
Hari ini keluarga Ang bersiap siap menemui kakek buyut Pandhu. Perjalanan ditempuh selama satu jam dengan memakai ajian Tetindakan Manunggal Kluwargo sebuah ajian keluarga sekali pulang pergi yang digunakan ketika mereka bepergian di dimensi TACENDA. Ajian ini pantang digunakan di dimensi terbatas karena energi cahaya yang terserap sangatlah dahsyat.
"Sudah siap sayang sayangnya bunda"
"Siap bunda" jawab mereka serempak
"Jangan ada yang ketinggalan, kelembak menyan, kotak kecil itu dan kue kijingnya biar dicicipi kakek buyut". Bening mengabsen satu satu daftar barang dan makanan yang harus dibawa
"Kesukaan nenek buyut Susmita juga ya bunda. Minyak bidara laut. Shaka sudah menyulingnya dua minggu yang lalu".
Botol bening dengan ukiran emas dan isi sekitar dua ratus ml sudah dibungkus rapat memakai akar wangi kencana, membuat awet minyak sampai ratusan tahun.
"Taruh ditempat yang sama dengan kotak kecil itu Shaka. Mari berangkat. Kakek buyut sudah menunggu. Kita Langsung ke Pendapi Ageng Memplak". Bening berkata sambil menutup pintu gerbang tujuh lapisan dengan sekali putar.
Mereka berenam menumpuk tangan hingga berlapis enam lalu merapal mantra Tetindakan Manunggal Kluwargo
"Sakkeluargo tetindakan slamet rahayu waluyo jati pungkasaning basuki nganti nyawiji kluwargo.Manunggal dadi siji tetindakan sakkeluargo basuki basuki rahayu onone"
Berenam berkonsentrasi dan wuuuss melesat dalam hitungan detik kedipan mata
Satu jam kemudian sampailah mereka ke tempat kakek Pandhu.
"Akhirnya sampai juga di Pendapi Ageng Memplak" Shaka menggeliat lalu
Netranya memindai sekeliling
"Hmmm masih sama seperti waktu ayah masih ada" Gumamnya
"Ayo masuk,ngapain pada bengong disitu" Bening merangkul bahu Delima dan Bulan,sementara ketiga putranya berjalan dibelakang mereka
"Kakek buyut,Bulan datang bersama keluarga".
"Ada kelembak menyan kesukaan kakek buyut juga".
Bening mencolek pinggang putrinya. Tingkah Bulan memang sedikit bar bar
Suara kekehan terdengar dari samping pendopo yang ditumbuhi bermacam macam tanaman herbal.
"Datang juga kau nduk. Ayo masuk Buyutmu Susmita memasak berbagai macam masakan dan cemilan kesukaan kalian. Kita makan dulu ya setelah itu baru ngobrol di Ndalem Kasepuhan Kidul, biar lebih enak dari pada disini". Kakek buyut Pandhu mengajak cucu dan buyutnya ke meja makan. Ada sebuah ruangan yang besar untuk menjamu keluarga besar.
"Nenek buyut, Bulan kangen. Bulan nanti mo bobok sama uyut ya". Menggelanyut manja Bulan pada sang uyut
__ADS_1
"Boleh sayang. Ayo makan dulu. Ada gurame belang bakar kesukaanmu. Kakek buyutmu pagi pagi sekali menangkap beberapa khusus untukmu". Sepuluh gurame belang bakar tersedia, sangat menggugah selera
"Kesukaan Ang mana,yut?
"Ada. Bibi Nuri tolong ambilkan ayam kuyup merah yang dkuali lempung abang".
Tak lama kemudian seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun muncul dengan membawa kuali lempung abang beserta tatakannya yang terbuat dari perak bakar. Aroma harum khas ayam kuyup merah menyebar saat Bibi Nuri membuka tutup membuat Ang mengusap usap perutnya.
"Ayo sayang dinikmati masakannya uyut". Susmita tertawa tertahan melihat tingkah Ang.
"Cicipi juga ekstrak udang biru dalam saos kuning sama kripik ekstrak jambumede ungu kesukaan Langit". Buyut Susmita menyodorkan hasil bergelut didapur sebelum si hitam cemani berkokok.
"Lezat uyut seperti biasa. Pokoknya kalo yang masak uyut the best". Delima mengacungkan jempolnya
" O....ya, kita juga bawa kue kijing lho uyut. Rasanya mantuul. Niih uyut cobain". Langit menenteng kue kijing dalam wadah bening.
