
Tunggul tersadar dari pikiran dan hati yang membuat tubuhnya hampir limbung. Untung ada seorang laki laki muda tampan dengan lesung pipi dan iris mata hitam tajam, rambut panjang sebahu yang dibiarkan teruai indah, kulit putih bersih dan tinggi badan menjulang segera menahan tubuhnya
"Anda sedang tidak enak badan sepertinya. Mari saya antar ke tempat tabib Sentausa". Kata laki laki muda itu sopan.
"Terima kasih tapi saya baik baik saja". Ucap Tunggul.
"Perkenalkan saya Cakra Dewa". Laki laki muda itu mengulurkan tangannya.
"Saya Tunggul Amarta". Tunggul menyambut uluran tangan dengan hormat.
Tunggul tahu siapa laki laki muda disampingnya ini. Dillhat dari baju kebesaran klan yang dipakai sudah dapat dipastikan ia berasal dari Klan Purba Putih.
"Kalau boleh tahu apakah anda keluarga dari mempelai perempuan?". Tanya Tunggul
"Bukan tuan. Saya sepupu Ang". Jawabnya sopan
"Ang? maksudnya apakah tuan Angkasa Biru?"
"Iya benar tuan. Saya putra tertua Elang Raja".
Wajah Tunggul berubah. Kembali ia teringat tangisan Safira. Bahkan putrinya itu pingsan beberapa kali saat ia memberitahu kenyataan pilu itu. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, sehabis berdebat hebat dengan istrinya, ia juga harus kembali menelan pil pahit, putrinya shock luar biasa. Tatapan tak bersahabat tercipta dari netra Tunggul. Ia menjadi enggan bercakap cakap.
Cakra menyadari perubahan wajah Tunggul. Ia mendesah lirih. Urusan jodoh Ang memang pelik. Membuat semua orang pusing termasuk dirinya. Ia sengaja mendekati Tunggul untuk mencairkan ketengangan yang ada.
Penasaran membuat Cakra Dewa nekat menyambangi Dhayoh Utomo tempat Safira dan rombongan menginap.
Ia menyamar menjadi pelayan dapur dengan penyamaran sempurna berkat Nyi Sarimbit yang bertanggung jawab pada dapur para tamu undangan dan keluarga kedua klan. Setelah menjelaskan alasannya, Nyi Sarimbit bersedia membantunya.
Cakra Dewa bebas keluar masuk, ia bahkan bisa leluasa melihat Safira dari dekat. Perempuan muda yang membuat Ang terpesona kemudian berganti haluan hati dengan cepat. Ia ikut prihatin walau saat itu gadis cantik putri Tunggul Amarta belum mengetahui cepatnya hati Ang berpaling. Ia sempat merasa kesal dengan ulah Ang yang seenak hati mempermainkan perasaan. Entah kapan muncul getar getar aneh saat gadis berkulit kuning langsat itu melintas di depannya atau menyapa dirinya dengan ramah. Hatinya senang bukan kepalang setiap kali senyum gadis itu merekah.
__ADS_1
"Tuan Tunggul, saya ikut prihatin atas semua hal yang terjadi pada putri anda. Maafkan supupu saya Ang. Saya bisa memahami perasaan anda". Kata Cakra dengan sopan. Dilihatnya air muka Tunggul sedikit berubah.
"Terima kasih tuan Cakra atas perhatian anda terhadap putri saya". Ucap Tunggul. Ia meraba raba maksud pembicaraan Cakra. Dari sekian banyak nama di Klan Purba Putih, hanya dia yang menyatakan langsung keprihatinannya.
Tunggul menata perasaan setenang mungkin. Dilihatnya Duta dan istrinya duduk dibelakang keluarga utama Guntur Peksi. Aura kebahagian terpancar jelas di wajah mereka. Apalagi putri mereka yang terlihat sangat menawan.
Ang yang meminta mereka duduk dibelakang keluarga besarnya. Ia ingin semua tahu bahwa setelah ibundanya menikah, maka gilirannya yang akan menyusul.
Ang terlalu naif, tidak menyadari bahwa tindakannya menyulut percikapan api dimata Tunggul. Tangannya terkepal dengan geraman yang tertahan.
"Tuan, apa tuan baik baik saja?". Tanya Cakra hati hati. Dilihatnya wajah Tunggul memerah.
"Jangan pedulikan perasaan saya" . Kata Tunggul. Ia kemudian bediri, melangkah meninggalkan perhelatan yang sedang memasuki inti dari acara suci.
