TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
BERTEMU ELANG RAJA


__ADS_3

Ang bergegas ke tempat calon mempelai pengantin perempuan yang tak lain bundanya sendiri setelah mengantar Safira Asmara kembali ke Dhayoh Utomo, tempat para tamu menginap.


Langkahnya terhenti saat melihat laki laki yang sangat dikenalnya masuk dari pintu gerbang utama. Segera ia menghampiri.


"Om Elang, baru datang?" Tanyanya.


"Oh...kau Ang. Maafkan om tidak bisa menepati janji, om terlambat datang". Ujarnya penuh sesal.


Ang langsung memeluk adik bungsu mendiang ayah dengan hangat. Pikirannya yang banyak menyimpan persoalan ingin ditumpahkan padanya.


"Om punya waktu? Ang mau cerita".


Elang Raja mengangguk, lalu memberi isyarat Ang untuk mengikutinya. Tibalah ia di Ruang Asri Putih, tempat yang nyaman untuk melakukan pertemuan penting.


"Duduklah". Ucap Elang


Ang duduk dikursi dengan aroma harum gaharu, sangat menenangkan batinnya yang saat ini seperti berpacu dengan waktu.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Elang


Ang meghelai nafas berat, lalu meluncurlah kalimat demi kalimat, tidak ada yang dirahasiakan. Elang mendengarkan dengan seksama. Raut wajahnya serius bahkan kadang tegang dengan kecemasan tingkat tinggi.


"Aku tidak bisa datang lebih awal, salah satunya karena yang barusan kau ceritakan itu Ang. Sejak peristiwa tragis yang menimpa ayahmu karena menyelamatkan aku dari cengkraman Jalmo Peteng, aku jauh lebih sensitif dalam mengenali pergerakan mereka. Pamanmu Yudistira adalah salah satu pengikutnya. Ia saat ini bergerak senyap mengumpulkan pengikut dan menggalang sekutu dengan klan klan minor seperti Atmo Panji, anak Ketua Klan Geni Urip.


Ang menggeleng tak percaya, omnya mengetahui sepak terjang paman Yudistira. Matanya hampir melompat keluar saat tahu sang paman adalah pengikut Jalmo Peteng. Badannya merinding, terpampang adegan pertumpahan darah jika pamannya tidak melakukan Pertobatan Suci. Terbayang pula bagaimana nasib budhe Sekar Kinasih, kakak perempuan mendiang ayah beserta putra putri mereka. Ada konsekwensi besar dan juga berat jika terbukti sang paman terlibat dengan Jalmo Peteng, Sementara penggalangan sekutu, Ang belum sepenuhnya paham, lalu tanyanya pada Elang,


"Apa maksud paman Yudistira mencari sekutu?".


"Sepertinya ia berambisi menjadi Ketua Klan Samudra Lor".

__ADS_1


Ang melotot, lalu menggeleng karena hal itu sangat tidak mungkin. Ketua Klan Saat ini Ki Teguh Piwulang masih sehat, segar bugar, selain itu ada Tanu Prasetya, anak tertua yang siap menggantikannya apabila ia mangkat atau lengser karena ingin jadi pertapa.


"Kau pikir, aku bicara omong kosong, Ang?" Sembur Elang.


Seketika airmuka menjadi keruh. Tentu ia tak terima jika keponakan yang duduk berhadapan dengannya, memandang dengan sorot seolah olah yang baru saja dikatakan tidaklah benar.


"Maaf ,om. Ang tidak bermaksud seperti itu, hanya saja fakta yang terjadi, mustahil. Ketua Klan Samudra Lor masih hidup". Ang menjelaskan alasannya agar Elang tidak salah sangka terhadapnya.


Elang menatap tajam. Aura yang ditampilkan membuat Ang sesak. Berkali kali ia rakus menghirup udara.


"Maafkan Ang, om. Tapi yang dikatakan om Elang butuh penjelasan". Ucapnya dengan suara hampir habis.


Tanpa sadar, Energi Elang menggelap dan menyerap cepat tanpa Ang bisa cegah. Ia tentu tidak akan menyangka jika hal seperti ini terjadi.


"Hentikan,om. Ang bisa kehabisan nafas".


Elang terkejut, ditata kembali emosinya. Ia terengah dan segera meraih tangan Ang. Disalurkannya Energi Pemulihan, dan Berhasil. Ang dapat bernafas kembali dengan teratur.


Ang terpaku. Ia sama sekali tak bermaksud melukai perasaan om Elang. Ia hanya berfikir sesuai fakta yang ada. Bagaimana mungkin paman Yudistira menjadi ketua, kecuali,


Deg jantung Ang seperti berhenti. Wajah Ang memucat. Dengan bibir bergetar ia bertanya,


"Apa paman Yudistira akan melakukan hal keji, om".


