TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
TENTH STEP: FINALLY THE DAY IS COMING


__ADS_3

Keempat uyut akhirnya datang. Ritual pun dimulai. Dimulai dari orang tua, tetua, keluarga dan kerabat dekat. Wajah wajah bahagia terpancar pada wajah mereka. Saat siraman pertama oleh Tunggul Amarta, Tirta Agung berubah warna dan harum. Keempat buyut berseru bahagia. Rapalan doa doa keselamatatan, kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagian saling bersautan. Saat Tania menyiram putrinya dengan rapalan doa yang sama dengan para uyut, kembali Tirta Agung berubah warna, kali ini berubah hingga membentuk tiga warna dengqn harum yang berbeda beda.


"Seorang ibu memang harus seperti ini, harus seperti ini". Ucap Uyut Pelangi yang diangguki ketiga uyut.


Tania begitu terharu. Ia tidak menyangka respon Tirta Agung begitu dahsyat. Harumnya menguar seakan berjalan memenuhi tempat itu.


Siraman selanjutnya tiba pada giliran uyut Pandhu dan uyut Susmita. Sepasang suami istri itu memegang kepala Safira lalu kembali rapalan doa terdengar kidmat terdengar. Uyut Pandhu memegang gayung untuk menyiram kepala Susmita, Tirta Agung menggeliat bergulung gulung membentuk rupa tiga ekor burung dan dua bunga lalu pecah diangkasa, Tirta Agung tidak tumpah melainkan kembali dalam gayung.


Saat Tirta Agung disiramkan, harum menguar sangat wangi. Mara, gadis kecil itu sampai memejamkan mata sambil menghirup rakus wangi yang begitu menenangkan.


"Cucuku sayang kau sangat beruntung. Tirta Agung jarang memberitahu tentang jumlah anak dan kelaminnya, tapi kau lihat tadi, kelak kau akan punya tiga putra dan dua putri. Wah ini berita yang menggembirakan". Uyut Susmita bertepuk tangan bahagia.


"Syukurlah, keturunanku bertambah banyak". Ujar uyut Pandhu.


"Aku juga menginginkan keturunan dari Jayendra dan Bening". Ungkap uyut Pelangi


Jayendra terbatuk mendengar perkataan uyut Pelangi, Bening memerah wajahnya. Si kecil Mara dengan lugu bertanya


"Kenapa wajah tante Bening jadi merah begitu? Apa tante sakit? Atau tante ingin disiram juga seperti kak Safira? Jangan khawatir tante, sehabis kak Safira, Tante dan Mara bisa mandi seperti mandinya bidadari. Boleh kan bu, Mara mengajak tante Bening?".


Tania terbatuk batuk. Segera Tunggul memberikan segelas air pada istrinya.


"Apa ibu juga pengin seperti tante Bening? Nanti mandi bareng Mara ya bu,mandi seperti mandinya bidadari".


Tunggul tertawa. Kali ini ia sungguh tak kuat menahannya.Jayendra dan Bening bahkan sudah terkekeh mendahului Tunggul. Tinggal Tania yang seperti senjata makan tuan.


"Uyut berdua kok nggak diajak sayang?" Tanya uyut Susmita


"Boleh. Nanti uyut Susmita dan uyut Pelangi juga bisa bergabung.Ingat harus antri. Tidak boleh berebut. Ibu bilang bidadari itu sangat sabar, cantik dan pintar. Kalau tidak sabaran nanti wajah cantik bak bidadari jadi hilang". Tutur Mara serius.


Dua uyut menganggukkan kepala tanda mengerti. Raut wajah mereka juga sangat serius, membuat dua uyut lainnya menghelai nafas.


"Kau juga ingin mandi seperti bidadari, Pelangi?". Tanya uyut Satria.


"Tentu kakang. Aku sudah tidak sabar"


" Uyut jangan seperti ini,nanti cantik seperti bidadarinya hilang" Mara mengingatkan dengan wajah mendelik.


Uyut Pelangi terkekeh lalu katanya


"Maaf sayang, uyut lupa".

__ADS_1


"Sudah sudah mari kita lanjutkan". Uyut Susmita bersiap meraih gayung dan Tirta Agung berubah seperti benda padat yang sangat berat. Uyut Pandhu memandang tajam pada istrinya.


"Kau sudah tua Susmita,masa kau ingin punya anak lagi. Singkirkan pikiran itu, Tirta Agung sudah menjawab yang ada didalam pikiranmu. Lihat airnya berubah menjadi padat seperti gulali". Tunjuk Uyut Pandhu.


"Aku ingin punya Guntur Kecil". Ungkapnya lugu


Sontak semua orang bereaksi dengan ekspresi masing masing. Mara yang paling ekspresif.


"Hore uyut Susmita mau punya adik kecil". Katanya sambil melompat lompat girang.


