
Ang mengernyit melihat Banyu Mas terpaku
Lalu mendekatinya dan mulailah ia bercerita tentang Jaler Sekti.
"Pantesan aku tak familiar dengannya padahal hubungan kekerabatan kami bisa dibilang dekat". Ujarnya
"Kau lega kan sekarang. Dia tidak akan main main dengan adikmu". Kata Banyu Mas
"Jika kau belum mengikat seorang gadis, apa kau bersedia menikah dengan Delima?".
"Delima itu sudah kuanggap seperti saudara kandung Ang. Aneh rasanya kalau menikah dengannya. Kami dari bayi sampai saat ini pun masih seperti dulu. Perasaanku tidak berubah sampai saat ini'. Jujur Banyu Mas Pada Ang
Ang tentu juga tahu hal itu. Tatapan Banyu Mas pada Delima bukan tatapan lawan jenis yang dilingkupi gairah melainkan tatapan dengan rasa sayang pada saudara kandung.
"Baiklah, suasana saat ini bikin kita dalam posisi seperti ini.Istirahatlah. Besuk kita bertemu lagi". Kata Ang
"Kak, jangan bengong". Seru Delima
Ang menoleh kemudian kembali pada posisi tegak menyambut kedatangan tamu rombongan. Mata Ang masih awas mencari cari laki laki yang akan dijodohkan dengan adiknya, tapi nihil.
"Apa dia tidak datang ya?" Batin Ang
"Pernikahan adalah peristiwa sakral yang dihadiri oleh kedua keluarga besar. Mana mungkin laki laki itu tak datang." Batinnya lagi.
"Eh itu siapa yang berjalan tergesa gesa". Tunjuk Shaka pada laki laki yang baru masuk. Dilihatnya ia memakai baju kebesaran Klan Purba Ungu dengan dengan postur jangkung, iris mata keemasan dan rambut warna coklat terang panjang sebahu. Sangat menarik perhatian. Terlebih pandangan matanya seperti menyimpan sejuta misteri.
"Jaler Sekti". Ujar Ang pelan
"Jaler Sekti? Jadi dia salah satu calonnya kak Del selain Banyu Mas". Langit menatap penuh selidik
"Keren juga dia". Ujarnya memuji
"Keren juga Shaka". Kata Shaka sambil menyugar rambut lebatnya. Sangat maskulin.
"Halah kau ini, keren kok masih suka minta disuapin bunda. Apa apa teriak bunda".Ledek Bukan pada adiknya
"Iya nih,sok keren". Langit ikut meledek
__ADS_1
"Hmm apa kabarnya yang teriak manggil bunda waktu ada yang pegang tangan ya". Lirik Shaka pada Langit.
Langit melengos. Bulan dan Delima terkikik. Hati Delima berdesir melihat sosok Jaler. Ia sepertinya akan menarik ucapannya. Jaler sungguh keren, apalagi tubuh jangkungnya itu ah..idaman sekali.
"Ehemmm ada yang terpesona rupanya". Kata Ang menggoda adiknya. Ia sengaja melakukannya untuk mengetahui apakah Delima tertarik pada Jaler atau tidak .
Pipi kemerah merahan Delima jadi semakin memerah. Ia tersipu.
"Eh ..lihat wajah kak Del. Cie cie cinta pada pandangan pertama". Sahut Shaka. Seperti memutar film. Shaka juga jatuh cinta pada pandangan pertama. Indah sekali. Setiap hari seperti ada bunga bunga bermekaran di dadanya. Harum mewangi sampai membuat bundanya geleng geleng kepala.
Wajah Delima semakin memerah. Adik bungsunya itu memang juara bikin malu kakaknya. Sementara itu Ang tersenyum lega. Jika Delima punya perasaan pada Jaler, pernikahan mereka tidak sulit untuk dilalui. Toh Jaler juga sedang mencari istri, uyut Susmita dan Pelangi pasti sudah memberi tahu padanya tentang Delima.
"Ayo kembali, ada banyak pekerjaan menanti'. Ajak Ang pada adik adiknya.
Merekapun berjalan melewati taman tengah yang megah. Udara masih pagi, sejuk sekali, ciutan burung burung mulai terdengar meramaikan tempat uyut Pandhu
"Sekarang pergi ke kamar bunda, lalu bantu bunda ya". Titah Ang pada Delima dan Bulan.
"Dan kau Langit serta Shaka, pergilah membantu mendekor tempat ritual. Pekerjaan kalian sangat indah, bunda pasti bahagia jika melihatnya". Titahnya lagi.
