
Ang panik waktu mengetahui Permata pingsan, diguncangnya pelan tubuh gadis itu, tak ada pergerakan. Secepat kilat Ang membawa ke dalam Dhayoh Utomo. Bertanya pada pelayan jaga, disinilah Ang sekarang, di kamar Permata. Dengan hati hati, dibaringkan tubuh lemah dengan mata yang masih setia terpejam.
"Permata, bangun". Lembut Ang menepuk pipinya. Perlahan mata gadis itu terbuka. Kepala terasa berat, hati nyeri teringat perlakuan Ang padanya. Airmata kembali meleleh, sorot mata sendu. Ia terisak tertahan. Ang secara refleks membungkukkan badan, memeluk hangat gadis yang entah kenapa membuatnya selalu ingin dekat. Permata bermaksud lepas dari pelukan Ang, namun apa daya kekuatannya saat ini seperti menguap tak berbekas. Ia merutuki diri sendiri yang begitu lemah berhadapan dengan Ang.
Tiba tiba pintu didorong dari luar dengan tenaga lumayan keras. Wajah sangar menyeramkan terpampang di depan pintu, sementara dibelakangnya seorang perempuan usia empat puluh tahun menutup mulut dengan mata terbelalak.
"Apa yang kau lakukan pada putriku". Suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Ang yang begitu nyaman memeluk erat Permata terperanjat melihat laki laki setengah baya dengan aura menakutkan, menghampiri dan hampir memukul wajah tampannya jika perempuan yang berada dibelakang tidak mencegahnya. Kasar ia mengusap wajah tegas dan berwibawa,
"Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu, anak muda. Kau sudah mencoreng harga diri kami". Geramnya
Sementara Permata menangis sesenggukan. Sang ibu langsung menghampiri anak gadisnya, menenangkan dengan mengelus sayang rambut bersurai keemasan.
"Perkenalkan tuan nyonya, nama saya Angkasa Biru. Saya datang kemari ingin meminta maaf karena ketidak sopanan saya dan kebodohan saya sehingga membuat tuan, nyonya dan Permata menjadi pihak yang dirugikan".
Duta Perkasa, ayah dari Permata mendengus kasar, giginya gemeluthuk menahan amarah. Harga dirinya seperti diinjak dua kali. Ang mentah mentah menolak bertemu putrinya, artinya dia menolak perjodohan yang sudah dibicarakan matang. Dan sekarang, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih.
"Kau belum menjawab pertanyaanku.Apa yang kau lakukan pada putriku". Matanya tajam seperti hendak mengiris iris wajah Ang, membuat si empu merinding disco.
"Maafkan aku tuan, tadi putri anda pingsan dan juga menangis, saya bermaksud menenangkannya". Ujar Ang polos.
Jawaban Ang semakin membuat Duta meradang. Mejapun menjadi sasaran, digrebrak dengan sangat keras, dan hancur berkeping keping.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Kau menakuti putri kita". Seru perempuan yang akrab dipanggil Dinda Suci.
__ADS_1
Mendengar suara perempuan yang sangat dicintainya, membuat emosi Duta melemah. Dinda segera menghampiri, mengelus dadanya lalu menepuk nepuk pelan.
"Sabar sayang. Kau membuatnya takut. Bagaimana mau punya menantu kalau kau emosian seperti ini". Ucapnya lembut.
Ang yang melihat adegan mesra didepan mata,tersenyum samar. Ternyata begitu sang pawang datang, singa yang mengamukpun tunduk, menjadi tenang.
"Dia tidak boleh lolos, Cici" Panggilan sayang Dinda terucap dari laki laki yang sudah memberinya keturunan seorang putri kesayangan.
"Aku tahu sayang, tapi tolong jaga emosimu ya. Jangan sampai putrimu dan putra Guntur Peksi ketakutan hmm". Tuturnya lembut. Di usap lengan kekar sang suami.
Duta memandang Dinda mesra. Kalau sudah begini, ia tidak akan bisa marah. Mode penurut dan manis on. Permata bangun dari pembaringan lalu memeluk keduanya manja.
Ang melongo melihat perubahan Duta. Kemana wajah seram, garang ,menakutkan tadi. Kini ia begitu lembut dan manis pada perempuan beda umur yang berada dalam pelukannya.
Dinda tertawa kecil mendengar Ang bergumam. Ia pun menoleh dengan tubuh masih menempel mesra pada sang suami.
