TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
CAMER IDAMAN


__ADS_3

Duta bersungguh sungguh dalam ucapan. Ia membantu Ang mempersiapkan diri jelang Pernikahan sang bunda. Pakaian Kebesaran Klan Purba Putih sudah melekat pas sekali ditubuhnya.


"Jangan gerak gerak terus.Mahkota Lanang Utomo bisa jatuh nanti. Ini belum pas di kepalamu". Duta berubah menjadi pribadi yang cerewet. Berkali kali ia mengingatkan Ang untuk diam.


Mahkota Lanang Utomo adalah Mahkota keluarga Guntur Peksi yang diberikan Uyut Pandhu saat kelahiran Angkasa Biru, putra pertama salah satu cucunya. Mahkota itu bisa dipakai untuk acara keluarga. Ini kali pertama Ang memakainya atas bujukan Duta. Ang sebentar lagi menikah. Tak baik membiarkan mahkota itu tak terpakai sejak kematian ayah Ang.


"Tuan, kenapa berat sekali mahkotanya. Waktu ayah pakai, sepertinya ringan ringan saja". Tanya Ang pada Duta.


"Itu karena ayahmu menggunakan Ilmu Abot Dadi Entheng yang membuat mahkota menjadi seringan kapas". Kata Duta


Ang mengangguk paham. Segera ia fokus untuk mengerahkan Ilmu Abot Dadi Entheng. Mahkota langsung membumbung tinggi ke udara, membuat Duta berteriak keras.


Secepat kilat ia menyambar Mahkota dengan Ilmu Meringankan Tubuh. Kini mahkota berada ditangannya. Dengan mata garang ia berkata,


"Camkan ini anak muda. Mahkota ini simbol kebesaran keluargamu yang harus kau jaga bahkan dengan nyawamu. Kau anak tertua, hanya kau yang berhak memakai bahkan Jayendra yang akan menjadi pengganti ayahmu tidak punya hak atas mahkota ini".


Ang menelan ludah. Calon mertuanya sungguh mampu membuat nyali menciut. Ia jadi membayangkan hari hari sebagai menantu. Tubuhnya tiba tiba merinding.


"Kalau orang tua bicara itu didengarkan, jangan melamun. Aku tidak sejahat yang kau pikirkan". Suara Duta mengagetkan Ang. Ia hampir melonjak dari tempat duduk. Hal itu membuat Duta menceramahi nya panjang kali lebar.


"Maaf tuan. Saya tidak sengaja". Ujarnya menangkupkan dua tangan dengan hormat.


"Dari tadi kau memanggilku tuan. Apa selamanya kau akan memanggilku seperti itu?". Duta mendelik seram.


Ang kelimpungan. Keringat dingin keluar. Jantungnya berdebar kencang. Membuat Duta mendengus.

__ADS_1


"Baru begini, sudah keder". Batinnya


"Maaf tuan". Ujar Ang gugup


"Apa kau ingin kupukul? Panggil aku ayah Duta". Tatapnya galak


"Baik ayah Duta". Ang menahan nafas.


"Kau ini kan sebentar lagi jadi menantuku. Jangan terlalu formal seperti ini. Aku jadi merasa bukan ayah menantu yang baik". Keluh Duta.


Ang ternganga. Dikucek matanya beberapa kali. Cepat sekali perubahan wajah calon mertuanya.


"Kau meragukanku, calon menantu? Aku sungguh sungguh". Tuturnya dengan mimik sendu.


"Tentu tidak ayah Duta. Maafkan Ang".


Ang mencoba kembali, kali ini ia pelan pelan menggunakan ilmu itu dan whuuus plek, mahkota anteng dikepala.


"Wah ayah Duta benar. Sekarang terasa sangat ringan". Kata Ang senang.


"Ayo sekarang pakai Sandal Putera Utama".Perintah Duta.


Ang segera memakai sandal ajaib itu yang dengan mudah menyesuaikan ukuran kakinya.


"Wah bagus sekali ayah Duta. Pas banget di kaki Ang".

__ADS_1


Duta menatap calon menantunya bahagia. Ang terlihat tampan, gagah dan juga bercahaya. Mahkota Lanang Utomo memang tiada duanya. Uyut Pandhu mendapatkannya dengan cara bertapa di Gunung Nyuwito Bekti. Mahkota melesat keluar dari dalam gunung memancarkan cahaya keperakan, lalu mendekati uyut Pandhu.


"Mahkota Lanang Utomo, Ingsun njaluk pelilah siro, dadiyo apik tumrap turun Ingsun". Ucap uyut Pandhu menangkup kedua tangan tanda hormat.


