TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
AKHIRNYA TERKUAK


__ADS_3

Elang tak kalah garang membalas ucapan Jayendra.


"Kau merasa tak bersalah hah! lalu bagaimana dengan perasaan Safira saat tahu kebenarannya".


Jayendra terdiam, ia seperti baru sadar dari siuman, lalu secepat kilat terbang meninggalkan Elang.


"Jangan melarikan diri Jayendra. Jangan jadi pengecut". Elang mengutuk Jayendra, lalu melesat menyusulnya.


Di ruang utama Dhayoh Utomo, Safira terlihat cantik dengan gaun kebesaran Klan Purba Putih. Rambutnya digelung sederhana dengan Tiara bertahtakan ruby yang cantik.


Tania memandang putrinya dengan senyum lebar. Ia begitu optimis siasatnya akan berhasil. Dielus lembut tangan sang anak dan berkata,


"Kau sangat cantik, sayangku. Ibu yakin Angkasa Biru pasti akan semakiln menyukaimu".


"Benarkah begitu ibu? Safira tidak sabar ingin segera bertemu". Ucapnya malu malu.


Seorang pelayan muda menghampiri ibu dan anak yang sedang asyik berbincang. Dengan hormat ia menyampaikan kalau tuan Jayendra datang ingin bertemu.


"Tolong persilahkan masuk". Kata Tania


Pelayan muda itu mengangguk hormat lalu berlalu dari hadapannya. Tak lama kemudian Jayendra datang dengan muka merah padam.


"Silahkan duduk, Jayendra". Kata Tania mempersilahkan keluarga sedarah dari pihak suami.


"Paman Jayendra, salam Safira haturkan". Ujarnya sambil mencium tangan Jayendra.


Kemarahan Jayendra berkurang kala menatap wajah perempuan yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


"Kau baik baik saja, Safira?". Tanyanya lembut. Rasa sayangnya pada Safira membuat ia begitu mengkhawatirkan keadaan putri Tunggul Amarta itu.


"Berkat doa paman, Safira dalam keadaan baik". Balasnya sopan.


"Syukurlah kalau begitu". Ujarnya.


Ia lalu menatap Tania dan berkata,


"Panggilkan Tunggul Amarta. Aku ingin bicara dengannya"


"Ada apa dengan suamiku, Jayendra? Apa ada hal penting yang ingin kau katakan?". Tania mulai mencium aroma ketidak beresan.


"Tolong panggilkan. Ini hal penting". Katanya mengulang pertanyaan.


Tania dilanda kecemasan. Perasaan mendadak tak tenang. Dengan langkah gontai, ia berjalan menemui suaminya.

__ADS_1


Tunggul Amarta terlihat sedang terlibat percakapan ringan dengan keluarga Klan Purba Ungu. Saat ia melihat kedatangan istrinya dengan wajah memucat, buru buru ia berdiri, lalu menghampiri. Diraihnya pundak sang istri, lalu dituntun masuk kamar.


"Duduklah adindaku sayang. Apa kau sedang tak enak badan hmm?". Katanya penuh perhatian.


"Aku...". Tania tak bisa melanjutkan perkataan. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Air mata mengalir deras. Ia bisa membayangkan kekecewaan dan juga kemarahan Tunggul Amarta.


"Ada apa? Apa aku melakukan suatu kesalahan?". Tanyanya pelan.


Tania semakin terisak. Dadanya mulai sesak.


"Tenangkan hatimu adindaku sayang. Jangan takut, aku selalu ada disisimu". Ucap Tunggul memberi semangat.


Tania menatap laki laki yang sangat dicintainya ini. Bola mata warna coklat tua yang indah mencari cari kesungguhan kata yang baru saja terucap.


"Aku hanya ingin anak kita bahagia. Aku tidak bermaksud apa apa. Jika kau marah padaku kanda, aku terima. Tapi tolong jangan pernah mendiamkanku atau menghindariku". Ujarnya sesenggukan.


Tunggul Amarta menatap netra yang membuatnya tak betah berjahuan. Ia menangkup wajah sang istri dan berkata,


"Katakan adindaku sayang. Aku mendengarkan apapun perkataan yang keluar dari bibirmu".


Maka meluncurlah kata demi kata yang diselingi air mata dan raut sedih. Tunggul Amarta mengambil nafas dalam dalam.


"Kau disini saja, biarkan aku menemui Jayendra". Ucapnya tegas.


Dilihatnya Jayendra duduk dengan posisi gelisah. Begitu Tunggul terlihat, ia segera berdiri.


Safira sudah diusir dengan halus oleh Jayendra. Ia meminta gadis cantik itu untuk membuatkan minuman dan makanan kesukaannya.


"Kita pergi ke Hutan Kecil Asri saja, biar leluasa bicara". Kata Tunggul Amarta. Tanpa menunggu persetujuan Jayendra, laki laki beranak dua itu segera melangkah pergi.


Jayendra mengikuti dari belakang. Suasana terlihat canggung dan sunyi. Tak ada yang memulai pembicaraan. Ini pertama kali selama puluhan tahun keduanya saling mengenal.


