TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
PENGANTIN BARU


__ADS_3

Dikamar pengantin, Cakra menempel seperti lem pada Safira. Kemanapun gadis itu melangkah pasti diikuti membuat gadis cantik itu sampai protes.


"Duduk disini, aku mau ke toilet sebentar". Ucap Safira


"Aku tungguin ya sayangku cantik" . Ujar Cakra manja


"Tidak usah Cakra. Aku bisa sendiri,"


"Cakra? Kau memanggil suamimu dengan namanya saja. Cckk itu tidak baik. Ayo panggil mas Cakra sayang". Titahnya


"Iya iya nanti habis ke toilet". Kata Safira sedikit berlari. Ia sudah tak tahan ingin pipis


"Baru jadi pengantin baru, kau berani meninggalkan aku". Cakra merajuk


Jika Elang tahu kelakuannya pasti akan ditertawakan. Cakra yang sekarang sangat berbeda dengan Cakra yang dulu. Bau bau bucin sangat menyengat.


"Ah leganya. Tapi aku lupa bawa pembalut pengganti. Gimana ini. Mana lagi banyak banyaknya". Gumamnya.


"Cakra,tolong bantuin aku". Suara Safira begitu merdu ditelinganya. Segera ia bergegas menuju kamar mandi.


"Panggil mas Cakra sayang dulu baru aku bantu". Mode merajuk on fire.


"Iya iya mas Cakra sayang, tolong ke kamar ibu ya. Pembalut Safira ketinggalan disana".


"Baik sayangku cantik. Mas Cakra ke tempat ibu dulu".


Cakra segera bergegas ke kamar ibu mertuanya. Meski sudah larut malam demi istri tercinta apapun akan dilakukan.


Diketuknya pelan tiga kali tak ada sahutan. Diketuk lagi dua kali baru pintu terbuka. Ekspresi aneh terlihat dari dua wajah mertuanya.


"Jangan bilang kalau kau tak tahu caranya". Tuduh Tunggul tanpa bertanya keperluan Cakra datang kesitu.


"Sungguh menantu sayang,kau tak tahu caranya. Wah gawat masak soal begituan kamu datangnya malah kesini. Kenapa tidak ke orang tuamu saja supaya tidak canggung".


"Iya kau benar adindaku sayang. Pergilah ke orang tuamu Cakra. Mereka bisa menerangkan lebih baik. Kami tak punya cara buat hal seperti itu.


"Tapi kata Safira...".


"Sudah kau dengerin apa kata ayah mertua. Safira pasti tidak punya ide selain merujuk kami".


"Baik ayah ibu. Selamat malam".


Cakra pun berlalu dan segera bergegas menemui orang tuanya.


Diketuknya berkali kali hingga Elang, sang ayah membukakan pintu.


"Kau kenapa hampir dini hari kemari. Apa sudah berhasil?".


"Ayah dan ibu mertua yang menyuruh kemari ayah. Katanya ayah yang bisa dan punya".


"Wah benar benar Tunggul. Anakku kan anaknya juga. Apa susahnya menerangkan sedikit, dia kan punya kemampuan menjelaskan" Dumalnya dalam hati.


"Ayo ke tempat ayah mertuamu. Kau juga putranya sekarang".Raut wajah Elang sedikit memerah menahan emosi.


Cakra pun menurut. Mereka berdua bergegas pergi . Sementara Arum yang mendengar menutup mulutnya.


"Masak hal seperti itu saja Cakra tidak tahu. Waduh gawat, apa kata orang orang nanti". Katanya cemas


"Aku harus menyusul, apalagi tadi ayahnya Cakra sedikit emosi". Arumpun bergegas menyusul suami dan putra sulungnya.


Dikamar Tunggul, pasangan suami istri itu terdiam. Mereka sibuk dengan pikirannya sendiri. Tania menghembuskan nafas pelan. Ia terlihat prihatin.


"Kanda, kalau seperti ini, kapan kita akan dapat cucu?".


Tunggul menghelai nafas berat.Lalu katanya


"Aku juga heran, masa begitu saja harus diajari".


"Kenyataannya seperti itu. Kasihan Safira kita ya kanda".


"Ekspektasiku terlalu tinggi. Kita lihat sendiri bagaimana tingkah keduanya. Aku takut mereka kebablasan. Tidak tahunya...". Tunggul menggantungkan kalimatnya karena bel berbunyi


Tunggul berjalan kearah pintu. Ia sangat terkejut mendapati besan bersama menantunya. Dilihatnya wajah Elang yang memerah menahan amarah.


"Kau tidak menganggap putraku sebagai putramu, Tunggul. Kenapa kau mengusirnya saat ia datang padamu". Ucap Elang geram.


"Bukan seperti itu Elang, Ayo duduk dulu. Semua bisa dibicarakan baik baik". Ujar Tunggul


Mereka duduk di ruang tamu yang asri dengan aneka bunga dan tanaman herbal.


