TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
SEVENTH STEP : A BUSY DAY


__ADS_3

Jayendra tersenyum hangat. Ia bahagia bisa melihat dua pernikahan orang orang yang di sayanginya.


"Baiklah kalau begitu, paman dan bibi pamit dulu". Ucapnya


"Iya paman. Cepat kembali. Safira tunggu" Ujarnya manja.


"Aku kembali dulu.Tunggul Tania Terima kasih sudah mau memaafkan putraku". Kata Jayendra dengan hormat disusul Bening dan Ang.


"Iya, kami tunggu". Tunggul mengantar mereka sampai gerbang.


Dalam perjalanan kembali ke kediaman mereka di Dhayoh Utomo Jaler, ketiganya sama sama diam sampai Jayendra memecahkan kesunyian itu dengan memberi pertanyaan pada Ang.


"Apa kau baik baik saja, Ang?".


"Iya papa, Ang baik".


"Tolong jangan kau masukkan ke hati perkataan Tania. Ia seorang ibu yang prihatin dengan nasib putrinya. Nanti juga akan membaik tapi butuh waktu. Sabar ya".


"Tentu papa. Ang tahu ini salahnya Ang. Tante Tania punya hak untuk marah".


"Kau sudah dewasa Ang. Papa suka itu". Ucap Jayendra


"Dan kau juga Bening. Jangan diambil hati perkataan Tania. Dua klan sebentar lagi akan menjadi keluarga lagi setelah pernikahan kita". Tuturnya sambil meremas pelan tangan Bening yang berada di genggamannya.


"Iya kak, Bening paham. Tania wajar bersikap seperti itu Aku juga seorang ibu, jadi aku bisa memahami hatinya yang sedih dan terluka".


Jayendra mengangguk, ia semakin erat menggenggam tangan istrinya.


Di kediaman Elang dan Arum disebelah Timur Dhayoh Utomo, pasangan suami istri itu juga tak kalah sibuk mengatur rencana putra tertua mereka, Cakra Dewa.


"Apa Mahkota Elang Emas sudah kau siapkan sayang?". Tanya Arum.


"Tentu saja sudah. Aku tidak pernah lupa membawa kemanapun kita pergi. Aku seperti punya firasat mahkota itu akan dipakai oleh putra sulung kita". Kata Elang


Mahkota Elang Emas adalah mahkota yang diberikan Panglima Elang, satu satunya klan yang punya sayap besar menakjubkan.


Panglima Elang memberikan mahkota itu setelah Klan Elang berhasil lolos dari cengkraman Jalmo Peteng. Pemberian itu sebagai ungkapan hutang nyawa Klan Elang karena titik titik Jalmo Peteng sudah mengepung klan mereka.


Mahkota itu awalnya akan diberikan pada Guntur, sayangnya ia gugur di peperangan dahsyat itu sehingga Mahkota Elang Emas jatuh ke tangan Elang Raja. Aura dari Mahkota Elang Emas dapat menetralisir hawa panas dan juga negatif. Sebelum diberikan pada Elang Raja, Mahkota itu seperti tak bertuan karena di kalangan Klan Elang tidak ada yang sanggup memakainya. Dengan berada di tangan yang benar, Klan Elang juga ikut merasakan aura yang terpancar dari mahkota tersebut.


"Aku harap Cakra bisa kuat dan lebih baik dariku. Ia anak sulung dengan tanggung jawab besar dipundak, seperti Ang".

__ADS_1


"Ngomong ngomong soal Ang, kita belum mengunjunginya, sayang". Ungkap Arum


"Kau benar. Ayo kita ke Dhayoh Utomo Jaler sebentar". Elang menggandeng mesra tangan sang istri".


Mereka berdua bergegas ke kediaman Ang dan keluarga. Saat akan sampai ia berpapasan.dengan Jayendra dan Bening.


"Mau kemana kalian?". Tanya Elang


"Aku mau ke kediaman Tunggul.Aku berjanji pada Safira untuk mendampinginya saat ritual pernikahan besuk dan pendampingan untuk calon mempelai perempuan dimulai sekarang". Ujar Jayendra.


"Lalu Ang bagaimana?". Tanya Arum


"Sudah aku cek, semua sudah beres. Aku menyuruh Sapta dan Sono untuk menjadi penanggung jawab".


"Syukurkah kalau begitu. Aku kemari ingin bertemu Ang" Kata Elang.


"Mari kuantar". Jayendra dan Bening mengantar Elang dan Arum menemui Ang


"Nah, kau bisa bicara dengan Ang. Maaf aku tinggal dulu, takutnya Safira terlalu lama menunggu kami". Ucap Jayendra.


