TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
KEDATANGAN 1


__ADS_3

Pagi pagi sekali anak anak Bening sudah heboh. Hari ini hari besar nan istimewa buat sang bunda. Jam satu dini hari tadi rombongan Klan Purba Putih dari pihak Jayendra Ningrat tiba. Uyut Pandhu dan uyut Susmita menyambut kedatangan mereka. Anak anak Bening juga langsung ikutan menyambut rombongan. Mereka begitu penasaran dengan calon ayah mereka. Ang kelihatan deg deg an. Sebagai anak tertua, ia punya kewajiban memastikan kebahagiaan bunda serta adik adiknya.


"Kak Ang, mana calon ayah kita?'. Tanya Delima. Dari tadi gadis itu begitu tegang.


"Belum muncul. Rombongannya masuk dengan pemeriksaan ketat. Uyut Pandhu tidak mau kecolongan".


"Delima lupa lupa ingat wajahnya". Sahutnya.


"Shaka apalagi, ingat saja enggak". Usilnya.


Delima mencubit pinggang adik bungsunya. Sudah tahu perasaan campur aduk jadi satu, ini anak malah nggak jelas.


"Aduuuh kak Del,sakit. Jangan kenceng kenceng nyubitnya. Tuuh calon ayah kita datang". Tutur Shaka


Seketika Delima melepaskan cubitannya dan fokus pada rombongan yang datang. Hal ini dimanfaatkan Shaka untuk menjauhi kakaknya.


"Mana mempelai laki lakinya?". Delima tak sabar ingin melihat langsung.


"Cckk kau ini, sabar, nanti juga muncul". Jawab Ang


"Iya niih, kak Del dari tadi berisik". Ujar Bulan


"Langit ingat ayah". Suara Langit terdengar sendu


Semua menoleh. Ang langsung tanggap, titahnya pada adik adiknya


"Kalau kalian sayang sama bunda, perlihatkan kalau kalian mendukung rencana ini. Jangan sampai bunda melihat kesedihan di hari bahagianya. Kalian paham?".


Langit mengangguk. Ditatanya lagi hatinya. Ia sungguh tak ingin membuat kacau suasana tapi apa daya, kerinduan pada sang ayah tiba tiba menyeruak.


"Semangat kak Langit. Kita harus dukung bunda biar bunda kuat menghadapi apapun". Kata Shaka sambil mengepalkan tangan menyemangati sang kakak.


Langit mengangguk disusul genggaman tangan Bulan. Gadis itu sebenarnya juga merasakan hal yang sama, tapi dipendamnya rapat rapat dalam hati. Ia cukup peka saat uyut Susmita meminta mereka bersiap membantu bunda untuk pernikahan hari ini, raut wajah bunda begitu terlihat antara rela dan tidak, meski kata setuju sudah di ikrarkan demi keluarga kecil dan juga TACENDA.

__ADS_1


"Ada apa?". Delima menoleh ke Bulan dan menangkap gurat kesedihan.


"Tidak ada apa apa kak Del". Sahutnya pelan.


Delima kemudian mengelus lembut punggung Bulan. Melepas bunda untuk laki laki lain memang sangat berat buat keduanya.


"Eh lihat, sepertinya itu rombongan inti". Tunjuk Shaka. Sedari tadi ia melihat campur aduk wajah kakak kakaknya.


Semua fokus pada kedatangan rombongan besar. Ada Jayendra Ningrat disana. Wajah bahagianya begitu kentara diantara yang lain. Ia sudah memantabkan hati untuk Bening dan anak anaknya. Mencintai dan melindungi mereka dengan taruhan nyawanya.


Dibelakangnya beberapa laki laki dengan penampilan mempesona serta gadis gadis cantik yang berjalan dengan anggun, sementara barisan terdepan milik para tetua dan orang tua.


Derap langkah kaki mereka hampir tak terdengar jika tanpa Ilmu Talingan Mireng. Diantara rombongan itu, menyeruak paling belakang, laki laki beriris coklat tua yang ditakuti Bulan, membuat gadis itu tanpa sadar memundurkan kakinya.


"Dia juga ikut dalam rombongan". Gumamnya


"Siapa?". Delima menoleh. Dilihatnya posisi mereka sudah tidak sejajar.


Bulan menggeleng. Ia melihat tatapan mengerikan lagi dari laki laki itu, Yoga Perwira Kapilih. Peringatan dari Kilat, kakak sepupunya masih terngiang di telinganya.


"Sudah. Jam sebelas malam kemarin mereka tiba". Sahut Ang. Begitu mengetahui rombongan uyut Satria ,tanpa buang waktu ia langsung menemui Banyu Mas, laki laki kandidat adik iparnya. Ia lebih akrab dengan Banyu Mas dari pada Jaler Sekti dari Klan Purba Ungu.


