TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
UNDERSTAND EACH OTHER


__ADS_3

Cakra Dewa ingin bertanya lagi tapi begitu melihat ekspresi Safira, ia berhenti.


"Aku hanya bertanya Safira. Tidak ada maksud apapun. Seperti kataku di awal kalau kau keberatan menjawab, cukup gelengkan kepala". Ujar


Safira menetralkan emosinya. Peristiwa itu seperti baru kemarin. Ia masih malu jika diungkit.


"Maaf. Tapi peristiwa itu sungguh memalukan. Setiap ingat aku sulit mengontrol.emosiku". Ungkap Safira jujur.


"Jadi bagaimana? Apa kedua orang tuamu tahu tentang bunga itu?".


"Kau orang pertama yang ku beri tahu".


"Apa? Tapi Safira. Itu peristiwa penting dalam hidupmu".


"Satu hari sebelum peristiwa memalukan itu, Bunga Cantik Abadi datang. Waktu itu aku tak tahu. Kupikir hanya bunga liar yang cantik dan wangi. Keesokan hari, bunganya sudah tak ada. Dan aku melupakan begitu saja.


Cakra Dewa menghelai nafas. Ia sendiri bingung, kalau sudah tiga tahun apa ada tanggal kadaluarsanya.


"Kita nanti tanya uyut yuk, biar kita tahu, apakah bunga itu datang satu kali ataukah ada masa expirednya jadi ia akan datang lagi menyambangimu".


Safira menggeleng cepat. Ia takut peristiwa memalukan itu terekspos kalau ia bercerita


"Kau bisa bilang satu hari setelah melihat dan berkenalan denganku, Safira. Kau tidak perlu menceritakan detailnya. Bagaimana,? Kau setuju?". Ujar Cakra. Ia seperti tahu yang dipikirkan gadis itu.


Safira menatap Cakra intens beberapa menit lalu memutuskan menyetujui.


"Jangan pernah cerita kesiapapun Cakra atau aku tidak akan pernah memaafkanmu". Ancam gadis itu.


"Kau bisa memegang kata kataku, Safira. Rahasiamu aman bersamaku. Aku tidak akan pernah cerita kecuali kau yang minta".


"Apa kau bilang? Aku yang minta? Itu mustahil Cakra. Jangan menggodaku". Ketus Safira


"Iya iya, aku akan menutup rapat mulutku.. O..iya setelah bunga itu datang dan hari berlalu, bagaimana perasaanmu? Bukankah kau bilang ada bunga seperti Dandelion diatas kepala dan terserap masuk?".


"Hatiku damai dan bahagia tapi deg deg kan gimana gitu kalau berpapasan atau bertemu tak sengaja denganmu".


"Apa kau deg deg kan saat bertemu Ang". Pancing Cakra.

__ADS_1


"Iya, tapi kalau bertemu denganmu seperti ada getaran magnet yang besar, menarik narik diriku untuk bertemu denganmu".


" Jadi hanya deg deg kan saja kalau bertemu dengan Ang, tidak lebih. Begitukah Safira".


"Iya seperti itu".


"Lalu selama tiga tahun ini kita hanya beberapa kali bertemu dalam acara acara kedua klan atau klan klan lainnya. Jadi tepatnya hanya sekilas saja. Kalau kau bilang seperti magnet, bukankah harusnya sulit buat dirimu untuk menahan diri?".


"Aku..". Safira menggantung kalimatnya sendiri, lalu menghirup udara banyak seakan akan pasokan oksigen habis, lalu katanya malu malu,


"Aku diam diam selalu melihatmu hampir tiap hari. Kalau tidak bisa dan keinginan itu sangat kuat, aku akan gelisah tiap hari, kalau tak juga bertemu atau melihatmu meski cuma sebentar, aku biasanya jatuh sakit. Badanku seperti meriang".


Cakra menatap tak berkedip pada Safira. Sejak pertemuan di air terjun Banyu Arum, ia juga merasakan hal sama, membuat ibunya khawatir. Ia sering uring uringan tanpa sebab dan akan menguap begitu saja saat bertemu Safira atau melihat safira meski hanya sekilas. Sungguh seperti candu.


"Kau benar. Aku juga merasakan dan mekakukan hal yang sama".


"Jadi selama tiga tahun ini kita saling ingin bertemu atau melihat satu sama lain tapi tidak ingin orang lain tahu apa yang kita lakukan. Seperti pencuri saja mengendap endap ingin memastikan barang yang ingin dicuri aman". Sungut Safira.


