
Mara dan bik Sumi kembali ke tempat duduk awal mereka. Bik Sumi menyiapkan susu buat Mara
"Ndoro ayu Mara. Bik Sumi ambil cemilan dulu ya. Nanti habis minum susu biar bisa langsung ngemil".
"Iya bik Sumi".
Tidak menunggu lama, Mara kembali mendekati Yuda. Hal itu membuat Ayunda Putik terkekeh.
"Lihat sayang, gadis kecilmu kembali kesini".
Yuda tersenyum hangat. Sepertinya ia tidak perlu berusaha keras untuk mendekati gadis kecilnya.
"Mara, segera minum susunya. Nanti keburu dingin". Ucap Yuda saat gadis kecil itu sudah duduk manis disebelahnya.
"Iya om ganteng. Nunggu cemilan dulu ya". Ucapnya manja
"Mara suka cemilan apa?".
"Ituh kue keju almond sama snack keju batang. Enak sekali om ganteng, nanti Mara kasih. Ibu dan bik Sumi buat banyak untuk Mara.
"Apa Mara bantu ibu dan bik Sumi waktu buat kuenya?".
"Enggak om ganteng. Mara nggak suka ke dapur".
"Om Yuda suka memasak. Bikin sate sapi dan kambing kepal lilit kemangi. Rasanya lezat sekali".
"Benarkah? Ayah tidak pernah masak. Nanti Mara minta masak juga biar pintar kayak om ganteng".
Yuda tersenyum tipis. Ia gemas sekali dengan tingkah gadis kecilnya
"Mara diajari masak sate yang enak itu ya om ganteng".
"Apa Mara pengin bisa masak seperti om Yuda?
"Iya biar pintar seperti om ganteng".
"Kalau masak harus sabar, tidak boleh cengeng ya".
"Iya, Mara enggak cengeng. Mara pintar dan rajin".
Yuda tertawa. Dipandanginya gadis kecil yang asyik mendekap boneka kesukaan sementara susu di cangkir bergambar katak sudah berada ditangan Yuda
"Mara, ayo minum susunya. Cemilan sudah mau datang".
Yuda menyorongkan cangkir ke Mara. Gadis kecil itu memajukan mulutnya sambil asyik memencet hidung boneka princess yang dibeli sang ayah di dimensi terbatas.
Sedikit demi sedikit akhirnya habis juga susunya. Yuda ingin mengelap susu yang masih menempel di kedua sudut bibir Mara tapi ia masih bisa menahan diri.
"Mara cantik, di lap dulu ya sisa susu disudut bibir itu". Tunjuk Yuda
Mara tanpa dosa menyorongkan wajah. Ayunda Putik yang melihat tertawa terbahak
Yuda serba salah. Ia tidak ingin dinilai kurang ajar. Akhirnya bantuanpun datang dari uyutnya.
"Sudah sayang". Ucap Ayunda
"Terima kasih uyut Jelita".
__ADS_1
Ayunda tersenyum lebar. Setua ini dipuji seorang gadis kecil calon buyut mantu".
"Gadis kecil yang cantik". Ujar Ayunda membelai pipi chubby kemerahan.
Mara tersenyum sumringah. Ia merasa di kelilingi orang orang yang begitu sayang padanya.
Dari kejauhan bik Sumi berjalan tergopoh gopoh. Dikedua tangannya membawa toples cemilan kesukaan ndoro ayu kesayangannya.
"Aduh ndoro ayu Mara kenapa kembali kesana lagi. Gawat ini".
Dipercepat laju jalannya. Saat sampai, bik Sumi memasang muka semanis mungkin.
"Ndoro ayu Mara, ayo makan cemilannya disana,". Tunjuk Bik Sumi ditempat awal mereka duduk".
"Mara mau makan cemilan disini sama om ganteng dan uyut Jelita".
Bik Sumi tidak punya alasan lagi untuk membawa pergi ndoro ayu kecilnya. Akhirnya ia pasrah dan duduk disebelah Mara.
"Ayo bik, buka toplesnya. Mara sudah tidak tahan ingin ngemil sama om ganteng dan uyut Jelita".
"Iya ndoro ayu Mara. Sabar ya".
Dibukanya dua toples cemilan dan dengan antusias Mara makan dan membaginya dengan Yuda dan Ayunda.
"Kenada gadis cilik itu tidak memberikan cemilan itu padaku". Ujar Baruna laut pada sang istri
"Kau harus menyapanya dulu sayangku".
Baruna menatap gadis cilik yang asyik ngemil dengan wajah ceria
Mara yang merasa dipandangi, reflek balas memandang dengan senyum cantiknya.
"Uyut tampan mau cemilan juga?"
Baruna mengangguk cepat. Diambilnya dua macam cemilan dengan semangat.
"Enak". Ucapnya
"Sehabis menghadiri semua resepsi, aku buatkan spesial untukmu sayangku". Kata Ayunda manis.
