
Hari berganti. Pagi datang. Keluarga Tunggul begitu sibuk. Anak perempuan kedua dari pagi sudah heboh minta didandani. Gadis kecil yang sebentar lagi menginjak masa remaja itu asyik ngemil dengan membawa boneka cantik pemberian paman Jayendra.
"Ayah, kapan Mara didandani?". Tanyanya untuk kali kesekian.
"Iya sayang, sebentar".
"Dari tadi sebentar terus". Ujar Mara,panggilan sayang gadis berlesung pipi dengan nama lengkap Semarak Indah Ayu.
Tunggul menghelai nafas. Putri kecilnya ini begitu bersemangat mencoba gaun dari kemarin. Ibunya menjanjikan make up cantik bak bidadari padanya. Jadilah tiap menit,tiap jam pertanyaan yang sama meluncur dari mulutnya yang mungil.
"Ayah carikan periasnya dulu ya sayang".
"Yang bisa dandanin Mara kayak bidadari ya ayah". Ucapnya riang.
"Tentu sayang". Tunggul melangkah pergi. Dicarinya. Tania,si tukang janji.
"Adindaku sayang, cepat kau carikan perias untuk Mara. Ia ingin didandandani seperti bidadari. Dari tadi tak berhenti bertanya kapan didandani". Ujar Tunggul.
Tania tertawa kecil. Ia mencubit pinggang suaminya gemas
"Ih gitu saja kanda mengeluh". Ucapnya sambil berlalu.
Tinggalah Tunggul yang mengusap usap pinggangnya.
"Sabar sabar". Batinnya
Tania menghampiri putri kecilnya. Wajah cantik cemberut terpampang begitu imut dimatanya.
"Sayangnya ibu, mau didandani seperti bidadarikah?". Tanyanya lembut.
"Iya ibu, seperti bidadari turun dari kayangan". Ucapnya riang.
"Tau tidak, bidadari itu dandannya saat petang menjelang. Biar aura bidadarinya muncul. Kalau dandan sekarang bisa luntur". Kata Tania berusaha meyakinkan putri keduanya.
"Benarkah begitu, ibu?". Tanya Mara antusias
__ADS_1
"Tentu saja benar. Mereka datang saat matahari terbenam. Kalau dandan sekarang, bukan seperti bidadari jadinya. Kalau Mara tetap ingin dandan, ibu akan panggil perias saat ini juga".
"Jangan bu. Mara maunya seperti bidadari. Nanti saja habis matahari tenggelam".
Tania tersenyum. Satu pekerjaan selesai. Ia harus menemui Safira. Calon pengantin itu sedang dihias tangannya dengan hena emas berwarna sangat cantik, tahan air dan keringat. Mara akan heboh jika tahu itu. Ia harus sergera bergegas.
"Tunggu bu, Mara terus ngapain? Nunggu matahari tenggelam kan lama". Ucapnya lugu.
"Kau bisa ke bik Sumi untuk dirawat rambutmu sayang. Bilang ibu yang minta". Kata Tania.
"Apa bidadari juga suka merawat rambut, bu?".
"Tentu saja. Rambut mereka panjang, kalau tidak dirawat bisa rusak, sayang".
"Baik. Mara akan ke tempat bik Sumi. Rambut Mara juga harus cantik seperti rambut bidadari". Ujarnya bersemangat.
Tania mengacungkan jempol tanda setuju. Dengan lincah Gadis cilik itu pergi ke tempat bik Sumi.
Tania tertawa kecil, ia kemudian berlalu menuju kamar calon pengantin perempuan. Aroma wangi bunga bunga tercium memanjakan hidungnya. Sedangkan Tunggul yang penasaran komat kamit menggumamkan sesuatu.
"Istriku memang juara bikin cerita. Bisa bisanya punya ide absurd begitu".
"Aku sebentar lagi jadi kakek. Hmm ternyata cepat sekali menjadi tua". Gumamnya.
"Tuan, Sardi Suradi melapor. Semua sudah sesuai keinginan tuan". Kedua saudara itu dengan hormat menangkup kedua tangan.
Tunggul menoleh. Kedua saudara kembar itu menunduk dengan hormat.
"Syukurlah.Terima kasih. Kalian sungguh bisa diandalkan".
"Apakah ada tugas lain yang harus kami tunaikan, tuan?".
"Ada. Coba kau tanyakan pada tuan Elang, bagaimana persiapan mempelai laki laki".
"Baik tuan, kami undur diri". Ucap keduanya.