Cakra Dewa tertawa lepas. Wajahnya terlihat sangat tampan memperlihatkan gigi putih yang terawat dan mata pekatnya yang misterius, benar benar candu buat Safira. Ia begitu menikmati pemandangan didepan matanya itu. Tanpa tahu yang dilihat juga gantian menatap begitu intens. Dua anak manusia beda jenis kelamin ini seperti ingin saling menyelami pribadi masing masing.


"Kau sungguh suka melihatku Safira".


Cakra tersenyum simpul. Bunga bunga di hatinya mulai bermekaran lagi. Ia sangat bahagia gadis pujaannya mengungkapkan isi hati. Niatnya kembali berkobar.


"Kau akan menatapku terus seperti ini, Safira,?".


"Iya, aku suka".


"Mau berapa kama?".


"Selamanya".


"Kau bisa menatapku sesuka hati kalau kita menikah".


"Menikah?". Deg. Safira tersadar dari pesona Cakra Dewa. Wajahnya langsung memerah. Ia spontan menutup dengan kedua tangannya.


"Aduh gawat. Mulutku benar benar harus diplester". Gerutunya dalam hati

__ADS_1


"Aku sangat bahagia kau jujur tentang perasaanmu Safira, jadi kita bisa membicarakan tentang kelanjutan perjodohan ini".


Raut muka Safira tambah memerah. Ia menundukkan kepala, malu bukan kepalang. Berkali kali ia gumam gumam tak jelas.


"Kau keberatan Safira?"


"Tiiii-tii-tiidaakk". Ucapnya terbata


"Lalu mengapa kau gumam gumam seperti itu. Kalau kau memang mau perjodohan ini berlanjut, tidak ada lagi yang harus disembunyikan atau dirahasiakan dariku".


Safira memanyunkan bibirnya.Bagainana jujur, ini kan tentang perasaannya yang paling dalam. Ia seperti ditelanjangi kalau mengungkapkan semua.


"Bagaimana, kau mau".


"Iya tapi tidak semua. Akukan malu kalau kau tahu semua. Ini tentang perasaan seorang gadis Lagipula kau belum mengungkapkan isi hatimu juga. Itu artinya kau juga belum terbuka padaku".


Wajah Cakra merona. Ia senyum dikulum, kikuk harus memulai dari mana.


"Tuh kan kau sendiri juga malu tapi menyuruhku untuk mengungkapkan semua. Kau curang dan tidak adil". Sembur Safira.


"Bukan begitu Safira. Aku hanya bingung harus dari mana bercerita karena sejak kita bertemu di air terjun Banyu Arum. Malamnya aku tidak bisa tidur, selalu saja wajahmu dan kejadian itu tidak bisa hilang dari pikiranku bahkan sampai saat ini"


"Laki laki mesum. Kau masih selalu mengingat padahal aku sangat ingin melupakan". Mata Safira melotot tajam.


"Aku hanya ingin jujur padamu Safira. Kau bahkan sering hadir dimimpiku. Kita begitu dekat, saling cinta, saling sayang. Kau bahkan memberiku plakat perak dengan batu Safir indah. Kau bilang mendapatkannya dari leluhur di lembah Merak Ati".


"Mimpi?". Ujar Safira membeo.


Ia juga sering bermimpi tentang Cakra yang begitu lembut dan mesra memperlakukan dirinya Ia begitu menyukai saat memimpikan Cakra. Seharian hatinya berbunga bunga. Bik Sumi jadi tempat curhat. Ia tidak berani cerita ke ibunya. Ia masih terlalu bodoh mengetahui perasaannya. Bahkan sekarang ini kedua insan berlawanan jenis ini masih menyelami perasaan masing masing. Begitu polos atau mungkin juga karena keluguan mereka, membuat tak tanggap akan perasaannya sendiri


"Apa kau pernah memimpikan aku , Safira?". Tanya Cakra.


"Iya sering"


"Sering? Sesering apa?".


Safira buru buru menutup mulut sambil memukul mukul pelan. Mulutnya susah banget dikendalikan.

__ADS_1


"Jangan kau pukuli mulutmu Safira. Aku suka kau berterus terang. Bukankah ini awal yang baik buat kita berdua? Untuk hubungan kita kedepannya?".


__ADS_2