TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
PERTEMUAN 2


__ADS_3

Jayendra meletakkan jambu air ungu bintang lima kedalam keranjang warna putih ungu. Senyum bahagia tak lepas dari wajahnya.


"Tolong kau berikan pada bundamu,Ang. Buah ini bagus untuk kesehatan. Pasti banyak yang dipikirkannya. Buah ini bisa membantunya". Kata Jayendra.


Ang melihat kerajang cantik tempat jambu berada. Calon ayahnya benar benar romantis.


"Tuan, saya...". Belum sempat meneruskan kalimat, Jayendra memotong


"Tolong, jangan panggil tuan.Sebentar lagi kita akan jadi keluarga".


"Iya, tuu....".


"Kau bisa memanggilku apapun asal jangan tuan,Ang. Aku juga tak bisa memaksamu untuk memanggilku seolah olah aku ayah kandungmu. Aku tahu posisi Guntur Peksi akan selalu dihatimu. Dan memang seharusnya seperti itu. Aku sudah menyetujui pernikahan ini artinya bundamu, kau dan adik adikmu adalah keluargaku, tanggung jawabku melindungi kalian dengan nyawaku. Aku mencintai bundamu,Ang. Aku akan berusaha membahagiakannya. Aku adalah Jayendra dengan segala kelebihan dan kekuranganku, tolong jangan kau bandingkan aku dengan mendiang ayahmu karena ayahmu pria terbaik dalam hidup kalian. Aku dan Guntur Peksi adalah pribadi yang berbeda". Panjang lebar Jayendra mengutarakan isi hati.


Ang mengangguk paham. Hatinya lega bukan main setelah mendengar penjelasan calon ayahnya. Hatinya tenang sekarang. Kini tinggal Bulan,Langit dan Shaka. Helaian nafas terdengar.


"Apa yang kau pikirkan,Ang? Apa ada kata kata ku yang tidak berkenan?".


"Tidak Pa". Jawab Ang


"Pa? Kau menanggilku papa,Ang?". Seru Jayendra senang.


"Apa boleh?". Tanya Ang


"Tentu saja boleh, sangat boleh". Buru buru Jayendra menjawab. Bahagia tak terkira mendengar Ang memanggilnya dengan sebutan Papa karena sebelumnya ia cukup tahu diri untuk tidak terlalu berharap anak anak Bening akan memanggil dirinya dengan panggilan yang sama artinya dengan sebutan ayah.


"Ang masih kepikiran Bulan, Langit dan Shaka. Mereka juga harus menikah. Tapi waktu ditanya hanya Shaka yang bilang sudah punya gadis yang dia suka, pa. Ang bingung. Waktu terus berjalan".

__ADS_1


"Tenang Ang,satu satu dulu. Setelah papa dan bunda menikah, kau dulu yang harus memikirkan pernikahanmu". Tutur Jayendra.


Ang menepuk jidat. Ia lupa pada rencana pernikahannya sendiri. Dua nama gadis terngiang ngiang ditelinganya, Safira Asmara dari Klan Purba Ungu dan Permata Idaman dari Klan Purba Putih.


"Pa, apa pernah mendengar nama dua gadis ini". Berceritalah Ang tentang nama dua gadis yang disodorkan uyut Susmita padanya.


"Iya papa tahu dua duanya. Permata Idaman setahu paman dia itu masih kerabat jauh bundamu. Sedangkan Safira Asmara, Canggah perempuannya itu sepupu dari orangtua uyut Pandhu. Jadi dalam dirinya mengalir darah dua Klan". Terang Jayendra


"Menurut papa, siapa yang cocok untuk jadi istrinya Ang?". Polos Ang bertanya membuat Jayendra tersenyum.


"Mengapa tidak kau temui saja dua duanya, paman lihat Permata Idaman diantara rombongan, sedangkan Safira Asmara sudah pasti ikut rombongannya papa" Tutur Jayendra.


"Caranya bagaimana,pa,?". Tanya Ang lugu


Jayendra terkekeh. Lugu sekali anak laki lakinya. Seperti dirinya dulu yang lugu dan tak gerak cepat sehingga kedahuluan Guntur Peksi.


"Tapi kata uyut Susmita, pertemuannya memakai Ilmu Pemanggil Sukma,pa".


"Itu kalau orangnya jauh,Ang. Tapi sekarang ini dua duanya disini, jadi tinggal kau temui. Biar papa nanti yang bilang ya" .


Ang mengiyakan laki laki yang sebentar lagi jadi suami bundanya, papa untuknya dan adik adik. Pembawaannya yang sabar, tenang dan terbuka, membuat Ang seperti bicara dengan mendiang sang ayah.


