TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
SECOND STEP: SWEET LIKE CANDY


__ADS_3

Mereka berlima segera melesat pulang ke kediaman uyut Pandhu. Dengan kecepatan penuh, waktu yang harusnya ditempuh dua belas jam di dimensi terbatas, bagi TACENDA cukup tiga puluh menit. Tanpa keringat, lelah atau haus.Hanya bik Sumi yang seperti orang mabuk. Dengan sigap Sardi memapah perempuan tua kesayangannya menuju tempat peristirahatan sementara Suradi mengantarkan Cakra Dewa dan Safira kepada Tunggul Amarta.


Saat melewati Griyo Paseban Agung, mereka berpapasan dengan Elang Raja. Jangan tanya raut wajah ayah dari Cakra Dewa ini.


"Ayah". Ucap Cakra diikuti ciuman tangan. Ia menoleh pada Safira dengan memberi kode untuk salim juga. Safira mengangguk, ia pun melakukan hal sama seperti yang dilakukan Cakra.


Elang Raja tertegun melihat adegan yang baru saja terjadi. Ia berfikir keras apakah ada kejadian yang terlewat olehnya. Dipandangi wajah putra tertuanya lalu bergeser ke Safira. Ia masih belum menemukan jawaban.


"Ada apa dengan kalian?". Tanyanya menyelidik.


Cakra menggamit tangan Safira. Keduanya seperti orang yang tertangkap tangan melakukan sesuatu yang mencurigakan.


Elang Raja melototkan mata. Putranya berani sekali di depan matanya berlaku seperti itu.


"Apa ada yang ingin kau katakan, Cakra?".


Cakra menciut nyalinya saat menatap sorot mata mengerikan dari sang ayah


"Cakra ingin bertemu dengan tuan Tunggul, ayah untuk mengantar putrinya Safira kepadanya".


"Memang apa kepentinganmu".


"Tadi Cakra berjanji pada tuan Tunggul akan membawa Safira pulang".


"Buat apa kau berjanji padanya?".


"Emm itu ayah, Cakra ingin membantu tuan Tunggul".


"Kenapa?".


"Ayah, Cakra menjemput Safira karena menginginkan perjodohan ulang. Uyut Satria yang punya ide. Orang tua Safitri sudah setuju. Cakra dan Safira juga sudah membicarakan ini dan kami mengiyakan.


"Apa betul seperti itu, Cakra?".

__ADS_1


"Iya ayah. Rencananya setelah mengantar Safira ke tuan Tunggul, Cakra akan menemui ayah untuk membicarakan hal ini. Uyut Satria juga akan mengundang ayah pada pertemuan dua klan. Maaf jika membuat ayah khawatir".


Pikiran Elang Raja berkecamuk, Masalah yang ditimbulkan Ang masih membuat kepala nyut nyutan kini ditambah putra sulungnya ikut ikutan nimbrung


"Cakra, ayah ingin bicara sebentar denganmu". Elang segera berjalan cepat menuju ke dalam Griyo Paseban Agung diikuti Cakra.


Safira berdiri mematung. Sebagian hatinya seperti teriris. Reaksi Elang sungguh diluar dugaannya. Ia begitu datar dan dingin. Ia mengusap sudut mata yang berair. Bayangan kegagalan menari nari di kepalanya. Berkali kali ia mencoba menepis pikiran


buruk yang bergentayangan memenuhi otaknya.


"Semuamya baik baik saja nona. Jangan khawatir". Suradi mencoba menghibur nona besar yang ia kenal sejak berusia sepuluh tahun. Waktu itu tuan Tunggul menyelamatkan saudara kembar dan dirinya dari kejaran pengikut Jalmo Peteng. Tanpa ampun tuan Tunggul menghabisi gerombolan mirip zombi itu karena berusaha menyerap energi murni milik mereka berdua.


Sementara di dalam Griyo Paseban Agung, Urat wajah Elang seperti ditarik keluar. Emosinya hampir meledak. Bagaimana mungkin, hal sepenting ini putra tertuanya begitu santai dan seolah olah tidak menganggap dirinya sebagai orang tua.


Keringat dingin cakra keluar memenuhi kedua keningnya. Ia sangat hafal watak sang ayah. Pasrah adalah hal baik yang bisa ia lakukan. Semoga saja mukanya tetap baik baik saja. Ia ngeri saat teringat ayahnya menghajar tanpa ampun orang dari Klan Gunung Telu karena membatalkan kesepakatan kerja secara sepihak. Uyut Pandhu sampai harus turun tangan menengahi permasalahan tersebut.


