
Tunggul dan Tania pergi melangkah dengan tenang. Mereka bergandengan tangan erat. Campuran rasa marah, kesal hilang begitu saja berganti harapan indah masa depan sang putri.
Cakra Dewa mengekor dibelakang
Pikirannya melayang pada pembicaraan Safira dan seorang pelayan tua saat ia menyamar di Dhayoh Utomo. Waktu itu ia hendak mengambil selada air di kebun belakang Dhayoh Utomo, saat melintas di lorong khusus pelayan, ia melihat Safira duduk manis dengan rambut tergerai di sebuah bangku sederhana ditemani seorang pelayan tua. Mereka asyik bercengkrama, sementara si pelayan tua dengan cekatan mengoleskan wewangian untuk rambut. Harum wanginya tercium oleh hidung mancung Cakra Dewa.
"Mungkin ini yang terbaik buat Safira, bik Sumi. Safira ingin menenangkan diri, intropeksi diri. Dan bila memungkinkan Safira ingin pergi ke Gunung Panguripan. Disana sunyi, tempat yang sangat bagus untuk membersihkan hati". Ujarnya pelan.
"Tapi kenapa harus di Gunung Panguripan, ndoro ayu Safira. Tempatnya terlalu jauh. Kenapa tidak di Pegunungan Sebaris.Tempatnya juga tenang dan sejuk". Usul bik Sumi
"Safira bukan mau senang senang bik. Di Pegunungan Sebaris yang ada nanti Safira akan tergoda karena pemandangan alam, bunga bunga dan juga makanan"
"Ya jangan ditempat melancongnya ndoro ayu Safira, tapi di pegunungan sebaris yang sebelah utara. Tidak ada yang kesana kecuali para TACENDA yang ingin menenangkan diri"
"Tapi Gunung Panguripan lebih bagus bik Sumi".
"Apa ndoro ayu Safira mau jadi pertapa?"
Cakra Dewa tersentak dari pikirannya yang melayang layang. Ia baru tersadar jika Safira ingin pergi. Tapi kapan? Sekarang ataukah setelah perhelatan ini usai?
"Apa Safira berani melihat pernikahan Ang? Aku rasa tidak. Lalu, apakah ia tetap akan tinggal, sementara laki laki yang dicintai naik ke pelaminan dengan perempuan lain". Monolognya dalam hati.
"Apakah itu artinya dia akan pergi saat pernikahan Ang berlangsung atau bahkan sebelumnya". Gumam lirih terdengar oleh Tunggul.
"Kau bicara dengan siapa tuan Cakra?"
"Eh...anu saya mengkhawatirkan Safira tuan. Saya takut dia nekat pergi". Ujar Cakra gugup.
"Pergi?" Ujar Tunggul dan Tania bersamaan.
"Kanda, bagaimana ini. Aku tidak mau terjadi apa apa dengan putri kita". Tania terlihat cemas. Ia meremas tangan suaminya.
"Ayo kita kesana secepatnya". Ucap Tunggul. Ia berlari dengan meringankan tubuh tingkat tujuh sambil menggenggam erat tangan istrinya.
__ADS_1
"Cckk kenapa aku ditinggal. Kan aku yang memberi tahu tentang Safira". Geritu Cakra. Ia kemudian menyusul dengan menggunakan Ilmu Kidang Sewu yang bisa berlari laksana kijang seribu.
Sedangkan di Dhayoh Utomo, Safira dan bik Sumi sudah meninggalkan tempat itu beberapa waktu yang lalu. Mereka berdua berangkat di Pegunungan Sebaris sesuai usulan bik Sumi. Kedua perempuan beda umur itu pergi dengan menyamar sebagai laki laki.
"Ingat ndoro ayu Safira, suara harus dibesarkan. Jalan harus gagah seperti laki laki". Kata bik Sumi mengingatkan.
"Dan satu lagi, jangan panggil aku ndoro ayu Safira bik. Panggil aku Biru Rupo". Ucap Safira mengingatkan.
"Baik ndoro...eh Biru Rupo". Kekeh bik Sumi.
"Bik, tolong pegang tangan erat erat. Safira akan menggunakan ilmu Kuda Terbang".
Bik Sumi segera menggenggam erat tangan kanan Safira. Ilmu Kuda Terbang membuat si empunya berlari lakasana kuda terbang. Begitu cepat dan dahsyat.
