
Waktu sekarang.
Keesokan paginya, bayi Galaksi dan Sky pun sudah di bawa ke ruangan inap Sky, bayi itu pun sudah dibersihkan dan menggunakan pakaian serta bedong yang sudah di bawa oleh anak buah Galaksi kemarin.
Dan hari ini, Sky tengah diajari cara memberi ASI eksklusif pada bayinya dengan benar.
Sky pun mengikuti instruksi dari salah satu perawat yang membawa bayi mereka tadi.
Saat Sky sudah benar memberikan ASI pada bayinya, barulah perawat itu pergi dari sana.
Dan kini tinggallah Sky dan Galaksi.
"Sssshhhttt," lenguh Sky lantaran belum terbiasa memberikan ASI.
"Kenapa sayang, sakit?" tanya Galaksi yang saat ini tengah duduk di atas hospital bed di samping sang istri, seraya melihat bagaimana putranya itu melahap sumber ASI secara langsung dari ibunya.
"Sedikit, dan ngilu juga. Mungkin karena belum terbiasa kali ya mas," jawab Sky.
"Bisa jadi kamu belum terbiasa, gak kaya waktu aku nyusu sama kamu, kamu gak ngeluh sakit, kan sudah terbiasa," celetuk Galaksi, dan sedetik kemudian ia mendapatkan cubitan di pinggangnya oleh sang istri.
"Awww sayang sakit! Kenapa di cubit sih," ucap Galaksi dengan wajah di buat semelas mungkin.
"Habisnya kamu ngomong gak di saring dulu, asal ngomong aja."
"Hehehe maaf, tapi aku mau tanya deh sama kamu," ucapnya.
"Apa?"
"Enakan mana, pas aku nyusu atau pas baby kita nyusu?" tanyanya, dan seketika ia mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.
"Hehehe, sayang jangan marah, aku cuman penasaran doang kok, bener," ujarnya seraya memperlihatkan gigi rapi dan putihnya.
"Aku rasa gak perlu di jawab."
"Yah kok gitu," ucap Galaksi dengan wajah kecewa.
"Mas jangan kaya anak kecil ah, adek belum tidur loh, jangan ngomongin kaya gitu di dekat adek. Tapi kalau boleh jujur, enakan sama kamu sih mas, eh," cetus Sky.
"Sayang!!! Kamu bikin aku gemes," ujar Galaksi, ia pun menghujani wajah istrinya itu dengan ciuman.
Pada saat Galaksi hendak mencium bibir istrinya, tiba-tiba ada sebuah tangan kecil yang menampar pipi Galaksi dengan pelan.
"Eh," ucapnya, ia pun mengurungkan niatnya untuk mencium bibir istrinya.
Ia pun melihat ke arah orang yang menampar pipinya, yang ternyata adalah putranya sendiri.
"Jadi kamu yang menampar papah, hm," ujarnya, seraya memegang tangan kecil putranya, yang mana memang satu tangan anaknya tidak di bedong.
"Itu artinya, kamu gak diperbolehkan cium aku sama adek, bener kan sayang," ucap Sky pada anaknya itu, dan dibalas dengan elusan di pipinya.
__ADS_1
"Aku rasa nanti kalau sudah besar, putra kita pasti akan berpihak padamu," ucap Galaksi.
"Tentu saja, kan adek anaknya mamah."
Mereka pun terus melihat putra mereka masih menyedot ASI dari sumbernya.
Galaksi pun membelai pipi mulus putranya itu menggunakan jari telunjuk nya.
...***...
Sementara itu di mansion Galaksi, kini semua orang tengah sibuk lantaran, Monica di temukan sudah tidak bernyawa, bahkan pisau kecil itu masih tertancap di lehernya.
"Apa kau membunuhnya?" tanya Mike pada Lily, saat ini keduanya berada di depan ruangan tempat Monica di sekap.
Mereka melihat jasad Monica yang sudah terbujur kaku, darah yang tak henti-henti keluar dari lehernya.
Sementara itu kedua pipi dan leher bagaian samping terdapat koreng.
"Tidak, saya tidak membunuhnya. Saya hanya membuat lukisan dikedua pipinya dan memotong rambut nya, itu saja," jawab Lily dengan pandangan dingin menatap mayat Monica itu.
"Lalu kenapa dia bisa mati?"
"Mana saya tau, mungkin dia bunuh diri," jawabnya dengan santai.
"Haissstt, kau ini. Sudah, saya mau menghubungi tuan Galaksi dulu, saya ingin memberitahukan bahwa kini Monica sudah tidak bernyawa," ucapnya.
"Astaga sepertinya penyakit wanita itu kambuh lagi," gumam Mike, seraya menjauh dari tempat itu untuk menghubungi Galaksi.
Sementara itu Lily pun menghampiri jasad Monica, ia pun berjongkok di depan jasad itu.
"Haissstt, kenapa kamu bunuh diri, aku kan masih belum puas bermain denganmu. Padahal hari ini aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," ucapnya tanpa beban.
