
Jaler menghelai nafas. Ayah, ibunya sudah pamit karena ayah tiba tiba ingin buah cermai pink bulan sabit. Kata ayah, ia pernah melihatnya disebelah pohon mangga Talijiwo Raseksa yang buahnya besar mirip raksasa tapi harum dan manis. Jaler yang ingin membantu memetik cermai pink bulan sabitpun ditolak mentah mentah, menggangu kata ayah. Dua orang yang sebentar lagi mantu itu pergi dengan bergandengan tangan mesra diselingi candaan candaan ala suami istri. Jaler tersenyum, orang tuanya memang tiada duanya.
"Punya adek? Saat aku juga ingin bikin adek setelah menikah". Monolog Jaler sambil memencet hidung mancungnya.
"Adekku dan anakku akan seperti kakak adek nantinya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan ayah ibu jika anak cucunya berebut mainan atau berebut perhatian. Siapa yang dibela duluan". Batinnya sambil tersenyum
"Waktunya ketemu calon istri". Seringai Jaler sambil melangkah keluar kamar.
Sementara itu di Taman Lokakasih dua anak gadis mendiang Guntur Peksi sedang duduk menikmati pemandangan surga bunga yang beraneka warna.
Delima dan Bulan terlihat bercahaya dan sangat menawan. Rambut Delima yang panjang sepinggul digelung dengan gaya khas Klan Purba Putih bagi yang belum menikah, dan akan berubah saat menikah. Modelnya beraneka macam,sangat indah dipandang mata,sedangkan Bulan disanggul kecil keatas dengan menyisakan rambut yang terurai, menutupi tengkuk belakang yang putih bersih berkilauan.
"Kak Del, kemana sih kak Ang,dari tadi nggak kelihatan". Tanya Bulan
"Tau tuh kak Ang. Kita sudah cantik begini. Langit dan Shaka tadi juga sudah ganteng dengan baju kebesaran klan Purba Putih warna perak".Sahut Delima
"Apa perlu kita cari ya kak, Bulan takut kak Ang terlalu sibuk mengurusi pernikahan bunda, jadi lupa mempersiapkan diri". Kata Bulan khawatir.
Delima mengiyakan tanda setuju. Akhirnya mereka berdua berpencar mencari sang kakak.
Dibalik rindang pohon bidara laut, keluarlah lali laki dengan senyum tipis sambil matanya yang berwarna keemasan tak henti hentinya menatap Delima Ayu.
"Akhirnya aku bisa melihatmu dari dekat dan sebentar lagi kita bisa saling kenal". Gumamnya
Laki laki itu Jaler Sekti. Upayanya untuk bertemu dengan Delima membuahkan hasil setelah ia bertemu uyut Pelangi dan meminta ijin padanya. Sang uyut mengangguk, mempersilahkannya.
Jaler mengikuti Delima dari jarak aman sehingga gadis itu tidak akan sadar ada yang membuntuti, hanya saja Jaler lupa, Delima Ayu adalah TACENDA unggulan yang cerdas dan punya insting kuat. Kehadirannya sudah tercium dari tadi, makanya ia mengangguk setuju kala Bulan ingin mencari kakaknya,Ang.
"Kemana gadis itu,cepat sekali langkahnya". Jaler kehilangan jejak. Ia kesal bukan main. Tiba tiba sebuah benda menyentuh punggungnya dengan suara merdu menghardik
__ADS_1
"Jangan bergerak. Awas, kalau tidak ingin punggungmu berlubang".
Jaler melongo mendengar hardikan merdu itu.
"Menghardik kok suaranya merdu begini,siapa yang akan takut".Gumamnya
"Apa katamu?". Intonasi suara itu semakin meninggi dengan dorongan benda yang menyentuh tubuhnya terasa agak panas.
Jaler menyeringai seram. Sekali gerak, benda yang menyentuh punggungnya sudah berada ditangannya, sementara suara merdu itu entah menghilang kemana.
"Malah pingsan dia. Delima Ayu apa kau sengaja? Atau apa energi yang kugunakan terlalu besar ya". Jaler mengusap wajahnya, sementara sipemilik suara terkulai nyaman di dadanya.
