
Bening berjalan mencari keempat anaknya. Pikirannya bercabang banyak. Hatinya seakan tak rela mencari pengganti Guntur.
"Ehmmm...". Suara dehemen terdengar.
"Ehmmm...". Kembali deheman terdengar.Kali ini lebih keras.
"Bunda lagi mikiran apa sih, nggak fokus jalannya". Tanya Langit pada Shaka.
"Mikirin kita mungkin.Kita sering nyusahin bunda" Balas Shaka.
"Bunda seperti lagi banyak pikiran ya, nggak lihat kita lho". Bulan berdecak tak percaya.
"Bundaaaa" Seru mereka bertiga.
Bening melonjak kaget. Suara anak anaknya begitu keras terdengar.
"Ya ampun. Kalian ini bikin bunda kaget".
"Habis bunda kayak orang bingung. Muter muter dari tadi. Bunda lagi nyari apa?". Tanya Bulan.
"Bunda lagi nyari kalian. Lho kak Delima mana?"
"Tuh bunda". Tunjuk Shaka . Dilihatnya Delima berjalan sambil bersenandung riang
"Wah ada apa nih?'.Tanya Delima. Dipandangnya wajah sang bunda. Ada kerut di dahi
"Bunda, semua baik baik saja kan?". Tanyanya lagi
Bening mengangguk pelan, lalu berkata.
"Ayo temua uyut berdua. Ada yang mau dibicarakan". Kata Bening sambil menggandeng tangan kedua anak gadisnya.
"Hal genting, bunda?" Shaka penasaran bertanya.
"Iya, begitulah". Sahut Bening bergegas dengan langkah cepat.
Sementara itu di Ndalem Kasepuhan Kidul,nampak Ang dengan wajah yang.sulit ditebak, memandang Uyut Susmita dengan seksama.
"Memang siapa namanya, yut?
"Dari Klan Purba Ungu bernama Safira Asmara sedang dari sedangkan dari Klan Purba Putih bernama Permata Idaman
Keduanya memiliki kelebihan masing masing. Kau bisa mengenalnya lewat cara instan nanti, dengan Ilmu Pemanggil Sukma dari kakek buyut Phandu, kalian bisa bertemu".
Ang mengingat ingat dua nama yang disebutkan uyutnya. Ia merasa familiar dengan salah satu nama.
"Safira Asmara itu bukankah dulu gadis kecil berpipi tembem itu, yut? Dan cengengnya minta ampun". Tanya Ang
Kedua uyut tersenyum lebar mendengar hal itu
" Ah masih ingat juga kau sayang. Tapi sekarang sudah berbeda. Pipi tembemnya sudah tidak ada. Dia juga sudah ndak cengeng". Sahut uyut Susmita
__ADS_1
"Kalau Permata idaman,apa kau juga ingat?*.
Tanya kakek Pandhu
"Ituuu...".Ang mencoba mengingat tapi gagal
"Dia dulu gadis kecil yang suka sekali membuntuti bundamu. Bahkan pernah minta tidur dikelonin bundamu, bikin Delima sama Bulan marah". Terang uyut Pandhu.
Ang mencoba mengingat kembali. Tiba tiba ia ingat masa itu. Sangat menyebalkan karena gadis itu seperti lem. Bahkan ibu gadis kecil itu sampai minta maaf sama bunda berkali kali mengingat ulah gadis kecil itu yang manjanya selangit.
"Ang ingat uyut. Dia bikin Ang emosi tinggi". Ujarnya.
Kekehan keluar dari mulut sang uyut, lalu katanya
" Iya dulu, tapi sekarang ini dia gadis yang berbeda. Jejak manja dan menyebalkan sudah tidak ada".
Terdengar pintu besar terbuka, masuklah Bening dan keempat anaknya.
"Ayo duduk. Dengarkan kata uyut. Jangan berisik". Titah Bening
Keempat anak mengangguk tanda mengerti lalu duduk di kursi ukir bunga bunga anggrek moro, sejenis anggrek berwarna keemasan dengan bunga bunga kecil nan cantik.
Uyut Pandhu dan Uyut Susmita bergantian menjelaskan kesepakatan yang sudah terjadi. Mulut keempat anak Bening menganga, terutama Delima. Ia bahkan sempat menggeleng gelengkan kepala saat Banyu Mas, sepupu buyut dari kakek buyut Satria disebut sebut dan seorang lelaki dari Klan Purba Ungu bernama Jaler Sekti.
"Bagaimana, apa kalian paham?" Uyut Susmita melihat satu persatu anak anak dari sang cucu Guntur Peksi.
"Masak Delima sama Banyu Mas sih yut. Dia itu sering bikin Delima darah tinggi. Tingkahnya sangat sangat nenyebalkan". Protes Delima
Kakek buyut Pandu tergelak. Banyu Mas dan Delima memang seperti tikus dan kucing. Ada saja yang diributkan dari mereka kecil sampai dewasa.
