
Bening perlahan membuka mata. Kembali air matanya mengalir. Nyai Nimas Welas menghampirinya.
"Yang sabar nduk cah ayu. Kamu harus berjiwa besar.Tidak ada yang rela Guntur Peksi pergi. Tapi jalannya harus seperti itu. Tolong ikhlaskan ya". Nyai Nimas Welas sembelai lembut surai Bening yang menjuntai
"Ingat anak anakmu.Setelah kepergian suamimu, kau merangkap menjadi ayah juga. Jadi tolong kuatkan hatimu". Kembali Nyai Nimas Welas memberi wejangan pada Bening
"Ini minumlah sari buah ningjo agar fisikmu terjaga. Aku akan memberimu tujuh botol kecil untuk kau minum tujuh hari berturut turut. Tak lama lagi akan banyak kejadian menguras tenaga dan juga airmata" Nyai Nimas Welas membuka lemari kaca yang indah dengan lukisan bunga bunga Lembah Sulistyo Ing Warni lalu mengambil botol botol itu kemudian ditaruh dalam wadah transparan.
"Jayendra Ningrat,apa kau masih diluar". Kata Nyai Nimas Welas
Tak lama kemudian masuklah Jayendra, lelaki tampan Klan Purba Ungu. Lelaki pilihan yang mempunyai semua yang ingin dimiliki lelaki kecuali satu yaitu Cinta.
"Ada apa Nyai? Apa Bening sudah baikan?" Suara serak bariton yang mendebarkan kaum hawa. Nya Nimas Welas menggelengkan kepala. Ia merutuki hatinya
"Dasar kau tua tua keladi. Nggak bisa lihat yang merona seperti ini".
"Nyai Nimas,apa bening masih perlu perawatan".Jayendra Ningrat kembali bertanya
"Hmm..suuu-daah". Jawabnya terbata
"Silahkan bawa kembali ke ruang utama". Ia membalikkan tubuh meninggalkan mereka berdua sambil mengelus dadanya
"Dasar tua tua tak tahu diri". Rutuknya pelan pada diri sendiri.
Jayendra menatap Bening yang masih terbaring. Netranya menjadi sendu memikirkan nasib tak mujur perempuan yang dulu hampir saja jadi istrinya
"Kalau masih tak enak badan sebaiknya istirahat saja disini. Aku akan...."
"Tidak perlu. Sudah cukup istirahatnya. Aku mau pulang." Bening memotong pembicaraan Jayendra. Ia segera ingin pergi dari tempat ini. Tempat yang dulu sangat disukainya karena ada Guntur Peksi yang selalu sabar dan juga halus tutur kata dalam memperlakukannya.
"Baiklah, akan kuantar kau pulang. Energimu tidak memungkinkan kau pakai". Jayendra menawarkan diri
"Tidak perlu.Aku tadi diantar Bibi Gayatri".
"Bening, Bibi Gayatri sudah tua. Meski hanya pelayan,tak baik terlalu menguras tenaganya".
__ADS_1
Bening mengernyit tak suka. Ia menatap Jayendra dengan meradang
"Urusi urusanmu sendiri. Bibi Gayatri bukan pelayan.Aku sudah menganggap seperti keluarga"
Jayendra menghelai nafas. Bening saat ini lagi tak bening hatinya. Ia memakluminya.
"Aku tadi melihatnya mengurut kaki, lalu Nyai Nimas Welas memberikannya ramuan yang diminum serta dioles".
Bening terdiam beberapa saat. Bibi Gayatri sudah merawatnya sejak ia masih berusia enam bulan. Nenek buyut yang membawanya ke rumah. Perempuan yang jujur,lugu dan setia. Bening begitu menyayanginya.
"Bibi Gayatri sakit. Kenapa aku tak tahu kalau bibi sakit": Gumamnya.
Jayendra mendengar gumam itu meski lirih sekali. Ia suka Bening sudah kembali seperti biasanya
"Karena usia Bening. Biasa itu seusia beliau kaki sering pegal, apalagi beliau bukan TACENDA Unggul seperti kita, jadi wajar seusia beliau kesehatannya mulai surut".
Bening mengangguk mendengar penjelasan Jayendra.
"Baiklah terima kasih sudah membantuku. Tapi untuk pulang aku akan minta salah satu pelayan disini untuk mengantarku pulang".
