
Bening terlihat bingung. Ia tidak paham arah pembicaraan perempuan yang menghalangi jalan. Jayendra menggelengkan kepala
"Tania, aku senang kau menghadiri pernikahanku dan Bening tapi tolong bisakah kita membicarakan hal itu ditempat lain. Pandanglah uyut uyut kita, dan keluarga besar kita, juga Bening dan aku. Tolong jangan rusak monent kebahagianku. Kau pasti tau kisahku dan juga perasaanku". Ujar Jayendra pelan
Tania menatap tajam pada Bening, lalu berkata,
"Kita ke Hutan Kecil Asri". Tanpa memberi kesempatan pengantin berdua menjawab, Tania sudah melesat pergi. Tinggal Bening dan Jayendra mematung.
"Ada apa sebenarnya kak Jayendra? Jangan buat Bening bingung. Kenapa Tania kelihatan sangat marah?".
"Nanti kuceritakan.Ayo kita lanjutkan menyapa keluarga besar kita dan para tamu". Jayendra menuntun Bening pelan pelan.
Uyut Satria melihat kejadian itu. Matanya terpejam sesaat, lalu ia menoleh ke istrinya dan mendapatkan anggukan. Segera ia menggandeng uyut Pelangi meninggalkan pesta pernikahan yang masih berlangsung.
Di Hutan Kecil Asri, Tania menunggu dengan raut wajah masam. Ia ingin sekali menghampiri Ang kalau tak ingat tatapan uyut Pelangi padanya.
"Cckk lama sekali Jayendra dan Bening. Awas saja kalau mereka tak datang". Ancamnya dalam hati.
Suara dehemen membuyarkan pikirannya yang sedang kalut. Ia pun terkejut saat uyut Satria dan uyut Pelangi sudah berada di dekatnya.
"Tenangkan hatimu sayang, aku tahu ini sangat sulit untukmu dan keluargamu. Aku dan uyut Satria serta uyut Pandhu dan Susmita akan mencari jalan keluarnya". Lembut uyut Pelangi membelai rambut Tania, membuat ibu dua anak itu langsung pecah tangisnya. Dipeluknya sang uyut erat erat.
"Ayo kita ke Watu Lingguh yang disana itu, kita bicarakan baik baik". Tunjuk uyut Satria pada tujuh batu yang menyerupai tempat duduk yang dikelilingi rindangnya pepohonan.
Uyut Pelangi menuntun Tania yang masih terisak. Mereka menuju tempat yang ditunjuk uyut Satria.
"Duduklah sayang". Ujar uyut Pelangi
Tania menurut lalu duduk disebelah uyut Pelangi.Wajahnya
bengkak karena kebanyakan menangis.
"Begini nduk cah ayu, aku punya ide siapa tahu engkau setuju. Mumpung beritanya belum menyebar luas. Bagaimana kalau kita jodohkan ulang putrimu Safira. Kau tahu Putra Elang Raja belum ada yang menikah. Aku ingin menjodohkan Safira dengan putra tertuanya. Dijalani dulu, bisa berkenalan dulu. Bagaimana? Aku bisa menjamin kalau putra Elang Raja layak menjadi pendamping anak gadismu". Uyut Satria berbicara dengan hati hati sambil memperhatikan ekspresi Tania.
Tania tercenung. Tak bisa berkata kata. Perjodohan ulang ini begitu tiba tiba. Luka hati putrinya belum mengering. Bagaimana mungkin perjodohan ulang ini akan diatur.
__ADS_1
Ia menggeleng dan berkata,
"Safira masih sedih dan terluka, bagaimana mungkin ada perjodohan ulang, uyut?" Ucapnya terbata
"Kita buat sealami mungkin sayang. Ijinkan putra Elang Raja mendekat pelan pelan. Mengisi kekosongan hati putrimu. Kau tahu, Cakra Dewa, putra tertua Elang menyamar menjadi pelayan di Dhayoh Utomo demi untuk melihat putrimu". Ucap uyut Pelangi. Kedua tangannya ditaruh di atas tangan Tania.
"Menyamar? Kapan itu uyut? Kenapa Tania tidak mengenalinya?" Mata Tania membeliak tak percaya.
"Saat Ang berpindah pilihan bertepatan dengan bunga cantik abadi tumbuh di tempat Permata". Kata uyut Pelangi
Tania kembali teringat kepedihan putrinya, buru buru uyut Pelangi menangkup pipinya, lalu menggelengkan kepala pelan
"Jangan diingat terus sayang, tidak baik untuk hatimu". Uyut Pelangi mengingatkan dengan sayang.
Tania menganggukkan kepala, diambilnya nafas dalam dalam
"Mengerti uyut, akan Tania coba. Tapi ayah Safira belum tahu soal ini".
