TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
FIFTH STEP: ON GOING PROCESS


__ADS_3

Dua pasang suami istri terlibat dalam pembicaraan serius sedangkan sejoli yang sedang dimabuk asmara saling mengirimkan sinyal sinyal cinta. Arum mencubit pinggang putra tertuanya. Jatuh cinta membuat Cakra seperti bukan Cakra yang biasanya.Ia hanya bisa meringis saat kedua kali sang ibu mencubit pinggangnya. Safira dengan lembut mengelus bekas cubitan itu membuat Tania spontan menarik tangannya kemudian menyuruh berpindah tempat duduk. Kedua ayah hanya menatap malas.


Pembicaraan dilakukan lagi. Tak terasa dua jam berlalu dan akhirnya mereka memutuskan untuk menjalankan tugas yang sudah mereka bagi. Tania dengan cepat membawa Safira menjauh dari Cakra, membuat laki laki tampan ini hampir ikut menyusul jika Elang tidak sigap meraih tangannya.


"Tinggal tunggu besok malam, kalian sudah resmi menjadi suami istri". Kata Elang memberi pengertian pada putranya. Sedangkan Arum lagi lagi menjadikan pinggang Cakra sebagai tempat empuk untuk melampiaskan rasa kesalnya


"Kau ini jangan membuat malu ayah dan ibu". Ujar Arum melotot


"Kangen bu". Ucap Cakra melankolis


"Apa ibu harus mencubitmu lagi hmm".


"Jangan bu, masa calon mempelai belum apa apa pinggangnya sudah merah merah". Kata Cakra usil


Elang dan Arum sudah siap menyerbu putra mereka dengan serentetan kata kata, sayangnya si pelaku sudah berlari menjauh.


"Anak siapa itu". Keluh Arum


"Tentu saja putraku". Kata Elang


"Pantas".


"Tapi aku tak seperti itu".


"Masa?".


"Waktu mengejarmu dulu aku tidak berperilaku seperti Cakra".


"Pasti karena kau lebih parah"


Elang segera mengakhiri pembicaraan absurd itu dengan menggandeng tangan istrinya.


"Ayo segera kita tuntaskan tugas kita supaya anakmu bisa menikah besuk malam".


Arum meremas pelan tangan suaminya lalu katanya,


"Kita sudah tua ya sayang. Cakra sudah mau menikah, lalu punya anak.Kita jadi kakek nenek". Ucapnya haru.

__ADS_1


"Iya, aku sudah tidak sabar menggendong cucu dan bermain dengan mereka".


"Iya, pasti seru ya punya cucu yang lucu lucu menggemaskan".


"Tentu".


Mereka berjalan menuju tempat peristirahatan uyut Pandhu dan uyut Susmita.


Uyut Pandhu dan uyut Susmita menghelai nafas. Keduanya memandang cucu dan cucu menantu mereka. Lalu kata mereka,


"Jodoh memang seperti itu. Kalau mudah dengan cara apapun juga hasilnya cepat, tapi kalau sulit dikasih formula apapun kadang nihil".


"Kau benar Susmita. Aku pikir Safira akan punya jeda waktu, tidak tahunya cepat sekali".


"Baiklah Elang Arum segeralah menyelesaikan hal lain. Keluarga dua klan dan tamu undangan serahkan padaku. Satria dan Pelangi biar kuberitahu, juga keluarga Guntur, hmm maksudku Jayendra. Kau lanjutkan saja pekerjaan kalian".


"Terima kasih uyut Pandhu berdua, kami pahit". Elang dan Arum undur diri.


Sepeninggalan mereka, uyut Susmita menepuk pelan tangan sang sumi.


"Maafkan aku. Aku tadi spontan mengucapkannya. Lain kali aku akan lebih berhati hati'.


"Putra Tunggul Amarta itu polos sekali, masa Bunga Cantik Abadi dikira bunga liar hahaha". Uyut Susmita terbahak.


"Kalau saja ia menyadari, belum tentu orang tua gadis itu merelakan putrinya. Usianya masih sangat muda". Tutur uyut Pandhu.


