TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang

TACENDA Saat Cinta Menjadi Pemenang
WHEN THE THIRD ACTION BEGUN


__ADS_3

Yuda membopong Mala hati hati, sementara bik Sumi mengekor dibelakang dengan mata awas, siaga satu. Ia kelihatan cemas dan khawatir.


"Aduh ndoro ayu Mara ini, bisa bisanya tidur nyenyak. Kok nggak terbangun sih, bik Sumi harus bagaimana ini. Meski nyonya besar Unda sudah menjamin tapi sorot mata tuan ganteng penuh gelora cinta membara.Heran kenapa jatuh cinta sama gadis kecil seperti ndoro ayu Mara. Apa ndak ada gadis cantik yang hadir disini ya. Perasaan banyak bertebaran disini gadis gadis dari beberapa klan yang diundang".Monolognya dalam hati


Akhirnya mereka sampai di Dhayoh Utomo di sayap kanan tempat orang tua Safira dan Mara menginap. Bik Sumi segera meletakkan telapak tangan dan pintu pun terbuka.


Mara diketakkan ditempat tidur dengan hati hati. Buru buru bik Sumi mendekat menutupi tubuh Mara dengan selimut pink bergambar princess bermuka imut.


Yuda tersenyum. Gadis kecilnya sungguh cantik dan menggemaskan. Tidurnya begitu pulas tak terganggu gerakan apapun.


"Apa tuan ganteng ada keperluan lain?". Bik Sumi mencoba mengusir halus Yuda


"Tidak bik. Yuda pamit".


"Silahkan tuan ganteng".


Yuda segera bergegas. Ia menata kembali hatinya yang berdebar tak karuan.


Setibanya di tempat duduk, Ayunda Putik menepuk bahunya pelan.


"Aksi pertama sangat mulus sayang. Aku doakan aksi aksi berikutnya akan membuka jalan terang untukmu".


"Aamiin uyut Unda. Yuda tidak menyangka Mara datang sendiri kesini menghampiri kita uyut Unda".


"Kau anak baik, pasti akan mendapatkan banyak kebaikan".


"Terima kasih doa dan dukungannya Uyut Unda".


"Kau layak mendapatkan yang terbaik. Putra bungsu Tunggul gadis kecil yang baik.Hatinya bersih".


"Iya Uyut".


Pernikahan Cakra Dewa dan Safira Asmara akhirnya selesai. Para keluarga dan tamu undangan satu persatu meninggalkan tempat pernikahan. Tinggal keluarga inti yang masih tinggal.


Sebelum Yuda pergi meninggalkan tempat pernikahan, Tania cepat cepat menghadang langkahnya.


"Tuan Prayuda. Bisa bicara sebentar".


"Tentu nyonya Tunggul".


Ayunda Putik dan Barunapun bergabung menuju tempat Tania dan Yuda. Keduanya pikir ini adalah kesempatan baik untuk memulai pembicaraan tentang jodoh buyut mereka.


"Jika ini tentang putri bungsumu, kami ikut serta Tania". Ucap Ayunda.


"Tentu uyut Unda. Silahkan".

__ADS_1


"Kita bicara di Pendapa Alit sebelah timur itu". Tunjuk Baruna


Mereka kemudian menuju ke tempat itu. Dari panggung pengantin Tunggul sedikit menggerutu. Istrinya melesat pergi tanpa pamit padanya. Akhirnya ia menyusul dengan wajah sedikit ditekuk.


"Ada apa dengan wajahmu Tunggul?". Tanya Ayunda


"Tidak ada apa apa uyut Unda". Tunggul jadi kikuk. Aksinya cemberut ketahuan.


"Bisa kita mulai?". Tanya Tania. Ia memberi kode pada suaminya.


Tunggul menghelai nafas. Ia belum rela jika harus melepas putrinya. Safira baru saja melepas masa lajang. Masak iya Mara secepat ini menyusul.


"Maaf uyut berdua, Tunggul sebenarnya bingung, tidak tahu harus mulai dari mana mengingat Mara ,putri bungsu Tunggul masih kecil".


"Aku paham. Makanya kita bicara disini. Aku ingin dibicarakan baik baik dengan kepala dingin". Tegas Baruna


"Ayo sayang, katakan perasaanmu pada Tunggul dan Tania". Ujar Ayunda memberi perintah pada Yuda


"Baik uyut Unda. Tuan dan nyonya Tunggul maafkan kelancangan hati Yuda karena sudah jatuh cinta pada putri bungsu anda berdua pada pandangan pertama". Ucap Yuda sopan


Mata Tania berbinar. Dugaannya tidak meleset. Yuda memang jatuh cinta pada putri bungsunya.


"Ah senangnya, Tidak perlu mencari menantu sudah datang sendiri Mara tidak perlu mengalami seperti Safira. Bikin jantung mau copot saja". Batinnya.


"Tapi Mara masih tiga belas tahun .Kau harus menunggu lima tahun lagi untuk dapat menikahinya tuan Yuda". Ujar Tunggul.


"Iya Tunggul, tidak perlu terlalu formal". Ucap Ayunda


"Baik uyut Unda. Mara juga belum tahu tentang cinta atau lawan jenis".Kata Tunggul.