Tunggul Amarta segera menggunakan Ilmu Meringankan Tubuh Tingkat Tiga setelah keluar dari gerbang utama kediaman uyut Pandhu. Jayendrapun segera melesat di belakang Tunggul.


Sementara Elang gagal menyusul Jayendra saat laki laki itu melesat meninggalkan dirinya. Uyut Pelangi berkacak pinggang, menghalangi jalan. Elang menundukkan kepala, wajahnya terlihat masam.


"Kenapa? Apa kau bersekeras menyusul Jayendra? Apa kau ingin membuat keributan disini? Jika kau sangat marah dengan Jayendra, aku memaklumi karena kau hanya memandang separo dari keseluruhan cerita". Uyut Pelangi menatap cucu keponakannya itu.


"Apa maksud uyut dengan separo cerita? Adakah yang terlewat dari penglihatan Elang?". Tanyanya penasaran.


"Tentu saja, kau sembrono. Kenapa kau langsung menuduh Jayendra? Bukankah kau bisa bertanya baik baik padanya?". Uyut Pelangi terlihat kesal.


Apa jadinya kalau Jayendra tidak bisa menahan diri, lalu terjadi perkelahian, sementara ia adalah calon mempelai yang tinggal menunggu detik detik menuju sah. Apa kata para keluarga yang hadir kalau melihat wajahnya biru biru bekas baku hantam dengan Elang Raja. Bagaimana perasaan Bening dan anak anaknya saat mengetahui calon ayah mereka habis berkelahi dengan kondisi seperti itu. Uyut Pelangi sangat paham kekuatan Elang dan juga watak yang temperamental sementara Jayendra akan cenderung mengalah, apalagi mereka masuk keluarga besar Klan Purba Putih dan Klan Purba Ungu.

__ADS_1


"Apa uyut membela Jayendra karena sama sama satu Klan Purba Ungu?". Tanya Elang dengan nada tak suka.


"Kau berani sekali menuduhku? Kau dan Jayendra itu sama di mataku. Kalian berdua adalah penerus Klan besar". Mata uyut Pelangi memerah. Ia tak menyangka Elang akan bicara sejauh itu.


"Lalu apa yang tak Elang ketahui tentang hal ini?".


"Jayendra tak mengetahui jika bunga cantik abadi telah hadir. Aku dan Susmita sudah memberi tahu pada Tunggul Amarta dan Tania Mutiara kalau putrinya Safira bukan jodohnya Ang. Seharusnya setelah mengetahui hal itu, mereka tahu benar apa yang seharusnya mereka lakukan, meskipun hal itu berarti mengubur dalam dalam mimpi gadis malang itu.


"Itu artinya orang tua Safira dalang semua ini". Elang dengan cepat memberikan kesimpulan.


"Elang, dengarkan uyutmu ini, jangan terlalu gegabah menyimpulkan. Perhatikan baik baik yang uyut katakan ini".


Mengalirlah cerita dari mulut uyut tentang Tania, seorang ibu yang memilih jalan salah untuk membahagiakan putrinya.


"Maafkanlah perilaku Tania. Ia begitu berharap keajaiban seperti Bening yang menikah dengan kakakmu dan bukan dengan Jayendra".


Emosi dan amarah Elang perlahan menyusut. Ia menatap uyut Pelangi dengan perasaan bersalah.


"Maafkan Elang Uyut. Elang salah sudah berburuk sangka". Ujarnya bersimpuh.


Cepat cepat uyut Pelangi meraih pundak Elang, lalu berkata,


"Berdirilah, aku tak menyalahkanmu. Aku tahu berat bagimu menerima pernikahan Bening, tapi percayalah ini semua demi kebaikan bersama. Bening juga sudah ikhlas melakukannya" .


"Uyut tahu aku tak begitu menyukai pernikahan ini. Ang bahkan sudah memanggil Jayendra dengan panggilan Papa". Hati Elang kembali kesal saat ingat hal itu.


Uyut Pelangi tertawa geli. Elang memang seperti ini wataknya. Blak blakan tanpa teding aling aling.


"Ayo duduk disana". Uyut Pelangi menunjuk bangku kosong dibawah pohon rindang.


Elang duduk menyamping. Uyut Pelangi menggenggam erat tangannya dan berucap,


"Sayang, kau harus belajar mengendalikan emosi. Kelak kau juga akan menua sepertiku. Kau harus bijak dalam menangani permasalahan. Jangan sampai kau menyesalinya karena kurang informasi atau terlalu gegabah". Lembut uyut Pelangi menasehati Elang.


"Iya, uyut. Elang akan belajar. Elang tadi sempat terbawa emosi". Sesalnya.


"Ya sudah. Ayo segera bersiap ke pernikahan Bening. Kasihan dia, mempelai lakinya belum datang karena sedang ada urusan".


"Apa Jayendra dan Tunggul akan baik baik saja, uyut?"


"Tentu. Uyut percaya mereka berdua bisa menyelesaikan permasalahan dengan bijak".


Elang mengangguk.Berjalan beriringan dengan uyut Pelangi.

__ADS_1


Sedang di kamar peristirahatan Kamulyan Sare, uyut Satria kebingunan mencari sang istri.


__ADS_2