TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
JAYENDRA NINGRAT VS TUNGGUL AMARTA


__ADS_3

Uyut Satria uring uringan. Tak biasanya sang istri pergi tanpa sepengetahuan dirinya.


"Dimana baju kebesaran klan, ya? Pelangi menyembunyikan rapat sekali". Gerutunya


"Aduh, Mahkota Sesulih kok nggak ketemu ketemu". Uyut Satria mencari kesana kemari tapi hasilnya nol.


Ia menyerah. Duduk di kursi jati alas yang di pesan di dimensi terbatas dengan ukiran bunga melati.


Dituangkanlah teh khas racikan uyut Pelangi yang pahit tapi harum dengan warna orange tua. Sangat addicted di lidah.


"Untung ada teh ini". Uyut Satria menyruput pelan pelan sambil mengambil cemilan dari ekstrak bunga melati emas yang dicampur bahan bahan premium hingga menghasilkan rasa yang gurih dan manis.


Pintu kamar dibuka dari luar, muncullah perempuan tua dengan wajah yang masih terlihat segar dan kulit yang terawat.


"Pelangi, kau ini suka bikin aku kebingungan. Beratus ratus kali ku bilang, jangan meninggalkan aku sendirian". Uyut Satria menampilkan wajah seperti ingin marah tapi justru terlihat lucu.


Uyut Pelangi terkekeh. Sejak pengantin baru hingga menua seperti sekarang, uyut Satria selalu seperti ini.


"Aku hanya menemui Elang, kakang. Anak itu temperamental sekali. Hampir saja aku terlambat mencegahnya. Ia membawa satu ton kemarahan untuk membuat keributan dengan Jayendra". Uyut Pelangi menuang teh hangat racikannya, lalu diminum.dengan sangat nikmat.


"Lalu bagaimana dengan Jayendra? Dia itu calon pengantin, jangan sampai terlambat di hari pernikahannya sendiri. Urusan anak Tunggul Amarta bisa ditunda bukan?". Kata Uyut Satria. Ia kembali menyruput teh yang setiap pagi dan sore disajikan oleh istrinya.


"Dia masih bersama Tunggul Amarta untuk menyelesaikan kesalahpahaman".


"Malang benar anak itu, hari bersejarah dalam hidupnya, yang ia impikan sejak dulu, kenapa banyak sekali rintangannya". Uyut Satria prihatin dengan nasib Jayendra.


"Kita kesana Pelangi. Jayendra tidak boleh menghabiskan waktu. kasihan Bening akan menunggu terlalu lama". Perintah uyut Satria


"Baik kakang. Tapi sebelum pergi, kita bersiap dulu ya. Tidak lama karena semua sudah aku siapkan.


Uyut berdua dengan cepat bersiap untuk menghadiri pernikahan Bening tapi sebelumnya akan menjemput mempelai laki laki yang masih sibuk dengan urusannya.


Di Hutan Kecil Asri Tunggul dan Jayendra diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan hingga helaian nafas terdengar dari keduanya.

__ADS_1


"Bicaralah Tunggul, aku menunggu". Kata Jayendra.


Tunggul serba salah. Ia sungguh tidak menduga akan sejauh ini. Di hiruplah udara pelan pelan, akhirnya keluar dari bibirnya ungkapan penyesalan dan rasa bersalah karena ikut dalam skenario sang istri.


"Aku terlalu longgar Jayendra. Mulai sekarang, aku harus bisa bertindak tegas pada istriku".


"Hal seperti ini jangan sampai terulang ke depannya. Aku tahu hatimu pasti sedang bergejolak sekarang, tapi kau harus ingat, mana yang penting, mana yang tidak".


"Tentu, aku akan mengingatnya. Aku pastikan ini yang pertama dan terakhir. Aku sangat menyesal sudah membuatmu terseret dalam skenario istriku".


"Baiklah. Lupakan yang sudah terjadi. Mari kita buka lembaran baru. Safira pasti akan mendapatkan jodohnya. Dia hanya perlu bersabar".


"Iya, aku tahu". Ucap Tunggul


Keduanya kembali terdiam. Yang biasanya akrab dan hangat menjadi canggung dan kaku.


"Kau pernah bilang padaku kalau kau mengantongi nama nama calon menantu. Apakah itu masih berlaku. Jika iya, kau bisa memulainya sekarang". Jayendra memberi semangat.


