TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
MENJALANKAN RENCANA


__ADS_3

"Sayang jangan seperti ini. Kau sudah besar". Bening mengusap pipi Delima. Gadis itu masih sesenggukan.


"Besuk bunda menikah. Tak boleh ada airmata seperti ini. Semua harus gembira". Tegas Bening bicara.


"Semua harus berjalan sesuai rencana. Tak boleh gagal atau TACENDA hanya tinggal nama" Bening menatap netra semua anaknya. Saat manik matanya bertemu dengan mata Delima. Sang gadis kembali menangis.


"Bundaaaa...Delima ganti calon suami. Delima ogah sama mereka".Rengeknya.


Suara cekikan terdengar diantara saudara saudaranya yang membekap mulut.


"Kalian..jangan seperti itu.Bunda tidak suka". Tatapan tajam menghujam ditujukan pada anak anaknya .


"Iya bunda, maap. Habis kak Del absurd ngomongnya. Masak ganti calon suami, kayak beli kue kijing." Kata Langit tanpa melepas tangan untuk menutup mulut usilnya


"Sayang yang terbaik itu mereka. Kalau kau menikah dengan yang lain, bagaimana kau bisa melindungi dirimu dan keluarga. Selain itu Mahkota Ibu Suri saat bulan purnama nanti lepas dari tanganmu kalau kau tak lekas bergerak cepat". Panjang lebar Bening berkata membuat hati Delima semakin gundah. Ini tidak mungkin lupa, Mahkota Ibu Suri sudah pasti lepas jika dia diam saja.


"Delima paham bunda. Delima cuma...


" Tertahan kalimat yang ingin terucap


"Niatmu harus besar sayang dan tidak boleh goyah kecuali kau memang ingin lepas tanggung jawab. Bunda takkan lagi ikut campur". Tegas Bening.


Delima menunduk, ia seorang TACENDA pantang menjadi pengecut. Dengan sekali tarikan nafas ia menjawab


"Delima bersedia bunda".


"Ang juga bunda'.


"Shaka juga'.


Langit dan Bulan saling lirik. Tangan Langit menggamit tangan kakaknya seolah minta dukungan.


"Kau ingin lepas tanggung jawab, sayang". Dingin suara Bening terdengar membuat hati keduanya menciut".


"Bukan bunda tapi Langit punya penyakit"


"Penyakit?" Seru mereka serempak. Nampak wajah risau Bening dan dua uyutnya.


"Iya, dan parah". Ujar Langit


"Apa yang kau rasakan sayang. Kenapa tak bilang sama bunda".


"Langit malu bunda.Itu masalah sangat pribadi". Kata Langit malu malu

__ADS_1


"Kalau kau simpan sendiri kau akan menderita. Ayo bilang sama bunda".


"Tapi jangan disini bunda".


Bening menarik lembut tangan Langit, dibawanya di pojokan dekat tangga


"Nah sekarang cerita sama bunda"


Langit mengangguk ragu. Mulutnya terbuka lalu tertutup lagi membuat Bening jadi gemas sendiri.


"Ayo sayang jangan takut. Ada bunda disini'.


"Iya bunda, Langit akan cerita". Mengambil rakus udara sekitar untuk bernafas, Langit memulai ceritanya.


Hari itu Langit menyambangi Danau Pelangj. Sehabis hujan warnanya cantik sekali.


Tanpa sadar waktu hampir malam. Ia masih asyik menikmati pemandangan alam.


"Hai...sendirian saja?" Sapa seorang perempuan seusia kakaknya Delima".


Langit menoleh. Lalu cuek kembali tenggelam dalam dunianya.


"Ih...sombong sekali mentang mentang ganteng". Raut wajah kesal terlihat dari perempuan yang memiliki tahi lalat dibawah bibir kanan. Kulitnya yang coklat sangat kontras dengan warna matanya yang ungu.


Ratri Ungu nama gadis dari Klan Purba Biru. Klan yang kadang membuatnya merasa tersisih karena bola matanya yang ungu. Banyak yang merundungnya untuk pindah Klan Purba Ungu, dan jawabannya langsung membungkam mulut mulut receh itu.


Orang orang dari Klan Purba Biru langsung ramai membicarakannya hingga hal itu sampai ditelinga Ketua Klan Purba Biru ,Nyai Kemuning Wasesa, perempuan tua dengan usia hampir dua ratus tahun. Masih terlihat segar dengan badan tinggi semampai dan kulit coklat eksotik.


"Apa kau sungguh ingin pindah klan, Ratri Ungu?". Wajah Nyai Kemuning terlihat gusar


Ratri Ungu dengan cepat mengangguk. Kedua orang tuanya sampai melototkan mata


"Ratri, jaga tingkahmu dan juga mulutmu. Kau tahu apa hukuman pengikut klan yang tidak setia". Suara Juwana Eka menggelegar. Ratri adalah anak perempuan satu satunya, buyut Nyai Kemuning. Sementara ibunya menangis sesenggukan.