__ADS_1
Dikediaman Elang di Dhayoh Utomo, Cakra Dewa bersitegang dengan pengawal Sukro yang ditugasi sang ayah untuk mencegah dirinya bertemu Safira. Elang menghormati keputusan yang sudah dibicarakan berempat.
"Ayolah paman Sukro, sebentar saja. Paling hanya beberapa menit aku menemui Safira. Aku sudah rindu paman. Mengertilah".
"Paman juga sangat rindu pada istri paman, Surati yang cantik menggemaskan, tuan Cakra, tapi paman pendam demi tugas mulia ini". Ujar Sukro tak mau kalah.
"Apalagi pada Dwirora,putra paman satu satunya yang berusia sepuluh tahun". Timpal Sukro
Cakra memencet hidung mancungnya. Berdebat dengan paman Sukro tidak akan ada habisnya. Laki laki berusia empat puluh tahun itu sangat mahir bertutur kata. Ada saja jawabannya seolah olah ia punya stok segudang.
"Selain itu tuan Cakra, hormatilah keputusan orang tua dan calon mertua tuan, jangan sampai mencoreng nama baik ayah tuan". Ujar Sukro menasehati.
Tuhkan Cakra terpojok sendiri. Akhirnya ia diam. Tak lama kemudian muncullah beberapa pelayan laki laki bersama dengan seorang laki laki tua yang akrab dipanggil Uwa To, tukang pijat khusus mempelai laki laki.
"Selamat datang Uwa To". Ucap Sukro sopan. Lalu dipersilahkan untuk memijat tuan mudanya.
Awalnya Cakra menolak. Ia tidak mau dipijat karena merasa tubuhnya baik baik saja. Bukan Sukro namanya kalau tidak bisa meyakinkan Cakra Dewa.
"Ini cuma formalitas saja tuan Cakra, dari pada nanti kena marah tuan besar. Selain itu Uwa To akan melapor pada calon keluarga mempelai perempuan kalo calon mempelai laki laki tidak mau dipijat. Biasanya karena punya penyakit atau sudah tidak perjaka".
"Enak saja punya penyakit. Aku sehat paman dan masih jejaka tulen. Masih orisinil". Ungkapnya menggebu.
Sukro tersenyum tipis. Jebakannya tidak mungkin melesat. Tak lama kemudian, tuan mudanya sudah anteng dan manis siap dipijat Uwa To dengan berbagai macam ramuan yang harus disiapkan. Dibantu beberapa pelayan laki laki yang menyiapkan segala ubo rampe untuk memijat, Cakra menurut mematuhi perintah Uwa To.
Sementara itu di kamar calon mempelai perempuan. Safira hampir selesai dihena tangannya. Hena emas memang tiada duanya. Sangat cantik dan unik karena tangan sang pelukis hena akan dituntun untuk melukis Bunga Cantik Abadi dari kuncup hingga mekar dan menghilang. Setiap pengantin perempuan yang berasal dari kedua klan pasti akan mendapatkan hal sama, sedangkan yang bukan berasal dari kedua klan, hena perak menjadi pilihannya. Dengan lukisan Bunga Bahagia Selalu yang aslinya berwarna keperakan, cantik sekali.
"Kau cantik sekali sayang. Ibu bahagia melihatmu sebentar lagi menuju pelaminan". Ucap Safira saat melihat finishing touch hena emas, hena pengantin dua klan .
"Safira apalagi bu, sangat bahagia. Tak mengira tahun ini menikah". Ucapnya berseri seri Aura pengantin menguar sangat elegan dan jelita. Aroma harum tubuh calon pengantin pun tercium. Aroma khas mempelai perempuan yang masih suci.
"Kau tahu, sayang. Ibu hampir tak bisa tidur karena bahagia menyambut hari pernikahanmu". Kata Tania.
"Sama bu, Safira juga". Keduanya tertawa kecil.
"Mara membuat ayahmu frustasi. Ia merengek terus minta didandani seperti bidadari". Senyum lebar dengan gigi putih rapi terlihat pada kedua ibu dan anak ini. Adik kecilnya itu memang lucu, lugu dan menggemaskan.
__ADS_1
"Ibu berhasil meyakinkan adikmu kalau bidadari dandannya setelah matahari tenggelam".
Safira tergelak. Ibunya memang seperti itu. Waktu seusia Mara ibunya pernah bilang kalau bidadari tak suka makan permen jenis apapun karena bisa melunturkan kecantikan mereka dan berhasil, ia bahkan sampai saat ini tak suka makan permen.