TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
AKHIRNYA DEAL


__ADS_3

"Sampai kapan laki laki itu memegang tangan putriku. Kanapa kau sebagai ibunya malah seakan akan memberi lampu hijau. Ini tidak benar Cici". Suara Duta ditekan sedemikian rupa.


"Kau menyalahkanku,sayang?" Ujar Dinda galak.


"Maksudku, tegur laki laki itu. Dia belum resmi jadi suami".


"Baik kalau kau menyalahkanku". Sorot matanya seperti harimau kelaparan.


"Cici jangan suka ngambek. Laki laki itu mata keranjang. Ia juga berjanji pada Safira dari Klan Purba Ungu. Apa menurutmu dia akan menikahi dua duanya?" Raut wajah cemas terlihat jelas. Duta memohon pengertian sang istri.


Dinda tercenung. Benar juga. Bukankah sebelumnya santer terdengar kalau anak Guntur Peksi hanya menemui Safira. Pertanyaan selanjutnya, apakah ia sudah menemui orang tua gadis itu? Kalau iya, gawat. Urusannya panjang, tapi kalau hanya menemui gadis itu saja, Permata bisa menikah dengannya tanpa drama pelik berkepanjangan.


Tergesa gesa Adinda berjalan ke arah dua insan lain jenis itu. Duta mengekor dari belakang.


"Tuan Angkasa, apa pembicaraannya sudah selesai?". Tanya Dinda lembut.


Duta begitu kesal. Tadi saja istrinya begitu galak sekarang lembut sekali sama laki laki play boy cap kadal itu.


"Maafkan saya nyonya tuan, membuat anda berdua menunggu lama". Ang membungkuk dengan hormat dengan tangan masih menggenggam tangan Permata, seperti tak mau lepas.


"Apa aku harus memotong tanganmu hah". Duta mendengus dengan amarah sudah sampai ke ubun ubun.


Secepat kilat Dinda membisikkan sesuatu dengan berjinjit, Senyum Duta langsung mengembang. Ia menatap mesra istrinya.


Ang yang otomatis mendengar karena ilmu Talingan Mireng dari keluarga tercenung. Ia tidak paham dengan kata kata yang dibisikkan ibunya Permata pada sang suami.


"Burung merpati pergi ke sarang, telur siap menetas. Mengapa juga pakai bisik bisik. Memang itu semacam kode atau apa". Ang membatin. Ia masih begitu penasaran.


"Tuan Angkasa bisakah anda melepas tangan putriku, nanti setelah kalian menikah. Semua hal boleh dilakukan". Dinda bicara dengan lugas. Hal itu membuat Duta melotot padanya.

__ADS_1


"Semua hal?". Ujar Ang membeo


"Tentu tuan Ang. Tidak ada yang bisa melarang anda tuan". Lanjut Dinda


"Apakah termasuk tuan Duta? Ia juga tidak akan marah pada saya, nyonya?". Tanya Ang lugu.


Dinda ingin sekali tertawa. Ternyata laki laki muda di hadapannya ini masih bodoh soal asmara.


"Benar tuan Ang. Jika sampai suamiku memarahimu karena memegang tangan Permata atau mengganggumu saat berduan dengan putriku. Aku pastikan dengan nyawaku, itu tidak akan terjadi". Ucap Dinda mantab.


Ang mengangguk puas. Sementara Dinda tersenyum lebar. Tinggalah Duta yang uring uringan tanpa suara


Akhirnya lepas juga tangan Permata. Gadis itu malu bukan kepalang. Ang membuatnya frustasi. Berapa kali mencoba lepas, ada saja cara Ang mengalihkan pembicaraan hingga ia lupa kalau tangannya masih digenggam erat.


"Tuan Ang, silahkan duduk. Kita bicara santai saja ya. Jangan terlalu formal". Kata Dinda mencairkan suasana


"Sayang, duduklah". Dinda menarik lembut tangan suaminya. Duta menurut tapi dengan tubuh tetap menutupi pandangan Ang.