"Uyut, nanti Mara yang gendong adik kecilnya ya. Mara janji nggak akan nakalin adik kecil".


"Kau bisa minta adik kecil pada ibumu, sayang. Kau bisa minta dua atau tiga adik kecil". Ucap uyut Pelangi.


"Kalian ini apa apaan, bicara dengan anak kecil seperti itu". Uyut Pandhu berkacak pinggang


"Ayo Susmita teruskan acara siramannya" .


"Hore Mara mau punya adik kecil kecil. Tiga ya ayah, Mara ingin punya adik tiga". Ujarnya mendekati ayahnya dengan mimik penuh pengharapan.


Tunggul menggaruk kepala. Ia bingung harus menjawab apa, terlebih Tania sudah menggeleng gelengkan kepala.


"Coba tanya ibumu sayang. Ibumu yang menyimpan adik kecil di dalam perut". Kata Tunggul dengan seringai licik


"Oh sayangku, Mara. Nanti kita bicarakan habis siraman kak Safira ya. Kasihan kak Safira menunggu".


"Baik ibu. Mara senang sekali. Uyut Susmita mau punya adik kecil, Ibu juga, Bibi Bening juga, Kak Safira juga. Mara juga ya bu. Mara pengin punya banyak". Ucapnya tanpa dosa.


Tunggul dan Tania tersedak, Jayendra Bening memerah mukanya, keempat uyut tertawa lepas.


"Ayo kita lanjutkan, kasihan Safira". Uyut Susmita mengangkat gayung. Lagi lagi terasa berat.


"Uyut Susmita, nanti Mara kasih satu adik kecilnya. Tenang ya". Ucap Mara menghibur


Wajah uyut Susmita berseri seri, ia kaitkan kelingkingnya dengan milik Mara.


"Deal ya sayang. Ingat kau harus menepati janji untuk memberi uyut satu adik kecil".


"Tentu uyut Jangan khawatir. Ibu punya tiga, Mara punya banyak. Jadi masih banyak stok". Ujarnya mantab.


Semua yang ada disitu melongo. Pemikiran gadis kecil itu begitu lugu. Momentnya jadi canggung canggung lucu.

__ADS_1


Gayung pun dengan ringan diambil oleh uyut Susmita. Warna air berubah dengan cepat. Warnanya mirip lolipop. Sangat indah. Wanginya harum memenuhi kediaman uyut Pandhu.


Acara Siraman berjalan lancar. Uyut Satria, uyut Pelangi, Jayendra dan Bening sudah melakukan kewajibanya.Aura Safira semakin bersinar.


Wajah cantiknya sangat menawan.


"Kak Safira jadi bersinar cantik sekali. Mara juga ingin bersinar seperti bidadari".


"Tentu sayang. Sabar ya. Sebentar lagi, kak Safira selesai lalu kita makan siang dulu".


"Baik bu".


Waktu berlalu dengan cepat berganti sore. Safira sudah siap dirias. Mara menangis keras sewaktu dilarang melihat sang kakak dirias. Akhirnya ditemani bik Sumi, ia sekarang duduk manis memandangi kakaknya.


"Bibik". Bisik Mara


"Iya ndoro ayu Mara".


"Habis ini giliran Mara kan? Kata ibu, Mara akan cantik seperti bidadari kalau dandan setelah matahari terbenam".


Bik Sumi terkekeh. Nyonya besarnya klop dengannya kalau urusan membuat cerita absurd.


"Tentu ndoro ayu Mara. Sabar ya".


"Tentu bik. Cantik seperti bidadari harus sabar, biar tetap cantik. Kalau nggak sabar nanti cantiknya bisa luntur".


Bik Sumi, Safira, perias dan team tergelak. Mara memang menggemaskan.


"Kok pada ketawa. Mara benar kan?".


"Iya ndoro ayu Mara". Jawab mereka serempak. Safira pun ikut ikutan.


"Mari ndoro ayu Mara, Silahkan pindah disana duduknya". Tunjuk team perias pada kursi khusus untuk Mara.


Bik Sumi menggandeng Mara. Ia lalu mendudukkan gadis kecil itu dikursi empuk yang nyaman.


Proses rias berjalan lancar. Safira dan Mara terlihat sangat mempesona. Gaun merah jambu yang dipakai Mara dan tiara dengan permata bunga anggrek pink sangat cantik dikepala gadis cilik itu.


"Harumnya membuat Mara seperti terbang ke awan". Ujarnya sambil menghirup dalam dalam.


Safira gemas memencet hidung mungil sang adik.

__ADS_1


"Kakak, jangan pencet hidung Mara. Nanti bedaknya luntur". Ucapnya cemberut. Ia kembali berkaca untuk memastikan hidungnya masih ada bedak yang melekat.


Kelakuan gadis kecil itu membuat semu orang diruang rias tersenyum lebar. Ah...calon pengantin yang lain sudah antri


__ADS_2