
Tania tak bosan memandangi wajah bahagia sang putri. Tinggal menghitung jam, putrinya akan berubah status dari lajang menjadi istri orang.
"Ibu kenapa memandangi Safira seperti itu?".
"Ibu seperti tak percaya sayang,sebentar lagi kau dipersunting laki laki dari klan besar, Klan Purba Putih".
"Iya, bu. Safira juga merasakan hal yang sama".
"Sekarang kau harus melakukan perawatan rambut, supaya lebih bercahaya".
"Baik bu".
"Bik Suti akan membantumu. Ia ahli dalam bidang merawat rambut".
"Mari bik Suti. Safira dibantu ya".
"Tentu Nona muda, bik Suti akan mengeluarkan semua kemampuan untuk membuat rambut nona muda halus dan bercahaya".
"Ibu akan mengecek kesiapan catering sayang. Ibu tinggal ya".
"Baik bu".
"Bik Suti. Aku pasrahkan perawatan rambut putriku".
"Laksanakan nyonya besar Tunggul".
Tania pun berlalu menuju Pawon Gede yang terletak paling belakang Dhayoh Utomo. Dilihatnya orang orang kepercayaan suaminya sedang bekerja keras dipandu oleh Sardi Suradi, dua saudara kembar yang tak diragukan lagi kemampuan dan loyalitasnya.
"Apakah ada yang kurang Sardi Suradi?".
"Hormat Suradi kepada nyonya besar, semuanya lancar tak kekurangan apapun juga".
"Syukurlah. Terima kasih,kalian sudah bekerja keras demi kelancaran pernikahan Safira".
"Kami ikut bahagia nyonya besar, nona muda akhirnya mendapatkan jodoh dari keluarga dan klan yang baik. Semoga bahagia selamanya".
"Kalian benar. Safira akhirnya bisa bahagia. Terima kasih doanya Sardi Suradi".
"Kami ijin untuk melanjutkan pekerjaan nyonya besar".
"Silahkan. Aku juga akan pergi untuk menemui perias pengantin putriku".
Tania berlalu, melanjutkan tugas untuk mengecek kesiapan perias pengantin.
"Hmm harum sekali ruang riasnya". Komentar Tania saat memasuki ruangan dengan cat merah jambu.
"Hormat nyonya besar". Serempak perias dan para asisten memberi hormat pada Tania
"Apakah ada sesuatu yang belum ada disini?".
"Semua sudah lengkap nyonya besar".
"Aku sangat berterima kasih padamu Duku Jambon. Kau mau menerima permintaanku untuk merias putriku".
__ADS_1
"Suatu kehormatan nyonya besar mempercayakan rias pengantin nona muda pada kami".
"Bagaimana dengan keluarga Permata? Bukankah mereka juga mempercayakan rias pengantin padamu?".
"Benar nyonya besar. Waktunya selisih tiga hari, masih ada waktu untuk melakukan persiapan".
"Maaf sudah merepotkanmu".
"Kami sudah menambah personel untuk team tata rias pengantin nyonya besar. Dengan ijin dari uyut Susmita, semua menjadi mudah dan lancar".
"Uyut Susmita". Batinnya
Ia hampir saja melupakan perempuan tua yang masih awet muda diusianya yang kesekian tahun. Mengingat TACENDA mempunyai sejarah berumur panjang, ratusan tahun.
"Aku harus menemuinya". Tekad Tania.
"Lanjutkan kerja kalian. Aku pamit mau meneruskan tugas cek dan ricek".
"Silahkan nyonya besar".
Tania bergegas menuju kediaman uyut Susmita. Hatinya begitu bahagia. Ia sungguh merasa keluarganya diperhatikan dan didukung.
"Hmm udara begitu segar, seperti hatiku". Ujarnya lirih.
"Tania? Kenapa disitu. Ayo masuk". Suara khas uyut Susmita membuat Tania segera menoleh. Senyuman hangat terpancar dari air mukanya.
"Salam uyut Susmita".
"Iya, ayo masuk ke dalam. Kita bicara ditaman saja ya".
"Duduk sayang". Ucap uyut Susmita
"Baik uyut".
"Ada apa? Bukankah kau sibuk mempersiapkan pernikahan putrimu?".
"Iya uyut. Tania kemari untuk mengucapkan terima kasih dari lubuk hati paling dalam atas perhatian uyut pada keluarga kami".
"Sayang, kita ini keluarga. Jadi kau tidak usah sungkan seperti itu".
"Iya uyut. Tania sangat bahagia pernikahan putriku nanti malam didukung dan disaksikan kedua klan".