Jaler Sekti laki laki yang selalu waspada. Tempaan uyut Tunggul dan uyut Sinta serta sang kakek Brayat Linuwih membuatnya jadi seperti sekarang. Energi pemurnian yang didapat secara temurun dari sang kakek membuatnya menjadi TACENDA unggul yang berbeda. Lebih peka, akurat, ganas, beringas tapi juga lembut dan kadang sedikit konyol. Perpaduan antara aura putih dan bekas hitam pekat Jalmo Peteng membuahkan ras TACENDA seperti dirinya. Maka tak heran sekaliber Delima yang merupakan TACENDA unggulpun harus pingsan oleh ulahnya.
"Hai...bangun". Jaler menepuk lembut pipi Delima.Pipi yang membuat dadanya berdesir.Dan sekarang ia malah menepuknya. Udara seakan habis ia hirup. Udara tiba tiba panas. Ia merasa gerah.
Mata indah mengerjap pelan, memindai sekitarnya.
"Sii...siii...apa kau?". Ucapnya terbata. Dengan posisi tangan kiri masih memegangi pundak sang gadis, Jaler hanya memandang datar.
"Eh jangan kurangajar Lepaskan". Katanya galak
Jalerpun hampir melepaskan dan meraih kembali pundak calon istrinya saat melihat Delima oleng.
"Diam kau. Jangan berisik". Titahnya sambil memandang tajam Delima.
Delima mengkerut. Nyalinya tiba tiba menciut. Deg. Jantungnya berpacu dengan cepat saat menyadari siapa orang yang begitu dekat jarak dengan tubuhnya hingga nafas yang disetting teraturpun terdengar.
"Jaaa..jaaaleeer Seek seeek tiii". Suaranya tercekat dan seperti tercekik. Pasokan udara seperti habis. Ia jadi sulit bernafas
__ADS_1
"Atur nafasmu, pelan pelan". Ujarnya lembut
Dipandanginya wajah oval jelita dengan tubuhnya yang mungil. Sekali direngkuh oleh satu tangan saja, gadis itu sudah meringkuk dalam genggamannya.
Pelan pelan Jaler melepaskan rengkuhannya. Dilhatnya pipi Delima yang semakin merah. Sungguh menawan dan tertawan hatinya.
"Apa kita bisa bicara sebentar". Kata Jaler pelan sambil menata hatinya yang susah dibilangin untuk tenang.
Delima mengangguk. Ia seperti tak punya kekuatan. Badannya lemas, tak bertenaga. Ia seperti kehilangan jati diri, mengiyakan semua perkataan Jaler.
"Jadi kau tak keberatan jika adekku suatu saat merepotkanmu, juga ibuku yang kau tahu sangat manja pada ayah". Ujarnya.
Lagi lagi Dellima hanya bisa mengangguk Suaranya seperti hilang. Mulutnya susah digerakkan
"Kau baik baik saja, Delima? Dari tadi kau hanya mengangguk". Kata Jaler
Delimapun mengangguk lagi dengan mata mengerjab lucu.
"Apa kau takut padaku? Apa aku begitu menyeramkan?". Kata Jaler sedih. Sejak tahu masa lalu keluarganya. Ia sempat rendah diri untung buyut,kakek dan ayahnya tak bosan bosan mendukungnya. Apalagi putra putri kandung uyutnya yang berjumlah tiga. Kakek Dipa Nendra, Danu Roso dan nenek Kartika Setya juga tak henti henti menyemangatinya. Hanya istri dari paman Prana Dibya, putra pertama kakek Dipa Nendra yang tidak bersahabat padanya saat tahu kalau kakeknya, Brayat Linuwih hanya anak adopsi.
Delima memberanikan diri memandang calon suaminya. Terlihat raut sedih menghiasi tampan wajah, laki laki berambut coklat terang. Wanginya begitu segar dan bau tubuhnya harum menguar memabukkan hatinya
"Bisa bisa jantungan aku kalau kelamaan disini". Bisiknya pada diri sendiri.
Dengan sekuat tenaga ia mencoba berdiri tapi gagal, ia oleng kembali. Jalerpun dengan sigap meraih tubuhnya.
"Apa kau mencoba menggodaku hhhmm". Ujarnya dengan seringai misterius membuat Delima mematung. Tubuhnya tiba tiba dingin. Raut wajahnya sangat ketakutan. Nafasnya sesak. Butiran airmata jatuh dipipinya ysng halus kemerahan
Jaler terkesiap, tidak menyangka reaksi calon istrinya seperti ini.
__ADS_1
"Apa kau ingin membatalkan perjodohan ini? Aku tidak akan menyalahkanmu, Delima. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik. Aku memang tidak sepadan denganmu" Kembali Jaler merasa insecure. Wajahnya berubah murung. Netra keemasan miliknya redup.