"Ini...". Susmita tercekat saat membuka wadah bening itu. Aroma kue kijing yang masih mengepul membuat memorinya terlempar jauh ke masa mudanya
"Aku jatuh cinta pada orang di dimensi terbatas,Sus". Puspa Pesona menunduk sambil memilin jubah khas Klan Purba Putih
"Jangan bercanda, Puspa. Kau tahu apa artinya kan?" Susmita menatap gusar
"Iya, aku tahu. Aku tak kan bisa ke tempat ini lagi. Aku takkan bisa mememuimu lagi,Sus tapi kau bisa menemuiku kan. Kau bisa datang ke dimensi terbatas dengan mudah. Kau punya ilmunya. Semua TACENDA memilikinya kecuali Klan Gunung Telu".
"Dia seorang guru.Punya padepokan bagus.Dia sangat santun dan berbudi baik. Dia petani sekaligus punya budidaya ikan nila". Puspa menjelaskan dengan binaran cinta
Susmita melihat dengan mulut manyun. Hatinya kesal, bagaimana mungkin seorang Puspa Pesona sepupunya yang cantik dengan ilmu imu sepuh yang wow harus berakhir di dimensi terbatas.
"Aku akan bilang ke kakek Ananta. Kau tak mungkin diijinkan".
Puspa Pesona mendelik. Mulutnya komat kamit entah mengucapkan apa
"Apa! Aku tak rela kau berakhir disana, Puspa".
"Ilmuku masih seperempat meski aku di dimensi terbatas,Sus. Ada perjanjian antara leluhurnya dengan Yang Agung Meneb Jiwa
Beliau menyimpan seperempat energinya di Selaput Apung sebelum menghadap Sang Kuasa. Energi itu khusus untukku. Yang Agung Meneb telah menunjukku jauh sebelum kelahiranku. Beliau meletakkan Selaput Agung di Ceruk Nyaru. Dan hanya ibuku yang bisa melihat dan mengambil waktu hamil diriku. Beliau langsung menyerap energi itu begitu Selaput Agung terbuka". Puspa mengenang saat ibunya bercerita waktu energi itu membuat panas dingin tubuhnya saat ia berusia dua belas tahun.
"Memang ada apa antara Yang Agung Meneb Jiwa dengan leluhurnya? Bagaimana bisa beliau berurusan dengan dimensi terbatas" Susmita bertanya dengan penasaran.
"Leluhurnya pernah menolong beliau mengecoh Jalmo Peteng dan pengikutnya hingga masuk ke tanah terlarang Jogo Latu".
__ADS_1
"Dari mana kau tahu?".
"Ibu yang cerita,ayah juga cerita".
"Apa leluhurnya minta imbalan?".
"Leluhurnya minta penjaga dari TACENDA agar Jalmo Peteng dan pengikutnya tidak bisa melintas di dimensinya".
"Dan kau jatuh cinta pada keturunannya,begitu?"
"Seperti magnet. Energi seperempat Yang Agung Meneb Jiwa mencari keturunan Murti Kenongo. Dan dari keturunannya, yang paling tinggi dan bersih energinya ada pada mas Petir Sri Drajat. Lelaki yang sudah membuat duniaku indah beberapa bulan ini". Senyum senyum Puspa Pesona sambil menempelkan dua telunjuknya ke pipi kiri kanan
"Jadi kau yang mencarinya? Jangan bilang kau juga yang mengutarakan perasaanmu padanya".
Puspa Pesona terkikik sambil mengangguk
"Kau sungguh sungguh ya..."..Susmita sampai tak bisa melanjutkan ucapannya.
" Habis begitu ketemu dirinya aku sulit menyembunyikan rasa sukaku. Aku bahkan hampir tak bisa mengendalikan ucapan dan perilakuku". Puspa Pesona berkata sambil menutupi wajah cantiknya dengan kedua telapak tangannya.
"Apa itu di jari manismu? Jangan bilang dia sudah mengikatmu". Sungut Susmita
"Tentu. Dia tidak mungkin bisa menolak pesonaku". Genit Puspa Pesona mengerling
"Huh jatuh cinta bikin kau jadi aneh dan juga memalukan".
"Nanti kalau kau jatuh cinta baru tahu rasa wheek". Puspa Pesona menjulurkan lidahnya.
"Hayoo uyut melamun ya". Bulan membuyarkan nostalgia Susmita yang lama tersimpan di memorinya.
"Hmm ternyata sudah sekian lama ya".Gumam Susmita
"Apanya yang lama,yut?". Tanya Langit
"Kue kijingnya. Lama ya nunggu sampai jadi".
"Nanti kita ceritain yut. Ada yang aneh aneh gitu. Iya kan kak Delima". Bulan menoleh ke kakaknya.
Delima mengangguk. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan setelah pertemuannya dengan si nenek yang bernama Puspa Pesona dan juga gadis yang bernama Cahaya.
"Sudah ayo makan". Kakek buyut Pandhu mengajak keluarga cucu lakinya Guntur Peksi untuk segera makan
__ADS_1
Mereka makan dengan lahap. Susmita mengambil kue kijing sambil memejamkan mata.
"Puspa,aku rindu". Batinnya