TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
KABAR GEMBIRA


__ADS_3

Ayah, Ibu ada apa? Jaler memandang sang ibu yang dari tadi tersenyum senang.


"Apa yang akan kau lakukan jika punya adik,sayang? Tanya Larasati, sang ibu


"Adik? Maksudnya ibu hamil?" Terkejut Jaler bukan kepalang


"Iya, apa ibu sudah terlalu tua? Tidak pantas punya anak lagi?" Sahutnya dengan mata mengembun.


Jangan ditanya wajah Kartajaya,sang ayah. Tatapan tajam langsung dilayangkan padanya.


"Tentu tidak bu. Coba lihat di kaca itu, ibu masih cantik dan awet muda, tentu tidak masalah kalau punya anak lagi". Tunjuk Jaler pada kaca besar dekat almari.


Larasati langsung bangkit dari duduk, diikuti sang ayah yang masih setia memeluk dari belakang.


"Benar begitu?". Tanyanya yang langsung diangguki kedua laki laki beda usia itu.


Senyum merekah kembali terpancar dibibirnya. Ia menggamit tangan Jaler.


"Ibu juga punya berita bahagia lain.Mau dengar?"


Lagi lagi anggukan yang bisa Jaler lakukan sambil melirik sang ayah yang langsung pura pura tak melihat.


"Ccckk ayah mesti begitu. Suka melarikan diri nggak ngajak ajak". Gerutunya dalam hati.


Larasati memandang bergantian dua laki laki yang sangat ia cintai dengan raut wajah ditekuk.


"Kalian sungguh keterlaluan. Ini berita bahagia. Masak nggak mau dengar".


Baik Jaler ataupun Kartajaya langsung gelagapan. Bahkan sang ayah langsung menangkup pipi sang ibu dan mencium mesra bibirnya untuk menenangkan hatinya.


"Haisss ayah ini, suka mencuri kesempatan dalam kesempitan". Gumamnya.


"Sayang, tentu saja kami mau mendengarnya. Berita gembira itu harus dirayakan". Kata sang ayah.

__ADS_1


Sang ibu langsung balas mencium kemudian memeluk hangat. Kartajaya begitu senang, dibalaslah pelukan istrinya. Tinggal Jaler yang memandang ayahnya dengan sebal


"Apa ayah dan ibu akan berpelukan seperti ini terus?' Tanya Jaler


Larasati buru buru melepaskan pelukannya,sedang Kartajaya melotot tidak terima pada Jaler.


"Sayang, berita bahagia yang lainnya adalah buyut dari uyut Pandhu yang bernama Delima Ayu itu, ibu sangat suka. Pas sekali dengan kreteria calon menantu idaman.Tadi ibu baru saja ke uyut Pelangi". Ujarnya berseri seri


"Apa kata uyut Pelangi, bu?" Tanya Jaler


"Kalian akan menikah disini setelah,Ang kakaknya Delima menikah.Paling dua atau tiga hari lagi".


Bolamata Jaler membesar. Ia memang tahu dijodohkan dengan Delima tapi menikah dua tiga hari lagi sungguh diluar perkiraannya.


"Tapi bu,apa tidak terlalu tergesa gesa. Ibunya Ang baru saja menikah".


"Tentu tidak sayang, lebih cepat lebih baik. Ibu ingin segera memboyong Delima ketempat kita, bukan begitu kanda Kaka?" Ujarnya lembut.


"Kita harus gerak cepat, sebelum Jalmo Peteng mengendus pergerakan kita, Jaler.Kakekmu begitu mengkhawatirkan hal ini.


Jaler ingat raut wajah kakeknya saat menyebut Jalmo Peteng. Ada guratan guratan aneh yang muncul disekitar dahinya. Suara dalam yang sangat beratpun keluar


"Aku tidak akan pernah mengijinkan keluargaku kau tarik. Aku pengendali atas diriku dan bukan dirimu. Rasa cinta dan sayang ayah Tunggul Karsa membuat energi jahatmu mati, kemudian diisi energi seperdelapan miliknya dan ibu Shinta Dewinta serta pernikahanku dengan Rissa Suci membuatku menurunkan TACENDA yang pantang berkianat". Guratan guratan aneh itupun sirna berganti dengan cahaya kemilau. Sang kakek terlihat menghembuskan nafas perlahan.


"Ingat cucuku Jaler, kau seorang TACENDA, isilah hidupmu dengan cinta dan kasih sayang. Jalmo Peteng benci hal itu. Energinya akan turun setiap kebaikan dan kebahagiaan datang".


"Apa ia tadi datang kek".


