
"Baik, om Elang. Ang akan mempersiapkan diri dengan baik". Ujarnya tegas
"Bagaimana dengan persiapan pernikahanmu,Ang?" Tanya Elang
"Barusan Ang bertemu Safira Asmara, dan Ang sudah memutuskan menjatuhkan pilihan padanya".
Raut Elang berubah, ia memandang Ang dengan ekspresi yang sulit sulit diungkapkan.
"Kau sama sekali tidak menemui Permata?"
"Tidak om".
"Bukankah kau minim linformasi tentang mereka berdua?"
Ang menunduk. Ia merasakan tekanan intonasi suara mengintimidasi dari Elang
"Apa ada yang memberi informasi tentang salah satu dari mereka?"
"Ang bertanya pada papa Jayendra, om".
Elang menatap tajam pada Ang, ia tak mempercayai pendengarannya. Papa? Sejak kapan Ang memanggil Jayendra dengan sebutan itu. Hatinya tak rela. Ang seperti melupakan kakaknya.
"Memang apa yang dikatakannya padamu?"
"Papa Jayendra memberi banyak informasi tentang Safira Asmara, dan Ang merasa ia bisa menjadi pendamping yang baik".
"Kalau hanya informasi, aku juga punya banyak informasi tentang Permata. Kau mau dengar, Ang?"
Ang hanya bisa mengiyakan. Tatapan Elang membuatnya tak nyaman, seperti ada kemarahan yang tersembunyi.
Terdengarlah suara Elang memulai cerita tentang Permata, gadis cantik yang mempesona dengan banyak kebaikan, kelebihan dan juga kelembutan hati. Kharakternya familiar sekali ditelinganya seperti....deg deg deg, bunda, serunya dalam hati. Ang spontan menggelengkan kepala. Memang ada gadis seperti itu? Ah, om Elang paling hanya melebih lebihkan cerita.
"Kau meragukan ceritaku, Ang?". Suara dingin Elang membuat wajah Ang memucat. Buru buru ia menggeleng dan berkata,
"Maafkan Ang, om, tolong jangan marah. Ang sungguh tidak menduga, ada gadis yang begitu mirip kharakternya dengan bunda".
"Apa kau ingin menemuinya,Ang?".
Ang tertegun sejenak tapi kemudian ia menggeleng. Terbayang wajah Safira, Ia tidak ingin melukai perasaan hati gadisnya.
__ADS_1
"Kau tidak adil, Ang. Uyut sudah menghubungi orang tua Permata, bicara panjang lebar. Mau ditaruh dimana muka uyut? Apa kau juga memikirkan hal itu?". Nada suara Elang begitu mengerikan.
Ang terkesiap. Dia tidak berfikir sampai kearah itu. Kepalanya tiba tiba pusing. Dia merutuki kebodohan yang ia lakukan. Diusapnya wajah dengan kasar.
"Maafkan Ang, om, Ang sangat ceroboh".
Elang mendengus. Ia memang harus tegas pada keponakannya. Ang dituntut untuk berfikir lebih dewasa.
"Lalu apa yang akan kau lakukan, Ang?"
Ang terdiam. Ia dilema menentukan sikap. Ditariknya nafas dalam dalam. Matanya menerawang jauh. Sudah pasti nama baik keluarga harus dipegang kuat. Artinya ia harus mengorbankan ego. Safira bukan prioritas utama.
"Ang akan menemui Permata,om". Ucapnya pelan.
Elang tersenyum puas. Jauh dilubuk hati, ia tentu menginginkan Permata yang menjadi istri Ang. Permata mempunyai klan yang sama dengan Ang. Ia sudah tahu semua seluk beluk Klan Purba Putih, tanpa harus beradaptasi. Perangainya juga sangat baik. Bagaimana mungkin Ang mengabaikannya.
"Mengenai rencana perjodohan Delima, aku dengar Banyu Mas menolak adikmu karena ia sudah punya kekasih". Ujar Elang.
"Iya, om. Ang sudah menemui Banyu Mas dan Jaler Sekti. Ang bersyukur, Jaler menerima perjodohan dengan Delima".
Elang bernafas lega. Sebagai adik dari Guntur Peksi, ia memiliki kewajiban memikirkan masa depan anak anak almarhum kakaknya.
"Bagaimana dengan Langit dan Shaka?".
"Anak itu". Keluh Elang.
"Kau tahu, dari klan mana, Ang?".
"Tidak, om. Tapi kelihatannya Shaka sangat menyukainya".
"Siapa yang mencarikan jodoh buat langit?".
