
"Jangan melamun,sayang' .Uyut Susmita menoel hidung Bening
Bening merona. Ia menoleh ke Ang. Dilihatnya sang putra juga menatapnya sambil senyum senyum tak.jelas.
"Bunda pengin juga ya". Tampak senyum merekah memperlihatkan gigi putih yang tersusun rapi menghiasi wajah tampannya.
"Anak nakal. Suka nggodain orang tua". Bening menjewer kuping Ang dan terdengar aduhan dari bibir lelaki pewaris Ilmu Guntur Pamungkas. Ilmu penangkap gemuruh guntur yang dahsyat.
"Aku rasa sebelum mencarikan Delima jodoh, yang pertama menikah,kau dulu nduk". Uyut Pandhu berkata sambil meletakkan tangan istrinya diatas tangannya yang besar.
Mata Bening membola.Ia langsung menggeleng cepat.Bagaimana mungkin menikah lagi sementara nama Guntur sering ia sebut sebut entah waktu ia terjaga atau saat ia tidur.
Helain nafas berat terdengar bersamaan dari uyut berdua. Mereka saling berpandangan satu sama lain lalu mengangguk.
"Memperkuat posisimu nduk. Menikah salah satu hal baik yang bisa kau lakukan".Ujar uyut Susmita.
"Tapi uyut,Bening masih sangat cinta dengan kangmas Guntur". Tegas Bening.
"Lihat ini nduk". Uyut Pandhu menempelkan jari telunjuk ke dahinya, lalu muncul sedikit demi sedikit lingkaran lingkaran kecil yang berputar, lama kelamaan menjadi lingkaran besar yang berujud seperti kertas dengan tulisan keemasan, menjauh hingga berjarak sekitar tiga meter.
"Uyut itu tulisan kangmas Guntur". Bening mengenali jelas tulisan mendiang suaminya. Airmatanya menetes deras.
"Baca dengan hati dingin nduk. Jangan pakai emosi". kata Uyut Susmita menenangkannya
Bening membaca dengan jantung berdegup kencang. Beberapa kali ia menggelengkan kepala. Sementara Ang terpaku membaca tulisan mendiang ayahnya. Satu nama disebut untuk menggantikan kedudukan sang ayah.
"Uyut, jadi bunda harus menikah.Bunda harus ...". Ang tercekat tak sanggup meneruskan kalimatnya.
__ADS_1
"Ia sayang,bundamu harus menikah dan punya keturunan dari pernikahan itu".
"Tapi uyut bunda sudah punya kita berlima, kalau harus punya anak lagi kasihan bunda". Ang nencoba memberi pengertiaan kedua uyutnya.
"Bundamu menikah diusia muda,jadi masih kuat punya dua atau tiga orang anak lagi. Bukankah begitu nduk". Uyut Susmita menatap Bening, menunggu jawaban.
Sementara itu Bening terpaku mendengar penuturan uyut Susmita. Menikah sekali dan selamanya adalah cita citanya sewaktu janji nan suci terucap dari mulutnya dan Guntur. Lalu bagaimana bisa ia mengingkari janji itu sekarang.
"Bening tak bisa uyut. Bening sudah janji pada kangmas Guntur untuk setia".
"Mendiang suamimu sendiri yang menyuruhmu. Waktu itu sebelum ia pergi ke Lembah Damai bersama Elang Raja,ia menitipkan surat emas yang baru saja kau baca itu nduk pada uyut. Guntur berpesan kau harus melaksanakannya jika ingin keselamatan kelima anakmu terjaga Harus ada kepala keluarga dari Klan Purba Putih atau Klan Purba Ungu supaya kedudukan keluargamu kuat dan ilmu ilmu leluhur tetap abadi".
Bening tergugu. Airmatanya tak bisa dihentikan, mengalir menganak sungai.
"Apa uyut tak sanggup melindungi kami". Bening menatap uyut Pandhu penuh harap.
"Selain itu ilmumu masih belum seberapa jika harus menghadapi ancaman dari luar apalagi dari musuh abadi kita, Jalmo Peteng. Kita tidak bisa melakukannya sendiri,nduk. Kamu harus paham itu". Terang Uyut Pandhu.
