TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
SIXTH STEP: PREPARATION FOR WEDDING PARTY


__ADS_3

"Ayah juga keberatan?". Tatap Safira sedih


Tunggul tersenyum lebar, ia hampir saja terbahak jika tak melihat Tania yang melotot. Putrinya benar benar lugu.


"Tentu tidak sayang, asal Cakra setuju, ayah akan dukung". Akhirnya keluar juga jawaban yang ditunggu tunggu.


Tania bernafas lega. Ia tidak ingin Safira bermuram durja dihari pernikahannya. Dilihatnya sang gadis tersenyum berseri seri memeluk ayahnya.


"Ayah memang the best". Ujar Safira mengacungkan dua jempol.


Tunggul hanya bisa tertawa kecil. Ia masih ngeri melihat pelototan istrinya.


"Apakah fitting baju sudah selesai, sayang?" Tanya Tunggul.


"Sudah ayah, lihat warna hijau dan tiaranya, cantik bukan?". Safira memutar tubuhnya yang diangguki Tunggul dengan mengangkat dua jempolnya.


"Kalau sudah selesai kita lanjutkan untuk bunga untuk mandi mempelai. Apa sudah kau siapkan sayang?". Tunggul menoleh ke istrinya.


"Sudah diurus bik Sumi, kanda".


Pintu diketuk seorang pelayan. Ia memberitahu jika keluarga Jayendra Ningrat ingin bertemu.


Tunggul menatap istri dan anak perempuannya yang mendapat respon anggukan dari Tania


"Aku akan temui. Sampaikan pada tuan Jayendra untuk menunggu". Kata Tunggul pada si pelayan yang kemudian dengan hormat ia ijin undur diri.


"Ayo kanda kita temui mereka". Ujar Tania mantab sambil menggandeng Safira


Mereka bertiga berjalan keluar kamar menuju ruang tamu tempat keluarga Jayendra menunggu.


Dari ruang tamu Ang sedikit gelisah. Ia ditenangkan oleh bundanya.


"Jangan gugup Ang. Niat kita baik. Tenang saja". Ujar Bening sambil menggenggam tangan putra sulungnya erat .

__ADS_1


"Iya bunda. Ang paham".


"Nah itu Keluarga Tunggul datang" . Ucap Jayendra sambil berdiri, bersiap menyambut keluarga satu klan diikuti Bening dan Ang.


Keluarga Tunggul begitu akrab dengan Jayendra, apalagi Safira yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri.


"Silahkan duduk". Tunggul mempersilahkan tamunya. Keluarga Jayendra lalu duduk di kursi yang terbuat dari kayu Jati Alas yang berasal dari dimensi terbatas dengan ukiran bunga melati dan burung merak yang sangat menawan


"Kedatanganku, istri dan putraku kemari untuk minta maaf Tunggul. Maafkan aku, sebagai papanya Ang, aku belum bisa mendidiknya dengan baik". Tutur Jayendra berterus terang.


Tunggul menghelai nafas. Kisah asmara putra putri mereka memang sangat singkat.Tapi takdir begitu baik berpihak pada Safira putrinya yang segera mendapatkan pengganti.


"Iya. Aku terima. Putramu memang bukan jodoh putriku". Ucap Tunggul


"Paman, Ang minta maaf sudah membuat keluarga paman berada dalam situasi tidak mengenakkan. Ang juga minta maaf kepada Safira karena sudah lancang bermulut manis".


"Sampai membuat putriku pergi". Sahut Tania sengit.


"Adindaku sayang, jangan seperti ini". Tunggul berkata dengan gelengan pelan meminta pengertian istrinya.


Ang menundukkan wajah. Ia tahu semua ini memang salahnya. Ia yang baru pertama kali mengenal cinta dan lawan jenis tak bisa mengendalikan jiwa mudanya sehingga begitu mudah tergoda dan tak mengenali jodoh sejatinya.


"Putraku bersalah Tania. Aku selaku bundanya Ang minta maaf jika membuat semuanya menjadi diluar kendali". Bening dengan anggun berbicara pada Tania.


Sebagai seorang ibu,ia tentu dapat memahami perasaan Tania saat sang anak harus berlapang dada menerima kenyataan pahit yang harus dijalani.


Bening menatap Safira dengan mata teduhnya. Gadis cantik itu tersipu malu.


"Maafkan Ang sayang. Dia masih muda dan ceroboh".


"Iya tante, sudah Safira maafkan dan juga lupakan". Ucapnya pelan.