Sementara itu saat Tunggul, Tania dan Cakra tiba di Dhayoh Utomo, seorang pelayan dengan langkah tergopoh gopoh memberi tahu kalau kamar Safira kosong. Si pelayan mengatakan kalau sudah mencari kemana mana tapi tidak ketemu.
Air mata Tania langsung jatuh menganak sungai, Ia kemudian tak sadarkan diri. Tunggul dengan sigap meraih tubuh sang istri, lalu di bawa ke kamar mereka.
Ia kemudian mendatangi seorang penjaga dan menitipkan pesan untuk Tunggul Amarta.
Hati dan pikiran Cakra Dewa berkecamuk, ia segera melesat keluar dari kediaman uyut Pandhu untuk menyusul Safira. Ia berharap gadis itu belum terlalu jauh pergi.
Di dalam sebuah kamar tempat menginap Tunggul dan sang istri, perempuan dua anak itu masih pingsan. Tunggul menepuk lembut pipinya dengan menyalurkan hawa murni. Tak berapa lama sang istri tersadar. Kata pertama yang terucap adalah nama putri pertamanya.
"Safira kanda, temukan dia. Bagaimana bisa aku hidup tanpanya".
"Tenang adindaku sayang, Cakra Dewa sudah menyusul putri kita. Aku yakin dia akan segera membawa Safira ke pangkuan kita".
"Kanda ini bagaimana sih. Anak sendiri hilang, kenapa menyuruh orang lain. Kalau keberatan mencari, biar aku yang pergi". Suara Tania seperti semburan cabe level dua puluh, terdengar memerahkan telinga Tunggul.
"Apa kau tidak mempercayaiku? Apa menurutmu aku memang tidak peduli pada putriku sendiri?" Cecar Tunggul pada istrinya.
"Maksudku kanda, segeralah mencari. Mengapa masih disini?"
__ADS_1
"Apa kau lupa pembicaraan kita dengan uyut Satria dan uyut Pelangi tentang pertemuan bersama, membahas perjodohan ulang putri kita dengan Cakra Dewa?"
Tunggul menghirup dalam dalam udara. Pasokan kesabarannya menipis. Istrimu mulai bermulut pedas.
"Aku tidak mau mereka menunggu kepulanganku. Pertemuan ini sangat menentukan masa depan putri kita. Aku juga sudah mengutus Sardi dan Suradi untuk membantu Cakra Dewa.Selain itu kalau benar laki laki itu meyukai Safira, ia pasti akan membuktikan janjinya padaku kalau ia akan membawa pulang putri kita".
Tania terdiam. Ia jadi merasa bersalah pada laki laki, ayah dari dua anak perempuannya.
"Maafkan Tania, kanda. Tania asal bicara tadi". Ucapnya menunduk.
Tunggul membelai mesra rambut istrinya. Di tangkup pipi mulus lalu di cium lembut kening yang tiap pagi menjadi sasaran bibirnya.
Tania merona. Meski sudah dua puluh dua tahun mengarungi bahtera rumah tangga, toh tetap saja ia tersipu malu saat sang suami bersikap mesra seperti ini.
"Adindaku sayang, jangan meragukanku lagi. Hatiku sakit jika kau bersikap seperti tadi". Mode merajuk on. Kalau sudah seperti ini, gantian Tania yang kelabakan.
"Iya kanda, maafkan Tania ya"
Ujarnya pelan.
"Iya baiklah. Ayo kita berdua berdoa supaya putri kita segera kembali" Tutur Tunggul.
Mereka menengadahkan kedua tangan keatas lalu mulailah doa doa keselamatan dan kebahagian mereka panjatkan untuk putri tercinta.
Sementara itu, Safira terpaksa berhenti setelah menggunakan ilmu Kuda Terbang karena bik Sumi badannya sudah gemetaran, maklum karena dia bukan TACENDA unggul sehingga reaksi tubuh dan faktor usia menjadi alasan mereka berdua untuk beristirahat sejenak.
"Ndoro...eh Biru Rupo apa bik Sun..eh maksudnya Marto boleh minum? Tenggorakan sudah kering sekali".
"Silahkan Marto, tapi jangan banyak banyak, kita harus hemat air sampai nanti di Sendang Resik ". Kata Safira mengingatkan ketersediaan air yang dibawa.
"Siap, ndoro Biru Rupo"
"Tanpa ndoro bik". Bisik
__ADS_1