
"Habisnya mulutku ini aneh, kenapa susah sekali diajak kompromi". Merona pipi Safira. Ia sungguh malu.
"Kau boleh bertanya apapun padaku. Jangan sungkan". Kata Cakra Dewa mempersilahkan Safira.
"Cakra, kenapa saat berpapasan setelah kejadian itu kau hanya mengangguk lalu berlalu begitu saja? Kupikir kau membenciku". Ucap Safira sedih
"Aku menjaga perasaanmu. Kulihat kau tak nyaman saat melihatku".
"Bukan tak nyaman tapi aku berusaha mengendalikan hatiku. Ia susah sekali dikasih tau. Maunya nyamperin dirimu melulu. Aku kan seorang gadis, bagaimana mungkin melakukan hal seperti itu". Safira buru buru menutup mulutnya lalu memukul mukul agak keras. Ia sangat kesal mulutnya seperti bukan miliknya.
Cakra Dewa yang melihat, tanpa pikir panjang langsung menahan tangan kanan Safira lalu ditarik pelan kebelakang, lalu katanya
"Jangan seperti ini. Apa salahnya bicara jujur. Bukankah jika kita berjodoh, saling jujur terhadap perasaan masing masing sangat penting, Safira".
Degup jantung Safira berpacu. Tinggi sebatas dada Cakra membuat irama jantung Cakra terdengar jelas bertalu talu.
Kedua anak manusia yang saling mendengarkan isi hati masing masing. Keduanya memejamkan mata menakar rasa yang sebenarnya sudah sangat jelas terlihat.
Dari pohon rindang dimana Bik Sumi duduk, orangnya sudah tak ada ditempat. Rupanya ia mendatangi Sardi dan Suradi untuk menolongnya mengangkat dirinya ke pohon rindang itu supaya tetap bisa memantau gadis kecilnya.
Di pohon rindang inilah dia ngomel ngomel tak karuan saat melihat Cakra memegang tangan sang gadis.
"Sardi cepat kau tangkap tuan ganteng Cakra. Bawa ke tuan Tunggul Cakra. Dia sudah mengambil kesempitan yang tercipta lalu secepat kilat memanfaatkan keadaan.Wah lihat itu sudah berapa lama pegang tangan ndoro ayu Safira. Tidak bisa dibiarkan. Ayo turunkan aku cepat. Biar kujewer kuping tuan ganteng Cakra". Omelnya panjang kali lebar.
Sardi dan Suradi hanya memutar mata malas. Dibiarkan bik Sumi duduk manis di pohon itu.
"Suradi, kau anakku sayang, ayo bantu ibumu turun. Nanti aku buatkan masakan kesukaanmu. Sardi tidak usah kau kasih. Dia jahat padaku,tidak mau mendengarkan kata kataku". Ucapnya ketus.
Sardi dan Suradi saling pandang.
Sardi lalu melompat keatas pohon, lalu diduduk disebelah bik Sumi
"Sardi sayang sama bik Sumi tapi ini tugas utama yang harus Sardi dan Suradi jalankan. Tuan Tunggul ingin tuan Cakra dan nona Safira bersatu. Nama keluarga dipertaruhkan. Jadi mohon bik Sumi pengertian. Biarkan mereka saling bicara dari hati ke hati". Tutur Sardi memberi pengertian pada bik Sumi.
Bik Sumi melongo. Ini berita baru. Ah, dia ketinggalan berita padahal sudah menempel pada nonanya.
"Terus kau membiarkan tuan ganteng Cakra pegang tangan nonaku, begitu?". Sungutnya
"Tunggu lima menit lagi bik, kalau masih pegangan tangan, baru kita kesana, bagaimana?".
"Baik, pegang janji ya. Awas kalau ingkar, aku akan mendiamkan dirimu setahun". Ancamnya sadis.
Sardi menelan ludah. Gawat kalau perempuan tua yang begitu perhatian padanya dan saudara kembarnya ngambek. Bayangan makanan enak buatan bik Sumi menari nari didepan mata.
"Tentu kami tidak berani durhaka pada bik Sumi. Bisa bisa kami kuwalat".
"Bagus kalau kau paham".Tegas bik Sumi. Hatinya gelisah melihat tangan Cakra masih setia memegang tangan Safira, seperti ada lem nya.
__ADS_1
Di gazebo terjadi percakapan batin antara Cakra Dewa dan Safira. Mereka menggunakan Ilmu Nyawiji Manah. Energi putih bergulung gulung indah seperti awan di langit biru yang cerah.
"Apa kau punya niat yang sama seperti yang direncanakan para tetua, Safira. Perjodohan, pernikahan,kelahiran penerus dua klan menyebarkan banyak energi positif.Hal tersebut sangat baik untuk memblok kekuatan gelap Jarwo Peteng. Para tetua optimis akan berhasil sehingga bisa ditularkan pada klan yang lain". Suara batin Cakra terdengar sangat menenangkan seperti menyalurkan kekuatan batin untuk Safira. Dititik ini keduanya begitu apa adanya tanpa sekat tanpa topeng.
"Iya aku bersedia. Aku orangnya seperti ini. Apa kau tidak akan pusing atau capek dengan sikap dan perilaku diriku".