"Maaf kalau keputusan Cakra membuat ayah terkejut. Cakra jatuh cinta pada pandangan pertama tiga tahun yang lalu. Sehari sebelum bertemu, Safira sudah didatangi Bunga Cantik Abadi, tapi karena ia mengira bunga itu bunga liar, ia melupakan begitu saja ayah".


Wajah Elang Raja semakin memerah. Amarahnya sudah sampai ubun ubun. Putra tuanya ini memang suka bikin kepalanya berdenyut. Apa itu tadi, jatuh cinta pada pandangan pertama, bunga cantik abadi.


Cakra langsung menghambur dalam pelukan ayahnya. Ia sungguh merasa bersalah melihat ayahnya seperti ini. Tergugu ia didada bidang sang ayah.


Elang Raja menghelai nafas panjang. Kalau seperti ini, mana mungkin ia bisa marah. Emosinya langsung menguap entah kemana. Dipeluk erat sang putra, dicium sayang ubun ubunnya.


"Sudah, ayah tidak marah. Lain kali jangan diulang. Semua bisa di komunikasikan baik baik. Kalau kau sudah mantap dengan pilihanmu, ayah merestui. Kau harus bilang pada ibumu baik baik, Cakra. Jangan sampai ibumu mengamuk. Kau meninggalkannya dalam urusan penting seperti ini. Kau juga pasti ingat, hampir setiap saat ibumu sudah merajut mimpi punya menantu. Bisa kau bayangkan bagaimana reaksinya saat tiba tiba kau membawa calon istri tanpa ada pembicaraan sebelumnya". Tutur Elang panjang lebar.


Cakra mengangguk dengan sesekali masih terdengar isakan. Tidak ada jejak laki laki ganteng menawan, yang ada hanya seorang anak yang menangis karena takut kena amukan sang ayah.


"Ayo temui ayah gadis itu". Ajak Elang


"Ayah juga ikut". Tanya Cakra polos


"Kenapa? Kau keberatan?".

__ADS_1


Cakra menggeleng dengan cepat.


Ia kemudian meraih tangan ayahnya. Ditepuk tepuk pelan dan berkata,


"Ayah jangan marah terus. Cakra cuma bertanya".


"Sudah sudah. Ayo buruan, kasihan gadis itu menunggu lama".


Merekapun keluar dari Griyo Paseban Agung. Cakra melihat Safira dalam posisi mematung dengan lelehan airmata dan isakan yang tertahan. Ia pun berlari kecil menghampirinya. Elang yang melihat hanya bisa menggelengkan kepala sambil bergumam,


"Gawat juga putraku ini kalau tidak segera dinikahkan".


Cakra sepontan memeluk Safira erat. Ia membisikkan kalimat yang membuat Safira seketika berhenti menangis.


"Sungguh? Jangan menghiburku. Tadi ayah sangat datar dan dingin hiik hiik". Ia kembali menangis. Kali ini sudah tidak bisa ditahan.


"Dengar cantik, aku sungguh sungguh". Ucap Cakra sambil menangkup kedua pipi sang pujaan.


"Kalian ini benar benar bikin orang tua was was, belum juga menikah". Suara berat khas Elang membuat keduanya terhenyak, seakan lupa kalau masih ada satu orang saksi yang melihat perbuatan mereka.


"Maaf ayah, Cakra hanya ingin menenangkan Safira". Elak Cakra yang direspon Elang dengan mengacak rambut hitamnya.


"Kau harus bisa menahan diri anakku. Pikirkan nama baik gadismu dan juga keluarganya". Ujarnya bijak.


Cakra dan Safira hanya bisa menunduk, lalu saling melirik seolah olah saling menyalahkan siapa yang dulu memulai. Lucu sekali dimata Elang.


"Mirip sekali denganku waktu muda". Batinnya. Ia ingat Uyut Susmita sampai melemparinya dengan buah mangga muda saat ia ketahuan merayu ibunya Cakra saat masih pedekate.


"Ayah melamun?" Safira bertanya dengan lembut


Elang tersenyum, hatinya meleleh mendengar suara calon menantu. Gadis seperti ini, menantu idaman sang istri. Sedangkan dirinya mengikuti sang putra, asal tidak menyimpang siapapun yang disukainya akan ia dukung.


"Ayo kita temui ayahmu, Safira". Bergegas Elang melangkah mendahului pasangan yang sedang uwu uwunya itu. Suradi hanya bisa memandang iri.

__ADS_1


"Nasib jomblo". Ujarnya pelan


Cakra dan Safira terkikik. Keduanya lalu menyusul sang ayah. Benar benar sweet like candy. Semoga


__ADS_2