"Aku bingung harus menjelaskan dari mana. Aku pikir kalau menyuruh datang padamu, kau bisa membantu Cakra. Tadi aku dan Tania juga kepikiran. Aku masih bingung cara memberi tahunya". Kata Tunggul lugas.


Emosi Elang sedikit mereda setelah mendengar penjelasan besannya itu.

__ADS_1


"Cakra, apa kau sungguh tidak tahu cara melakukannya?". Tanya Elang


"Melakukan apa ayah?".


Elang dan Tunggul saling tatap lalu terdengar helain nafas berat dari keduanya.


"Malam pertama". Seru keduanya berbarengan.


Cakra tersenyum nakal. Dipandangi kedua orang tuanya itu.


"Kalau malam pertama, percaya sama Cakra, ayah dan ayah mertua. Pasti goal".


Elang dan Tunggul terbengong. Mereka jadi bingung.


"Lalu buat apa kemari kalau kau begitu yakin goal". Tanya Tunggul penasaran.


"Oh itu ayah mertua, sayangnya Cakra yang cantik minta diambilkan pembalut. Katanya ada ditempat ayah mertua". Ujarnya mantab.


"Pembalut?". Kedua orang tua itu membeo


"Lalu kenapa kau menyuruh putraku datang ketempatku, Tunggul?". Tanya Elang mendelik


Tunggul mengelus tengkuknya. Ia salah menafsirkan kedatangan mantunya.


"Aku pikir ia datang tengah malam karena belum tahu soal itu, Elang. Makanya kusuruh ketempatmu".


Wajah elang masam. Ia dari tadi begitu khawatir sang putra tidak dapat melakukan kewajibannya.


"Sudah. Minta pada ibu mertuamu pembalut untuk istrimu". Titah Elang.


Cakra segera bangkit dari tempat duduk. Ia bermaksud berjalan menuju tempat peristirahatan ibu mertua. Langkahnya terhenti saat suara ayah mertua memanggil namanya.


"Apa kau tahu apa itu pembalut".


Cakra menggeleng. Ibunya Arum pernah membeli itu dan menyembunyikan rapat rapat saat Cakra berumur tujuh tahun. Sang putra menemukan dan menjadikan mainan tempel tanpa tahu apa itu.


Kembali kedua laki laki seumuran itu saling tatap. Lalu senyum mengembang tercetak dikedua bibir mereka.


"Istrimu sedang datang bulan, Cakra". Ujar Tunggul.


"Kau tidak akan bisa bermalam pertama". Timpal Elang.


"Memang apa hubungannya bulan dalam hal ini?".


"Tapi bulan tidak ada disini ayah mertua. Ia juga belum menikah. Mana tahu dia tentang malam pertama".


Elang menepuk jidat.Omongan Tunggul dan putranya beda objek


"Ini bulan Cakra, bukan Bulan kakak sepupumu". Ucap Elang


"Cakra tambah bingung".


"Jadi saat datang bulan itu kau tidak boleh menyentuh istrimu. Karena sedang berdarah darah". Ujar Elang.


"Apa? Berdarah?".


Seperti orang kesurupan ia langsung melesat meninggalkan kedua laki laki yang justru terbengong dengan aksi putra mereka.


"Apa aku salah bicara?". Ucap Elang


"Kau mengatakan berdarah darah". Tutur Tunggul


Elang memegang kepalanya dengan kedua tangan.


"Kacau". Katanya.


"Biar Tania yang memberikan pembalut pada Safira". Ujar Tunggul.


Dari arah barat muncul dua perempuan yang membuat kedua laki laki itu menutup wajah mereka.


"Kanda, sudah kasih tau Cakra caranya. Bagaimana? dia sudah paham belum?".


"Cakra sudah kembali ke kamar, itu artinya dia sudah paham Tania" Kata Arum. Hatinya lega mengetahui putra sulungnya sudah paham tentang malam pertama.


"Syukurlah, aku jadi lega" Ucap Tania.


Tunggul mengkode Elang untuk bicara. Elang menghelai nafas, lalu katanya


"Tadi itu hanya salah penafsiran. Tunggul mengira Cakra kesini karena belum tahu apa itu malam pertama padahal ia kemari untuk mengambil pembalut"


"Tapi Cakra tidak mengambil pembalut". Kata Tania


"Itu juga karena Cakra salah tafsir. Dia tidak tahu gunanya pembalut, jadi waktu kuberitahu, ia justru panik dan langsung pergi tanpa pamit". Ujar Elang

__ADS_1


Arum jadi menyesal tidak memberi tahu putranya tapi waktu itu Cakra masih terlalu kecil


"Lalu kenapa ia panik?".Tanya Arum


"Itu karena Elang bilang kalau saat datang bulan berdarah darah". Ucap Tunggul.


