
Langit Putih memandang saudara saudaranya dengan sebal, apalagi saat melihat Shaka yang sudah terbahak bahak. Dua uyutnya juga terlihat senyum senyum.
"Bunda, Langit malu. Mereka jahat". Tunjuknya pada saudara saudaranya.
"Maafkan bunda ya, bunda lupa.Habis penyakit kamu itu bikin jantung bunda mau copot".
Langit cemberut. Ia mengedikkan bahu,ngeri saat mengingat moment dia berteriak memanggil bundanya. Gadis menyebalkan itu justru panik lalu menepuk nepuk punggungnya . Tenaga Langit terasa terkuras. Ia menjadi lemas. Ratri Ungu malah semakin panik. Memakai Selendang Sutra Ungu Peneneng Jiwa, gadis cantik dengan tinggi sepundak Langit ini merapal mantra.
"Siro sareh siro enggal senggang. Ora ono sijio jalmo wani ndulit. Sareh sareh sareh". Hawa menenangkan menjalar disekujur tubuh Langit. Matanya terpejam. Ah dia tertidur dipangkuan si gadis.
Ratri memandang wajah tampan yang begitu dipuja akhir akhir ini, ia tersenyum geli
"Hmm baru juga didekati, dipegang tangannya. Apa kabar kalau nanti kita menikah. Apa kamu akan seperti ini". Perlahan di belainya rambut Langit dengan sayang.
"Aku akan mengawasinya dari balik pohon besar itu. Biar sewaktu bangun dia tidak berteriak memanggil bundanya". Batinnya. Senyum merekah tidak lepas dari bibir mungilnya. Ia begitu yakin Langit adalah jodohnya. Menunggu sebentar lagi, sang pujaan akan jadi miliknya utuh.
"Cie cie yang punya penggemar. Nggak nyangka kak Langit punya penyakit aneh dan langka". Shaka mendekati kakaknya dengan senyum dikulum.
"Ckkk awas kau". Kata Langit melotot
"Sudah sudah, Langit sayang, apa kau menyukai gadis itu. Buyutnya sudah ketempat kita ini beberapa waktu yang lalu. Beliau membicarakan kalian berdua. Sepertinya beliau sangat mengharapkan engkau menjadi buyut mantu. Uyut Susmita berkata dengan binar mata suka.
"Wah sudah ada yang melamar kak Langit' Lagi lagi Shaka menggoda kakaknya.
"Iya ya..Langit sold out hahaha". Bulan terbahak
"Bagaimana denganmu sayang. Apa kau juga sudah ada yang punya. Kalau iya beritahu kami segera, biar urusan pernikahan ini cepat selesai". Sela Kakek Buyut Pandhu
"Sukuriiin". Seru Langit ke kakaknya
Bulan terdiam, dia sungguh tak menginginkan pernikahan secepat ini. Bayangan muka dingin, seram membuatnya merinding
__ADS_1
"Kenapa sayang? Benar kau sudah punya.?"
Tanya Bening
Bulan menggelang. Ia tak mungkin bercerita ke bundanya, terlalu menakutkan. Pria beriris coklat tua dengan tubuh tinggi besar, rahang tegas, tubuh atletis, kulit kecoklatan, waktu dia bertandang di tempat buyut Satria, laki laki itu ada disana, memandang dirinya dengan pandangan dingin, seram. Ada desis aneh yang sempat terdengar olehnya dengan ilmu Talingan Mireng andalan keluarga
"Anak Bening Tiara". Kelinci..". Lalu disusul senyum penuh misteri. Mengerikan dimata Bulan.
"Kelinci?. Bulan menoleh ke kiri ke kanan mencari cari kelinci, tapi nihil. Matanya membola
"Apa yang maksud kelinci itu aku?". Batinnya
Bulan kesal bukan main.
"Apa apaan kenal juga tidak, huh". Dumalnya
"Sayang, kau melamun?". Bening menepuk bahu Bulan pelan
"Bunda, maafkan Bulan. Kalau misalnya Bulan nikahnya giliran terakhir, bolehkah?"
Bulan tercenung. Ia ingat betul saat Pelilah Agung digelar, semua orang begitu sibuk. Waktu itu ia begitu menikmati suasana bersama kakaknya Delima dan saudara saudara sepupu dari paman Barata Yuswa, Budhe Sekar Kinasih dan Om Elang Raja hingga pandangannya bersiborok dengan lelaki menakutkan itu. Ini pertemuan yang kedua sejak terakhir kali ia datang ke tempat uyut Satria. Buru buru ia bilang ke kakaknya kalau ia mau mengambil Bunga Bintang Sembilan, bunga untuk campuran lulur. Harumnya bisa tahan seharian.Alasan yang bagus karena langsung diangguki Delima.