Elang memandang putra almarhum kakak ketiga lekat lekat. Ia menyesali reaksinya yang begitu frontal. Ang masih sangat muda, polos dan mungkin sedikit naif. Ia memandang sekeliling dengan keluguan pikiran dan hati.


"Kau sudah menyadari hmmm". Ucap Elang. Dilihatnya wajah Ang menegang dengan tubuh terguncang. Ang terisak


"Jauhkan pikiran mengerikan itu, Ang. Buyut Pandhu dan buyut Satria pasti sudah memikirkan jalan terbaik. Nikmatilah pernikahan bundamu yang sebentar lagi digelar, selain itu, persiapkan pernikahanmu sendiri. Jangan terlalu membebani diri". Tutur Elang bijak. Ia mengelus sayang rambut keponakannya.

__ADS_1


Elang menyeka airmata dengan punggung tangan, ditata hati dan pikiran. Ditariknya nafas pelan pelan. Sungguh, pengkhianatan paman Yudistira membuat frustasi. Ada apa dikepala pamannya itu. Kenapa begitu tamak dan buta hati. Bukankah selama ini Klan Purba Putih menyambut dengan suka cita kehadirannya, bahkan Ki Teguh Piwulang sebagai ketua Klan Samudra Lor berkali kali mengucap syukur karena pernikahan itu, mempererat persaudaraan dua klan.


"Ang paham om, hanya saja Ang tak habis pikir, apa yang membuat Paman Yudistira berubah. Dulu, dia begitu baik. Sangat baik malah".


"Tamak dan serakah itu inti dari kehancuran,Ang. Bahkan ia tak memandang almarhum kak Guntur. Berani sekali ia mentarget Delima. Jika uyut Susmita tidak mencegahku, ia tak mungkin bisa selamat". Ujarnya geram.


" Oo-oomm tahu itu juga". Ang tergagap. Ia tak mempercayai pendengarannya. Dari mana om Elang tahu. Bukankah satu satunya yang tahu hanya bunda saja.


"Hasrat kotornya sangat kentara,Ang. Om melihatnya sendiri. Adikmu Delima masih polos, sehingga tidak menyadari predator menjijikan seperti itu berkeliaran disekitarnya, untung buyut Susmita memberi Pelindung Bulu Bintang Perak yang membuat siapapun akan membeku saat otak kotor beraksi". Tutur Elang dengan aura menyeramkan.


Ang memejamkan mata pedih. Apa jadinya jika pamannya lepas kendali dan Delima tidak punya Pelindung Bulu Bintang Perak. Coreng moreng nama baik dua klan. Bagaimana perasaan Delima, bunda dan adik adik, juga nenek,kakek, uyut beserta keluarga besar klan. Apa kabar dengan perasaan budhe Sekar Kinasih dan putra putrinya. Mereka punya aliran darah yang sama dengannya.


Ang tersedu. Ia tidak pernah sehancur ini. Ditatapnya Elang dengan sorot mata redup, lalu tanyanya pada Elang,


"Kira kira apa yang akan dilakukan paman Yudistira jika ia tahu Delima menikah, dan kita sudah mencium sepak terjangnya".


"Satu satunya jalan menyelamatkan nyawanya adalah dengan Pertobatan Suci dan pengucilan keluarganya atau jika ia tetap menempuh jalan sesat maka kematian adalah hal yang mutlak terjadi padanya. Para sesepuh akan menghapus semua ilmu ilmu leluhur yang dipunyai keluarganya. Dan yang paling menyesakkan, kita tidak akan bisa bertemu mereka lagi disini".


"Kenapa, om".


"Keluarganya akan dibuang ke dimensi terbatas tanpa ada harapan kembali kesini".


Tubuh Ang terguncang hebat. Bagaimana mungkin budhe Sekar Kinasih dan putra putrinya yang tidak bersalah tapi harus menanggung kesalahan ayah mereka.


"Itu tidak adil, om. Budhe dan sepupu Ang tidak tahu apa apa".


"Iya, om tahu, hanya saja saat Yudistira memutuskan menjadi pengikut, titik titik Jalmo Peteng otomatis menyusup ke dalam keluarganya, merasuki darah anak istrinya. Bukankah itu mengerikan,Ang? Jika tidak segera ditangani, kau tahu, mereka akan berubah tanpa sadar dan itu membahayakan Klan Purba Putih khususnya dan juga semua TACENDA.


"Apa tidak ada jalan lain,om?"

__ADS_1


Elang menggeleng lemah. Raut wajahnya kelihatan sayu, lalu ujarnya lirih,


"Kita harus siap siap Ang. Aku merasakan mereka semakin hari semakin kuat energinya".


__ADS_2