"Tentu, hanya saja aku berubah pikiran. Aku harap kau tidak tersinggung, Jayendra. Aku memutuskan menghapus nama calon mempelai laki laki dari Klan Purba Putih"


"Aku tidak akan membuat putriku menderita untuk kedua kali. Dia sama sekali tidak bersalah tapi harus mengalami hal buruk seperti ini".


"Berpikirlah dengan kepala dingin. Jangan gegabah. Klan Unggul seperti Klan Purba Putih layak untuk di dapatkan Safira. Aku berjanji akan membantumu"


Jayendra berkata dengan tegas. Tapi Tunggul merespon dengan gelengan kepala.


"Sudah cukup sekali saja, putriku mendapatkan malu. Aku tidak masalah kalau Safira menikah dengan sesama Klan Purba Ungu atau klan yang lain". Ujar Unggul


"Kau jadi benci pada Klan Purba Putih karena hal ini, Tunggul?".


"Sama sekali tidak. Aku hanya tidak ingin putriku terluka, istriku khawatir dan aku sulit untuk mendongakkan kepala. Aku tidak bisa menolong putriku sendiri sementara istriku bahkan nekat melakukan hal yang di anggapnya benar untuk kebahagiaan putrinya".


"Aku rasa kau harus segera kembali, Safira saat iini membutuhkan dukungan kedua orang tuanya".

__ADS_1


"Kau benar, aku akan memberi pengertian padanya. Dan kau cepatlah pergi, jangan sampai Bening terlalu lama menunggu". Ucap Tunggul, lalu secepat kilat gerakannya seperti angin, menghilang dari pandangan.


Jayendra juga akan segera pergi, di dekat Pohon Pangurib terlihat suami istti sepuh yang masih romantis, bergandengan tangan menghampiri Jayendra.


"Ayo kau sudah ditunggu. Kau satu satunya mempelai laki laki yang masih keluyuran disaat hari H tiba". Uyut Pelangi menggandeng tangan Jayendra.


"Jangan pakai energimu lagi, sisakan untuk nanti malam". Titah uyut Pelangi.


Jayendra jadi salah tingkah. Ekspresinya lucu sekali.


"Lihat Pelangi kau membuatnya malu" Tutur uyut Satria


"Ayo jalan, waktumu hampir habis. Bening dan anak anaknya tidak akan memaafkanmu kalau kau terlambat".


"Baik uyut. Mari pergi dari sini. Jayendra juga sudah rindu". Ujarnya tanpa sadar


Uyut Satria dan uyut Pelangi tertawa. Teringat pada masa muda. Sudah sangat lama berlalu tapu cinta mereka masih sama, bahkan lebih hangat, kuat dan anti terjangan badai.


"Kau benar begitu rindu pada Bening. Kau bahkan masih disini. Bagaimana jika Bening marah karena ia harus menunggumu cukup lama" Kata uyut Pelangi


"Tapi ini belum terlambat uyut". Kata Jayendra.


"Iya aku tahu karena uyut Pandhu menggunakan Ilmu Mandeg Wekdal untuk memperlambat waktu bahkan menghentikan sesaat" Kata uyut Satria


"Benarkah ilmu itu ada, uyut. Jayendra dengar sudah punah tapi ternyata uyut Pandhu memilikinya". Ucap Jayendra terkagum kagum.


"Iya, hanya lima orang yang menguasainya saat ini. Aku harap suatu hari kau juga bisa memilikinya" Kata uyut Pelangi


Jayendra tersenyum. Baginya sekarang adalah kebahagiaan Bening dan anak anaknya. Keinginannya sangat sederhana Hidup bahagia dan menua bersama Bening. Jika masih diberi kesempatan ia menginginkan anak dari rahimnya. Itupun jika perempuan yang sangat dicintainya itu bersedia. Mengingat ia sudah memiliki lima anak dari pernikahannya dengan Guntur Peksi.


"Mengapa diam. Aku bisa merekomendasikan dirimu pada Uwa Linuwih dari Klan Purba Ungu. Saat ini beliau bertapa di Gunung Panguripan, tempat TACENDA mengundurkan diri dari hingar bingar dunia. Beliau bisa turun gunung asal ilmu itu cocok untukmu karena jika tidak dan kau memaksa, maka bisa lumpuh bahkan meninggal dunia". Tutur uyut Pelangi.


Jayendra menggeleng pelan dan berkata,

__ADS_1


"Bening dan anak anaknya adalah prioritas Jayendra saat ini uyut. Jayendra sudah bahagia bisa menikahinya. Jayendra tidak menginginkan hal lainnya".


Uyut Satria tersenyum penuh makna. Satu kandidat sudah didapat. Ah senangnya.


__ADS_2