Ang tiba tiba teringat saat Langit bicara dengan sang bunda tentang gadis yang suka menguntitnya. Ya gadis itu begitu yakin kalau ia adalah jodoh Langit.
"Apakah om pernah mendengar nama Ratri Ungu dari Klan Purba Biru?". Tanya Tang.
"Ratri Ungu? Apakah maksudmu gadis dengan iris mata ungu itu?".
"Iya, om". Jawab Ang
__ADS_1
"Memang ada apa dengan gadis itu. Apa kau menyukainya?".
"Bukan Ang tapi untuk Langit". Sahut Ang
Berceritlah ia pada adik ayahnya itu. Elang mendengarkan dengan seksama.
"Kau tenang saja Ang, urusan Langit, serahkan padaku". Ujarnya.
Wajah Ang menjadi cerah. Semua adik adiknya bisa menikah dengan calon masing masing.
"Lekas kau temui Permata. Lebih cepat lebih baik". Titah Elang.
Ang segera bangkit, memberi salam pamit lalu melangkah keluar menuju Dhayoh Utomo.
Ia memantabkan hati untuk menemui Permata.
Sementara itu di salah satu kamar bercat hijau pupus di Dhayoh Utomo, seorang gadis menghapus airmata yang membasahi pipi mulusnya. Permata Idaman begitu shock saat mendengar Angkasa Biru, putra Guntur Peksi mengabaikan dirinya, dan langsung memilih Safira Asmara. Harga dirinya terluka, ayahnya begitu murka karena merasa diremehkan dan sang ibu menangis tersedu sedu. Banyak spekulasi beredar mengapa putra pertama Guntur Peksi menolak perjodohan padahal sebelumnya sudah ada pembicaraan tetua dan orang tua.
Pintu kamar diketuk tiga kali, Permata berjalan ke arah pintu, dibukanya pelan, nampak seorang pelayan memberi hormat, lalu memberi tahu tentang kedatangan Ang.
Permata tertegun. Buat apa Ang ingin menemui dirinya. Bukankah semua sudah jelas. Ditimang timang kembali keputusan, apakah menerima atau menolak bertemu Ang. Permata menghembuskan nafas, ia mengangguk pada si pelayan, ditata kembali hatinya. Ia harus tegar, jangan sampai ayah ibu tahu kesedihan hatinya.
Diruang tunggu Dhayoh Utomo, Ang menanti kedatangan Permata dengan resah. Berkali kali ia mondar mandir, dan sesekali mengusap wajahnya. Dilihatnya seorang pelayan berjalan mengantar seorang gadis yang, oh tidak. Wajahnya mirip bunda waktu muda. Dada Ang bedebar debar aneh. Di rabanya pelan sambil gumam gumam tak jelas.
"Silahkan nona Permata". Pelayan menyilahkan dengan hormat.
"Terima kasih, bibi". Ujarnya.
Ang tanpa berkedip menatap gadis berwajah ayu, lembut dengan mata teduh menenangkan. Kembali diraba dada yang masih bertalu talu tak mau berhenti.
Permata menatap Ang tak suka. Pandangan Ang membuatnya risih.
"Ada keperluan apa, tuan ingin bertemu dengan saya?" Katanya lembut.
Ah, hati Ang tak karuan. Dibanding saat bertemu Safira, Suasana hati saat ini sangatlah uwuuu, diluar prediksinya.
"Tuan?".
Ang masih menikmati irama jantung berdentum dentum susul menyusul . Ia begitu betah menatap gadis dihadapannya.
__ADS_1
"Saya pamit undur diri". Permata dengan cepat membalikkan badan, keluar dari ruang tunggu, membuat Ang tersadar dari dunia lamunan. Bergegas ia menyusul Permata, Langkahnya bahkan mendahului gadis itu, dan berhenti tepat dihadapannya, membuat si gadis tanpa sengaja menabrak dada bidang laki laki yang sudah menolaknya.
Raut wajah Permata berubah memerah, ia malu sekaligus memendam emosi. Bagaimana mungkin, laki laki ini tidak bicara sepatah kata, lalu buat apa ingin menemui dirinya. Bukankah itu mempermainkan perasaan namanya. Ingin rasanya ia menangis. Tubuhnya berguncang hebat. Isak tangispun terdengar pilu. Spontan Ang merengkuh Permata dalam pelukannya. Ia tak habis pikir dengan diri sendiri. Antara otak dan tubuhnya saling bertentangan. Semakin erat ia memeluk gadis yang sudah meronta ronta minta dilepaskan, Ang seperti tuli, pelukannya makin posesif. Permata tiba tiba pingsan.