Mereka berempat mengangguk patuh. Tinggalah ia sendiri. Hatinya ingin sekali menemui Calon ayahnya dan juga calon adik iparnya, Jaler Sekti. Ia hanya ingin memastikan diri bahwa semuanya baik baik saja.
Sedangkan dikamar mempelai perempuan. Bening mulai merawat diri dibantu pelayan dan kedua anak gadisnya. Sendau gerau diciptakan Delima dan Bulan untuk mencairkan suasana.
"Bunda cantik sekali. Lihat nih kulit bunda makin bersinar terang ,bersih dan wangi". Kata Bulan sambil mencium tangan bundanya.
"Iya benar, bunda akan jadi pengantin tercantik hari ini. Yang lain lewaaat". Delima mengucapkan dengan gerakan lucu, membuat Bulan tertawa kecil. Hatinya gembira, anak anaknya begitu menikmati prosesnya. Ia sudah mantab bertekad demi keluarga kecilnya, melepas status janda.
"Sayang kalian juga harus bersiap, bukankah kalian nanti mendampingi bunda?". Kata Bening lembut.
"Siaaaaap bunda". Jawab keduanya serentak. Dibantu pelayan, keduanya memanjakan diri.
Bening tersenyum melihat tingkah laku putrinya. Mereka cepat sekali besar, padahal perasaan baru kemarin mereka dalam gendongannya, merengek minta ini itu, tau tau sudah besar dan akan menikah. Bulir bahagia mengalir disudut pipi yang kemudian cepat cepat dihapusnya. Ia tak ingin kedua gadisnya salah duga .
Proses memanjakan diri berlangsung cepat karena waktu ritual semakin dekat Kedua gadis itu terlihat sangat jelita dengan tubuh mereka yang memancarkan cahaya kemilau.
Sementara itu di tempat dekor untuk ritual, kakak beradik Langit dan Shaka sedang serius menyelesaikan pekerjaan mereka dibantu para pekerja. Langit dan Shaka ingin bundanya bangga bahwa putra putranya bukan anak yang bisanya cuma manja saja.
__ADS_1
"Hampir selesai kak, coba lihat". Kata Shaka pada kakaknya.
Langit menoleh sambil mengacungkan jempol. Adiknya memang punya bakat seni tinggi. Ukiran bunga bunga indah dengan perpaduan warna putih dan ungu menghiasi dekor ritual.
"Punyaku juga hampir selesai Shaka". Langit memutar ujung batang bunga bunga hidup yang dipetik dari Taman Khusus Estri. Bunga bunga kesayangan uyut Susmita, langka tiada duanya serta mempesona dengan keharuman memanjakan indra penciuman.
Langit merakit bunga bunga itu untuk hiasan didepan pintu masuk supaya harum bunga menyebar wangi dengan aura positif yang menenangkan.
Keduanya tersenyum puas melihat hasil kerja mereka. Para pekerja juga sangat kagum dengan ketrampilan uyut Pandhu itu.
"Kak, Shaka haus, cari minum yuk".
"Tuan berdua, minuman, kudapan serta sarapan sudah tersedia di Ruang Prasmanan Gede. Silahkan tuan". Seorang pelayan datang mempersilahkan keduanya.
Senyum Shaka merekah. Dielusnya perut yang mulai berdendang lapar
"Jangan bikin malu". Sungut Langit.
"Memang kakak tidak lapar?" Cibirnya
Keduanya kalau sudah seperti ini alamat seperti kucing dan rikus. Mulut keduanya manyun.
" Para pekerja bagaimana? Mereka juga perlu makan bukan?". Tanya Langit peduli
"Jangan khawatir tuan. Para pekerja dan pelayan makan di Ruang Ombo dekat dapur besar'. Jelas pelayan.
"Baiklah, ayo Shaka kita makan". Ajaknya
"Ishh siapa tadi yang bilang bikin malu, ndak tahunya...".
Jitakan sayang menghentikan kalimat Shaka.
Langit sudah berlari menjauh manakala Shaka ingin membalas. Sebal bukan main dirinya. Disusulnya sang kakak sambil berteriak menyebut namanya. Kelakuan keduanya membuat para pelayan dan pekerja geleng geleng kepala.
"Putra mendiang tuan Guntur Peksi lucu ya. Mereka juga ramah dan perhatian sama kita". Ujar salah satu pekerja.
Para pekerja yang lain mengangguk, tuan mereka memang jempol, tidak pernah merendahkan mereka meskipun mereka bukan TACENDA unggul.
__ADS_1
"Ayo semua dibersihkan lalu kita sarapan. Tempat ini harus dikunci dan dijaga setelah pekerjaan kita selesai". Ujar pekerja senior
Merekapun bersama sama melakukannya lalu berjalan keluar ke Ruang Ombo.