"Hmm...ibu sebaiknya kita tanya apa alasan Ratri mau pindah klan". Murti Dewangga,sang kakek mencoba menengahi.


Nyai Kemuning Wasesa mengangguk setuju.


"Sayangnya kakek, coba cerita kenapa ingin pindah klan? Apa ada yang meyuruhmu atau memaksamu?' Tanya kakek Murti dengan hati hati.


Ratri Ungu yang cemberut menatap kakek kesayangan, lalu berkata


"Ratri kesal kek, tiap hari ada saja yang mengolok olok Ratri dari Klan Purba Ungu karena warna mata Ratri. Sekalian saja Ratri tanggapi".

__ADS_1


Murti Dewangga menghelai nafas panjang


"Ndak bisa seperti itu sayang. Kau akan dapat hukuman berat". Ujar sang kakek


Ratrii Ungu senyum malu malu membuat para orang tua saling pandang.


"Sayang jangan buat ibu khawatir. Sadar sayang, ini tidak benar. Segera minta maaf pada nenek buyut". Sang ibu menyentuh pipinya dengan lembut.


Ratri melirik nenek buyutnya yang menatap tajam padanya.


"Uyut jangan pandangi Ratri seperti itu. Sereeem".


"Ratriiii". Suara sang ayah kembali terdengar lantang


Ratri dan sang ayah punya watak yang hampir sama. Keras dan out of the box.


"Ratri akan meninggalkan Klan Purba Biru. Ratri akan ikut suami dari Klan Purba Putih". Suaranya begitu jelas tanpa ragu ataupun takut.


Para orang tua terdiam. Mereka seperti patung untuk beberapa saat.


" Tuuh kan, Ratri bilang apa. Semua terdiam. Pilihan Ratri memang juara". Gadis pemilik Ilmu Merubah Warna itu membanggakan diri.


Jingga Hati sang ibu sampai hampir pingsan, untung Juwana Eka sang suami langsung menggapai tubuh mungil istrinya.


"Sayang, siapa namanya? Apa kami mengenalnya". Suara sang ibu membuat Ratri kembali melembut.


"Tentu. Dia itu buyutnya Kakek buyut Pandhu.Namanya Langit Putih. Ratri diam diam sudah mengamati lumayan lama. Ia sering datang ke Danau Pelangi, memandang pemandangan alam lama sekali, ndak bosan bosan". Ratri bercerita dengan rona merah di pipi.


Lagi lagi para orang tua terdiam, lalu terdengar tawa dari Nyai Kemuning Wasesa. Kenangan manis bersama almarhum suaminya kembali melintas. Rasanya seperti kemarin sore. Ia melakukan hal sama seperti yang dilakukan buyutnya, menguntit laki laki yang disukai bahkan ia lebih parah, melamar sang pujaan tanpa pikir panjang, membuat keluarga besarnya kelimpungan. Pernikahan bagaimanapun harus terjadi karena nama baik taruhannya. Mau ditaruh dimana muka Klan Purba Biru jika terjadi penolakan.


"Ratri kalau kau memang menyukainya, buyutmu akan membicarakan hal ini pada ketua Klan Purba Putih". Nyai Kemuning Wasesa berkata bijak. Tentu ia tidak ingin Ratri meniru dirinya.


Ratri tersenyum mengingat perkataan uyut Kemuning. Ia memandang laki laki muda yang masih asyik menikmati pemandangan alam tanpa mempedulikan keberadaannya.


"Calon suami itu wajib manis sama calon istri. Tidak boleh sadis seperti ini". Ratri Ungu membuka percakapan lagi.


Langit mendengus. Perempuan pengganggu ini sangat menyebalkan. Ia segera beranjak pergi namun langkahnya terhenti saat tangan halus dan lembut menarik tangannya.


Langit kaku, tubuhnya secara tiba tiba sulit digerakkan.


"Benar kan, kau memang jodohku. Lihat,kau berhenti tanpa aku harus merengek rengek padamu".Ratri mengerjap lucu


Langit mengutuk dirinya sendiri, mengapa tubuhnya jadi seperti ini. Ia menjadi takut Bagaimana kalau gadis ini bukan gadis baik baik dan punya niat jahat padanya. Keringat dingin menetes dan dengan sigap gadis itu menghapus dengan telunjuknya.

__ADS_1


Tubuh langit menegang, Ia kemudian berteriak memanggil bundanya.


Bening menghelai nafas mendengar cerita Langit, sementara itu saudara saudaranya sudah dari tadi menahan tawa. Langit dan bunda lupa, keluarga mereka punya ilmu Talingan Mireng, yang bisa mendengar suara dari jarak jauh.


__ADS_2