
Mereka berempat akhirnya sampai juga di Dhayoh Utomo tempat para tamu menginap. Safira mempersilahkan Elang dan Cakra untuk mengikutinya. Melewati taman asri yang ditumbuhi macam macam bunga cantik, tibalah mereka di tempat Tunggul dan Tania menginap.
Dengan wajah sumringah Safira memanggil kedua orang tuanya. Tunggul yang saat itu sedang membujuk sang istri untuk makan, terhenyak. Begitu pula Tania. Wajah sedihnya berubah menjadi gembira. Tanpa aba aba ia segera berlari membuka pintu. Dilihatnya Safira berjalan dengan dua orang laki laki yang dikenalnya. Tania menoleh pada suaminya yang direspon dengan anggukan dan remasan pelan di pundak, menyalurkan kekuatan dan ketenangan untuk istrinya.
"Ayo kita temui mereka". Ajaknya pada sang istri.
Suami istri itu berjalan keluar kamar menghampiri ketiganya. Di ruang tamu yang berada di samping kamar tempat Safira dan orang tuanya menginap inilah ke enam orang ini berkumpul.
"Tuan, Sardi dan Suradi ingin melaporkan tugas yang kami emban tapi sepertinya ada hal lebih penting yang harus tuan bahas. Intinya semua baik baik saja, aman terkendali". Ucap Suradi menunduk hormat.
"Baiklah. Terima kasih. Kau boleh pergi".
Suradipun undur diri dari Dhayoh Utomo. Kini lima manusia yang sebentar lagi menjadi keluarga karena perjodohan yang berlanjut ke pernikahan masih berdiri dalam diam. Safira dan Cakra saling lirik. Tangan mereka saling menjawil membuat fokus ketiga orang tua teralihkan. Tunggul melotot begitu pula Tania, ia memandang tajam putrinya. Orang yang sedang jatuh cinta kadang tak peka, buktinya Safira dan Cakra malah melanjutkan jawil menjawil sambil senyum hangat hangat cokelat, manis sekali.
Elang hanya bisa menghelai nafas. Ia sudah tidak kaget lagi. Mau bagaimana buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mau marah marah kalau dipikir pikir lagi kok seperti senjata makan tuan. Apalagi kalau Arum Safir tahu, pasti perempuan cantik yang selalu menjadikan dia seperti perangko yang menempel terus pada surat warna merah jambu itu akan menggodanya habis habisan.
Putranya sungguh membuat mukanya memerah malu, dikiranya sebagai orang tua ia tidak mengajarinya adap sopan santun, apalagi didepan orang tua.
"Kita nikahkan saja mereka secepatnya. Kalau dilihat orang lain tak baik". Ucap Elang memutus kediaman mereka.
Tunggul dan Tania reflek menoleh kepadanya. Dari raut wajah mereka terlihat terkejut begitu pula dengan dua tersangka utama, mereka terkejut sambil malu malu meong.
"Kalian akan sering melihat hal yang seperti ini. Tadinya aku juga kaget, marah sampai ubun ubun tapi mau bagaimana lagi, mereka seperti lupa kalau tempat ini bukan hanya ada mereka saja. Aku juga dicuekin. Keberadaanku seperti tak kasat mata". Ucap Elang sedikit curhat.
Tunggul dan Tania sampai membuka mulut, terbengong bengong. Mereka seperti tak percaya, seorang Elang Raja bagaimana mungkin berbicara seperti itu. Image yang ada di otak mereka sangat berlawanan dengan yang tersaji di depan mata.
"Bagaimana pendapat kalian. Kita nikahkan saja secepatnya. Tidak perlu ada pertemuan dua klan. Aku Elang Raja ayah dari Cakra Dewa bermaksud meminta putrimu Safira Asmara untuk dijadikan istri putra sulungku". Tuturnya mantab
Tunggul menoleh ke istrinya. Tania masih dalam posisinya memandang Elang. Ia masih tidak mempercayai pendengarannya.
__ADS_1
"Sudah jangan lama lama. Aku di sini. Yang harus kau pandangi itu aku bukan orang lain". Bisik Tunggul pada istrinya.
Cakra menahan tawa sementara Elang memutar malas matanya. Ilmu Talingan Mireng menyerap apa yang dibisikkan Tunggul.
"Apa kita bisa bicara sambil duduk?". Tanya Elang.
"Tentu saja ayah, silahkan". Lembut suara Safira mempersilahkan Elang.
"Ayah mau minum apa? Ada teh kualitas premium dan kopi hitam arang dari dimensi terbatas serta minuman tujuh herbal khas keluarga Safira". Kata Safira menawari Elang minum.
