
Safira menangis tersedu, ia masih salah paham. Tania memberi pengertian kepadanya kalau Cakra dan dua ayahnya sedang memikirkan rencana pernikahan
"Bagaimana kanda, apakah sudah menemukan ide kapan hari dan tanggal yang bagus untuk pernikaham putri kita. Bagaimana pula dengan anda tuan Elang dan kau Cakra?". Dengan menatap ketiganya sambil mengerjabkan mata agar mereka tahu arah pembicaraannya.
Tunggul tersedak begitu pula dengan Elang sementara Cakra mengusap tengkuknya.
"Minum dulu ayah". Safira segera memberikan ramuan tujuh herbal andalan keluarga. Tunggul meminumnya sambil melirik istrinya. Sedangkan yang dilirik sangat tenang memainkan peran.
"Ayah juga". Ucapnya pada Elang. Ia juga menyodorkan minuman yang masih hangat itu.
"Kau tidak menawariku, cinta?". Tanya Cakra.
Safira tersenyum malu malu, lalu pelan pelan ia mengambilkan minuman. Kembali tangan mereka beradu. Tunggul menggelengkan kepala. Sementara Tania melototkan mata.
"Terima kasih, cinta".
Ketiga orang tua itu tertegun. Cinta? Apalagi itu. Membuat kepala ketiganya berdenyut.
"Kita nikahkan besuk pagi". Putus Tunggul tegas. Ia membayangkan apa jadinya jika tidak ada mereka disamping sejoli ini. Wah bisa semakin menjadi jadi.
"Iya, aku setuju". Kata Elang tak kalah tegas.
"Baik. Mari kita siapkan ubo rampe pernikahannya". Seru Tania semangat.
"Besuk ayah?Tapi Safira belum punya baju pengantin".
"Itu gampang sayang, kita beli jadi saja. Lebih praktis. Kau tinggal memilih model". Kata Tania memberi saran
"Catering nya bagaimana juga, bu?". Tanya Safira
"Kamu tidak perlu khawatir sayang. Semua biar ibu dan dua ayahmu yang mengatur ya". Kata Tania
"Ibu bagaimana ayah? Kita harus memberitahu atau ibu tidak akan memaafkan kita berdua". Ungkap Cakra cemas.
Elang menepuk jidat. Ia hampir melupakan sang istri gara gara pusing melihat sejoli yang asyik memadu kasih tanpa melihat situasi dan kondisi.
Dipejamkannya mata, lau merapal ajian Nimbali Sliro, dan whuuus, Arum Safir sudah berada ditempat. Ia memandang pada putra dan suami.
"Duduklah, ada yang harus kau tahu tentang putra sulungmu itu". Ucap Elang, lalu mengalirlah cerita dari bibirnya. Reaksi Arum sungguh membuat Elang geleng kepala.
"Kemari kau anak nakal, seenaknya saja hal penting seperti ini kau melupakan ibumu"
__ADS_1
"Maaf bu, Cakra tidak bermaksud begitu'".
"Kita harus cepat cepat menyelesaikan pertemuan ini dan segera beraksi. Cakra tidak boleh bertemu dengan calon mempelai. Pamali itu". Arum menggebu gebu menjelaskan yang ada dikepalanya.
"Apakah uyut uyut sudah diberi tahu? Aduh semuanya harus besuk ya?". Tuturnya panik.
"Sabarlah, kau bisa membicarakan dengan nyonya Tania" . Kata Elang pada sang istri
Sementara sejoli asyik lempar senyum dan pandang dengan kode kode cinta yang hanya mereka yang tahu. Gerak gerik mereka terpantau dalam radar Arum.
"Kalian ini kenapa? Kok senyum senyum tidak jelas begitu". Tanya Arum sambil memandang keduanya heran.
"Kau nanti akan terbiasa. Mereka memang seperti itu, makanya aku dan tuan Tunggul sepakat menikahkan mereka besuk pagi. Mereka itu sudah dalam taraf gawat". Ujar Elang menepuk tangan istrinya mesra.
Arum kembali melihat sepasang kekasih yang sedang bercanda dengan mesra.
"Ah jadi ingat waktu masih pengantin baru". Arum mendesah pelan saat ingat itu. Suaminya benar benar membuat emosinya terkuras. Bagaimana tidak, saat sedang manis manisnya, ada puluhan perempuan yang bermaksud mendaftar menjadi selir. Dan yang membuat Arum naik darah, mereka cantik cantik dan dari keluarga terpandang. Yang lebih menyebalkan lagi, Elang hanya merespon dengan senyum nakal.
