
Delima tertegun, baper juga ya calon suaminya. Dicoba konsentrasi untuk melepaskan rasa grogi, deg degkan dan sejenis itu. Dan akhirnya berhasil
"Maaf . Jangan sakit hati. Aku tadi susah sekali bicara. Rasanya seperti tercekik". Ujar Delima sambil menunduk
Jaler membeliak. Mulutnya terbuka. Sesaat pikirannya seperti menghilang
"Kak Jaler, sekali lagi maaf . Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Jadi jangan batalkan perjodohan ini".
Ah...hati Jaler seperti disiram es, matanya yang redup kembali bersinar terang. Senyum mengembang seperti kembang kembang yang bertaburan diantara ilalang.
"Jadi, kau bersedia jadi istriku, Delima Ayu?".
Pipi Delima merona merah. Sangat cantik. Jaler sekuat tenaga dan hati menahan keinginan untuk mengelus mulus, putih dan bersinar. Jantungnya tanpa aba aba kembali seperti bedug, bertalu talu tak tahu malu. Pipi delima semakin merah kala mendengarnya.
Jaler tersenyum lebar. Ah tak lama lagi, Delima menjadi miliknya utuh. Membayangkan pernikahan, malam pertama, eh...dipukulnya pelan kepala berambut coklat terang sambil menggelengkan kepala.
"Apa apaan aku ini. Kenapa aku jadi seperti ayah ". Batinnya
"Kak Jaler kenapa? Ada yang sakit?". Kata Delima cemas.
"Eh..tiii- daak" Ujarnya terbata
"Tadi pukul kepala kenapa?Jangan dipukul kak, sakit nanti" Tuturnya perhatian.
Jaler meraba jantungnya lama, begitu menikmati sensasi kala bibir Delima mengucap kata kakak padanya. Terdengar manis, mesra tapi...tunggu, bukankah kakak itu panggilan untuk saudara yang lebih tua, sementara dia dan Delima bukan kakak adik. Oh...tidak. Jaler menggeleng gelengkan kepala.
"Kenapa lagi kak? Ada yang salah?". Tanya Delima.
"Bisakah kau mengganti panggilan kak".
"Tidak suka ya dipanggil kak". Kata Delima pelan. Ia menundukkan kepala. Ada rasa sedikit kecewa, padahal ia memanggil kak karena Jaler, calon suaminya
"Bukan tak suka, tapu aku kan calon suami yang sebentar lagi jadi suamimu. Apa kau tak punya panggilan selain kak".
Delima memutar otak. Hening sesaat. Ia mengetuk ngetuk jari telunjuk ke pelipis kanannya.
__ADS_1
"Aku tahu aku tahu". Serunya girang
"Apa?". Tanya Jaler penasaran.
"Kalau bunda memanggil ayah, kangmas. Bagaimana kalau kak Jaler dipanggil Kakanda atau kanda".
Jaler tersedak, membuat mukanya memerah. Delima sampai turun tangan dengan menepuk nepuk punggungnya dengan melompat kebatu tinggi.
Jarak keduanya begitu dekat. Delima tidak menyadari hal itu karena terlalu fokus sementara Jaler tersedaknya, langsung berhenti total. Nafasnya naik turun. Ia tiba tiba membalikkan badan. Deg, keduanya sama sama terpaku. Delima hampir saja tidak bisa menguasai keseimbangan tubuh, jika Jaler tidak langsung merengkuh pinggangnya.
"Kanda Jaler, tolong lepasin". Ujarnya lirih
Hidung Jaler kembang kempis. Apa kata ayahnya kalau tahu ia dipanggil kanda, bisa bisa tiap hari melakukan perundungan padanya.
"Bagaimana kalau mas, sayang, darling atau honey saja ya". Pinta Jaler sambil melepaskan rengkuhannya pelan pelan.
"Ehhh, kak Jaler suka yang mana?". Delima balik bertanya.
Jaler terdiam sambil berfikir. Ia juga bingung. Seumur umur baru kali ini susah menentukan pilihan.
"Kalau honey, bolehkah?". Tanyanya. Ia pandangi wajah mungil calon istrinya penuh cinta
"Kenapa membuang muka?". Delima menangkap momen saat Jaler melakukan itu. Hatinya seperti teriris pisau. Ia pikir karena Jaler sudah bosan bicara dengannya
"Aku...". Jaler serba salah. Masak jujur sih sama calon istri, kan malu atau takutnya malah terbirit birit nanti.