"Ayo segera persiapkan diri. Nanti bunda mencarimu". Jayendra beranjak dari bawah pohon rindang jambu air ungu bintang lima.


"Baik papa". Kata Ang sambil menjinjing keranjang isi jambu


Keduanya berjalan diiringi obrolan ringan dan senyum cerah.

__ADS_1


Di sebuah kamar di Rumah Dhayoh Utomo, Jaler Sekti menatap dua kotak cantik pemberian kedua uyutnya. Ia meraba jantungnya. Warna merah pipi Delima yang semakin kemerah merahan saat menyambut rombongan masih jelas dipelupuk matanya. Ia memang tertinggal dari rombongan untuk mengecek keamanan. Uyut Pandhu dan uyut Satria sangat hebat dan rapi. Keamanannya tak tersentuh bahkan senyap, takkan ada yang melihat atau mendengar kedatangan para rombongan.


"Gadis itu sungguh jelita, apalagi rona kemerahan pipinya tambah merah saat digoda saudara saudaranya". Ujarnya bermonolog.


"Aku akan belajar mencintai dan menerimanya. Aku dengar dari uyut Susmita dia itu agak keras tapi manja dan kadang masih kekanak kanakan". Batinnya.


"Dan pasti masih polos". Seringai misterius nampak jelas diwajahnya.


"Aku akan menemuinya barang sebentar. Mumpung masih disini. Kalau memakai Ilmu Pemanggil Sukma dari Uyut bagaimana bisa bebas bicara, uyut melihat dan mendengar percakapanku dan dia". Monolognya lagi.


"Kira kira seperti apa ya reaksinya saat bertemu denganku. Pasti menyenangkan bisa membuatnya tersipu malu".Kekehnya.


Jaler Sekti seakan memainkan peran orang lain. Ia tidak menyadari perubahan dirinya.


Apakah sejak bertemu Ang atau sejak awal ia melihat Delima menyambut rombongan tamu. Hatinya penuh wangi bunga seperti hati Shaka. Cinta pada pandangan pertama? Bisa jadi, dan efeknya sangat dahsyat ternyata. Ia senyum senyum sendiri. Untung dikamar ini hanya dia penghuninya. Untung dia tadi mengecek keamanan terlebih dahulu sehingga mendapat kamar agak dibelakang dan sendirian. Tidak bisa dibayangkan kalau harus berbagi kamar dengan orang lain dan melihat sosok Jaler Sekti yang sangat berlawanan dengan sifatnya selama ini.


Terdengar pintu diketuk dari luar. Jaler beranjak dari duduknya lalu berjalan membuka pintu. Seorang perempuan cantik berdiri anggun dengan senyum hangat,sementara dibelakang perempuan itu, sosok menjulang tinggi dengan bibir cemberut melihatnya.


"Ayah, ibu sudah bersiap siap. Jaler belum apa apa. Nanti Jaler menyusul". Ujarnya melihat penampilan keduanya bak ratu dan raja,sangat serasi.


"Apa kau akan menyuruh ibumu berdiri terus didepan pintu?". Suara berat keluar dari mulut laki laki yang dipanggil dengan sebutan ayah.


"Iya iya. Masuk ayah, ibu. Maaf Jaler belum sempat membersihkan tempatnya". Ujarnya


"Tak apa sayang, sebentar lagi akan ada yang mengurusmu. Jangan khawatir". Sang ibu tersenyum lebar. Aura bahagia menguar sehingga pelukan dari belakang oleh sang suami tidak terasa mengganggu. Biasanya ia akan risih jika suaminya berakting manja didepan anak semata wayangnya. Malu katanya.


Jaler melihat kemesraan orang tuanya tanpa berkedip. Jarang jarang ia melihatnya sejak ia memergoki sang ayah mencium mesra ibunya saat berumur lima belas tahun. Berpuluh pertanyaan ia lontarkan hingga membuat ibunya uring uringan pada sang ayah. Sejak saat itu, ibunya selalu siaga satu bila sang ayah mulai mendekatinya. Hal itu membuat sang ayah dengan susah payah membujuknya untuk pura pura tidur siang atau minta tidur ketempat kakek dengan imbalan permen coklat emas yang legendaris enaknya dan tentu saja sangat mahal hingga lama kelamaan Jaler akhirnya bosan sendiri.

__ADS_1


Dengan kesadaran hati, Jaler memberi ruang pada sang ayah untuk bermanja pada ibunya. Diusia remaja, ia belajar dengan cepat, sang ayah tidak akan bisa melakukan apapun dengan fokus saat sang ibu terlalu sibuk dengan pekerjaannya atau sibuk memanjakannya. Ayahnya cinta berat pada ibunya. Hal yang kini sepertinya juga segera menimpanya.


__ADS_2