"Kita buat sederhana saja, yang penting sah dulu, biar kalo melihat kelakuan mereka yang seperti ini, jantung kita sehat". Kata Tunggul menimpali.
"Iya, anda benar tuan Tunggul". Ucap Elang.
"Sebentar lagi kita mau menjadi keluarga, paling saja namaku Tunggul".
"Wah senang sekali rasanya. Kanda apa boleh mengundang Venus Sinar ?". Tanya Tania antusias.
Elang meremang demi mendengar nama itu, sementara Tunggul tertegun. Nama yang sudah lama menghilang dari percakapan sang istri, kenapa tiba tiba muncul kembali
"Venus Sinar?". Arum membeo
Elang memberi kode gelengan kepala kepada Tunggul dan Tania.
"Hei...dia itu perempuan baik, pintar, terpandang dan cantik sekali. Suaminya juga ganteng. Apalagi kedua putrinya. Kalau punya anak laki laki, pasti sudah berbesan dengannya". UcapTania lugas.
"Kau sungguh ingin mengundangnya Tania? Aku keberatan. Sangat keberatan". Ketus Arum
Tania cemberut. Mulutnya maju sekian centi.
"Kita tidak usah mengundangnya adindaku sayang. Yang kita undang keluarga dua klan saja ya mengingat kita menumpang jadwal pernikahan keluarganya Ang". Bujuk Tunggul
"Kenapa sih kanda mesti begini kalau membicarakan Venus". Ujar Tania kesal.
__ADS_1
"Kau beruntung suamimu bersikap seperti itu, kalau tidak mungkin sejak lama kau sudah bukan nyonya Tunggul". Arum menanggapi dengan sengit
"Apa maksudmu". Tania menyipitkan kedua mata.
"Maafkan istriku, Tunggul Tania. Dia terlalu emosi". Elang mengambil alih pembicaraan. Ia tidak ingin fokus pernikahan berganti.
Arum melirik suaminya sewot. Gumam gumam kecil terdengar.
"Jangan ikut ikutan ayah. Itu playboy namanya". Bisik Safira pada Cakra.
"Aku bukan laki laki seperti itu, cantik". Kata Cakra membela diri.
"Makanya Safira ingatkan. Siapa tahu menular".
"Menular?". Tania dan Arum mengucapkan berbarengan. Mereka reflek menolah pada suami masing masing.
"Kalian ini bicara apa. Ayo fakus membahas pernikahan anak anak". Ucap Elang
"Bilang saja takut ketahuan". Sungut Arum
"Arum sayang. Kita fokus dulu pada Safira dan Cakra, setelah itu aku mau kau apain saja, aku menurut". Elang membujuk istrinya. Bisa gawat kalau bongkar bongkar masa lalu di depan sejoli polos ini.
"Janji ya, sayang". Ucapnya mengaitkan jari kelingking
Elang mengangguk pasrah. Yang terpenting saat ini pembicaraan pernikahan deal.
Mereka kembali membicarakan waktu yang baik untuk pernikahan putra putri mereka.
"Malam hari saja bagaimana? Supaya kita punya persiapan. Aku mengetahui rencana pernikahan Ang digelar tiga hari lagi. Jadi aman, kita tidak mengganggunya". Ucap Elang memberi pendapat.
"Kalau malam apa tidak terlalu capek ayah?". Cakra usil bertanya.
Kedua pasangan suami istri itu spontan menoleh. Mata mereka mendelik membuat Cakra jadi salang tingkah.
"Bercanda ayah, ibu".
"Tapi kalau malam memang capek". Sahut Safira polos. Ia membayangkan dari pagi sampai sore mengurusi persiapan dadakan ini, sudah pasti saat malam hari duduk dipelaminan tinggal capeknya. Hanya saja yg dipikirannya berlawanan dengan yang dipikirkan kelima orang yang menatapnya dengan bermacam ekspresi.
"Kenapa? Benar kan capek.Kita seharian mengurusi semua ***** bengek pernikahan dari pagi sampai sore. Pasti malam hari waktu pernikahan digelar tinggal capek". Ucap Safira mengulang yang ada dipikirannya.
"Dua pasang suami istri itu menghelai nafas lega. Gadis mereka masih lugu ternyata".
__ADS_1
Tinggal Safira yang mengerjapkan mata keheranan melihat reaksi keempatnya. Sedangkan cakra senyum senyum tengil.