" Iya, Delima paham. Delima undur diri. Maaf membuat bosan". Sudut matanya berair.
"Bukan begitu honey, kau salah paham. Aku membuang muka untuk menetralkan jantungku, masak kau tak dengar hmmm". Katanya sambil menatap Delima intens
Delima membola, itu jantung kenapa seperti orang lomba lari ya. Pipinya kembali merona, malu sudah berburuk sangka pada sang honey. So sweet sekali panggilannya
Jaler menghapus airmata disudut mata. Tak bosan bosan dipandangi wajah jelita nan menggemaskan.
"Tahan, tahan sebentar lagi baru boleh". Batinnya
__ADS_1
"Kita harus banyak berkomunikasi supaya tidak ada kesalahpahaman sekecil apapun". Kata Jaler
Delima mengangguk. Ia tahu, masih banyak hal yang harus dibicarakan dengan honey Jaler. Mereka baru saling kenal.
"Ngomong omong,setelah bundamu menikah, giliran kakak tertuamu, Ang yang akan menikah. Apa kau sudah tahu siapa calon istrinya?".
"Setahu Delima kak Ang belum punya kekasih, jadi pasti dijodohkan. Bisa jadi dari Klan Purba Putih atau dari Klan Purba Ungu yang dekat dengan kami". Delima jadi teringat, kakaknya belum punya calon, ia terlalu sibuk memikirkan bunda, dirinya dan adik adiknya.
"Kenapa jadi sedih hmm". Tanya Jaler lembut.
"Kasihan kak Ang.Sejak ayah meninggal ia menggantikan posisinya sebisa mungkin, bahkan diri sendiri tidak ia pikirkan. Bikin Delima sedih".
Semua klan tahu latar belakang kematian Guntur Peksi. Penghormatan tertinggi disematkan padanya. Nama harum Klan Purba Putih membahana karena pengorbanan cucu uyut Pandhu demi keluarga besar dan TACENDA.
"Setelah kita menikah, kau menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Aku akan berdiri dibelakang Ang. Kapanpun dibutuhkan,aku siap membantu". Ucapnya memberi semangat.
"Uyut memang juara, tidak salah memilihkan Delima jodoh" Gumamnya lirih.
"Tentu, uyut memang juara dan heboh. Aku sampai dibuat bengong dengan tingkahnya". Jaler lalu bercerita tentang tingkah laku kedua uyut perempuannya itu. Delima seperti tak percaya kedua uyutnya bertingkah lucu dan sedikit bar bar seperti itu, ia bahkan tertawa terbahak, memperlihatkan deretan gigi yang berjejer seperti mentimun.
Jaler begitu bahagia melihat gelak tawa Delima yang seperti air di gurun pasir.
"Apa kau bahagia Delima?". Tanyanya hati hati
"Bahagia sekali honey". Ujarnya sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Jaler tersenyum lebar selebar lebarnya. Panggilan honey sudah mulai terdengar meski Delima masih malu malu. Seiring berjalannya waktu, pasti tidak canggung lagi, ibu yang punya panggilan mesra untuk ayah membuat kakek Brayat Linuwih tertawa terbahak bahak. Tak henti henti meledek ayah sampai saat ini. Mereka begitu kocak jika bertemu. Ada saja topik pembicaraan yang membuat mereka terlihat seperti kucing dan anjing. Nenek sampai memarahi kakek karena membuat ayah mati kutu, sementara ibu hanya bisa manyun dan mencebik ingin menangis.
"Kalau boleh tahu kau ingin punya anak berapa?". Tanya jaler usil
"Lima". Jawab Delima polos
Senyum Jaler langsung merekah . Sebagai anak satu satunya, Jaler sering kesepian. Membayangkan punya lima anak pasti mengasyikkan, apalagi membuatnya. Ooops... reflek Jaler menutup mulutnya sambil memukul mukul pelan.
"Honey jangan suka pukul pukul, Delima nggak suka. Mulutnya nanti sakit". Katanya galak.
__ADS_1
Ah... Jaler senang bukan kepalang mendapat perhatian Delima, melihat raut kesal diwajah menambah jelita parasnya. Apalagi sekarang Delima mendelik sambil berkata
"Awas ya kalau pukul pukul lagi". Ancamnya sadis