"Iya. Baiklah. Aku paham situasimu". Elang menepuk pelan punggung Jayendra.


Setelah Jayendra dan Bening berlalu. Elang dan Arum segera beranjak dari tempat duduk saat mendengar suara putra keduanya Lingga Anggoro sedang bersenda gurau dengan Delima dan Bulan.


"Hentikan sayang, kakak kakakmu sedang mempersiapkan pernikahan kak Ang. Kau bantu mereka ya, jangan malah diganggu". Ucap Arum lembut.


"Bibi om". Delima dan Bulan mencium kedua tangan kanan mereka dengan takzim. Kedua kakak beradik itu melirik Lingga. Senyum lebar tanda kemenangan berpihak pada kedua gadis itu.


Sementara Lingga tersenyum kecut. Ulah tengilnya diketahui kedua orang tua.


"Iya, bu. Ini Lingga juga dalam rangka membantu". Ucapnya lirih.


"Ih...bantu apaan, dari tadi mengganggu terus, becanda terus bibi Arum". Adu Bulan.


Lingga melotot. Ia memberi kode pada Delima untuk membantunya tapi nihil, Delima pura pura tidak melihat.


"Sayang, ayo bantu. Kelak saat kau menikah, kakak kakakmu ini juga yang akan membantu". Ucap Arum.


Sementara Elang hanya berdehem pada putra bungsunya yang langsung ditanggapi dengan gerakan cepat membantu merangkai bunga bunga cantik untuk mempelai. Delima dan Bulan terkikik. Tangan terampil Lingga sungguh ajaib, hanya dalam waktu singkat bunga bunga segar tahan lama semacam bunga melati emas, mawar perak,anggrek bulan purnama terangkai indah sekali.


"Gitu dong adikku tampan yang baik". Ucap Delima mencubit pipi Delima

__ADS_1


"Tuh kan ayah ibu. Mereka suka menganiaya Lingga. Pipi Lingga pasti merah merah". Ucapnya sambil mengelus elus pipi putihnya.


"Kalian ini sudah besar sebentar lagi menikah tapi kelakuan masih saja seperti ini". Arum menggeleng gemas.


"Mana kakakmu Ang, Ayah ingin bicara dengannya". Tanya Elang pada Lingga.


"Tadi kak Ang sedang fitting baju. Sebentar Lingga panggilkan". Ujar Lingga. Baru sampai pintu, Ang sudah muncul dengan baju pengantin. Ia asyik memperhatikan sulaman indah pada bajunya hingga tak menyadari kehadiran om dan bibinya.


"Kau gagah dan tampan dengan baju sulam emas itu Ang sayang". Arum memperhatikan detail yang tersemat pada baju pengantin bewarna putih gading itu.


"Eh ada om bibi". Dengan cepat Ang mengulurkan tangannya lalu dengan hormat mencium tangan keduanya.


"Sudah lama om bibi?".


"Tidak sayang, baru juga sampai. Ayo ke ruang tamu. Bibi dan om ingin bicara padamu". Segera Elang, Arum dan Ang bergegas menuju ruang tamu yang cukup luas. Aroma kayu manis dan cengkeh menyeruak harum sekali.


"Duduk Ang".


"Iya bibi".


Elang menatap putra sulung almarhum kakaknya. Dari ketiga kakak hanya Guntur yang paling dekat dengannya. Ia begitu memanjakan adik bungsunya itu. Dan sekarang Anak tertua kakak kesayangannya akan segera mengakhiri masa lajang.


"Putramu sebentar lagi menikah kak Guntur". Batinnya bahagia


"Om bibi ingin bicara apa pada Ang". Ucap Ang memecah kenangan Elang pada sang kakak


"Apa kau sudah ke makam ayahmu, Ang?".


"Maaf om Elang, Ang belum menyempatkan diri untuk kesana. Terima kasih sudah mengingatkan Ang".


"Sore nanti aku antar Ang. Ajak adik adikmu. Kalian akan menikah bukan? Ziarah ke makam ayah sebelum pernikahan tak ada salahnya bukan?".


"Tentu om. Tapi papa dan bunda mendampingi Safira, jadi tidak bisa ikut". Kata Ang hati hati.


"Tidak apa Ang. Aku tahu kita semua sangat sibuk. Hari hari yang begitu ketat dengan banyak pekerjaan menjelang pernikahan. Yang terpenting kita sempatkan waktu ya".


"Iya om".


"Sebagai putra sulung, kau punya tanggung jawab besar dan berat,Ang. Bijaksanalah. Jika kau tak bisa memutuskan suatu hal ada kami keluargamu yang bisa kau mintai pertimbangan".


"Baik om Elang. Akan Ang ingat selalu".

__ADS_1


.


__ADS_2