TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
WHEN THE FIRST ACTION BEGUN


__ADS_3

Panggung raja dan ratu sehari masih full pelototan dari para orang tua. Tania sampai membisikkan sesuatu pada Cakra, membuat wajah tampan itu menegang. Elusan tangan pada sang istri pun lepas.


"Memang apa yang kau bisikkan padanya, adindaku sayang?".


"Rahasia".Ujar Tania dengan senyum misterius.


Tunggul hanya berdehem. Kalo sudah seperti ini, diam adalah emas.


"Ya ampun kanda lihat putri kecilmu itu. Kenapa tingkahnya seperti gadis berumur tujuh tahun. Masa setiap kali dibohongi mau mau saja".


"Dia percaya padamu adindaku sayang. Percaya dengan perkataan orang orang yang dia sayangi termasuk bik Sumi.Kau sangat kompak kalau membuat cerita imajinasi".


Tania cemberut. Putrinya masih punya khayalan anak usia tujuh tahun. Kadang ia kewalahan menghadapi rengekannya.


"Kanda, lihat mau kemana Mara?". Ucap Tania cemas.Dilihatnya bik Sumi tergopoh gopoh mengejarnya.


Tunggul mengernyitkan dahi. Si kecil Mara menghampiri Prayuda Perkasa


"Mengapa Mara menghampiri laki laki dari Klan Purba Biru? Bukankah itu buyut Ayunda Putik. Dan dia itu ..."..Mata Tunggul membola. Ia menggelengkan kepala. Apa yang akan terjadi kalau uyut Suamita tahu, buyut dari Klan Purba Ungu bergerak aktif mendekati laki laki dari klan Ayunda Putik, rival abadi uyutnya.


"Adindaku sayang, cepat kau hampiri Mara. Gawat kalau dilihat uyut Susmita". Ujar Tunggul Cemas.


"Dia menghampiri Prayuda Perkasa, kanda. Jangan khawatir dia punya nama baik. Perangainya sangat sopan. Kalau saja Mara sudah cukup umur,aku tidak keberatan punya mantu tampan dan juga menawan seperti dia".


"Kau memuji laki laki lain adindaku sayang". Tunggul sedikit menggeram. Ia sangat cemburu


"Masa muji calon menantu tidak boleh. Kanda aneh".


"Saat ini dia orang asing buat keluarga kita".


"Tenang kanda. Kalau dia mau menuggu Mara lima tahun lagi, kenapa tidak? Dia bisa jadi calon suami Mara. Asal ada pertemuan antar orang tua".


"Apa kau lupa, ia buyut Ayunda Putik, musuh bebuyutan Uyut Susmita".


"Sudah seratus tahun berlalu kanda. Masing masing sudah punya pasangan sendiri.Masa gara gara persoalan itu, nasib putri kita juga dipertaruhkan. Itu tidak adil kanda". Ujar Tania ketus


Tunggul menghelai nafas panjang. Pikirannya melayang layang bagaimana dua uyut itu bersitegang dan membuat pusing kedua suaminya.


"Lihat kanda, Prayuda begitu sabar mendengar celoteh putri kita". Tania tersenyum senang.


"Apa dia suka sama Mara ya? Tapi terpaut jauh". Keluhnya


"Kanda setuju kan kalau misal Mara berjodoh dengannya. Memang terpaut lumayan jauh sih, tapi sulit mencari menantu


baik seperti dia".


"Kau bilang lumayan? Terpautnya jauh adindaku sayang".


"Leluhur kita juga ada yang terpaut separo umur. Langgeng juga kanda".


Tunggul tidak mengelak hal itu bahkan Yang Agung Meneb Jiwa juga selisih banyak usia dengan istri tercinta.

__ADS_1


"Tapi akan aneh kalau dia memanggilmu ibu dan ayah padaku. Dia itu pantasnya jadi adikmu".


Tania lagi lagi cemberut. Hatinya mantab untuk menjodohkan putri bungsunya dengan Prayuda. Siapa tahu sifat kekanak kanakan Mara hilang.


"Kanda, obat supaya Mara berubah jadi dewasa selangkah demi selangkah adalah dengan menjodohkan dia dengan Prayuda Perkasa". Ucap Tania Mantab


Tunggul memejamkan mata, mengontrol emosinya. Ia tak mungkin menyerahkan putri bungsunya pada laki laki yang pantas menjadi omnya.


"Kita bicarakan dirumah. Kita fokus ke Safira dulu".


"Sehabis acara aku akan menemuinya. Aku ingin sekedar mengenalnya. Kanda tidak boleh melarangku". Ucapnya galak.


"Aku ikut".


Tania tersenyum penuh kemenangan. Suaminya tidak mungkin membiarkan dirinya sendirian menemuinya


Sementara ditempat duduk Prayuda, si kecil Mara tak berhenti berceloteh. Ia merasa diperhatikan dan betah ngobrol dengan laki laki yang ia yakini pangeran berkuda saat Yuda men jawab pertanyaannya kalau ia bisa berkuda dan punya seribu kuda di lahan peternakan yang sangat luas.


