TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
ELEVENTH STEP: A WEDDING PARTY PART 1


__ADS_3

Akhirnya moment yang ditunggu tunggu datang. Semua yang hadir seolah tak percaya. Kisah sedih berubah happy ending. Safira berjalan anggun menuju singgasana ratu raja sehari. Dibelakang kedua orang tua, adik kecilnya dan rombongan keluarga. Mara tak henti henti menyunggingkan senyuman. Ia begitu cantik dan bersinar. Mencuri hati seorang laki laki dewasa bernama Prayuda Perkasa dari Klan Purba Biru, buyut dari Ayunda Putik, rival uyut Susmita saat masih muda. Diusia ke tiga puluh tahun, ia masih betah melajang. Paras menawan dengan postur tubuh atletis dan mata teduh menghayutkan.


"Gadis cilik yang cantik. Hmm berapa tahun lagi ya aku harus menunggu". Batinnya


"Kau menyukai gadis cilik itu sayang". Suara sedikit berbisik mengejutkan Yuda, panggilan laki laki berkumis tipis itu.


"Uyut Unda. Jantung Yuda berasa mau copot".


Unda panggilan sayang Ayunda Putik hanya terkekeh. Api misterius menyala nyala dikedua matanya.


"Kali ini, kupastikan gadis cilik putra Tunggul Amarta akan menjadi buyut mantuku". Batinnya.


Ah dendam sesama perempuan mode on fire. Menyeramkan.


"Kau tenang saja sayang. Uyut akan membantumu


"Dia masih kecil uyut. Apa kata para tetua dan orang tua".


"Usianya tiga belas tahun. Masih sangat polos. Akan lebih mudah untuk mendekatinya pelan pelan lalu tanpa sadar sedikit demi sedikit kau tebar jala jala asmara padanya". Ucap Ayunda lirih.


Yuda tersenyum lebar. Uyut Undanya memang tiada duanya. Apa tadi, jala jala asmara? Absurd sekali.


"Buyut nakal, kau mengejek ide brilianku". Ia menyentil pelipis kiri Yuda.


"Uyut Unda ini dipesta pernikahan. Malu dilihat banyak orang". Yuda langsung menutup muka.


"Awas kalau kau melakukan itu lagi pada Uyut Unda".


Ayunda Putik memiliki sejuta rencana terkait jala jala asmara yang akan menyebar tanpa bisa dihentikan kecuali dengan pernikahan. Seringai licik menghiasi wajah ayu berkulit kuning langsat yang masih halus kesat.


"Kau akan seperti orang yang sakit gigi Susmita, tatkala buyutku menikahi gadis kecilmu". Batin Ayunda terkekeh.


"Uyut Unda jangan berfikir macam macam. Yuda punya jurus jitu untuk menaklukkan gadis kecil cantik itu".


"Kau harus berbagi denganku. Uyut Unda ingin membantumu. Dan jaminan pasti berhasil". Ayunda begitu mantab dengan rencananya, sementara Yuda hanya bisa menghelai nafas.


"Baiklah Uyut Unda, sekarang kita fokus ke gadis cilik itu eh maksud Yuda ke prosesi pernikahan"


Ayunda tertawa lepas. Ia sungguh geli dengan perilaku buyut kesayangannya itu.


"Manis, pelankan tawamu. Kita sedang dipesta pernikahan". Baruna Laut sang suami mengingatkan sang istri dengan pelan.

__ADS_1


Ayunda Putik langsung menyembunyikan wajahnya didada bidang sang suami dengan bahu yang masih terguncang karena tawa.


Baruna Laut membelai mesra rambut istrinya. Butuh kesabaran menjadi suami Ayunda Putik, untung cinta. Jadi segala sesuatunya lebih mudah ditangani.


"Kau menertawakan apa atau siapa,?". Tanya Baruna pelan.


"Buyutmu Yuda suka pada putri kecil Tunggul Amarta. Dan aku akan sekuat tenaga membantunya. Kau juga ya sayang". Ucapnya lembut


Baruna menghentikan belaian. Apa lagi ini, putri kecil Tunggul Amarta? Wah gawat. Bagaimana kalau Pandhu, Satria, Susmita dan Pelangi tahu. Terutama Susmita, bisa botak kepalanya karena pusing.


"Pandhu harus tahu. Aku tidak mau beresiko". Monolognya dalam hati.


"Kenapa diam? Kau tidak setuju,sayang?". Tanya Ayunda


"Hal penting kita bicarakan setelah acara ini selesai, manis". Ucap Baruna meremas lembut tangan sang istri.


Sementara itu, ritual doa baru saja dimulai. Tania tak kuat menahan haru begitu pula Tunggul. Sebagai orang tua dari mempelai perempuan, ia harus rela melepas putri mereka untuk boyongan ke kediaman suami.


Ritual doa selesai maka resmilah Safira dan Cakra menjadi suami istri. Safira mencium punggung tangan suami. Dan Cakra mencium kening istrinya.


