
Ang dan Permata terdiam, Pikiran dan hati mereka berkecamuk. Sementara Duta dan Dinda menatap keduanya dengan raut wajah gusar.
"Mengapa diam? Kau laki laki. Segera buat keputusan". Suara Duta membuyarkan suasana hening. Ia tentu tidak ingin menunggu lama. Putrinya harus dinikahi oleh putra pertama Guntur Peksi. Titik. Tak ada itu tarik ulur. Tatapan garang membuat Ang menelan ludah kasar.
"Tuan, bolehkah saya bicara empat mata dengan putri anda". Tanya Ang hati hati
Sebelum Duta sempat menjawab, sang istri menggamit tangannya lembut, dan berkata dengan lirih padanya,
"Ijinkan sayang. Biarkan mereka bicara empat mata, kita bisa awasi dari luar".
Duta menarik napas dalam dalam. Pasokan udara seakan akan habis. Kalau saja tidak ada sang istri, Ang pasti sudah tak terbentuk lagi. Stok sabarnya sudah limit.
"Baiklah. Aku beri waktu sepuluh menit Bicara yang penting saja. Pintu biarkan terbuka. Jangan coba coba mengulur waktu atau mempermainkan kami". Ancamnya serius.
Ang menangkupkan tangan tanda hormat . Ia bukanlah laki laki pengecut yang akan lari dari tanggung jawab. Ayah bundanya selalu mengajarkan untuk menjadi laki laki sejati.
Tinggalah Ang dan Permata. Keduanya terdiam beberapa saat Tidak ada yang memulai percakapan.
Dari jauh Duta tampak gelisah. Mata emasnya tak pernah lepas menatap dua anak manusia yang diam membisu.
"Cckk mengapa dia malah diam? Katanya mau bicara?. Kata Duta pada istrinya.
Dinda menatapnya dengan tatapan teduh. Ia sama dengan suaminya hanya saja ia harus bisa setenang mungkin, supaya suaminya tidak panik.
"Biarkan saja sayang. Mereka punya cara sendiri untuk menyelesaikan persoalan".
__ADS_1
"Aku tidak bisa percaya, menyerahkan putri kita padanya.Apa dia bisa membahagiakan Permata kita? Apa dia sayang sama anak kita? Apa dia bisa menafkahi dengan baik? Apa dia laki laki setia? Apa dia bisa melindungi anak kesayangan kita? Apa dia...".
Kalimat Duta terputus saat bibir merah sang istri menyapa. Hmm begitu addicted. Dipandanginya wajah cantik perempuan yang sudah setia menemani hidupnya sejak dua puluh dua tahun lalu.
"Jangan cemas sayang. Kau dulu juga lugu seperti dia, dan aku tidak mempermasalahkan itu. Nanti juga ada waktu saat dia dewasa dan bijaksana. Aku yakin dia laki laki yang baik untuk Permata". Ujar Dinda meyakinkannya.
Duta kembali menatap sang istri Jari tangannya terulur membelai bibir ranum.
"Kau selalu bisa membuatku tenang Cici".
Sementara dari kejahuan dua anak muda beda jenis itu masih setia dengan diam. Permata kesal bukan main. Ang selalu saja seperti ini, padahal dia sendiri yang ingin mengajak bicara empat mata.
"Kau akan diam seperti ini tuan Angkasa?" Tanya Permata. Raut wajahnya seperti langit mendung, begitu kelabu.
Suara Permata menyadarkan Ang dari banyak pikiran di otaknya. Ia tatap wajah gadis yang sudah memporak porandakan perasaannya.
"Cukup kata maafnya tuan Angkasa. Sekarang apa yang ingin tuan katakan pada saya". Permata memotong pembicaraan Ang. Hatinya sudah penat. Otaknya juga perlu istirahat. Ia tak mau terlalu banyak basa basi.
"Bolehkah saya menanyakan hal pribadi pada anda nona Permata?". Ucap Ang sopan
"Silahkan tuan Angkasa".
"Apakah nona keberatan semisal kita menikah, saya jarang pulang?".
"Maaf tuan Ang, kalau boleh saya menjawab. Suami istri itu punya kunci utama, namanya kepercayaan. Kalau tuan tidak pulang pasti ada alasan masuk akal, penting dan bukan main main. Komunikasi yang terjalin dengan baik melahirkan kepercayaan, bukan kecurigaan apalagi tuduhan". Jawab Permata bijak.
__ADS_1
Ang manggut manggut tanda setuju. Respon yang keluar dari bibir Permata membuatnya bisa menilai karakter gadis itu.