"Om ganteng. Habis selesai nikahnya kak Safira, ajak Mara lihat kuda ya. Yang besar warna putih". Ucapnya bersemangat.


"Belum bisa Mara cantik. Setelah kakakmu, masih ada pernikahan lagi. Sabar ya. Mara juga harus ijin ayah ibu kalau mau kesana". Ucap Yuda lembut.


"Tentu. Ayah Ibu boleh ikut ya, om ganteng". Tanyanya penuh harap.


"Tentu saja boleh Mara cantik".


"Mara beneran cantik ya om ganteng. Dari tadi manggil Mara cantik melulu".


"Mara memang cantik. Benarkan bik Sumi?". Tanya Yuda.


Mara tersipu malu membuat Yuda terpana. Rona merah dipipinya sungguh sedap dipandang mata. Ayunda Putik hanya memperhatikan kedekatan keduanya sambil bisik bisik kesuaminya. Baruna Laut memandang tak percaya


"Jangan bercanda, manis. Gadis itu terlalu kecil untuk buyutmu. Kau pasti mendengar ceritanya yang masih penuh imajinasi".


"Nanti juga hilang kalau sudah beranjak dewasa. Dia itu hanya masih terlalu lugu saja".


Baruna menggeleng lemah. Bayangan mengerikan menari nari di otaknya.


"Aku harus secepatnya bilang ke Pandhu. Aku bisa pusing kepala setiap hari kalau seperti ini". Monolognya dalam hati.


"Lihat, mereka begitu serasi".


"Terlihat seperti om dan keponakan".


"Apa maksudmu tuan Baruna Laut". Bisik Ayunda Putik dengan


intonasi yang bikin merinding.


" Mereka lebih layak sebagai om dan keponakan dari pada pasangan cinta".


"Kau bermaksud melawanku dan juga buyutmu, tuan Baruna Laut". Mata Ayunda tajam memandang sang suami.

__ADS_1


"Kau ini serius sekali. Aku hanya bercanda".


"Tapi bercandanya keterlaluan. Kau mengejek buyutmu sendiri". Ujar Ayunda ketus.


Baruna mengelus tangan istrinya mesra. Ayundanya memang unik. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama saat dengan bar bar dia hampir saja merusak acara pernikahan Pandhu dan Susmita.


"Maaf sayang. Buyutmu butuh perjuangan panjang dan kesabaran tingkat tinggi. Yang disukai Yuda itu buyutnya Susmita. Kau harus bisa berdamai dengannya dan juga egomu jika kau sungguh sungguh ingin menyatukan mereka".


"Berdamai? Memang harus?".


"Jika kau sungguh sungguh menginginkan gadis itu jadi buyut mantumu, mulailah melepas egomu. Aku tidak ingin kedua buyut terseret masalahmu dengan Susmita. Kalian berdua harus benar benar berdamai bukan hanya basa basi dibibir saja".


Ayunda Putik menghelai nafas. Ia paham yang dimaksud oleh sang suami.


"Aku akan melakukannya suamiku sayang. Yuda berhak bahagia. Dia buyut yang berbakti".


"Aku tahu. Jika kau sudah paham. Aku tak ragu mendukungmu. Selesai acara ini, kita temui Pandhu ya".


"Buat apa?". Tanya Ayunda lugu


"Dia tetua di Klan Purba Putih. Memang harus kesiapa kita bicarakan hal ini, manis?".


"Begitu saja marah. Aku kan cuma nanya". Ucapnya sengit


"Aku tidak marah istriku sayang". Baruna menepuk nepuk pelan tangan sang istri".


"Kita tidak menemui Susmita kan?".


"Pandhu dulu sayang. Dia kuncinya".


"Kau benar. Habis itu sisanya mudah ditangani".


"Nah ini baru istriku yang manis".


Sementara itu kedua manusia beda usia terpaut jauh masih asyik bercengkrama.


"Gawat. Tuan ganteng memandang ndoro ayu Mara penuh gairah cinta. Tuan dan nyonya besar harus tahu ini".Batin bik Sumi


Ia lalu berdehem menghentikan obrolan seru keduanya


"Maaf tuan ganteng, Saya pamit mohon diri dulu. Ndoro ayu Mara harus minum susu dulu sebelum ketiduran".


"Mara sudah besar bik Sumi, nggak usah minum susu, malu didengar om ganteng". Ujar Mara cemberut


Yuda tergelak. Gadis kecilnya lucu sekali.


"Mara cantik dengar baik baik. Minum susu itu sehat,


bikin cantik, bikin pintar dan cepat besar. Mara cantik mau minum susu ya". Bujuk Yuda.


"Iya Mara mau minum susu biar sehat, cantik,pintar dan cepat besar". Ucap gadis itu bersemangat

__ADS_1


Bik Sumi melongo. Biasanya banyak drama kalau minum susu. Tapi sekarang. Sekali dibilangin tuan ganteng langsung menurut.


"Wah menakjubkan tuan ganteng ini. Aku harus berguru padanya". Gumam Bik Sumi lirih.


__ADS_2