TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
MENJELANG SAH


__ADS_3

Ang terlihat gelisah. Sedari tadi ia mencari keberadaan Jayendra. Langit dan Shaka juga sibuk mencari, sementara Delima dan Bulan menenangkan sang bunda.


Bening hampir menangis, meskipun waktu masih tersisa sekian belas menit, tapi dadanya sudah sesak. Pikiran negatif berkeliaran ke mana mana. Jayendra sukses membuat mereka kelimpungan.


"Apa sudah ada kabar dari calon ayah kalian?". Tanya Bening. Ia kelihatan frustasi


"Belum bunda.Mungkin sebentar lagi. Bunda tenang saja". Ujar Bulan memegang tangan bunda menyalurkan kekuatan.


Bening terdiam. Pikirannya kacau. Ia tak percaya Jayendra akan melakukan hal ini padanya.


"Ayah Duta, bagaimana ini. Ang sangat mengkhawatirkan bunda". Kata Ang mendekati Duta, calon ayah mertua yang duduk bersama istri di sebelah timur Pendopo Agung Putih tempat pernikahan akan digelar.


"Tenang saja. Biar ayah cari". Ia berdiri, melangkah dengan cepat menuju Dhayoh Utomo Jaler, dimana Jayendra tinggal sebagai calon mempelai.


Sesampai disana terlihat dua uyut sibuk mendandani sang mempelai pria. Siapapun yang ada di tempat itu bahkan dilarang mendekat oleh uyut Pelangi. Saat melihat kedatangan Duta, uyut Pelangi melambaikan tangan, meminta ia masuk.


Duta berdiri dengan muka penuh tanda tanya tapi uyut Satria segera menepuk bahunya.


"Sisanya kau yang kerjakan. Aku dan uyutmu mau melihat keadaan Bening dulu".


Duta hanya bisa mengangguk. Setelah ke dua uyut pergi. Tinggalah mereka berdua. Mulut Duta yang sudah tidak tahan untuk bicara langsung memberondong Jayendra dengan banyak kata.


"Oh...jadi seperti itu ceritanya. Elang Raja memang temperamental sejak dulu. Untung semuanya dapat diselesaikan baik baik". Duta begitu lega tidak ada hal buruk menimpa sang calon mempelai


"Ayo segera berangkat. Keluarga calon istrimu cemas bukan main menanti kedatanganmu. Kau harus bisa membuat mereka tenang. Ini hari bahagiamu jangan sampai ternoda oleh hal tak penting". Kata Duta memberi nasihat.

__ADS_1


"Baik. Terima kasih atas kepedulianmu. Ucap Jayendra.


Mereka berdua berjalan cepat menuju Pendopo Agung Putih.


Keluarga kedua klan dan tamu undangan sudah hadir. Ada Tunggul diantara para tamu. Istri dan anak tidak hadir. Ia memang melarang mereka hadir untuk meminimalisir hal hal yang bisa membuat kekacauan di hari bahagia ini.


Tunggul menetralkan hatinya yang ngilu, saat mengingat tangis putrinya, Safira dan kata kata istrinya yang membuat darahnya berdesir sakit.


Tania tidak terima putrinya mendapat perlakuan seperti ini. Angkasa Biru dan keluarganya harus minta maaf karena sudah berani tebar pesona, lalu mengabaikan begitu saja perasaan Safira. Ia menuntut Angkasa Biru mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Jika kanda diam saja, itu sama saja membiarkan keluarga kita diinjak injak. Harga diri putrimu sudah tercoreng. Apa kanda tahu mereka berdua sudah merajut asa ke jenjang pernikahan. Putrimu dan Angkasa Biru punya panggilan sayang untuk keduanya saat menjadi suami istri kelak ". Tania mengucapkannya dengan linangan air mata.


"Kau belum juga menyadari kesalahanmu, Tania". Ucap Tunggul.


"Aku memang salah tapi apa kau pikir perilaku putra Guntur Peksi itu benar? Jika memang bunga cantik abadi sudah datang menyapa anak Duta dan Dinda lalu kenapa Ang mengabaikannya dan justru lebih suka menemui putrimu?". Mata indah Tania berubah garang. Tak ada lagi kelembutan di sana.