Lily pun berdiri dan beranjak meninggalkan ruangan itu.
Sementara itu Mike kini sudah menghubungi Galaksi.
"Halo tuan, maaf saya mengganggu anda," ucapnya, ketika panggilan itu terhubung.
"Hm, katakan ada apa?"
"Saya hanya ingin memberitahu, bahwa Monica saat ini sudah meninggal."
"Apa? Tapi bagaimana bisa? Bukankah sudah ku katakan jangan bunuh wanita itu, biar hukum negara yang menghukumnya. Lalu kenapa dia bisa mati, apa Lily yang sudah membunuhnya?" tanyanya. Karena seingatnya semalam Lily meminta ijin untuk menghukum wanita itu dengan tangannya sendiri, dan yang ditakutkan Galaksi ialah, Lily membunuh wanita itu, lantaran Galaksi tau, bahwa dulu Lily memiliki sakit pada kejiwaannya, sehingga membuat Lily menjadi seorang psycophath.
"Aku rasa tidak, dia sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak membunuhnya. Lagi pula saat saya memeriksa jasad Monica tadi, tali yang mengikat tangannya sudah terlepas dan itu dipotong semacam menggunakan pisau. Saya pikir, wanita itu bunuh diri, lantaran tidak sanggup harus menghadapi hukuman yang Lily berikan. Dan ada satu hal yang ingin aku sampaikan pada anda, sepertinya penyakit Lily kambuh kembali," jelas Mike.
"Yasudah, sebaiknya kamu makam kan jasad wanita itu dengan layak dan sesuai kepercayaan nya. Bagaimana aku tidak mau nantinya hal buruk menimpa keluarga ku, lantaran aku tidak berbuat baik. Sudah cukup selama beberapa tahun aku melakukan kejahatan, sekarang tidak lagi."
"Baik tuan."
__ADS_1
"Oh ya Mike, satu lagi. Hubungi dokter yang menangani Lily waktu di Rusia, bawa dokter itu ke sini menggunakan jet pribadi kita."
"Baik tuan."
Tut. Panggilan itu pun terputus, dan Mike pun mulai menjalankan perintah dari tuannya.
Mike pun memerintahkan beberapa anak buahnya untuk memanggil seseorang yang biasa mengurus mayat, untuk memandikan dan menguburkan jasad Monica sesuai dengan kepercayaan yang dianut wanita itu.
Tapi sebelum itu, Mike pun menjelaskan pada orang-orang yang mengurus jasad Monica, dengan berbohong bahwa dia adalah orang yang mempunyai sakit mental pada kejiwaannya, sehingga membuat dia nekat menyakiti dirinya sendiri dan bunuh diri.
Agar orang-orang itu tidak curiga.
...***...
Rumah sakit.
Galaksi yang sudah selesai bicara dengan Mike pun memasukkan kembali handphone-nya kedalam saku celananya.
"Ada apa mas?" tanya Sky, saat suaminya itu sudah duduk di kursi yang berada di samping hospital bed nya.
"Mas dapat kabar dari Mike ... Mike bilang, bahwa Monica sudah meninggal lantaran bunuh diri," jawab Galaksi.
"Inalillahi wainnailaihi roji'un, kok bisa?"
"Mas juga gak tau sayang."
"Mas gak nyuruh anak buahnya mas, buat menyiksa dia kan?"
"Ya nggak lah sayang, kan mas udah janji padamu, bahwa mas gak bakal mengotori atau menyuruh seseorang untuk menghukum nya, biar hukum negara saja yang menghukumnya," ucapnya dengan sedikit kebohongan, pasalnya ia telah mengijinkan Lily untuk memberikan hukuman pada wanita itu.
Galaksi pun sedikit menyesal, lantaran memberikan ijin pada Lily, tapi sepertinya Lily tetap akan memberikan hukuman pada Monica walaupun ia tidak mengijinkannya.
"Lalu kenapa dia bunuh diri?"
"Ya mana mas tau sayang, kan mas dari semalam nungguin kamu disini, lagi pula orang-orang yang ada di sana juga gak ada yang tau, kenapa dia bunuh diri," jawabnya.
"Sudahlah, jangan pikirin hal itu," lanjutnya.
"Tapi kamu sudah menyuruh anak buahmu untuk menguburkan jasad Monica dengan layak kan mas?"
"Kamu tenang saja, mas sudah menyuruh mereka untuk menguburkan jasad Monica dengan layak, dan sesuai kepercayaan yang dianut wanita itu."
"Huh syukurlah kalau gitu."
"Lebih baik kamu istirahat, mumpung baby nya lagi tidur, apalagi semalam kamu kurang tidur," ujar Galaksi.
"Iya mas." Sky pun mencoba untuk tidur sebentar.
Galaksi pun menunggu kedua orang yang ia sayangi, yang tengah terlelap itu.
__ADS_1