"Ia sudah ada dalam darahku sejak lahir tapi uyut Tunggul dan Uyut Sinta memurnikan energiku serta pernikahanku dengan nenek Risa yang seorang TACENDA unggul membuatku memiliki keturunan TACENDA unggul seperti ayahmu dan dirimu".


"Apa maksud kakek dengan ada dalam darah? Apa Jalmo Peteng pernah menyusup?" Tanya Jaler


"Ia keturunan Jalmo Peteng dengan perempuan TACENDA biasa, melahirkan kakek lalu membuang di dekat hutan Sejoli". Ujarnya sendu. Rasa rendah diri melingkupi dirinya karena ciri khas Jalmo Peteng begitu terlihat setelah usianya semakin merangkak naik. Hanya hati baik, tulus tanpa pamrih serta pengorbanan yang begitu besar dari Tunggul Rasa dan Shinta Dewinta yang merelakan seperdelapan energi murni mereka untuk dirinya membuatnya belajar satu hal penting dalam hidup, yaitu Cinta.

__ADS_1


Jaler tercekat. Ia tak menyangka kakeknya punya sejarah kelam. Itu artinya dia sebenarnya juga punya darah keturunan Jalmo Peteng yang sudah dimurnikan.


"Hikmah yang bisa diambil dari peristiwa ini, Jaler, kau akan punya kepekaan tinggi setiap kali titik titik Jalmo Peteng mendekat bahkan dari radius paling jauhpun. Kita seperti alarm peringatan buat TACENDA. Dan itu hal yang kakek syukuri hingga saat ini". Tuturnya bijak.


Jaler terkesiap. Ia jadi paham sekarang saat berusia lima belas tahun tanpa sengaja ia berpapasan dengan Atmo Panji dari Klan Geni Urip, itik titik Jalmo Peteng begitu kuat ia rasakan seperti sedang saling lawan dan yang terjadi kemudian adalah muntah darahnya Atmo Panji dan energinya yang seperti terkuras. Jika saja uyut Tunggul tidak segera datang, mungkin ia akan jatuh pingsan atau mungkin lebih parah. Ia ingat betapa Sang ibu menangis tanpa henti melihat kondisinya waktu itu.


"Kau kuat sekarang Jaler. Titik titik Jalmo Peteng tidak akan bisa menyentuhmu. Menikahlah dengan klan besar seperti Klan Purba Putih atau dari keluarga besar Klan Purba Ungu milik kita, maka saat penyatuan dengan pasanganmu, itu seperti detox, membersihkan hawa jahat dan energi hitam pekat milik Jalmo Peteng. Bersegeralah cucuku, waktu kita tak banyak". Katanya menasehati


"Sayang, jangan bikin ibu cemas". Larasati menepuk pipi Jaler, membuat sang empu terlonjak kaget


"Apa yang kau pikirkan hmm". Tanyanya


"Jaler siap menikah secepatnya ibu". Jawabnya tegas. Jaler semakin mantab untuk menikahi Delima. Niat tulus akan mendatangkan kebaikan. Ia berjanji pada diri sendiri untuk selalu berada disisi Delima dalam suka maupun Duka.


"Bagus". Sang ibu girang bukan kepalang


"Kanda Kaka, aku sudah tidak sabar segera menimang cucu". Kata Larasati dengan gerakan menimang bayi.


Jaler tersedak mendengarnya sementa sang ayah mengangguk setuju.


"Apa kabar dengan adek bayi yang ada diperut ibu kalau aku juga punya nanti". Monolognya.


"Apa ayah sudah memikirkannya ya?'. Monolognya lagi sambil menatap ayahnya yang dibalas tatapan "kenapa" dari raut wajah".


"Ibu kalau Jaler juga punya bayi seperti adek bayi dalam perut ibu, bagaimana merawatnya? Delima masih awam dalam merawat bayi, Jaler juga. Apa yang harus Jaler lakukan, bu?". Pancingnya pelan.


Pancingpun disambut dengan antusias penuh membuat Jaler tersenyum lebar. Senyum kemenangan. Jangan tanya wajah ayahnya yang sudah ditekuk berlapis lapis.


"Tentu saja ibu yang akan membantu merawat cucu ibu. Sementars ayahmu akan merawat adikmu, Sederhana bukan?". Jawab Larasati ringan.


Kartajaya melotot seperti mau keluar matanya, mulutnya sudah terbuka tapi ditutup lagi demi merasakan tangan istrinya mencium cium telapak tangannya manja sekali.


"Kanda Kaka tidak keberatan, bukan?". Kata Larasati. Suara ibunya terdengar begitu merdu membuat sang ayah seperti terhipnotis dengan menggelengkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2