"Jangan merasa sendirian, sayangku. Kalau kau merasa tidak sreg, bisa dibicarakan baik baik. Tidak perlu emosi. Kami adalah keluargamu. Ingat itu".
"Iya uyut, Tania mengerti . Maafkan perilaku Tania waktu itu. Tania sungguh dalam keadaan terpuruk".
"Lupakan sayang. Yang penting kau sudah menyadari kesalahanmu dan mau berubah. Itu sudah lebih dari cukup".
"Kau harus segera kembali sayang. Waktunya ritual memandikan calon mempelai perempuan. Aku juga akan bersiap kesana bersama uyutmu Pandhu".
"Iya uyut. Tania pamit".
Disepanjang jalan menuju Tirta Agung tempat digelarnya ritual memandikan calon mempelai perempuan secara simbolis, Tania tak henti henti merapal doa untuk kelancaran acara tersebut.
__ADS_1
Tirta Agung hanya air biasa tanpa makna tetapi begitu dijadikan air suci untuk ritual pernikahan,warna air akan berubah dan harum wangi air sesuai dengan kebersihan hati calon mempelai
perempuan. Semakin bersih hati dan perangai maka semakin berwarna warni airnya dan harum yang berbeda beda akan muncul.
Sebagai ibu,Tania tentu menginginkan kebersihan hati dari putrinya dapat terpancar saat ritual yang sebentar lagi akan dimulai. Dengan banyaknya warna air dan harum yang berbeda beda akan membuat seisi kediaman uyut Pandhu berubah bersinar dengan aura paling lembut menenangkan. Hal ini yang paling dibenci Jalmo Peteng dan Pengikutnya karena dapat melemahkan aura gelap milik mereka.
Safira, Tunggul, Mara, Jayendra dan Bening serta beberapa pelayan sudah siap, tinggal menunggu Tania dan keempat uyut untuk melakukan siraman dari ujung rambut ke ujung kaki dengan doa doa keselamatan kemakmuran dan kebahagiaan.
"Maafkan ibu sayang. Uyut Susmita sedang dalam perjalanan kemari bersama uyut Pandhu".
"Safira cemas mencari ibu. Syukurlah ibu datang".
"Ibu tadi dari kediaman uyut Susmita".
"Ibu,apa Mara juga boleh mandi seperti kakak?". Si kecil Mara mulai bertanya.
"Ini untuk kak Safira. Nanti Mara punya ritual mandi seperti bidadari".
"Jadi bidadari juga mandi ya bu".
"Tentu saja sayang, kalau tidak mandi nanti bau".
"Kalau begitu Mara nunggu habis kak Safira".
"Ini baru anak ibu yang cantik".
Jayendra, Bening dan Tunggul hanya bisa tersenyum dikulum. Terlebih Tunggul. Ia terpaksa membalikkan badan karena tidak kuat menahan tawa
"Ayah kenapa? Apa ayah sakit?".
Tunggul segera membalikkan posisi seperti semula. Senyum manis ia persembahkan pada putri bungsunya, supaya tidak ketahuan habis tertawa dalam diam.
"Syukurlah ayah baik baik saja, kalau ayah sakit siapa yang menggantikan ayah menemani kak Safira nanti".
"Mara tahu, paman Suradi. Wajahnya berwibawa seperti ayah, Tunggi besar menjulang dan juga tampaaaan". Ujar Mara lugu.
Tania terkikik. Jayendra dan Bening tertawa lepas.
"Akhirnya lega juga bisa tertawa". Batin Jayendra.
Sementara Tunggul mengerucutkan bibirnya. Bagaimana mungkin diganti Suradi. Sampai kapan pun, tidak ada yang bisa menggantikan posisinya.
"Kok mulut ayah begitu. Apa Mara salah bicara ya?".
"Ayah tidak bisa diganti sayang. Apapun yang terjadi ayah akan mendampingi kakakmu".
"Tadi Mara hanya memberi solusi kalau ayah sakit. Masa ibu dibiarkan sendiri, tidak ada yang menemani. Kan kasihan ibu,yah".
"Kan ada Mara yang menemani ibu". Ucap Tunggul tak mau kalah.
"Tapi kata bik Sumi, Mara tidak boleh duduk didekat kak Safira. Katanya kursi kursi itu khusus untuk orang tua. Kalau anak kecil nakal menduduki akan dikutuk jadi angsa".
Tania menutup mulutnya. Jayendra dan Bening kembali tertawa, sementara Tunggul mengembungkan pipinya
__ADS_1
"Kutukan apa itu. Selain istriku ternyata ada lagi satu orang tukang cerita absurd". Batin Tunggul.