"Jayendra,tolong kau antar Bening ya. Kondisinya tidak memungkinkan untuk pulang sendiri.Selain itu keadaan saat ini sangat berbahaya. Energi Jalmo Peteng akhir akhir ini sudah mulai terasa kuat". Pinta Ratu Buana lembut
"Jangan membenci kami nduk. Hanya ini yang kami bisa, melindungimu dan cucu cucuku". Taji Digdaya berkata dengan suara bergetar. Ia menahan diri untuk tetap tegar apalagi setelah Kakek Buyut Pandhu memberinya Tameng Pelindung.Itu artinya waktu sudah dekat dengan kematian salah satu anaknya atau bahkan jika tak hati hati ia bisa kehilangan dua duanya.
Air mata bening kembali jatuh. Ratu Buana memeluknya erat sekali. Seorang Ibu akan kehilangan satu bahkan dua anaknya dalam perang abadi antara keturunan Yang Agung Meneb Jiwa dengan Jalmo Peteng. Sedangkan yang satunya akan kehilangan suami tercinta.
"Nduk, kamu tak apa apa kan?". Kakek buyut Pandhu menepuk bahu Bening
"Ayah Ibu mertuamu tak salah.Mereka juga diposisi sama sepertimu". Uyut menyadarkan lamunan Bening
"Maafkan Bening uyut. Bening tidak menyalahkan ayah ibu mertua.Bening juga tidak benci. Bening hanya sedih teringat Kangmas Guntur setiap pergi kesana".
"Aku dan uyut Susmita akan menemanimu kesana. Jangan sampai energi Jalmo Peteng menguat,nduk".
"Baik uyut".
__ADS_1
"Menemani kemana?" Suara uyut Susmita terdengar dari balik pintu. Ia membuka dengan meletakkan telapak tangan dan terbukalah pintu besar itu. Suara dari dalam buat uyut Susmita tetaplah terdengar .Tingkatan ilmunya yang tinggi mampu mendengarkan sampai jarak jauh.
"Sudah tahu kenapa masih nanya, Sus sayang". Uyut Pandhu berdiri lalu mengulurkan tangan kanannya. Uyut Susmita menerima uluran tangan dengan suka cita.
"Uyut seperti anak muda saja. Masih romantis". Komentar Ang
Uyut Pandhu dan uyut Susmita tertawa lepas. Keduanya terlihat mesra dan serasa . Cincin Kecubung Ungu Mangkupetir masih setia melingkar dijari manis uyut Susmita. Cincin yang membuat iri banyak gadis waktu itu.
"Kita akan ke tempat Ratu Buana. Anak gadismu itu entah kenapa sudah beberapa bulan tak kemari". Uyut Pandhu berkata sambil mengelus tangan sang istri.
"Paling paling menantumu itu sedang membuatnya pusing kepala".
Uyut Pandhu kembali tertawa. Anak gadisnya yang ke tiga ini memang berbeda dengan anak gadisnya yang ragil. Ratu Buana perempuan yang mandiri, agak keras dan berwibawa mendapatkan Taji Digdaya yang manjanya melebihi cucu cucunya. Sementara Prameswari anak gadisnya yang terakhir lemah lembut, pendiam dengan ketajaman indra perasa energi mendapatkan Galih Sasongko, lelaki tangguh dari Klan Biru.
"Kapan kita ke tempat Ratu. Aku sudah kangen singkong bolongnya yang nikmat itu. Uyut Susmita menoleh ke suaminya Jari tangannya masih setia digenggam lelaki yang membuat sifat bar barnya perlahan lahan berkurang.
"Kapan kau siap nduk?" Uyut Pandhu bertanya pada Bening.
"Bening...".
Bening menggantung kalimatnya. Ia masih belum bisa menata hati pergi ke rumah mertuanya, rumah masa kecil mendiang suaminya. Banyak memori indah tersimpan disana.
"Kau masih marah ya nduk?" Uyut Susmita menatap Bening sendu
"Tidak uyut. Bening hanya belum sanggup pergi kesana. Kenangan dengan kangmas Guntur terlalu banyak disana".
"Kalau begitu biar utusan yang pergi kesana". Ujar uyut Pandhu memberi alternatif.
"Itu ide bagus,sayang". Uyut Susmita menatap mesra suaminya.
"Uyut, Ang sama bunda dari tadi dipamerin terus". Ang menatap kedua uyutnya iri. Ia sampai saat ini masih sendiri. Bukannya sulit menemukan jodoh, hanya Ang belum mau terikat karena tanggung jawab besar sedang menantinya.
"Ang, tidak boleh berkata seperi itu". Bening menatap putranya. Ayah ang sewaktu masih hidup juga memperlakukan dirinya sangat manis.
"Kangmas Guntur". Lirihnya pelan
__ADS_1