Bening bukannya tak paham. Menghadapi ancaman dari luar seperti Klan Gunung Telu atau dari Yudistira, suami kakak iparnya memang dibutuhkan kepala rumah tangga karena Plakat Putih Meneb Rasa bisa dengan cepat nenghalau keduanya . Sementara dari Jalmo Peteng dibutuhkan tenaga dan energi yang banyak. Bening sadar ia harus punya banyak dukungan.
"Bagaimana nduk, sudah kau pahami maksud tulisan Guntur". Kata Uyut Susmita pelan.
Ia pun sebagai nenek dari Guntur tidak akan bertindak sembrono atau egois. Merapatkan barisan memang harus segera dimulai. Menambah sekutu dan keluarga baru adalah hal mudah yang bisa dilakukan untuk menahan energi Jalmo Peteng apalagi kelahiran bayi bayi penerus, membuat sesak energi hitamnya.
"Jika kau sudah menikah, maka langkah selanjutnya menikahkan segera anak anakmu. Ini tidak bisa ditunda. Energi Jalmo Peteng harus kita blok sedemikian rupa supaya tidak mencemari energi kita dan lingkungan kita" Uyut Susmita dengan semangat menjelaskan pada Bening.
"Jadi, Ang juga harus segera menikah,uyut?". Ang menggeleng tak percaya. Yang dibahas Delima Ayu tapi Bunda dan dirinya kenapa ikutan dinikahkan.
__ADS_1
"Delima Ayu bisa menikah tanpa Pelilah Agung jika kau sudah menikah,Ang. Waktu kita terbatas. Pelilah Agung membutuhkan upacara dan itu menyita waktu. Satu satunya jalan setelah bundamu menikah, giliranmu sayang". Uyut Sumita tersenyum sambil menepuk nepuk pelan bahu Ang.
"Selain itu, jika Delima akan menikah dan ibumu masih sendiri, lelaki dari berbagai klan akan berduyun duyun melamar bundamu. Itu bisa membuat tegangan tinggi sayang. Mereka akan berlomba lomba memenangkan hati bundamu. Suhu udara pasti akan meninggi dan panas. Kau takkan pernah tahu apa yang terjadi jika suhu tinggi dan panas. Jalmo Peteng bisa masuk dan membuat kacau energi kita". Ujar Uyut Susmita panjang lebar
"Adik Ang masih kecil uyut, bagaimana?".
"Mereka bisa dinikahkan dan boleh bersatu dengan pasangannya setelah diadakakannya Rembug Ageng di tahun kedua, keempat atau keenam bahkan kedelapan pernikahan mereka". Sahut Uyut Pandhu.
"Strategi harus kita gunakan saat ini. Sudah tidak ada waktu. Sebentar lagi akan ada banyak pernikahan di Klan Purba Putih uyutmu. Keturunannya yang sudah usia belasan diwajibkan menikah sampai bunga bunga di Lembah Sulisyo Ing Warni berguguran". Lanjut uyut Pandhu.
"Dan jika hal ini berhasil maka klan klan lain akan mengikuti. Ini rahasia, jadi pernikahannya juga rahasia.Tidak akan diumbar ke khalayak". Terangnya kembali
"Mengapa harus dirahasiakan,uyut?" Tanya Ang.
"Agar Jalmo Peteng lengah. Kita perlu energi positif. Pernikahan antar klan memberi banyak energi positif, dan itu baik untuk kelangsungan hidup kita". Jawab Uyut Pandhu.
Bening tercenung. Teringat dia perjanjian Yudistira dengan Atmo Panji dari Klan Geni Urip.Yudustira pasti akan membocorkannya
"Bagaimana dengan kak Yudustira,uyut?" Bening akhirnya berat hati bertanya
"Memang ada apa dengan pakdhe Yudistira,bunda?" Ang mengernyit tak paham.
Bening terdiam. Dia bingung harus memulai dari mana. Keutuhan keluarga sangat penting tapi kalau masih ada duri dalam daging bagainana ia bisa tenang. Sekian lama ia pendam dengan kekhawatiran setiap hari, akhirnya tiba juga hari dimana semuanya harus diungkap. Ia tak tahu apa reaksi kakak iparnya, Sekar Kinasih jika mengetahui hal ini.
"Bunda, memang pakdhe Yudistira kenapa Kok bunda tiba tiba menanyakan beliau?" Kembali Ang bertanya.
"Ituuuu". Bening spontan menutup mulutnya.
__ADS_1
"Berat nian mengungkap aib keluarga sendiri". keluhnya dalam hati.