"Nanti pelan pelan Tunggul. Asal kau menyetujui, kita bisa mendukung Yuda dan Mara selangkah demi selangkah sampai putrimu menginjak remaja dan dewasa". Ungkap Baruna.


"Tentu kami setuju uyut Baruna". Ucap Tania mantab. Ia tidak ingin membuang buang waktu dan kesempatan. Laki laki seperti Yuda sangat langka.


Tunggul menghelai nafas. Jika istrinya sudah begini. Tania sulit untuk mengerem. Gas pool tanpa mendalami permasalahannya.


"Bagaimana Tunggul". Tanya Ayunda tak sabar. Ia tak mau kehilangan moment krusial untuk buyutnya.


"Biarkan berjalan secara alami uyut Unda. Biarkan Mara tumbuh kembang seperti anak seusianya meski imajinasi sangat tinggi dan kadang absurd. Biarkan seperti itu dulu. Tunggul takut, kalau terlalu didorong Mara akan tertekan". Ucap Tunggul hati hati.


"Tentu Tunggul, kita bersama sama akan saling mendukung supaya Mara merasa nyaman". Ucap Ayunda meyakinkan Tunggul.


"Bagaimana denganmu Yuda?". Tanya Tunggul


"Yuda ikut apa kata orang tua. Apapun itu pasti yang terbaik untuk Yuda dan Mara". Kata Yuda bijak.

__ADS_1


"Setelah kita mendapatkan kata sepakat, aku berencana menemui Pandhu". Sela Baruna.


"Apa kami perlu ikut?". Tanya Tania. Ia juga ingin mendapat dukungan kedua uyut.


"Tentu, kalian orang tua Mara". Tegas Baruna


"Bagaimana dengan uyut Susmita?". Kali ini giliran Tunggul yang bertanya. Ia masih ngeri memikirkan baku hantam kedua uyut perempuan.


"Tenang saja Tunggul. Demi Yuda dan Mara, aku akan mengakhiri perselisihanku dengan Susmita. Sudah saatnya kita berdamai demi keturunan kita". Ucap Ayunda dengan ekspresi serius.


Baruna sampai menganga. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar


"Kau baik baik saja, manis?".


"Jangan mengejekku. Kau pikir mudah apa menyingkirkan dendam kesumatku padanya. Tapu demi buyutmu dan uyutnya Susmita, aku rela menekan egoku".


"Kau memang istri manis tersayangku". Rayu Baruna. Ia lupa saat ini ada enam mata yang melihat adegan uwuu mereka


"Aduh malu sama mereka bertiga uyutnya Yuda". Tunjuk Ayunda pada ketiganya.


Baruna hanya terkekeh. Lalu katanya,


"Besuk pagi kita temui Pandhu. Susmita akan aku serahkan pada Satria dan Pelangi". Kata Baruna


"Baik uyut Baruna". Ucap mereka bertiga hampir bersamaan.


"Sekarang istirahatlah. Kalian pasti lelah". Ucap Ayunda .


Ketiganya segera pamit. Yuda kembali ke Dhayoh Utomo bagian paling belakang. Ia sengaja memilih paling belakang karena dibelakangnya terhampar tanah lapang yang luas. Setiap pagi ia selalu menyempatkan diri untuk mengasah ilmu kanuragan dan ilmu ilmu dari leluhur. Gemricik air dari aliran sungai kecil juga sangat disukainya. Ikan ikan terlihat jelas sehingga menambah indah pemandangan.


"Mara pasti suka jika diajak kesini. Gadis kecilku sepertinya tidak tahu apa apa selain rumahnya. Aku akan memperkenalkan dunia selain rumahnya sedikit demi sedikit agar wawasan dan ilmunya bertambah. Dengan begitu pikirannya akan terbuka". Pikiran Yuda berkelana. Ada banyak rencana yang ia siapkan untuk Mara.


"Aku tak sabar menunggu pagi tiba. Apa Mara akan mengingatku dan mencariku atau dia akan melupakanku begitu saja". Yuda dihinggapi rasa cemas.


"Malam ini aku ingin memimpikan Maraku". Gumam Yuda


Jatuh cinta membuat seorang Prayuda Perkasa menjadi sedikit aneh. Tak biasanya dia melakukan hal yang tak logis.


Di Dhayoh Utomo yang lain, tempat Tunggul dan Tania menginap, Mara mengigau memanggil Yuda.


"Masak putrimu mengigau memanggil om ganteng om ganteng. Jelas lebih aku papanya". Tunggul mendumal


"Ya ampun Kanda. Masak cemburu sama calon menantu". Tania mengelus dada. Ulah suaminya kalau seperti ini memang kekanak kanakan.


"Ha ha ha om ganteng nanti ajari ayah masak biar pintar". Mara kembali mengigau

__ADS_1


Wajah Tunggul menegang. Memasak? Seumur umur ia paling anti masuk dapur karena dapur merupakan tempat terseram untuknya. Salah dikit seharian diomeli istrinya. Saat pengantin muda waktu itu ia hampir membakar dapur karena api dari kompor lupa dimatikan. Sejak saar itu ia alergi pada dapur. Tempat yang selalu ia hindari.


__ADS_2