"Kau juga akan seperti itu kalau sudah menikah tuan Angkasa".
Ang tersenyum malu. Ia memencet pelan hidung mancungnya.
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan pada putriku. Aku pastikan jika kau mengelak, aku akan menghadap buyut Pandhu dan Satria untuk meminta keadilan". Suara Duta kembali membuat bulu kuduk Ang berdiri. Ia elus tengkuknya beberapa kali.
"Maksud tuan keadilan apa? Saya tidak melakukan kejahatan apapun pada putri tuan".Ujar Ang lugu.
Tangan Duta mengepal. Ia ingin sekali meninju wajah tampan menyebalkan milik Ang. Dengan sigap Dinda mengelus lembut tangan suaminya. Ah...reda lagi emosi yang sempat memuncak.
__ADS_1
"Biar aku yang bicara dengannya sayang. Dia masih polos". Bisik dinda sambil berjinjit.
Duta memandang istrinya. Dengan kedipan mata dari Dinda akhirnya Duta mengangguk setuju.
"Begini tuan Angkasa, yang dimaksud ayah Permata, memeluk gadis yang tidak punya hubungan apa apa dan di dalam kamar berduaan itu berdampak pada citra buruk sang gadis. Anda tentu bukan tipe laki laki yang suka lari dari tanggung jawab, bukan?" Dinda menekan suara pada kalimat terakhir.
Ang tertegun menyimak penjelasan Dinda. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Kepala Ang mendadak pusing. Ia teringat Safira. Apa kabar hatinya kalau mendengar ini semua. Ang berada di posisi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
"Nama baik Permata dan keluarga dipertaruhkan. Tanpa anda sadari, penolakan anda terhadap perjodohan yang sudah disetujuhi dua belah pihak, melukai harga diri kami, tuan Angkasa. Dan barusan anda memperlakukan putri kami seperti itu. Sangat tidak beretika". Dinda menatap tajam pada Ang, hingga membuat Anak tertua Bening Tiara memucat wajahnya.
"Kami harap anda segera menentukan sikap tuan Angkasa, sebelum rumor buruk beredar. Permata adalah putri semata wayang kebanggan kedua orang tuanya. Kami tidak ingin terinjak harga diri untuk ke dua kali". Tegas Dinda
Ang dibuat semakin pusing. Kenapa jadi rumit seperti ini. Sikapnya yang spontan membuat bumerang, hingga ia tak sanggup lagi berfikir. Waktu menunjukkan jam tujuh lebih seperempat, harusnya ia sudah bersiap siap dengan adik adiknya. Hari bahagia bunda didepan mata. Tapi lihatlah ia sekarang. Seperti pesakitan yang di investigasi tanpa bisa membela diri. Penjelasan Dinda begitu menohok, telak menjungkir balikkan logikanya.
"Ayah, ibu tuan Angkasa tidak ingin melakukan perjodohan dengan Permata, jadi mohon jangan disudutkan. Pernikahan paksa membuat dua belah pihak tidak bahagia".
Permata memandang dua orang yang sangat disayangi dengan tatapan memohon, tapi baik Dinda ataupun Duta tetap pada pendirian.
"Ayah Ibu, Tolong hentikan sampai di sini. Permata tidak apa apa. Lihat ayah ibu, keadaan Permata baik baik saja".
"Apa kau tidak memikirkan perasaan ayah ibumu, sayang. Kami menanggung malu saat putra Guntur Peksi hanya mau berkenalan dengan Safira dari Klan Purba Ungu, sementara ia menolak bertemu denganmu yang satu klan dengannya. Ia juga mencoreng nama Klan Purba Putih". Duta kecewa dengan sikap putri kandungnya.
"Permata tidak bermaksud durhaka,ayah. Tapi ini sudah melelahkan. Permata ingin sampai disini saja". Ujarnya sedih.
"Urusan perjodohan itu urusan serius, tak main main sayang. Kita juga harus menjaga perasaan para tetua. Jika saja tuan Angkasa mau menemuimu barang sebentar, maka tidak akan berembus spekulasi liar yang berkembang tak terkendali". Panjang lebar Dinda memberi pengertian pada putrinya. Helaian nafas berat terdengar. Dua anak didepan kedua mata ini, sepertinya masih lugu, begitu polos dan ah...Dinda menggeleng frustasi.
__ADS_1