TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
NDALEM KASEPUHAN KIDUL


__ADS_3

Acara makan telah usai, waktunya ke Ndalem Kasepuhan Kidul tempat berkumpulnya keluarga untuk membicarakan hal hal penting nan genting.


"Nah apa yang ingin kalian bicarakan kakek Buyut dengarkan". Kakek buyut Pandhu menyilakan siapapun untuk bicara.


"Sayang,coba kau ceritakan pertemuanmu di dimensi terbatas". Bening menyuruh Delima dan Bulan untuk cerita.


Meluncurlah dari mulut keduanya cerita pertemuan mereka dengan perempuan tua bernama Puspa Pesona dan juga gadus bernama Cahaya


"Boleh uyut lihat isi kotaknya?"


"Ini uyut". Ujar Delima


Dahi kakek buyut Pandhu berkerut. Begitu ada ditangannya kotak itu berubah warna. Pelangi dan satu simbol misterius yang menghiasi menjadi putih keperakan disertai simbol matahari yang bersinar terang.


"Kok aneh dari tadi ndak berubah,begitu dipegang uyut kok jadi seperti itu?" Kata Bulan dengan menggelengkan kepalanya


"Kenapa bisa berubah,yut?" Langit juga penasaran.


Kotak itu tiba tiba lepas dari genggaman uyut lalu melesat keatas berputar pelan lalu lama kelamaan berputar cepat, setelah itu temponya kembali melambat dan berhenti dengan posisi masih diatas. Terbukalah kotak itu dengan sebuah plakat keemasan yang muncul dan meluncur ke arah uyut.


"Hap." Dengan sigap uyut menangkap


"Hmm". Dehemnya


"Apa yut isinya?" Kelima buyutnya berseru penasaran. Sementara Bening menahan diri.


"Ini...". Uyut menggantung ceritanya


"Apa yut?" Sahut mereka serentak


"Uyut harus ke dimensi terbatas. Uyut Puspa ada perlu dengan uyut".


"Jadi perempuan tua itu juga uyut kita,yut?" Sela Bulan


"Iya nduk. Dia juga uyutmu"


"Lalu gadis yang bernama Cahaya itu berarti saudara kita juga,uyut?"


"Benar,nduk"


"Selain kak Ang, tolong bantu uyut Susmita berkebun ya. Uyut Susmita pasti senang ada kalian yang menemani". Keempatnya mengangguk lalu pergi meninggalkan Ndalem Kasepuhan Kidul. Bening mengusir lembut ke empat anaknya. Tinggal ia,Ang dan uyut sekarang.


"Uyut, Ang mau cerita tentang Mahkota Ibu Suri".


Kakek buyut Pandhu menghelai nafas berat.

__ADS_1


"Uyut tidak akan melepaskannya begitu saja. Delima itu pawangnya. Kalau lepas dari genggamannya dan berada ditangan yang salah, hawa murni kita akan kacau balau dan itu membahayakan keseimbangan alam.


"Tapi yut,Delima tanpa sengaja sudah membunuh salah satu perempuan muda dari Klan Gunung Telu".


"Uyut tahu. Uyut punya penawarnya supaya Mahkota Ibu Suri tetap pada tempatnya".


"Apa penawarnya". Ibu dan anak itu berkata berbarengan lalu saling pandang


"Menikahi pria dari Klan Purba Putih atau Klan Purba Ungu. Dan meminta energi Yang Agung Meneb Jiwa dari uyut Puspa" Kakek buyut Pandhu menjelaskan dengan muka serius.


"Maksud uyut Yang Agung Meneb Jiwa menitis begitu?" Ang bertanya penasaran


Kakek Buyut Pandu lalu bercerita tentang asal mula pemberian energi itu. Ang mengangguk paham.


"Apa uyut Puspa bersedia?". Ang kembali bertanya.


"Entahlah. Makanya uyut perlu bicara dengannya".


"Ang ikut ya yut kalo kesana".


"Bukan kau tapi Shaka". Jelas kakek uyut."


" Mengapa Shaka,yut?" Kini gantian Bening yang bertanya. Ia masih mengkhawatirkan putranya, takut berulah.


"Tak perlu takut atau khawatir,Shaka aman bersamaku nanti". Uyut meyakinkan Bening.


"Nanti kalian juga akan tahu".


Ang melihat ibunya, Bening menghelai nafas. Ia menyimpan kembali semua kata kata yang akan diucapkan tentang gadisnya Delima. Kebetulan sekali jalan keluarnya sama, Delima harus menikah.


"Apa ada lagi yang ingin dibicarakan?". Tanya uyut


"Kira kira siapa calonnya Delima Yut?". Sahut Ang.


"Kalau dari Klan Purba Putih uyut menyarankan Banyu Mas tapi kalau dari Klan Ungu uyut menyerahkan pada pilihan ke uyut Susmita, dia kan dari Klan Purba Ungu".


Bening mencoba mengingat sebuah nama yang hampir terlupakan, Jayendra Ningrat. Laki laki yang dulu ditolaknya karena kalah cepat dengan Guntur Peksi.