"Pokoknya Delima ogah sama dia. Bisa bisa nanti Delima pusing kepala tiap hari kalau jadi istrinya". Katanya sewot.
"Wah..yang sudah mbayingin jadi istri". Ledek Shaka
"Iya nih kak Del lucu. Bilang ogah kok sampai bermimpi jadi istrinya lho. Jangan jangan kak Del mau mau malu ya". Goda Bulan
Wajah Delima memerah seperti udang rebus. Ang sampai tak kuat menahan tawa.
"Memang kak Ang sudah punya calon, bisa bisanya mentertawakan Del". Mata Del mendelik sambil berkacak pinggang
Wajah Ang langsung berubah. Kepalanya digaruk garuk karena mendadak gatal.
"Iya juga ya, kakak sudah punya gadis yang mau diincar?" Langit bertanya tengil. Alisnya dinaik turunkan
"Lihat tuh wajah kak Ang". Ejek Delima
"He-em wajahnya juga memerah hahahaha". Tertawa Langit sampai bahunya bergoncang.
"Kalian ya". Tunjuk Ang Gemas
"Langit dan Shaka juga sama. Kalian juga wajib menikah" Bunda menatap kedua anak lakinya. Masih sangat muda. Sepert tak rela melepas mereka menjadi pria dewasa.
__ADS_1
Mulut Langit mengerucut. Ia bahkan bingung jika berhadapan dengan gadis gadis. Nyalinya tiba tiba menciut.
"Bunda, boleh tidak diundur. Langit belum siap". Ujarnya.
"Tidak bisa sayang. Tadi kan sudah dijelaskan sama uyut". Terang Bening
Sementara itu Shaka senyum senyum sendiri. Seraut wajah jelita tiba tiba memenuhi ingatannya. Seorang gadis yang membuat degub jantungnya bertalu talu. Meski usianya lebih tua dibanding dirinya tapi Shaka sudah terlanjur jatuh cinta. Ia bahkan tak sungkan menyebut nama saja tanpa embel embel sebutan kakak.
"Kok senyum senyum sendiri, kau sudah punya tambatan hati rupanya". Delima menyipitkan kedua matanya. Shaka sangat mencurigakan.
"Tentu. Shaka sudah mengincarnya sejak setahun yang lalu" . Mantab Shaka berkata pada sang kakak.
"Siapa?" Serempak saudaranya bertanya
Shaka senyum senyum lagi. Binar matanya mengungkapkan banyak fakta tersembunyi. Kedua uyut memandangnya sambil tersenyum penuh arti.
"Tuh liat uyut berdua juga ketularan Shaka". Tunjuk Langit pada kedua uyutnya.
Tatapan mata beralih, kakek buyut Pandhu tertawa renyah.
"Terulang lagi kisah lama". Batinnya bicara
"Iya, sayang. Kalau dipikir pikir lucu juga ya". Sahut batin uyut Susmita.
"Uyut kenapa saling pandang. Bikin kita penasaran". Langit menatap kedua uyutnya seperti minta penjelasan lebih.
"Ha ha ha ha. Kalian ini bikin uyut gemas. Uyut bahagia, sebentar lagi akan banyak berita baik menyebar" Katanya dengan mata bahagia.
Ia lalu menatap buyutnya Delima
"Delima sayang kau serius tak mau kenalan lebih dalam dengan Banyu Mas?".
Delima merengut dengan mulut manyun.Ia menggeleng berkali kali.
"Berarti kita langsung ke Klan Purba Ungu untuk memperkenalkan Delima ke Jaler Sekti".
"Apa Del pernah berjumpa sebelumnya,uyut?"
"Tentu saja. Waktu kecil ia pernah membuat kepalamu benjol hahaha". Tawa terbahak membahana keluar dari mulut kakek buyut Pandhu.
Mata Delima membola. Ingatannya kembali kemasa itu, masa dimana ia pernah menyumpahi anak laki kecil dengan bahasa yang masih cedal. Para orang tua hanya tertawa waktu itu.
" Ih..dua duanya menyebalkan. Ndak ada yang bagus". Omelnya dalam hati. Delima tak bisa membayangkan hidup dengan laki laki yang pernah membuatnya tidak bisa tidur karena benjolan dikepala. Mendiang sang ayah sampai kebingungan cara menenangkannya.
"Del ndak mau dua duanya uyut. Mereka biang kerok semua. Del benci". Suara ketus Delima terdengar sampai membuat Bening terpana beberapa saat. Lalu titahnya
"Sayang jodohmu hanya salah satu dari mereka. Kau akan berkenalan lebih dalam dengan mereka berdua. Tidak ada penolakan".
Airmuka Delima berubah merah. Airmatanya tumpah.
"Ayaaaah, Del ndak mau nikah!".Teriaknya menyebut mendiang Guntur Petir.
__ADS_1
Bening menegang, uyut berdua memegang dada terkejut, sementara saudara saudara Delima memandang dengan ekspresi sendu.
"Kangen ayah". Ujar mereka bersahutan.