"Nanti biar uyut yang menjelaskan padanya". Ujar uyut Satria
"Salam hormat uyut Satria, uyut Pelangi. Ijinkan Tunggul berbicara sebentar dengan Tania". Kata Tunggul menangkupkan kedua tangan dengan hormat. Nafasnya masih terdengar menderu.
"Duduklah sayang, uyut mau bicara padamu dulu, setelah itu silahkan bicara pada istrimu. Kau lebih berhak dari pada kami". Kata uyut Pelangi pelan.
Tunggul menurut lalu duduk dekat istrinya. Tania langsung beringsut dari tempat duduk, dengan cepat uyut Pelangi mencekal tangan Tania dan menggelengkan kepala.
"Jangan seperti ini sayang, tak baik untuk kedua putrimu".
Tania cemberut. Ia masih sangat marah dan kecewa pada suaminya. Ia berasumsi Tunggul menyerah, dan tidak mau melakukan apa apa.
"Aku dan uyut Satria tadi membicarakan Safira dengan istrimu". Uyut Pelangi memulai pembicaraan. Lalu mengulang kembali apa yang sudah dibicarakan bertiga tadi.
Wajah Tunggul memerah. Matanya terpejam Tubuhnya bergetar hebat menahan emosi. Uyut Satria bergerak cepat memegangi kedua pelipisnya. Disalurkan Energi Meneb Ati. Seketika wajahnya berubah normal dengan nafas teratur.
"Buka matamu ngger". Titah uyut Satria
__ADS_1
Perlahan Tunggul membuka mata. Ia segera menangkupkan kedua tangan di dada.
"Sudahlah ngger, jika engkau keberatan tak mengapa, aku sebagai orang tua meminta maaf padamu jika ideku melukai hati dan juga harga dirimu". Uyut Satria menepuk Tunggul.
"Bukan seperti itu uyut, tapi Tunggul dan keluarga trauma jika dipermalukan lagi. Klan Purba Putih seakan tidak berempati dengan keluarga kami kecuali satu orang, putra Elang Raja yang bernama Cakra Dewa". Ucapnya getir.
Dua uyut saling pandang, hembusan nafas berat terdengar.
"Semua uyut prihatin sayang. Kau mungkin tidak mengetahui itu. Kami berkomunikasi untuk mencari solusi. Bagaimana mungkin kami berpangku tangan, sementara buyut kami patah hatinya". Uyut Pelangi berbicara dengan mata berkaca kaca.
Tangis Tania kembali tumpah. Tunggul segera merengkuh istrinya dalam pelukan. Hatinya seketika lega mendengar penjelasan uyut Pelangi. Ia dan keluarga tidak sendiri menghadapi permasalahan ini.
"Uyut berdua jika memang seperti itu, ijinkan Tunggul bertemu Elang dan putra sulungnya". Ujar Tunggul. Tangan kanannya masih setia merengkuh bahu sang istri.
"Baik, kita jadwalkan pertemuan bersama, supaya tidak ada lagi miskomunikasi.Kita akan bantu mendekatkan Safira pada Cakra". Putus uyut Satria.
"Buyut, apa kau akan menguping terus pembicaraan orang tua?". Tanya uyut Pelangi. Sedari tadi ia melihat gerak halus buyutnya yang bersembunyi dibalik rimbun pepohonan.
Wajah tengil menyembul. Senyuman lebar dan deretan gigi putih terpampang dengan kulit putih bersih.
"Maaf uyut berdua, tuan nyonya Tunggul, Cakra tak sopan menguping pembicaraan. Tadi Cakra bermaksud mengikuti tuan Tunggul yang meninggalkan perhelatan dengan menahan amarah". Ucap Cakra Dewa membungkuk hormat dengan tangan kanan diletakkan di dada kiri.
Dua pasang suami istri itu hanya bisa menghelai nafas.
"Kau sudah mendengar pembicaraan kami sayang.
Bagaimana menurutmu?Apa kau setuju?". Tanya uyut Pelangi.
Cakra Dewa mengangguk malu. Wajahnya terlihat lucu. Membuat uyut Pelangi terkekeh.
"Bagaimana denganmu Tunggul dan Tania. Apa kalian masih ragu?" Tanya uyut Satria
"Jika masih ragu, saat pertemuan bersama, kau bisa menanyainya dengan saksi dari kedua klan". Tutur uyut Pelangi
Tunggul dan Tania mengiyakan setuju. Sementara Cakra Dewa meraba tengkuk sambil gumam gumam yang terdengar oleh kedua uyut.
__ADS_1
"Buyut nakal, jangan cari perkara". Teriak uyut Pelangi. Ia tanpa ampun menjewer telinga Cakra Dewa