"Bagaimana, apa jawabanmu". Ang bertanya pokok inti, tidak mau bertele tele.


Banyu Mas menatap Ang, dengan tarikan nafas ia berkata,


"Aku sudah bicara dengan uyut Satria dan uyut sudah menyampaikan pada uyut Pandu".


"Apa keputusanmu?". Tanya Ang penasaran


Ang seperti menangkap rasa keberatan dimata Banyu Mas.


"Kau menolak?". Tanya Ang dengan suara dingin. Ia begitu kecewa melihat sorot mata Banyu Mas. Lebih tenang menyerahkan Delima padanya karena ia sudah lama mengenalnya. Tapi sepertinya keinginannya tidak akan terwujud.

__ADS_1


"Apa kau sudah punya kekasih? Aku tak pernah melihatmu pacaran dengan gadis manapun?"


"Baru satu bulan kuikat. Aku berencana menikahinya tahun depan". Suara Banyu Mas terdengar pelan. Ia bisa memahami perasaan Ang sebagai anak paling tua yang punya tanggung jawab besar pada keluarga.


Ang melemas. Pupus sudah harapannya.


Ia menerawang jauh pada sebuah nama, Jaler Sekti. Pernah bertemu beberapa kali karena ada acara Klan, tapi tidak pernah secara personal mengenal.


"Apa kau kenal Jaler Sekti?" Tanya Ang


Banyu Mas mengangguk. Ia tentu familiar dengan nama itu, Ia seringkali bertandang ditempat uyut Satria karena panggilan uyut Pelangi. Dimata Banyu Mas, Laki laki yang satu klan dengan buyut Pelangi itu sangat misterius meski cukup ramah. Ia terlibat obrolan ringan setiap Jaler datang. Pernah suatu saat ia bertanya pada uyut Pelangi tentang Jaler. Senyum lebarpun diperlihatkan sang uyut


"Kenapa? Apa kedatangannya mengganggumu,sayang?".


"Tidak uyut, Banyu cuma nanya apa hubungan kekerabatan uyut begitu dekat?". Tanya Banyu


"Tentu saja, dia itu buyut dari kakak laki laki uyut Susmita. Jadi ceritanya itu, kakak laki laki uyut Susmita mengadopsi kakek Jaler yang ia temukan didekat Hutan Sejoli. Lalu ketika berusia dua belas tahun kakak dari uyut Susmita dan istri memberinya energi murni seperdelapan. Setelah dewasa dinikahkan dengan gadis dari Klan Purba Ungu. Dari pernikahan dengan gadis dari Klan Purba Ungu menurunkan keturunan yang bagus, salah satunya ayah Jaler". Jelasnya.


Banyu menggaruk kepala meski tak gatal. Urutan silsilah membuatnya suka bingung


"Kau ini, belum paham juga ya. Jadi Jaler Sekti itu buyut keponakan dari uyut Susmita. Uyut Pelangi terkekeh melihat Banyu mengganguk dengan ekspresi lucu, antara setengah paham dan tidak paham.


"Dia memang seperti itu sayang tapi uyut bisa jamin dia orang baik, loyal pada klan . Uyut sering memintanya kemari karena ibunya merengek pada uyut untuk dicarikan jodoh buat putranya. Kau tahu ibunya itu cucu dari Uyut Gumilar Tresna dari Klan Hijau. Kedekatan Klan Purba Ungu dan Hijau menjadi lebih rapat sejak ibunya Jaler menjadi menantu Klan Purba Ungu". Uyut Pelangi semakin terkekeh kala melihat reaksi buyut kesayangannya itu.


"Lalu apa uyut Susmita juga tahu?" Tanya Banyu


"Tentu saja sayang, uyut Susmita itu kan satu klan dengan uyut juga. Kami saudara sepupu". Terang uyut Pelangi.


"Sebelumnya, Banyu tidak pernah melihatnya uyut". Ujarnya


"Anak itu memang tidak suka keramaian, pendiam, agak pemalu dan juga misterius tapi sangat setia seperti kakek dan ayahnya. Dia bisa cukup ramah hanya dengan keluarga atau kerabat saja". Jelas uyut Pelangi.


"Memang kenapa,uyut?"

__ADS_1


"Keluarga itu lebih bisa dipercaya katanya. Jadi kedepannya, tolong kau bantu dan dampingi dia ya, uyut kuwatir dia terlalu cuek dengan orang lain jadi sombong akuh kesannya". Pinta uyut Pelangi


Banyu mengangguk. Ia kini jadi tahu bahwa menjadi TACENDA tidaklah mudah. Perlu energi murni dari para sepuh dan pernikahan dengan klan untuk mendapatkan keturunan yang baik, melahirkan TACENDA .


__ADS_2