Mahkota Lanang Utomo tidak menolak permintaan uyut Pandhu. Pelan pelan ia berada di pangkuannya.


"Mahkota ini sebagai penanda jika cucuku Guntur sudah mengadeg menjadi orang tua, sebagai penanda ia kelak akan berdiri sebagai pelindung Klan Purba Putih dan akan diturunkan pada anak tertua laki laki dan keturunannya. Perempuan dilarang memakai, karena Mahkota Lanang Utomo akan kehilangan cahaya dan pamornya karena darah menstruasi atau darah sehabis melahirkan. Sedangkan Mahkota Ibu Suri dapat di miliki oleh keturunan perempuan Klan Purba Putih. Ia memilih sendiri siapa yang menjadi ratunya. Aku harap keturunanku bisa mendapatkannya". Monolog uyut Pandhu.


Bergegas ia turun dari pertapaannya, lalu melesat meninggalkan Gunung Nyuwito Bekti. Dari kejahuan ketua Klan Gunung Telu, Nyi Sura mendesis. Ia tak menyangka ketua Klan Purba Putih begitu mudah mendapat Mahkota Lanang Utomo sementara dirinya berkali kali mencoba gagal. Klan yang dipimpinnya tidak bisa menggunakan ilmu ilmu leluhur karena Mantra Kesiku belum dilepas. Ia sungguh geram, Dewan Agung memutuskan membekukan sementara kekuatan mereka karena perangai buruk keturunannya.


"Aku harus membujuk Pandu untuk melepaskan Mantra Kesiku dari klanku, atau kami akan menderita karena kekuatan kami sekarang tak ubahnya seperti manusia di dimensi terbatas" Geramnya.


Tertatih ia berjalan ditemani pelayan setia Mbok Tiasih menuju kereta yang ditarik empat ekor kuda jantan gagah, ras khas TACENDA. Tanpa ilmu ilmu dari para leluhur, perjalanan dari tempat klan ke Gunung Nyuwito Bekti sangatlah jauh. Disepanjang perjalanan kusir kuda Roso Darmo menghelai nafas mendengar gerutuan Nyai Sura. Ia yang terbiasa menggunakan ilmu ilmu leluhur tentu merasakan akibat dari sanksi Dewan Agung. Keturunannya sangat sulit ditangani. Ia hampir menyerah jika uyut Satria tidak mengingatkan bahayanya jika ia menyerah. Keturunannya akan terpecah belah. Apalagi saat ini dilingkup dalam klan terjadi tarik ulur dan perebutan pengaruh antar keturunan yang membuat ia pusing kepala, bahkan putra ke duanya bermusuhan dengan cucu dari putri tertuanya.


"Apa aku begitu buruk menjadi ketua Klan Gunung Telu mbok? Aku sangat malu pada para ketua klan, apalagi saat Dewan Agung memberi sanksi, menampar harga diriku sebagai Ketua Klan Gunung Telu". Mimik wajahnya terlihat sedih.


Terbayang bagaimana wajahnya yang merah padam saat para ketua klan hampir sembilan puluh persen menyetujui pembekuan ilmu ilmu leluhur untuk klannya. Sementara keturunannya yang berada diliuar begitu resah.


"Kau harus berbesar hati Nyi Sura. Ini cobaan dan pembelajaran buat klan, semua keturunanmu dan kita semua". Ungkap buyut Pandu bijak.


"Yang dikatakan uyut Pandhu benar, nyai Sura. Cobalah untuk menerima. Jika keturunanmu mematuhi semua aturan, maka Dewan Agung akan membuka kesempatan untuk klanmu, menggunakan kembali ilmu ilmu leluhur". Kata Nyai Kemuning Wasesa, ketua Klan Purba Biru.


"Aku harap kau siap. Aku akan membekukan semua ilmu ilmu leluhur yang di miliki Klan Gunung Telu. Dengan ijin dari Dewan Agung, Aku Pandhu, Ketua Klan Purba Putih dengan ini mencabut semua ilmu ilmu leluhur dari Klan Gunung Telu secara resmi". Uyut Pandhu


memutar kedua tangan lalu mendongak ke atas dengan merapal Mantra Kabeh Sirno

__ADS_1


"Ingsun lebur dadi siji wangsul estu estu purbowaseso" Uyut Pandhu memejamkan mata. Hembusan angin disertai cahaya keluar, terdengar jerit nyai Sura beserta keturunannya.


__ADS_2