"Aku sudah menyelami selama tiga tahun ini, meski kadang aku juga masih agak temperamental".
"Kau sangat menyeramkan kalau marah".
"Aku masih muda Safira. Butuh proses untuk bisa mengendalikan emosi dan amarah".
"Iya aku tahu, tapi kau membuatku ketakutan hiii".
"Hahaha baiklah akan aku ingat untuk selalu mengontrol emosi dan amarah. Aku akan belajar untuk sabar".
"Janji ya. Kalau aku bersikap dan berperilaku buruk, kau bisa memberitahu diriku baik baik".
"Tentu. Kita akan menjaga komunikasi supaya tidak ada lagi kesalah pahaman. Apa ada yang ingin kau ketahui lagi, Safira?".
"Iya. Satu lagi. Apakah kau
mencintaku, Cakra?".
"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatmu di air terjun Banyu Arum. Hanya saja waktu itu aku masih bodoh. Saat inipun aku juga masih bodoh karena tidak gerak cepat. Aku iri pada pakdhe Guntur Peksi yang begitu berani bersikap dan bertindak, memperjuangkan cinta dalam hidupnya. Aku terlalu pengecut Safira".
"Jangan seperti itu. Semua orang punya cara sendiri sendiri. Mungkin kita berdua sama sama terlambat menyadarinya".
"Ih..aku nggak tulalit".
"Maksudku respon kita terhadap perasaan masing masing, Cinta".
"Kau memanggilku cinta lagi".
"Apa kau tak suka aku memanggilmu cinta? Kau cintaku Safira, sampai kapanpun kau tetap cintaku".
"Iya aku tahu.Tapi kalau kedengaran orang lain, aku malu".
"Ayah ibumu tak malu saling bersikap mesra, jadi kenapa kau harus malu".
"Kan kita belum menikah, Cakra".
"Baik. Setelah dari sini, aku akan meminta keluargaku untuk meminangmu, bagaimana?".
"Kenapa cepat sekali. Kita belum saling mengenal lebih dalam".
"Kau lupa mengapa dua klan sangat getol mengupayakan perjodohan dan pernikahan?".
__ADS_1
"Eh iya tapi keluarga Ang aku dengar mau menikah semua. Apakah setelah mereka?".
"Iya karena ayahku adalah anak bungsu,Safira".
"Apa kau akan seperti ayahmu, Cakra?".
"Bisa kau perjelas?".
"Maksudku seperti ayahmu dulu yang diselamatkan ayah Ang".
"Tidak Safira Aku bersyukur tidak memiliki gejala itu".
"Gejala apa".
"Saat Jalmo Peteng mengincar dirimu, kau bisa merasakan kehadirannya, jejaknya dan juga keberadaannya"
"Ayahmu sudah terlepas dari Jalmo Peteng, apakah ia juga masih bisa merasakannya".
"Tentu saja masih, itu mungkin satu satunya hal baik yang diperoleh ayahku sehingga pergerakan Jalmo Peteng bisa terdeteksi".
"Wah ayahmu keren, Cakra. Aku mau punya ayah mertua seperti itu"
"Artinya kau mau jadi menantunya, begitu kan?".
"Iya..eh maksudku...kau...kau menjebakku ya. Kau jahat".
"Aku bahagia kalau kau mau jadi istriku. Kita bisa memulai dengan niat baik, tulus dan ikhlas. Kita bisa mulai dengan langkah pertama. Apa kau bersedia, Safira?".
"Ih...kau suka sekali mengarahkan kalimat begitu. Kau sendiri bagaimana? Apa kau bersedia?
"Aku Cakra Dewa putra Elang Raja, buyut dari ketua Klan Purba Putih Pandu, bersedia memperistri Safira Asmara putri Tunggul Amarta".
"Sst jangan keras keras nanti didengar orang".
"Kita sedang memakai Ilmu Nyawiji Manah, cantik. Tidak akan ada yang mendengar kecuali kita berdua".
Safira tertawa tertahan, sementara Cakra Dewa tersenyum lebar. Hati keduanya penuh bunga bunga cinta bertebaran. Ah bahagianya.
Perlahan lahan mereka membuka mata. Ada enam pasang mata yang memperhatikan keduanya.
"Bik Sumi, paman Sardi Suradi kenapa melihat kami seperti itu" Tanya Safira keheranan.
Bik Sumi melebarkan kedua mata mengarah pada tangan Cakra yang masih saja memegang tangan kanan Safira dengan posisi ditarik ke belakang
Kedua sejoli tersipu. Tinggal bik Sumi yang bermuka masam karena sedari tadi merengek pada Sardi Suradi tapi selalu saja mengulur ulur waktu, sehingga ia terpaksa harus tetap duduk manis di atas pohon rindang.
Sardi Suradi menghembuskan nafas nelangsa. Ultimatum bik Sumi begitu dahsyat.
__ADS_1
"Mari tuan Cakra kita menghadap tuan Tunggul". Sardi dengan sopan mengajak Cakra yang diangguki dengan mantab oleh si empu nama.
"Wah nyali anda besar juga tuan ganteng Cakra". Puji bik Sumi. Ia jadi terhibur mengetahui laki laki calon gadis kecilnya begitu gentle, tegas dan berwibawa