"Aduh orang itu bikin jantungku mau copot". Batin Bulan sambil sibuk mengambil Bunga Bintang Sembilan ditaman belakang. Bau Wanginya sudah dapat tercium dari jarak jauh membuatnya betah berlama lama di tempat uyut Satria.
"Sudah banyak bunga yang kupetik.Nanti bunda juga mau kubuatkan. Kalau kak Delima suka dicampur sama madu hutan". Batin Bunga gembira.
Langkah kaki halus terdengar oleh Bulan. Ilmu Talingan Mireng secara automatis bekerja. Deg jantungnya berpacu, lelaki itu melintas dengan tatapan tajam menusuk membuat ia terdiam. Ada nuansa dingin mencekam melingkupi tempat ia berpijak.
"Hei..anak kecil suka melamun". Suara Kilat Sampurno putra pertama paman Barata Yuswa mengagetkannya.
"Eh kak Kilat bikin Bulan kaget. Sukanya mesti gitu". Bulan mencoba menetralkan jantungnya.
__ADS_1
Kilat menatap Bulan dengan pandangan menyelidik. Ia seperti mengetahui sesuatu
"Apa kau punya sesuatu hal dengan laki laki yang barusan lewat".
"Maksud kak Kilat siapa.Bulan ndak paham".
"Hati hati dengan Yoga Perwira Kapilih". Ujar Kilat
"Kak Kilat ngomong apa sih, Bulan ndak ngerti". Sahut Bulan.
" Laki laki yang lewat itu satu Klan dengan uyut Susmita dan uyut Pelangi, istri uyut Satria, tepatnya ia buyut dari Kakak laki laki uyut Pelangi". Jelas Kilat
Bulan terdiam. Ternyata laki laki itu masih terhitung saudara. Tapi mengapa sikapnya aneh, apalagi desisan itu, sering kali membuatnya merinding bila ingat.
"Memang ada apa, kak Kilat? Bulan ndak punya masalah sama siapapun, kecuali sama Langit dan Shaka yang suka usil".
Kilat menghelai nafas berat. Kisah lama membuat hubungan Klan Ungu dan Klan Putih agak menegang meskipun hal itu tak berlangsung lama, Uyut Pandhu dan uyut Satria langsung turun tangan begitu pula uyut Susmita dan uyut Pelangi. Penolakan Bening Tiara pada Jayendra Ningrat menyisakan rasa sakit pada keponakannya, Yoga Perwira Kapilih. Meski tidak kentara, bukan berarti Kilat tidak tahu. Sejak peristiwa itu, Yoga sedikit demi sedikit berubah sikap, dingin dan tak tersentuh. Waktu itu usianya baru menginjak dua belas tahun, selesih dua tahun lebih tua dibanding Kilat. Dua anak yang biasanya bermain bersama bahkan tidur dan makan juga berdua, seperti anak kembar. Suatu hari, Yoga melempar begitu saja kue putih awan pemberiannya. Kue buatan ibunya yang sangat digemari Yoga. Mata anak itu nyalang memandangnya.
"Mulai saat ini, aku bukan temanmu apalagi saudaramu. Lupakan semua yang sudah terjadi".
Kilat terkejut bukan main. Tidak hujan tidak angin, Yoga berkata seperti itu.
"Kau kenapa? Apa aku punya salah padamu? Kalau iya, tolong maafkan aku ya?" Ujar Kilat
"Kau ingin tahu apa salahmu?". Aura kebencian jelas terlihat dimatanya.
Kilat mengangguk. Ia tentu tak ingin kehilangan saudara sekaligus temannya.
"Calon istri Guntur Peksi yang bernama Bening Tiara itu membuat om Jayendra sangat sedih. Aku tak pernah melihatnya seperti kehilangan semangat hidup". Kata Yoga dengan tatapan mata menghunus .
Kilat melotot, bagaimana bisa ia memanggil adik ayahnya dengan sebutan nama saja begitu pula dengan nama calon istri omnya itu. Hal yang tidak sopan terlebih untuk anak seusia mereka.
__ADS_1
" Yoga, tolong jaga bicaramu. Kau memanggil om Guntur dan Bulik Bening dengan nama saja. Itu tidak benar".
Yoga tersenyum mengejek.Mulai hari dimana pamannya banyak mengurung diri, jarang bicara dengannya lagi. Sering melamun, bahkan pernah membentaknya hingga ia menangis. Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya, hingga sang ayah Yogi Prabu murka pada omnya itu. Yoga merasa bersalah gara gara dia yang terlalu banyak bicara. Ia hanya anak kecil yang rindu canda tawa omnya, ia rindu betapa omnya sangat perhatian dan memanjakannya sampai sang ibu sering mengomeli omnya, yang ditanggapi dengan tawa renyah. Bagi Yoga, om Jayendra seperti ayah kedua.