TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
MENGENAL CALON 3


__ADS_3

Gadis manis dengan lesung di kedua pipi, terlihat gelisah duduk di air dekat terjun buatan. Disebelah kiri, seorang laki laki memandanginya dengan takjub.


"Manis sekali ternyata. Papa Jayendra memang juara, bisa membuat gadis ini dengan mudah datang kesini". Monolog laki laki tertua di keluarga mendiang Guntur Peksi. Ya Ang berhasil menemui Safira Asmara, gadis yang direkomendasikan uyutnya.


"Tuan, anda ada perlu apa dengan saya? Kata om Jayendra, anda punya hal penting yang ingin disampaikan". Kata Safira.


Ang tertegun. Semua yang ingin diucapkan mendadak lenyap. Ia mencoba mengingat ingat tapi belum berhasil. Mondar mandir untuk merelaxkan hatinya yang tak karuan.


Ia berdecak kesal pada dirinya sendiri.


Sementara Safira menunggu jawaban dengan tanya besar dihati. Deg deg deg terasa semakin cepat, tapi hanya sunyi yang ada. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Ang.


"Jika tak ada yang ingin dibicarakan, saya pamit tuan". Sopan Safira menangkup kedua tangannya lalu pelan beranjak. Hal itu tentu membuat Ang menjadi panik.


"Tunggu Safira. Jangan pergi". Cegahnya


Ang baru ingat banyak kata dan pertanyaan yang ingin dikatakan pada Safira.


"Duduklah". Titahnya


Safira segera duduk ditempat semula. Ia men dengarkan perkataan Ang dengan seksama


"Kau pasti sudah diberi tau tentang perjodohan kita. Jadi aku ingin mengenalmu".


Safira perlahan mendongak, ia perhatikan wajah calon suaminya. Om Jayendra bilang Ang memilihnya dari pada Permata Idaman yang satu klan dengannya.


"Boleh saya bertanya,tuan?"


"Panggil Ang saja ya biar lebih akrab".


Safira menggeleng. Memanggil suami hanya dengan nama, itu sama sekali tidak sopan, tidak menghargai suami.


"Tidak bisa begitu. Jika kita berjodoh, seorang istri harus memanggil suami dengan nama atau sebutan yang manis dan mesra".


Ang jadi salah tingkah. Sebutan manis dan mesra? Yang seperti apa? Bingung sendiri jadinya.


"Menurutmu yang seperti apa panggilannya".


"Mas, Kangmas,Kanda, Kakanda,Sayang atau hubby".


Ang terdiam. Banyak sekali sebutannya. Harus pilih satu, tapi yang mana? Kangmas jelas sudah dipakai bunda untuk memanggil ayah.

__ADS_1


"Menurutmu, kamu suka memanggilku dengan sebutan apa?".


Safira tersipu malu. Mana mungkin bilang terus terang pada sang calon.


"Ayolah, aku bingung milih. Tolong sebut yang kau suka, aku juga pasti dengan senang hati mau"


Dengan malu malu kucing, Safira bekata,


" Hubby".


Ang mengeja sebutan hubby untuk dirinya sendiri. Wajahnya sama merona dengan safira.


"Kalau aku, memanggilmu dengan sebutan apa? Tanya Ang.


Safira berfikir sejenak. Lalu tersenyum sambil menutup bibir


"Babe".


Ang tersenyum lebar, ternyata tak sulit bicara dengan calon istri. Sebelumnya, Langit bahkan meminta Jayendra untuk menemaninya, tentu saja ditolak mentah mentah. Apa kata Bening nanti kalau tahu hal ini.


"Baiklah Babe Safira, aku akan langsung ke intinya". Kata Ang serius.


Mengalirlah cerita dari mulut Ang. Safira fokus menyimak, sambil sesekali menghelai nafas saat Ang menyebut mendiang ayah dan ekspresi terkejut serta takut saat Ang menyebut Jalmo Peteng.


Safira mengangguk pelan. Ia pernah sekilas melihat TACENDA yang punya titik titik Jalmo Peteng meski masih tipis dan samar.


"Bisa jadi yang kau lihat itu benar, banyak TACENDA yang mulai tertarik menjadi pengikut Jalmo Peteng".


"Apa harus kita tumpas sekarang?".


"Belum ada perintah. Hanya saja pergerakan Jalmo Peteng sudah terdeteksi oleh kita".


"Aku sangat takut, energinya seperti menarikku, membuat energiku seperti terkuras habis".


"Jika lain kali bertemu, segera kau gunakan Ilmu Selimut Salju, untuk meredam tarikan dan hawa panas yang menyertai".