Tunggul tercekat melihat perubahan istrinya. Bibirnya bergetar menahan perasaan yang campur aduk.


"Tapi kau tak perlu memperalat Jayendra untuk memberi informasi detail tentang Safira". Kata Tunggul dengan suara bergetar.


"Angkasa Biru menanyakan tentang putrimu dan putri Duta. Wajar Jayendra lebih detail memberi infoemasi tentang Safira karena ia mengenalnya sejak masih bayi. Bahkan jika aku tidak memanfaatkan kebaikan hatinyapun, ia tetap akan menjawab pertanyaan Angkasa Biru. Apa kau pikir ia akan berbohong saat anak tertua Bening menanyakan tentang putrimu?". Tania semakin meradang. Di matanya Tunggul seperti orang asing. Kemesraan keduanya seakan menguap tanpa sisa.


"Itu lain ceritanya, tapi karena kau mendatanginya tanpa memberi tau tentang bunga cantik abadi maka ceritanya menjadi lain. Jayendra pasti tetap menjawab pertanyaan Angkasa Biru tapi hanya sekedar jawaban yang tidak akan menimbulkan rasa ingin tau". Ujar Duta. Ekspresi wajahnya sulit untuk dijelaskan.


"Jika kau berada di posisi putra tertua Guntur Peksi, apa kau juga akan berperilaku seperti itu?". Tania seperti induk ayam yang mengamuk karena salah satu anaknya diganggu.

__ADS_1


"Cukup Tania. Kau sudah melebihi batas". Seru Tunggul. Suaranya meninggi, bukannya takut Tania seakan malah menantangnya


"Kau keliru, cara berfikirmu pendek sekali. Lihatlah saat pernikahan Bening. Perhatikan putra tertuanya, Lalu Putri Duta, setelah itu Dinda dan Suaminya, orang tua Permata. Perhatikan baik baik wajah mereka. Adakah diantaranya prihatin dengan putrimu?".


Tania menghirup udara dengan berat. Dadanya terasa sangat sesak, lalu ia melanjutkan bicara,


"Lihatlah ekspresi Angkasa Biru. Apakah ia biasa saja ataukah ada hal yang dipikirkannya? Apa kau sebagai ayah Safira, berani menanyakan bagaimana ia mempertanggung jawabkan perilakunya terhadap putrimu? Atau kau hanya akan terus menyalahkanku? Jika memang seperti itu, artinya aku tidak layak lagi mendampingimu".


Mata Tunggul memanas. Telinganya tak salah mendengar kata kata yang diucapkan oleh Tania, sangat tajam, dan membuat hatinya terluka. Ia tidak pernah satu kalipun memikirkan tentang perpisahan.


"Jangan menguji kesabaranku, Tania".


Tania menatap Tunggul dengan luapan emosi yang sudah berada di ubun ubun. Lalu katanya,


"Aku ingin kau mengingat saat datang ke resepsi Jayendra.Ingatlah baik baik raut wajah keluarga kedua klan dan para tamu undangan saat melihatmu ataupun melihat keluarga Bening dan juga keluarga Duta. Sebagian pasti sudah ada yang tahu tentang hal ini. Yang ingin kutanyakan padamu, apakah Safira putrimu akan kuat menanggungnya?".


Tunggul mematung. Ia tentu tahu, hati putrinya yang hancur berkeping keping bahkan ia mendengar tanpa sengaja seorang pelayan tua yang sedang berbicara pada sesama pelayan.


"Nasib nona Safira sungguh malang. Aku sangat prihatin. Ia tidak seharusnya mengalami hal seperti ini". Ujarnya pelan


Ucapannya diangguki oleh para pelayan lainnya bahkan pelayan muda mengatakan kalau bunga cantik abadi salah mendatangi mempelai.


Perkataan itu tentu saja membuat para pelayan lainnya melotot dan refleks mencubit lengannya


Tunggul memejamkan mata. Kepalanya berputar putar berat saat mengingat semua itu. Hatinya menangis. Ia tidak ingin karena hal pahit yang dialami putrinya membuat rumah tangganya retak bahkan hancur.

__ADS_1


__ADS_2