"Sudah nyiumnya, nanti bisa dilanjutkan". Kata Uyut Satria


Mara yang melihat hal itu memberi isyarat pada Cakra untuk mencium keningnya juga.


Yuda tertawa lepas melihat tingkah menggemaskan gadis kecil yang sudah berhasil mencuri hatinya.


"Debaran ini". Ucapnya lirih.


"Nanti kita temui gadismu itu". Bisik Uyut Unda


"Uyut Unda...".


"Bikin jantung mau copot". Ucapnya terkekeh.


Ayunda Petik tambah semangat untuk segera menjalankan rencananya.


"Tunggu calon buyut mantu".


Dipanggung pengantin, sejoli ini sering diperingatkan kedua orang tua mereka karena ulah uwuu yang bikin Mara jadi mau ikut ikutan. Ia terus terusan merengek pada bik Sumi minta jadi pengantin seperti kakaknya.


"Mara juga pengin duduk disana bik Sumi. Dandan cantik seperti kak Safira. Pegangan tangan terus sun sayang juga".

__ADS_1


"Waduh ndoro ayu Mara yang cantik, tunggu lima tahun lagi ya, baru boleh duduk disana sama pangeran tampan berkulit putih bersih dan berkumis bak pangeran negeri dongeng".


"Pangeran tampan? Berkumis? Naik kuda putih ya bik Sumi".


"Iya, tampan dan perkasa".


"Bisa angkat mara tinggi tinggi. Bisa bantu Mara naik pohon. Asyik".


"Tentu. Tunggu pangeran berkuda yang tampan dan gagah lima tahun lagi". Bik Sumi seperti biasa cerita absurd bikin runyam.


"Mara pengin nyari pangeran secepatnya. Kalau nunggu kelamaan". Batin anak kecil itu.Indranya memindai setiap tamu yang hadir hingga bersiborok dengan mata hitam pekat milik Yuda. Senyum merekah tercetak di bibir mungil sang gadis saat melihat senyum tipis dan anggukan hormat.


"Apa om itu pangeran berkuda? Ada kumisnya. Putih kulitnya. Nanti Mara tanya sama om itu". Ia masih memandang raut wajah teduh nan tampan itu, membuat Ayunda Putik senyum senyum dengan pikiran jauh sampai kemana mana.


"Wah sepertinya diluar rencanaku. Belum apa apa, gadis kecil itu sudah memandang Yuda dengan takjub. Susmita, kutukanku mulai berlaku detik ini". Kembali ia tertawa hingga Baruna kembali mengingatkan pelan pelan padanya.


Dipanggung ratu raja sehari. Elang kembali berdehem saat putra sulungnya mencari kesempatan dalam pelototan kedua pasang suami istri yang tak lain orang tua dan mertuanya.


Tak lama kemudian makanan utama keluar. Sengaja menggunakan piring terbang untuk menghemat tempat, waktu dan tenaga.


Mara bertepuk tangan saat melihat salah satu lauk kesukaannya, daging sapi yang dicacah lalu di bumbui dengan bumbu rempah khas TACENDA kemudian dibuat seperti sate lilit. Dengan semangat, gadis kecil itu lahap makan. Bik Sumi yang hafal kesukaannya memberikan tiga tusuk sate padanya.


"Sayang Mara sama bik Sumi". Ucapnya sambil asyik mengunyah daging.


Hal itu tak lepas dari perhatian Yuda dan Ayunda.


"Kita sudah tahu kesukaan gadismu, sayang. Sate seperti ini keluarga kita sangat jago memasaknya. Kau bisa menggunakan kepiawaianmu memasak untuk memanjakan lidah dan perutnya". Ayunda semakin yakin jalan menjadikan gadis itu buyut mantu semakin besar meskipun harus menunggu sampai gadis itu cukup usia untuk menikah.


"Jayendra saja butuh puluhan tahun hingga bisa mempersunting Bening, sedang kau hanya menunggu sebentar sampai ia siap menjadi istri dan ibu". Ayunda menyemangati buyutnya supaya tidak patah semangat.


"Iya uyut Unda, Yuda paham. Sabar menanti sampai ia siap Yuda persunting. Semoga jalannya lancar".


"Aamiin. Uyut Unda doakan kau berjodoh dengannya. Ia dari keluarga baik, Klan besar dan perangainya juga tidak memalukan.Kau hanya harus bersabar karena sifat kekanak kanakannya".


"Iya uyut Unda. Yuda mengerti. Jalan masih panjang".


"Kau lihat dia sekarang. Menggemaskan bukan? Hatinya juga bersih. Ia kelak akan menjadi istri dan ibu sempurna untuk anak anakmu".


Hati yuda penuh bunga bermekaran. Semangatnya jadi bertambah berlipat lipat.


"Aku akan sabar menunggumu".

__ADS_1


__ADS_2