"Bolehkah tanya hal pribadi".Tanya Safira


"Silahkan saja, babe".


Safira menunduk, ia sangat malu. Ang sungguh berani, belum juga nikah tapi sudah memanggil dengan sebutan mesra.

__ADS_1


"Mengapa akhirnya menjatuhkan pilihan padaku?".


"Aku mendapat banyak info dari papa. Beliau meyakinkan aku kalau kau sangat tepat untuk mendampingiku".


"Papa? Siapa itu?".


"Aku memanggil papa Jayendra , setelah beliau berdua menikah. Bunda sangat beruntung menikahi papa".


"Iya, om Jayendra sangat baik, perhatian dan susah marah".


"Wah, aku baru tahu hal in".


"Babe, Setelah bunda menikah, disusul pernikahan kita dan adik adik. Sebelum itu terjadi, Bulan dan Langit belum punya calon. Jadi setelah kita menikah, mereka juga harus segera menentukan calon masing masing. Pekerjaan kita baru dimulai, kedepannya akan semakin berat. Kau harus banyak makhlum jika kelak aku akan sering meninggalkanmu". Ucap Ang


Safira bukannya tidak tahu kemelut yang ditimbulkan Jalmo Peteng dan rahasia keluarga Guntur Peksi yang hanya orang orang tertentu yang tahu, Ya tentang Shaka Bumi yang tubuhnya seperti medan magnet buat Jalmo Peteng. Canggah Sri Miranti sudah memberi tahu sejak lima tahun yang lalu. Canggah bilang hawa dan baunya dapat tercium ratusan kilo. Canggah Sri memiliki keyakinan kalau Shaka lebih dahsyat dari pada Elang Raja, adik mendiang ayahnya. Kekuatan Shaka jika diolah dengan baik akan menghasilkan energi yang meluluh lantakkan Jalmo Peteng, begitu sebaliknya Makanya, pendamping Shaka haruslah keturunan penerima energi murni Yang Agung Meneb Jiwa. Hanya dengan penyatuan setelah menikah, energi Yang Agung Meneb Jiwa akan membungkus energi murni Shaka supaya terhindar segala godaan,rayuan dan trik kotor para pengikut Jalmo Peteng.


"Babe, setelah kuboyong ditempatku, kau harus belajar banyak aturan dan kebisaan Klan Purba Putih. Bisa jadi ada perbedaan dengan Klan Purba Ungu diantaanya baju kebesaranmu berubah, jangan kaget ya". Ujar Ang.


"Tentu calon hubby, ayah ibu bahkan canggah Sri sudah banyak memberiku wejangan sebelum mengikuti suami".


"Bagus kalau begitu. Aku masih muda, kau juga, komunikasi kita harus dibangun dengan baik untuk memperkecil perselisihan". Kata Ang bijak.


Safira mengiyakan tanda setuju, ia akan punya empat adik sekaligus, jadi komunikasi memang harus bagus. Canggah Sri pernah berkata, dikeluarga Uyut Pandhu akan muncul pengkhianat dan juga pengikut Jalmo Peteng, sayangnya Canggah Sri menolak menyebut nama. Merinding Safira bila mengingat, karena pengkianat ini, kata Canggah sangat mengaganggu keseimbangan alam sekitarnya. Tanda tandanya sudah terbaca, saat inipun pengkhianat itu sedang giat mencari sekutu dan dicari klan untuk dijadijan sekutu.


"Aku takut, jika pengkhianat itu salah satu putra Guntur Peksi". Batinnya.


Safira ngeri membayangkan, apalagi jika ia berada disini. Deg, mungkinkah? Tapi keamanan uyut Pandhu dan Satria terbaik, jadi mustahil titik titik dan pengikut Jalmo Peteng bisa menyusup kemari.


"Ada apa, kenapa wajahmu begitu cemas,babe?"


Safira mengulum senyum, geli juga mendengar Ang memanggil dirinya babe.


"Babe. Ada apa?".


"Tidak ada apa apa, Safira suka cemas dan khawatir dengan keadaan TACENDA saat ini. Pernikahan ini harus segera dilaksanakan supaya keadaan menjadi terkendali"


"Ah ...rupanya kau tidak sabar ingin menikah ya". Goda Ang


Seketika wajah Safira berubah seperti udang rebus. Malunya setengah mati. Calon hubbynya ternyata suka menggoda juga.


"Iiiih...sebel". Dumalnya lirih

__ADS_1


Ang tentu saja mendengar dengan Ilmu Talingan Mireng andalannya. Tawa kecilpun terdengar indah ditelinga orang yang lagi saling suka


__ADS_2