" Satu pertanyaan lagi nona. Jika saat menyelamatkan adik saya, anda menjadi janda, apakah nona akan menyalahkan keluarga saya?".
"Tuan, saat anda menikahi saya, kita menjadi keluarga. Saya bukan lagi Permata, melainkan istri anda dan kakak dari adik adik anda. Bagaimana mungkin saya menyalahkan keluarga sendiri. Hidup mati itu sudah ada garisnya, jadi tidak perlu menyalahkan siapapun" Ujarnya lembut.
Ang terkesima. Gadis dihadapannya ini masih muda, usianya sekitar sembilan belas tahun tapi pola pikirnya sudah matang. Ada ketulusan saat ia menjawab pertanyaan. Hatinya lega sekali. Ia bisa menjadi kakak buat adik adiknya, baik saat ia ada ataupun tidak. Kecemasan tidak bisa mendampingi adik adiknya hingga menua kelak sirna setelah Permata menjawab pertanyaan dengan begitu sempurna.Ang bisa pergi dengan tenang kelak jika hal terburuk datang, yaitu berperang melawan Jalmo Peteng beserta para pengikutnya.
"Jawaban anda sungguh menenangkan hati saya nona. Anda gadis istimewa yang di punyai Klan Purba Putih. Senang bisa mengenal anda lebih dekat". Ucap Ang sambil mengulurkan tangan.
Gayungpun tersambut, Permata membalas uluran tangan Ang. Pipi gadis itu merona cantik sekali. Telapak tangan halus dan lembut, membuat Ang enggan melepaskan.
Dari kejahuan, Duta yang melihat pemandangan seperti itu tanpa pikir panjang langsung bergegas ingin menerjang Ang. Kurang ajar sekali laki laki itu, berani menjabat tangan putrinya, dan sepertinya enggan untuk melepaskan.
"Sayang, jangan mengacaukan suasana". Peringat Dinda sambil mengejar Duta. Suami tercinta ini, memang seperti ini bawaannya. Dinda harus ekstra sabar menghadapi.
"Biar aku hajar dia. Berani beraninya berlaku seperti itu pada putri kita". Nafas Duta menderu. Ia kesal sekali. Apa anak Guntur Peksi itu tidak melihat keberadaan dia dan istri tercinta. Benar benar mirip ayahnya.
"Buah memang jatuh tak jauh dari pohon, perilakunya mengingatkan aku saat Guntur mendekati Bening. Jelas jelas Jayendra yang punya kesempatan besar karena lebih sering bertandang dan punya waktu bersama, tapi Guntur dengan gerak cepat langsung mendatangi orang tua Bening untuk melamar gadis itu. Orang tua Bening mengiyakan begitu saja karena tahu siapa laki laki yang melamar putri mereka. Berita pun tersebar begitu cepat, mengejutkan Jayendra dan mungkin Bening juga bereaksi sama. Guntur dengan cepat dapat mengambil hati Bening. Luar biasa". Gumam Duta mengingat perilaku kontroversial cucu buyut Pandhu. Langkah Guntur ini kemudian ditiru olehnya saat mengejar Dinda.
"Apa yang kau pikirkan sayang?". Tanya Dinda
Duta tersenyum, ingatan mengejar Dinda menari nari didepan mata. Betapa ia membuat gadis itu ketakutan setengah mati sampai pingsan karena ia seperti orang kesetanan saat menginginkan gadis itu untuk dipersunting olehnya. Ia bahkan nekat mencuri ciuman beberapa kali hingga terdengar sampai ketelinga kedua orang tua Dinda. Wajah berseri seri bahagia bukan kepalang saat mendengar ayah Dinda menyuruh untuk menikahi putrinya. Tiga hari setelah dipanggil ayah Dinda, ia dan keluarga resmi melamar gadis pujaan. Semakin berani dan terang terangan memegang tangan Dinda, lalu mencium lama, memeluk dari bekakang hingga pada suatu hari calon ibu mertua menjewer telinganya karena kedapatan mengelus lembut pipi anak gadisnya. Pernikahanpun dengan cepat digelar, membuat hati Duta layaknya bunga bunga yang bermekaran.
"Kau teringat masa mudamu, sayang? Kau sangat nakal waktu itu. Tuan Angkasa bukan tandinganmu". Tutur Dinda santai
__ADS_1
Duta salah tingkah. Ia meraba tengkuknya dengan muka seperti kepiting kena minyak panas.
.