"Sayangku, kita makin tua saja ya. Cucu kita sebentar lagi menikah. Aku prihatin dengan putra putri Sekar Kinasih. Yudistira sepertinya jauh dari insyaf. Kita mungkin tidak akan bisa menghadiri pernikahan mereka karena ulah ayah mereka". Ungkap uyut Susmita sedih


Uyut Pandhu pun jadi ikut ikutan sedih. Kehilangan keluarga adalah hal paling menyakitkan. Sekar Kinasih begitu naif hingga detik ini pun tidak mengetahui sepak terjang sang suami.


Sementara Tunggul dan Tania juga tak kalah sibuk. Sebagai orang tua mempelai perempuan mereka menyiapkan ubo rampe untuk pernikahan Safira. Tania begitu semangat untuk menyuruh Safira mencoba baju terbaik yang ia punya hingga gadis itu cemberut kecapekan.


"Ya ampun bu, semua baju sudah Safira coba. Jangan suruh Safira coba lagi. Semuanya bagus bu, hasil rancangan desainer ternama".


"Tapi sayang, ibu ingin kau terlihat istimewa. Pesta ini sekali seumur hidup. Jadi ibu mohon, menurutlah ya". Ucap Tania sambil membantu Safira mencoba lagi baju baju yang tadi sudah dicoba.


Safira pasrah. Tak tega melihat sang ibu begitu bahagia hingga hilang rasa lelah. Binar kebahagiaan muncul di raut wajah yang terawat dan cantik.

__ADS_1


"Ibu rasa yang hijau daun sangat cantik dikulitmu sayang. Coba kamu pakai tiara mungil ini, pasti akan terlihat amazing".


Safira menurut. Ia bercermin dengan tiara bertahta berlian zamrud yang dikelilingi berlian dengan kilau menawan.


"Ayo senyum sayang. Calon pengantin tidak boleh manyun".


Safira tersenyum sampai tampak gigi berderet seperti mentimun. Dipeluknya sang ibu erat Ia bisa merasakan apa yang dirasakan ibunya. Jika ia tidak berjodoh dengan Cakra Dewa, entah apa yang akan terjadi. Ia bahkan terlalu ngeri membayangkannya .


"Safira sayang sama ibu. Kalau Safira sudah menikah, tidak bisa lagi seperti ini". Ucapnya sendu


Tania membelai sayang rambut sang putri. Ibu dua anak perempuan ini tentu menyadari bahwa suatu saat ia harus merelakan semua anaknya untuk dibawa suami mereka. Dan Safira adalah yang pertama. Bahagia karena anaknya dipinang oleh laki laki baik dari klan yang baik pula. Selain itu tanggung jawabnya terhadap Safira sudah usai karena ganti dipikul oleh suami putrinya.


Sedih karena tak bisa lagi bertemu setiap hari. Ada tugas dan tanggung jawab yang harus diemban putrinya begitu ia menjadi istri Cakra Dewa. Klan Safira secara resmi ikut klan suaminya sehingga ia harus belajar dari awal peraturan peraturan Klan Purba Putih.


"Statusmu berubah sayang, dari lajang menjadi bersuami. Kau punya tugas dan juga tanggung jawab. Jaga nama baik keluarga barumu".


"Apa Safira boleh menemui ayah dan ibu kalau rindu?".


"Tentu saja. Kapan pun kau merasa kangen pada ayah dan ibu, pintu rumah selalu terbuka untukmu asal jangan lupa ijin sama suamimu sayang".


"Apa Safira masih boleh tidur sama ibu kalau rindu".


Tania memencet hidungnya yang mancung. Ia sepertinya sedang berfikir keras untuk menemukan jawaban atas pertanyaan sang putri.


"Tidak boleh ya bu". Safira terlihat sedih.


"Kalau kau tidur dengan ibu, terus suamimu yang menemani tidur siapa sayang?".


"Dia kan sudah besar bu, tidur sendiri dijamin berani. Lha sebelum menikah, tidurnya kan juga sendiri". Ungkapnya lugu


Tania kembali memencet hidungnya. Ia kehabisan ide untuk membuat putri sulungnya paham


"Ibu tidak perlu kuwatir kalau dia takut tidur sendirian dirumah kita, biar ayah yang menemani. Ayah kan pemberani. Benar kan ayah?".


Tunggul yang mendatangi dua perempuan berharga dalam hidupnya menghentikan langkah. Ditatapnya sang istri untuk membantu memberikan jawaban, yang ditanggapi dengan gelengan kepala pelan.


"Aduh, aku harus menjawab apa coba". Keluh Tunggul dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2