
Ang menata diri. Hati dan otaknya berkejar kejaran tak henti henti. Ia sadar saat ini adalah satu satunya waktu yang tepat untuk menemui dua orang yang sebentar lagi menjadi bagian keluarga kecilnya.
Rumah Dhayoh Utomo tempat untuk menginap para tamu nampak sepi. Bisa jadi penghuninya masih beristirahat atau mungkin sedang sarapan pagi di Ruang Prasmanan Gede. Ang menguatkan niatnya, apapun itu harus bertemu dengan dua orang itu.
Seorang penjaga mendekatinya sambil menunduk hormat.
"Selamat pagi, tuan. Ada yang bisa saya
bantu". Katanya sopan.
"Selamat pagi paman.Saya kesini bermaksud bertemu dengan Tuan Jayendra Ningrat. Apakah beliau masih didalam atau sudah keluar ke Ruang Prasmanan Gede? Tanya Ang
"Tuan Jayendra Ningrat tadi pamit ke kebun buah, tuan".
"Sepagi ini?" Tanya Ang lagi
"Benar tuan, pagi pagi sekali".
Ang mengernyitkan dahi. Ada apa dengan kebun buah uyut Pandhu. Perasaan tidak ada yang spesial. Cuman pohon buah buahan saja, tidak lebih.
"Aneh". Pikirnya
"Kalau tuan Jaler Sekti, paman?
"Tuan Jaler Sekti masih didalam tuan".
"Bisakah paman sampaikan padanya kalau saya ingin bicara hal penting dengan beliau". Pinta Ang.
Penjaga itu mengangguk hormat lalu pergi menyampaikan pesannya Ang. Beberapa menit kemudian, muncullah laki laki dengan wajah segar, rambut dikucir, Baju mewah khas Klan Purba Ungu, ada Simbol Bintang warna ungu. TACENDA sering memakai baju kebesaran klan yang mempunyai banyak model tapi dengan ciri khas simbol Klan, seperti yang dipakai Jaler Sekti. Laki laki itu tersenyum ramah pada Ang yang dibalas dengan anggukan hormat Klan Purba Putih.
" Jangan seperti ini, kita masih kerabat. Jangan sungkan". Kata Jaler memulai percakapan.
Ang terdiam sesaat. Cukup ramah untuk ukuran orang yang baru sekali bertemu dan bicara.
__ADS_1
"Apa ada yang ingin kau bicarakan?". Jaler menepuk bahu Ang pelan
"Iya, maaf aku agak kurang fokus. Kedatanganku kesini aku ingin tahu apakah uyut Susmita dan Uyut Pelangi sudah bicara padamu tentang adikku, Delima?". Tanya Ang Hati hati. Ia tak mau gegabah. Banyu Mas sudah menolak adiknya. Ia takkan tega melihat raut wajah bundanya jika Jaler juga menolak.
Jaler tersenyum samar, sangat misterius. Ang mencoba meraba raba kedalaman hatinya lewat tatapan mata tapi zonk. Ia sangat sulit tertembus.
Kekehan terdengar dari bibirnya. Ia memberi isyarat Ang untuk mengikuti dirinya. Jadilah kini keduanya berada di tepi kolam buatan dengan gemricik air diatasnya. Sangat indah dan juga nyaman.
"Aku menyetujui pilihan uyut Pelangi. Dan juga nasehat uyut Susmita. Aku percaya pada beliau berdua". Ujarnya sambil menghirup segarnya udara pagi.
Hati Ang begitu lega. Hilang sudah satu kekhawatiran tentang Delima. Dengan menikah maka hasrat terkutuk paman Yudistira akan secepatnya padam. Tidak akan ada satu celahpun untuk mengganggu adiknya.
"Apa hanya untuk itu?". Tanya Jaler
Ang mengangguk kemudian dengan cepat menggeleng. Jaler tertawa terbahak, menampilkan susunan gigi putih yang tertata rapi. Sejak kapan ia lupa tertawa. Jaler terkejut sendiri menyadari hal itu. Dilihatnya Ang.
"Masih polos". Batinnya. Informasi Keluarga Guntur Peksi sudah ia peroleh dengan detail berkat bantuan kedua uyutnya yang begitu gencar mempromosikan Delima hingga dirinya yang awalnya biasa saja bahkan terkesan cuek lama kelaman tertarik dan lumayan kepo dengan karakter Delima. Akhirnya kata setuju terucap dari mulutnya, membuat kedua uyutnya menari nari senang.
"Sini sayang. Kau akan kuberi sesuatu untuk kau berikan pada calon istrimu nanti". Uyut Susmita dan uyut Pelangi memberikan kotak cantik berukir Bunga Warni Warni dengan dominan warna ungu dengan milik uyut Pelangi dan dominan warna putih milik uyut Susmita.