"Apa dari keluarga Jayendra Ningrat,yut? Keluarga mereka sama dengan keluarga kita" Bening bertanya dengan binar harapan


"Bisa jadi. Keponakan atau mungkin cucu keponakannya".


"Anaknya tidak bisa ya yut, kenapa?". Bening menatap Kakek buyut Pandhu dengan penasaran.


"Ia masih betah sendiri sampai saat ini".

__ADS_1


Mata Bening sedikit membola, ia tidak menyangka seorang Jayendra Ningrat masih betah melajang. Lelaki dengan seribu daya pikat dan juga ilmu ilmu sepuh kepunyaannya yang tak main main tingginya.


Kakek buyut Pandhu terkekeh pelan melihat ekspresi cucu menantunya itu. Ia sangat tahu apa yang terjadi dengan masa lalu keduanya.


"Pekerjaan kita banyak,nduk". Kata uyut pada perempuan yang masih awet muda, cantik dengan wajah lembut keibuan yang sudah memberinya lima buyut.


"Kunjungi juga ayah dan ibu mertuamu,nduk. Sudah waktunya melupakan kejadian itu. Berbaikanlah untuk kebaikan semuanya". Nasehat uyut ke Bening.


Air muka Bening berubah. Ia seperti menahan gejolak hati. Masih terasa segar dalam ingatannya peristiwa itu


"Pilihannya hanya mengorbankan Guntur Peksi". Kata Taji Digdaya tegas. Intonasi suaranya membuat Bening meremas kedua telapak tangannya.


"Kau benar sayang.Kita tak punya pilihan". Sahut Ratu Buana.


Bening menatap ayah ibu mertuanya frustasi. Begitu mudahnya mengucapkan hal kejam seperti itu seolah olah Guntur Peksi suaminya adalah orang lain.


"Kangmas Guntur putra kalian. Bagaimana mungkin semudah itu terucap". Lelehan air mata membasahi pipi mulus kemerah merahan alami.


"Karena itu satu satunya jalan menyelamatkan adik iparmu, Elang Raja. Kau harus mempersiapkan diri,sayang". Ujar Ratu Buana pelan. Ibu mana yang mau mengorbankan salah satu anak


Kesayanganna tapi demi damainya para TACENDA dan juga alam, ia harus rela melepas kepergian sang putra untuk hidup putranya yang lain.


"Pasti ada cara lain, bu,ayah. Bening mohon".


"Kalau aku bisa menjadi tameng aku pasti melakukannya tanpa diminta nduk". Kata Taji Digdaya


"Anak anak bagaimana bu,ayah. Mereka juga punya hak untuk mempertahankan ayah mereka". Bening tergugu.


"Hanya suamimu yang bisa nduk. Tidak ada yang lain. Jadi tolong ikhlaskan ya". Lembut suara Ratu Buana membujuk Bening.


"Keluarga besar Klan Purba Putih juga sudah rembukkan nduk,termasuk ayah kandungmu sudah setuju, Guntur Peksi yang maju untuk menyelamatkan Elang Raja". Kembali Ratu Buana memberi pengertian pada menentunya itu.


Pecah sudah tangis Bening. Pikirannya kacau Tubuhnya tak kuat menahan cobaan hidup, dipaksa berpisah dengan ayah anak anaknya dengan cara yang menyakitkan, kematian.


Dengan cepat sebuah tangan menyahut tubuh Bening yang hampir ambruk.


"Nduk...". Seru suami istri itu berbarengan. Ratu Buana langsung mendekati menanti ketiganya itu.


"Tolong Jayendra, bawa Bening ke Rumah Jati Waras. Minta bantuan Nyai Nimas Welas ya.


Rumah Jati Waras seperti klinik kesehatan yang ada di rumah Taji Digdaya dengan tabib hebat bernama Nyai Nimas Welas.


Secepat kliat Jayendra membawa Bening ke tempat itu. Kedatangannya kesini didorong rasa penasaran. Ia seperti tak rela membayangkan kesedihan Bening yang sebentar lagi ditinggal pergi suaminya untuk selamanya. Jangan tanya hatinya, ribuan kecamuk bersarang didalam dada mendengar tak sengaja pembicaraan tadi . Berita yang menggegerkan TACENDA. Guntur Petir akan mengorbankan diri demi menyelamatkan adik dan alam yang artinya menyelamatkan TACENDA juga bahkan nama yang akhir akhir ini santer disebut sebut itu sudah lama mengurung diri di Lembah Damai bersama sang adik untuk mengisolasi Elang Raja dari tarikan energi jahat Jalmo Peteng.


"Letakkan ia disana. Kau boleh pergi". Wanita bernama Nyai Nimas Welas menunjuk sebuah kasur empuk dari kapas emas yang dipetik di tempat Uwa Manah Resik.

__ADS_1


Jayendra meletakkan pelan pelan perempuan yang sampai saat ini namanya masih bersemayam penuh disanubarinya. Ia lelaki yang sulit merajut cinta baru. Terperangkap dalam cinta lama dan entah sampai berapa lama.


__ADS_2