"Kau memang istri kesayanganku".
Keduanya asyik makan cemilan, sementara Yuda dengan telaten menjawab semua pertanyaan Mara yang kadang absurd ditelinganya.
"Dia sungguh masih kecil. Butuh berapa lama sampai ia dewasa. Aku memang harus banyak bersabar". Gumamnya
"Om ganteng. Mara bosan. Acaranya kapan selesai".
"Sebentar lagi Mara Cantik. Sabar ya".
Mara menyandarkan kepala ke bahu kekar Yuda, membuat si pemilik jadi kikuk.
"Om ganteng, ayo cerita princess cantik dan baik hati".
Yuda menoleh pada gadis cilik itu dan menatap bik Sumi.
"Mengarang indah tuan ganteng". Ucapnya pelan
__ADS_1
Yuda mengangguk paham.Mulailah ia bercerita yang diselingi pertanyaan dan rasa penasaran dari Mara hingga gadis cilik itu tertidur.
"Ah gadis kecilku sudah tidur.Kasihan juga kalau posisinya seperti ini".
Yuda takut gadis kecilnya terjatuh. Ia berinisiatif membawa gadis kecil itu ke kediaman Dhayoh Utomo.
"Bik Sumi, apa bibik kuat membopong Mara sampai ke kediaman Dhayoh Utomo? Jika tidak, bolehkah saya membawanya kesana?. Kasihan kalau tidur dalam posisi seperti ini". Ucap Yuda hati hati.
Bik Sumi menggeleng, ia tidak mungkin kuat membopong sampai kesana, tapi membiarkan tuan ganteng membopong juga hal yang gawat. Ia jadi bingung. Mau minta bantuan tuan besar Tunggul jelas tidak mungkin.
"Bik Sumi, biarkan buyutku Yuda membopong Mara. Aku yang tanggung jawab". Ayunda Putik berkata dengan tegas
"Baik nyonya besar Unda. Laksanakan".
Segera Yuda membopong Mara yang sudah terlelap. Jangan tanyakan jantung yang berdebar dahsyat. Dihirupnya udara, ditatanya hati yang penuh bunga cinta.
Aksi ini membuat Tunggul melotot, terlebih Susmita. Matanya tajam menatap pemandangan yang menurutnya penuh muatan modus.
"Kendalikan emosimu. Kita sedang mengundang keluarga dan tamu undangan". Ucap uyut Pandhu berwibawa
"Tapi mau dibawa kemana putri bungsu Tunggul". Bisik uyut Susmita curiga
"Buyutnya Baruna bukan laki laki tak bermoral. Ia punya reputasi baik". Kata uyut Pandhu tegas
Uyut Susmita hanya menghelai napas. Ia mencurigai Ayunda punya andil. Dipandanginya musuh bebuyutannya itu.
"Benar benar tak tahu malu. Sudah uzur masih juga sok manja". Dumalnya pelan
"Kau juga sama Susmita". Goda uyut Pandhu
"Kau membela Ayunda. Kau tidak mencurigai bau bau modusnya". Sungut Susmita
"Jangan berprasangka buruk".
"Kau lupa kutukannya pada keturunan kita?".
"Jodoh sudah digariskan Susmita. Jangan paranoid seperti itu". Ujar uyut Pandhu.
"Aku bicara fakta. Kau lihat tadi cara buyutnya Ayunda membopong, seperti sama kekasih saja". Ujarnya sengit.
Uyut Pandhu juga melihat hal yang sama. Terpaut usia bukan hal baru di Klan Purba Putih.
"Sudahlah kita fokus dulu pada pernikahan Safira ya. Nanti kita bahas setelah acara ini selesai". Tutur uyut Pandhu menenangkan istrinya.
Susmita terdiam. Dia begitu cemas dan khawatir. Bayangan buruk menghantui pikirannya.
"Apa yang harus kulakukan. Buyutnya Ayunda memang punya reputasi baik. Dia salah satu yang terbaik dari generasi Klan Purba Biru". Batinnya
"Sudah Susmita. Jernihkan pikiranmu. Bisa kita komunikasikan baik baik dengan Baruna. Mereka dari klan terhormat. Jadi kau tidak perlu cemas dan khawatir. Aku jaminannya, kalau semua akan baik baik saja". Kata uyut Pandhu bijak.
"Iya. Kau benar. Semua bisa dibicarakan. Kuncinya bukan pada Ayunda tapi Baruna. Aku ingin tahu apa maksud semua ini. Buyutnya Ayunda pantas dipanggil om.Putri bungsu Tunggul masih terlalu kecil".
"Tenanglah Susmita. Semua akan baik baik saja. Baruna tidak mungkin membiarkan hal yang tak baik terjadi. Aku tahu betul tabiatnya.Dia laki laki baik dan bertanggung jawab".
"Iya aku percaya. Aku menjadi tenang sekarang".
Sementara yang dibicarakan tengah menuju Dhayoh Utomo.
__ADS_1