pria berbadan tegap pun membawa Monica pergi, Monica pun terus memberontak namun tenaga nya tidak sebanding.
"Lalu bagaimana dengan pria itu?" tanya salah satu dari mereka.
"Biarkan saja, ada seseorang yang tengah menunggu pria itu," jawabnya.
"Saya, apa kamu baik-baik saja?" tanya Galaksi pada istrinya dengan mengelus pipi Sky yang terdapat bekas tamparan di kedua pipinya.
"Siapa yang berani menampar pipi kamu?" tanyanya lagi.
"Sudahlah mas, yang penting aku tidak apa. Tapi ... "
"Tapi apa?" potong Galaksi.
"Sepertinya aku mau melahirkan, sejak pagi perutku terasa sakit," jawabnya.
"Benarkah?" tanya Galaksi dan di angguki oleh Sky.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita segera ke rumah sakit," ajak Galaksi.
"Tapi bagaimana dengan bom nya?" ucap Sky.
"Astaga kenapa aku bisa lupa," ujarnya seraya menepuk keningnya.
Galaksi pun mencoba meneliti bom tersebut, lantaran jika ia salah memotong kabel pada bom itu maka semuanya akan berakibat patal.
"Akhhh!" teriak Sky lantaran sakit dia area perutnya.
"Sayang kamu kenapa?"
"Mas seperti nya adek bayi tidak sabaran ingin bertemu dengan kita, sakit mas."
"Oh astaga, kamu tenang ya."
"Apa diantara kalian ada yang bisa menjinakkan bom?" tanya Galaksi pada semua anak buahnya, lantaran ia tak mungkin menjinakkan bom dalam keadaan kalut memikirkan istrinya itu, bisa-bisa dirinya salah memotong kabel.
"Sebenarnya kalian ini mempunyai keahlian atau tidak!" pekiknya, lantaran melihat seluruh anak buahnya yang ikut bersamanya menundukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa diantara mereka tida ada yang bisa menjinakkan bom.
Galaksi pun mencoba untuk berkonsentrasi, namun konsentrasi nya itu pun terpecah lantaran istrinya itu terus mengeluh sakit.
"Sakit mas," rengek Sky.
"Sayang sabar ya, mas lagi berusaha untuk menjinakkan bom terlebih dahulu."
"Tapi kapan, sampai adek lahir."
"Sayang menjinakkan bom memang membutuhkan waktu lama dan konsentrasi penuh."
"Tapi aku sudah tidak kuat mas, sakit."
"Tuan, biar saya membantu anda untuk menjinakkan bom," ucap seorang pria yang tak lain yang memberikan Sky makan itu.
"Kau siapa?" tanya Galaksi, pasalnya ia tak mengenali pria itu.
"Mas dia yang memberikan aku makan dan minum, ketika semua orang yang menculik ku tidak memberikan aku makan dan minum, hanya dia saja yang baik padaku," jelas Sky memberitahu.
"Benarkah? Jika begitu cepatlah. Tapi awas jika kamu salah memotong kabel, aku tidak akan segan-segan membunuh seluruh keluarga mu," ancam Galaksi.
"Saya pastikan, saya tidak akan salah tuan, karena bom ini saya sendiri yang merakitnya."
"Apa!" ucap Galaksi tak mengerti.
Sementara pria itu mulai menjinakkan bom itu dan tak perlu waktu lama, hanya satu menit saja bom itu pun berhasil dijinakkan, bahkan rompi yang Sky pakai pun bisa terlepas.
Karena rompi itu dibuat khusus, dan tidak sembarang lepas begitu saja.
Setelah bom itu berhasil dijinakkan, Galaksi pun langsung membawa Sky pergi ke rumah sakit, setelah mengucapkan kata terima kasih pada orang itu.
"Kalian semua kembali lah, tapi sebelum itu, urus semua orang yang ada disini. Kuburkan semua orang yang sudah meninggal dengan layak, dan jika ada yang masih hidup segera bawa ke rumah sakit, dan bawa pria ini juga ke markas, namun jangan apa-apakan dia," perintahnya pada semua anak buahnya.
"Baik tuan."
Mereka pun mulai menjalankan tugas mereka.
...***...
Jangan lupa kasih bunga mawar dan kopinya, agar aku semangat nulisnya 🙏😂
__ADS_1
Maaf jika banyak typo, happy reading 💚