Cakra terpaksa meninggalkan pernikahan ibunda Ang, hal itu dilihat jelas oleh para uyut dan keluarga Ang, bahkan sang ayah, Elang Raja sampai melotot matanya demi melihat kelakuannya. Bagaimana mungkin putra tertua meninggalkan acara keluarga yang penting seperti ini, apalagi ia lihat sang putra membuntuti kepergian Tunggul.
Sang istri menggenggam lembut tangan Elang, menyalurkan energi untuk menenangkan hati laki laki yang kadang membuat pusing akibat sifatnya yang tempetamental.
"Anakmu itu suka seenaknya sendiri, Ar. Dia bukan anak anak lagi. Tak boleh gegabah seperti itu". Ujarnya
"Iya. Aku tahu. Nanti kita bahas di rumah ya, pah". Kata Ar, panggilan sayang Elang pada istrinya.
Wajah Elang masih terlihat menahan emosi. Berkali kali ia menghembuskan nafas. Ar sampai mengusap lembut dadanya.
"Yang sabar ya pah". Bisiknya
Elang menoleh, wajah sang istri juga tidak baik baik saja. Ah..ternyata yang harus menahan perasaan bukan hanya dirinya sendiri. Genggaman tangan semakin erat dirasakannya.
"Maaf Ar, aku kebablasan". Di ciumnya mesra tangan istrinya.
__ADS_1
Hanya Ar perempuan yang tahan dengan wataknya yang keras. Ia begitu sabar dan lembut menghadapinya.
Ar, tersenyum. Meski bukan laki laki romantis, tapi Elang bisa juga bersikap manis padanya.
Ritual Upacara berlangsung kidmat, Bening terlihat tersedu. Saat ini ia resmi menjadi nyonya Jayendra. Status janda sudah ditanggalkan. Delima dan Bulan juga terharu, sang bunda sudah memiliki pendamping dalam hidup.
Sementara Ang tersenyum bahagia, beda dengan Langit dan Shaka. Kedua adik Ang ini masih setengah hati menerima pernikahan bundanya. Ada perasaan takut dan khawatir yg menggumpal menjadi satu. Jayendra menangkap moment itu. Ia menyembunyikan kekecewaannya dilubuk hati. Hari ini hari baik, hari bahagia, sudah sewajarnya ia juga menampilkan wajah sumringah. Bening tak boleh tahu. Biarlah nanti perlahan lahan akan ia dekati kedua anaknya itu. Semua butuh proses dan ini baru satu hari berjalan.
Acara berlanjut dengan tegur sapa hangat mempelai dengan keluarga besar dan tamu undangan. Jayendra tidak melihat kehadiran keluarga Tunggul. Hatinya berdenyut sakit. Ia bisa memaklumi suasana hati keluarga itu hanya saja sulit menjelaskan pada Bening. Bunda Ang ini belum mengetahui perkembangan perjodohan anak sulungnya. Mungkin karena sibuk mempersiapkan pernikahan, mungkin juga informasi sengaja di tutup rapat untuknya dan anak anak yang lain.
Baru saja Jayendra membatin, bibir indah Bening sudah menanyakan hal itu.
"Apa mereka belum datang? Kata kak Jayendra, mereka ikut dalam rombongan?".
Jayendra memandang istri barunya itu. Digenggamnya tangan putih halus nan lembut, membuat Bening menjadi gugup.
"Mungkin mereka sudah kemari, terus kembali lagi ke Dhayoh Utomo karena ada sedikit urusan". Katanya hati hati.
Bening belum saatnya tahu, ia tidak ingin perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya memikirkan peliknya jalan Ang menemukan jodoh.
"Ayo kita sapa keluarga yang lain". Kata Jayendra sambil menggandeng tangan istrinya.
Hati Bening berdebar, meski bukan yang pertama, tapi menjadi pengantin tetaplah membuat hati dag dig dug apalagi tatapan keluarga besar dan para tamu, membuatnya menjadi gugup.
"Tenangkan hatimu. Kita hanya menyapa sebagai bentuk penghormatan karena sudah meluangkan waktu untuk menghadiri pernikahan kita". Kata Jayendra lembut
Bening tersenyum cantik sekali dimata Jayendra. Baru saja mereka melangkahkan kaki, terdengar suara parau menyapa sang pengantin,
"Selamat berbahagia Bening dan Jayendra. Hebat sekali, kau tersenyum bahagia, membiarkan anakmu bertingkah tak terhormat. Aku menuntut tanggung jawab atas perbuatannya".
__ADS_1