Arum dan Tania menatap horor pada Elang. Yang ditatap mengedikkan bahu tanda ngeri


"Maaf, aku tidak menyangka Cakra akan bereaksi seperti itu. Waktu aku muda dulu juga biasa saja, tidak panik". Elang mencoba membela diri. Sayang hal itu malah menjadi bumerang buatnya


"Itu karena kau sangat cuek suamiku sayang. Kau bahkan tetap datar saat Cakra lahir dengan usus melingkari leher, membuat tanda biru yang membuatku ketakutan". Ucap Arum mendelik.


"Kau tega sekali. Cakra pasti kesakitan". Kata Tania sedih


"Aku bahkan menangis terus waktu uyut Susmita dan doker Yo memberi pertolongan pada putraku".


"Kau sadis juga". Ungkap Tunggul.


Elang menghelai nafas lalu ditepuknya pelan punggung istrinya. Penyesalan memang selalu datang terakhir. Ia menyadari itu saat putra keduanya, Lingga Buwana lahir dan hampir membuat nyawa istrinya melayang. Saat itu Cakra berumur dua tahun.


"Aku salah. Aku minta maaf. Seribu kalipun akan tetap kuucapkan. Aku belum bisa jadi yang terbaik buat keluargaku". Elang kembali menepuk pundak sang istri.


"Sudah sudah kok jadi sedih begini. Tania segera antar pembalut buat Safira. Kasihan kalau harus menunggu lama".


"Baik kanda".


"Aku pamit dulu. Maaf tadi aku terbawa emosi". Kata Elang.


"Tak apa, aku memakluminya". Tutur Tunggul


Tania akhirnya mengantar pembalut ke kamar putrinya. Terjadi kegaduhan karena teriakan sang putri. Setengah berlari ia menuju ke kamar pengantin itu.


"Cakra Safira, buka pintu". Safira menggedor pintu. Segera pintu terbuka, diihatnya kepanikan diwajah sang putri.


"Ada apa ini? Kenapa Safira berteriak".


"Mas Cakra sayang mau lihat bagian yang berdarah bu, Safira kan malu".


Tania melotot, dipandanginya sang menantu dengan kilatan tajam.


"Memang apa salahnya bu, Cakra sangat khawatir. Kata ayah berdarah darah. Safira sekarang menjadi tanggung jawab Cakra". Ucapnya polos.


Tania menggelengkan kepala. Masalah pembalut membuat kedua orang tua pihak mempelai pusing. Kalau sudah begini siapa coba yang mau disalahkan.


"Saat datang bulan memang berdarah darah di **** ********** Cakra. Itu normal, semua perempuan mengalaminya. Yang perlu dilakukan hanya memakai pembalut biar darah tidak berceceran". Kata Tania


Demi mendengar hal itu, Cakra menjadi ngeri


"Apakah sakit sayangku cantik?".


"Tidak Cakra, setiap bulan juga begini, makanya tidak perlu khawatir".


Cakra menjadi jatuh iba. Dibelainya mesra rambut sang istri.


"Kalau sakit bilang ke mas Cakra sayang ya cantikku"


Tania berdehem. Mantunya memang bucin pada putrinya. Hatinya bahagia, Safira bertemu cinta dalam hidupnya. Tak adalagi yang perlu dikhawatirkan. Semua berjalan sesuai harapannya.


Sementara Safira tersipu malu. Ia masih belum terbiasa mendapatkan perlakuan bucin dari suaminya.


"Malu dilihat ibu".


Tani tersenyum. Masalah pembalut sudah clear. Ia menguap. Jam menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit.


"Ibu kembali ya.Yang rukun". Ucapnya sambil mencium kening putrinya dan sang menantu.


Setelah Tania pergi. Sejoli yang sudah sah ini hening. Safira melirik ke arah Cakra.


"Kau ingin aku melakukan apa sayangku cantik".


"Panggil Safira saja, ndak usah pakai sayangku cantik. Kelihatan norak".


"Tidak mau. Kau istriku. Hakku mau memangilmu apa. Aku suka memanggil sayangku cantik. Kau tidak boleh menolak. Jangan pedulikan kata orang tapi pedulikan perasaan suamimu". Cakra menatap mesra istrinya


Safira mengaembungkan pipi. Baru juga jadi suami istri, masa sudah berdebat. Kan nggak lucu.


"Baiklah mas Cakra sayang".


"Kenapa nadamu datar begitu. Kau seperti terpaksa mengucapkannya.


Safira gemas. Dicubitnya pinggang sang suami. Terdengar aduhan dari mulut Cakra yang dibalas dengan gelitikan pada pinggang Safira.


Tania yang berjalan sangat pelan membeliakkan mata mendengar aduhan Cakra dan jeritan Safira.

__ADS_1


"Aku pasti berhalusinasi". Gumamnya


__ADS_2