"Safira sudah mendapat pengganti yang layak". Ucap Tania ketus

__ADS_1


Tunggul menatap istrinya frustasi. Kalau Tania dalam mode jutek on seperti ini, sangat susah dibilangin.


"Tentu. Cakra sangat layak dan pantas mendampingi Safira". Sahut Jayendra.


Ke dua uyut datang hampir bersamaan ke kediamannya di Dhayoh Utomo Jaler. Mereka membahas tentang Ang, Permata, Safira dan Cakra. Berita yang sangat mengejutkan baginya saat uyut Pandhu mengatakan rencana pernikahan Safira Cakra yang mendahului pernikahan Ang.


"Jayendra ikut bahagia uyut mendengar berita ini. Masalah Ang akhirnya terselesaikan. Jodoh memang unik".


"Iya begitulah. Membuat kepalaku nyut nyutan mencari solusinya". Uyut Satria menyahut yang diangguki oleh uyut Pandhu.


"Pernikahan Cakra dan Safira harus secepatnya dilangsungkan mengingat sudah tertunda tanpa sengaja selama tiga tahun. Mereka seharusnya sudah mempersiapkan diri menjadi suami istri saat Bunga Cantik Abadi berada dikediaman Safira". Ungkap uyut Satria


"Akibat tertunda, mereka sekarang bahkan dilarang bertemu oleh Tania mengingat mereka seperti lupa tempat dan waktu kalau bertemu. Membuat orang tua was was dan khawatir". Ucap uyut Pandhu.


"Paman Jayendra jangan lupa pada janji ya untuk ikut mendampingi saat ritual pernikahan berlangsung". Kata Safira mengingatkan Jayendra dengan menggoyangkan tangan.


Jayendra menoleh lalu tersenyum mengiyakan. Ia pernah berjanji pada gadis cantik itu untuk berada disampingnya saat ia menikah kelak dan sekarang waktunya telah tiba. Hatinya menghangat. Bebannya seperti terlepas saat mengetahui berita pernikahannya dari uyut Pandhu. Bagaimanapun kedua anak itu satu putranya dan satu keponakan yang sudah dianggap seperti anak sendiri. Ia begitu serba salah menempatkan diri saat Ang membuat masalah yang sebenarnya tidak ia sengaja.


"Tentu sayang. Paman pasti berada disampingmu. Karena saat ini paman sudah punya tante Bening, maka saat ritual pernikahanmu nanti kami berdua akan mendampungimu". Ucap Jayendra lembut


Wajah Safira berseri seri bahagia membuat Tania yang sebenarnya keberatan jika bundanya Ang ikut menelan kembali kalimat yang ingin terlontar dari mulutnya. Kali ini egonya memang harus diturunkan mengingat peristiwa pahit yang baru saja lewat dalam hidup gadisnya. Dilihatnya Tunggul suaminya menatap dirinya dengan mengedipkan mata dua kali. Tania tersenyum. Suaminya memberi kode padanya untuk tetap tenang dan sabar.


"Apa kau tidak sibuk menpersiapkan pernikahan putramu, Jayendra? Jika kau bersedia mendampingi Safira. Kau sudah harus mendampinginya untuk persiapan mulai saat ini juga". Tutur Tunggul.


Jayendra menepuk jidat. Ia lupa bahwa aturan mendampingi calon mempelai perempuan dimulai sejak persiapan pernikahan. Ia tidak mungkin mengecewakan Safira tapi juga tidak ingin Ang merasa diabaikan.


"Jika diperkenankan, aku akan mengecek ulang kesiapan pernikahan putraku. Tidak lama. Lalu secepatnya aku dan istriku akan kembali kesini". Ujar Jayendra


"Tentu. Sebagai kepala rumah tangga, itu sudah kewajibanmu Jayendra. Aku sangat berterima kasih kau tidak melupakan janjimu pada putriku. Ia sering menceritakannya padaku". Kata Tunggul.


"Benar begitu, cah ayu?". Tanya Jayendra


Safira tersenyum malu lalu menganggukkan kepala. Ia ingat sejak janji itu dibuat hampir tiap hari ia menceritakan hal itu pada sang ayah dengan semangat seolah olah pernikahannya digelar esuk hari.

__ADS_1


"Kau sudah besar. Besuk kau sudah menikah dan membangun rumah tanggamu sendiri.Jaga nama baik suamimu, keluarga dan kedua klan. Paman dan bibi akan selalu mendukungnmu. Kami bagian dari keluargamu juga karena Cakra adalah keponakan kami berdua". Jayendra memberi nasehat pada calon mempelai perempuan.


"Iya paman, akan Safira ingat selalu".


__ADS_2