"O..iya camilannya juga ya ayah, yang bikin Safira sama ibu".
"Iya, ayah ikut pilihanmu saja".
Safirapun pamit ke dapur untuk membuatkan minuman dan membawakan camilan.
"Kenapa? Kalian bingung? Heran? Sama, awalnya aku juga begitu. Seorang gadis memanggilku ayah, mencium tanganku seolah olah aku ini ayahnya. Lalu dia begitu akrab dengan putraku bahkan mengabaikan kehadiranku, begitu pula putraku, hal sepenting inipun aku tak diberi tau. Kalau saja aku tak bertemu dengannya saat melewati Griyo Paseban Agung, Sampai saat ini, aku juga tidak akan tahu". Ujarnya. Lagi lagi Elang sedikit curhat
Terdengar suara mesra Safira memanggil nama Cakra untuk membantunya membawakan nampan yang berisi minuman dan camilan. Dengan sigap Cakra menghampiri pujaan hati lalu beralihlah nampan dari tangan Safira ke tangannya. Tunggul memindai dengan Ilmu Alon Obah seperti slow motion. Matanya membeliak, tangan Cakra dengan lembut menyapa tangan putrinya. Terlihat rona merah dikedua pipi dan ya ampun kedipan apa itu.
"Sudah tidak perlu marah. Hematlah energimu. Kalian belum menjawab pertanyaanku. Kapan kita atur tanggal pernikahan mereka. Jantungku bisa lepas kalau mereka tak segera dinikahkan". Kata Elang
Tunggul menetralkan emosinya. Sungguh yang ia lihat ini seperti saat ia menjadi pengantin baru. Sangat manis tapi waktu itu ia dan Tania sudah sah suami istri. Lha ini apa? Adegan apa ini?
Jantung Tunggul mendadak seperti berhenti. Ia menoleh ke Cakra.
"Putriku masih sucikan, belum kau apa apakan?"
Cakra terkejut dengan pertanyaan calon ayah mertuanya ini, begitu pula Tania, Safira dan Elang
__ADS_1
"Ih..masa iya ayah meragukan Safira. Ini Safira anak ayah". Ujarnya cemberut. Mode ngambek on. Kalau sudah begini, gantian yang jadi maknya yang sewot. Maka lengkap sudah Tunggul menikmati raut wajah tertekuk dari keduanya.
"Kanda apa apain sih, tega amat menuduh anak sendiri begitu".
"Maaf, kanda salah. Habisnya adegan tadi kita lakukan saat kita sudah menikah. Lha ini tadi kan belum sah adindaku sayang. Makanya kanda jadi cemas". Kata Tunggul mencari pembenaran. Jika keduanya ngambek, hari harinya akan kelabu.
"Kalau begitu, kita segera cari tanggal dan hari baik. Aku tidak mau kecolongan". Kata Tania tegas.
"Kecolongan apa bu? Safira tidak pernah mengambil apapun yang bukan hak atau milik Safira".Ucapnya polos.
Tania memukul mulutnya pelan. Ia salah ucap. Suaminya memandang dengan senyuman menyeringai kalau ternyata mereka berdua sama.
"Cckk awas kanda, lihat pembalasanku. Kau sudah mengejekku". Batinnya
"Maksud ibu, jangan sampai tanggal dan hari baik kita terlewati begitu saja. Itu namanya kecolongan sayang". Tuturnya. Ia pandangi sang suami yang sibuk menahan tawa .
"Oh..begitu. Ayo ibu, ayah segera cari tanggal dan hari baik supaya tidak kecolongan". Ujar Safira Semangat.
Jangan tanya raut wajah ke empat orang ini. Elang sampai berdiri lalu melangkah menjauh, Cakra juga sama. Tunggul bahkan setengah berlari menyalip Cakra. Tinggal Tania yang merutuki sang suami karena meninggalkannya sendirian.
"Ibu, apa ayah berdua dan Cakra tidak mau mencari tanggal dan hari baik?" Tanya Safira dengan air mata yang siap meluncur deras.
"Kanda kemari cepat dan juga kalian berdua". Suara nyaring terdengar membuat ketiga orang yang sedang melepas tawa terhenyak. Tunggul sudah melesat kembali, sementara Elang dan Cakra saling berpandangan.
"Kok Cakra familiar dengan panggilan seperti ini ya ayah". Ujarnya sambil mengingat ingat.
"Jangan mengejek ibumu, anak nakal". Ucap Elang menjentikkan jari ke kening putra sulungnya. Terdengar suara mengaduh dari mulut Cakra.
"Sakit ayah". Diusap keningnya lalu mengekor ayahnya kembali ke ruang tamu.
__ADS_1