Dinda menggelengkan kepala, seperti memutar film, ayahnya dulu juga melakukan hal yang sama, bahkan saat dirinya sudah sah jadi istri Duta, membuat ibunya ngambek tidak mau bicara pada sang ayah hingga terdengar kabar kehamilannya. Semua seperti melupakan batas, jarak dan permasalahan. Kehadiran Permata benar benar menjadi permata yang diidamkan. Suasana kaku menjadi cair, hangat dan menenangkan.


"Tuan Angkasa, boleh saya menanyakan hal yang berkaitan dengan perjodohan ini?". Dinda bertanya dengan hati hati.


"Silahkan nyonya".


Meluncurlah pertanyaan pertanyaan yang dari tadi melayang layang dibenaknya. Dan Dinda begitu bahagia. Ang baru bicara pada Shafira, belum ke orang tua gadis itu


"Syukurlah, dengan begitu kalian bisa menikah dengan tenang". Tutur Dinda.


Baik Ang maupun Permata tersipu.Tak sabar rasanya untuk segera menikah setelah bunda.

__ADS_1


Bunda? Gawat, ia belum bersiap siap.


"Apa ada hal yang mengkawatirkan anda tuan Ang?". Dinda ikut menegang. Takut Ang berubah keputusan.


"Eh, anu..maaf Saya belum bersiap siap, sebentar lagi bunda menikah". Ang kelihatan resah. Duta tak sampai hati melihat. Bagaimanapun beban Ang sangat berat. Dan jika sang putri menikah dengannya, ia sebagai ayah mertua akan berdiri disampingnya, apapun yang terjadi.


"Ayo bediri. Persiapkan dirimu. Aku akan membantumu. Ikuti aku, calon menantu". Duta segera bergegas pergi. Dinda segera memberi isyarat pada Ang untuk memgikuti suaminya.


Hati Dinda menghangat. Suaminya memang seperti itu. Garang diluar, tapi sejatinya perasaannya halus. Ia begitu peka.


"Ayah kenapa bu. Tadi bikin kita takut, sekarang malah mau membantu tuan Ang". Permata terheran heran melihat sikap sang ayah sekaligus senang, memanggil tuan Ang dengan sebutan calon menantu.


"Ayahmu memang seperi itu. Kau senang, sayang". Dinda mengelus penuh cinta pada putri semata wayang".


Permata tersipu merona. Lalu mengangguk.


"Kita sebaiknya segera mulai mempersiapkan diri sayangku. Setelah Bening Tiara menikah, maka giliran selanjutnya adalah Ang dan dirimu. Pakailah baju pernikahan yang di design oleh empu Harini. Ibu sudah membeli satu untukmu. Warna putih keperakan sangat cantik di kulitmu". Ucap Dinda bahagia


Saat uyut Susmita mendatangi untuk membicarakan perjodohan. Dinda segera memesan gaun pengantin untuk sang putri. Ia begitu yakin Ang adalah jodoh Permata. Ia pernah bermimpi didatangi seorang pertapa tua yang menyerahkan plakat platinum bertahta safir biru cantik sekali. Di mimpinya itu ia menambahkan sebuah permata berkilauan dengan sinar emas kedalam plakat yang terdapat satu lubang kosong, persis dibawah safir. Ia tersenyum sambil berkata, Permata untuk Ang. Setelah disatukan, ia menyuruh mereka berdua mencari plakat ini di Lembah Menanti dekat gunung Sang Guru.


Mimpi itu terulang hingga tiga kali, membuat ia segera menemui uyut Satria yang kebetulan sedang mampir ke kediamannya menemani istri jalan jalan mencari Bunga Cantik Abadi yang sangat langka, hanya mekar setiap lima puluh tahun sekali, untuk beberapa ritual pernikahan


Karena aura yang menenangkan membuat hawa panas menghilang. Aroma Bunga Cantik Abadii sangat dekat dengan gadis yang sebentar lagi menikah. Apalagi Bunga itu seperti jodoh buat Klan Purba Putih dan Klan Purba Ungu.


"Hmmm kau cium harum baunya, kakang". Uyut Pelangi rmenghirup sambil memejamkan mata


Uyut Satria berdehem mengiyakan. Bunga Cantik Abadi akan dekat dengan mempelai perempuan yang masih suci. Aromanya begitu harum tak ada habisnya.


Kesempatan ini dipergunakan Dinda untuk menanyakan perihal mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2