"Apa ini nenek?" Tanya Jaler.
"Rahasia. Tidak boleh dibuka kecuali Delima yang membukanya. Berikan padanya saat menjelang pernikahan. Katakan padanya dari kami berdua untuk dipakai sewaktu ritual tiba". Ujar uyut Pelangi semangat
"Kalau ditanya tentang warna dominan putih dan ungu katakan saja itu pemberian sesepuh dari kedua klan waktu uyut menikah". Terang uyut Susmita.
Jaler menyimak penjelasan kedua uyutnya dengan seksama. Rengekan dan airmata settingan sang ibu membuatnya menurunkan ego. Ia yang tidak punya rencana menikah untuk tahun tahun ke depan karena fokus dengan pengembangan ilmu ilmu leluhur, merubah rencana. Penuturan sang ayah tentang Jalmo Peteng juga merubah sudut pandangnya. Ia merasa waktunya untuk lebih berbakti pada Klan Purba Ungu segera dimulai.
"Maaf aku tidak bermaksud apa apa. Aku hanya ingin memastikan kalau adikku ditangan yang benar". Ang membuyarkan kecamuk dalam pikiran Jaler Sekti.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau sudah tidak ada lagi yang dibicarakan. Aku mohon diri". Pamit Jaler Sekti.
Ang menatap kepergian Jaler Sekti dengan gumam lirih
__ADS_1
"Aku harus menemui calon ayahku segera".
Di kebun buah milik uyut Pandhu, terlihat Jayendra Sibuk mencari buah jambu air ungu bintang lima yang matang. Meskipun jarang berenteraksi dengan Klan Purba Putih terutama dengan keluarga Guntur Peksi, bukan berarti ia benar benar lupa kesukaan perempuan yang pernah mengisi hari harinya. Ya Jayendra sangat hafal kesukaan bening. Jambu air ungu bintang lima sangatlah istimewa dengan ukuran besar dan bentuk seperti bintang. Jayendra masih ingat betapa Bening bertepuk tangan saking gembiranya ia memetikkan jambu itu dari rumah Nyai Gung Rahayu, perempuan tua dermawan yang hobby meracik obat herbal premium. Sang nyai terkekeh saat Jayendra dengan lugunya menyampIkan alasannya menginginkan jambu itu.
"Ambilah secukupnya.Petik ya berwarna ungu tua dengan garis melingkar putih di ujungngnya. Pasti rasanya dijamin sangat manis,segar dan bikin ketagihan". Ujarnya
"Baik nyai.Terima kasih". Jayendra melangkah ke kebun belakang. Dipetiknya jambu sesuai saran nyai.
"Wah baunya harum sekali. Pasti Bening suka".Batinnya
Dipetiknya beberapa jambu dengan semangat sambil membayangkan wajah jelita Bening yang sering menari nari dipelupuk mata
"Selamat pagi tuan". Suara sapaan terdengar membuat lamunan Jayendra buyar dan spontan mambalikkan badan.
"Selamat pagi Ang. Lama tidak berjumpa ya. Kau sudah sebesar ini". Ujar Jayendra menyambut sapaan calon anaknya.
"Iya tuan. Maaf ada hal yang ingin saya tanyakan pada tuan". Kata Ang
"Apa itu penting?". Tanya Jayendra
"Sangat penting". Kata Ang
"Baiklah, tapi bisakah aku minta tolong untuk membantuku memetik buah jambu air ungu bintang lima dulu. Yang warna ungu tua dengan garis lingkaran putih diujungnya" Pinta Jayendra
Ang terpaku. Apa benar ini calon ayahnya. Bukannya mempersiapkan diri, ini malah memetik buah jambu. Ia menggeleng gelengkan kepalanya
"Apa kau keberatan,Ang?. Tak apa, tunggu sebentar ya, tidak lama. Ini buah kesukaan Bening". Katanya dengan binar bahagia mulai memetik satu persatu
Ang terkejut. Bunda? Benarkah? Bukannya bunda selalu menolak siapapun yang memberi buah itu.
"Jangan jangan karena bunda akan selalu ingat pada tuan Jayendra kalau makan buah itu". Batin Ang sambil mendongak keatas. Di lihatnya, calon ayahnya masih asyik memilah milah jambu yang bisa dimakan dan diberikan pada bundanya.
"Tuan,Ang bantu ya". Teriaknya sambil memanjat dengan sekali gerak. Hati Ang menghangat, calon ayahnya begitu perhatian pada bundanya.
__ADS_1