
Cakra Dewa mencoba berdamai dengan hatinya. Ia kemudian berkata pelan,
"Jangan khawatir. Aku tidak akan membebanimu dengan perjodohan ini. Kau bisa mati muda jika seperti ini terus".
Tangis Safira semakin menjadi. Ia dalam delema besar. Ayah ibu, Dua klan, perjodohan berputar putar di kepala hingga membuat lagi lagi tak sadarkan diri.
"Gadis ini..." Cakra dengan cepat merengkuhnya dalam pelukan. Hatinya sakit melihat kondisi pujaan hati. Ia tak mungkin melanjutkan perjodohan yang digagas oleh uyut Satria.
"Apa jadinya jika aku menikahinya. Bisa bisa ia kena serangan jantung". Batinnya.
Pelan pelan dibaringkan lagi di gazebo berukir burung merak. Kembali di tepuk pelan pipi sang gadis dengan menyalurkan energi murni. Beberapa saat kemudian, Safira siuman. Kata pertama yang diucapkan Cakra padanya.
"Jangan pingsan, aku mohon. Aku akan mendengarkan semua kata hatimu setelah kau menenangkan diri. Tak perlu tergesa gesa dan jangan sungkan". Tuturnya lembut.
Cakra Dewa pada kesimpulan untuk saling menurunkan ego, bicara dari hati ke hati. Apapun hasilnya, ia akan berlapang dada menerima. Jika Safira jodohnya, ia percaya pasti akan banyak cara dan jalan menuju cintanya. Saat ini ia memutuskan untuk menjadi pendengar. Wait and see. Ia mencoba mengkondisikan perasaannya. Tatapannya jauh memandang hamparan hijau menyejukkan mata. Penciumannya mendeteksi aroma tubuh manusia diantara tinggi pepohonan lebat.
"Apa boleh aku tinggal sebentar. Jangan kemana mana ya. Aku mohon". Ucap Cakra. Ia lalu segera pergi secepat kilat dari tempat itu.
Tinggalah Safira yang kebingungan. Ia menengok ke kiri dan ke kanan, suasana sepi membuat bulu kuduknya berdiri.
Sekuat tenaga ia mencoba berdiri tapi gagal. Emosi tinggi dan suasana hati tak karuan menguras energi murni dari dalam tubuhnya.
"Tubuhku lemas sekali, seperti tak ada tenaga. Ayah Ibu maafkan Safira sudah membuat khawatir kalian berdua". Batinnya sedih.
"Cakra menyuruhku menunggu. Kalau aku pergi, nanti aku pasti dimarahi. Mukanya serem sekali kalau marah hiii". Katanya bermonolog.
Akhirnya, ia pun menunggu dengan muka penuh kewaspadaan. Tak lama kemudian Cakra Dewa muncul dari kejahuan. Hati Safira menjadi lega.
"Dia baik". Gumamnya
"Dia juga ...". Lamunannya terganggu saat dehemen terdengar.
"Eh...air muka Safira memerah, ia jadi salah tingkah.
__ADS_1
"Kau dari mana? Mengapa aku ditinggal? Disini sepi, tidak ada orang". Katanya.
Cakra Dara tersenyum lebar. Ia senang, gadis pujaannya sudah kembali seperti awal.
"Maaf kalau membuatmu cemas. Tadi ada keperluan sebentar". Ujar Cakra.
Sudut matanya kembali melihat pergerakan kasar. Ia mendengus. Bik Sumi susah benar dikasih tahu. Padahal pembicaraan tadi sudah sangat gamblang.
"Bik Sumi keluarlah, jangapn suka mengintip pembicaraan orang".
Nama yang disebut segera keluar dengan wajah pura pura bersalah sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
"Maaf Tuan ganteng Cakra, bik Sumi hanya menjaga dari segala kemungkinan. Ndoro ayu Safira kan masih muda, cantik, pintar tapi minim pengalaman.Jadi sudah tugas bik Sumi mengawasi meski sembunyi sembunyi". Ujar perempuan tua itu sambil melirik Safira yang cemberut mendengar penjelasannya.
Sementara Cakra Dewa menyentuh hidung mancungnya. Ia tidak tahu harus bilang apa. Orang tua didepannya ini sungguh membuatnya mati gaya.
"Bik Sumi, apa Cakra diijinkan untuk bicara sebentar dengan Safira".
"Silahkan Tuan ganteng Cakra".
"Bik Sumi, ijinkah saya Cakra Dewa berbicara masalah penting. Jadi bik Sumi tolong kesana dulu". Kata Cakra menunjuk pohon rindang diujung jalan berbatu".
"Tapi Tuang ganteng Cakra...". Belum sempat meneruskan kalimatnya, Safira sudah memberi kode lewat tangan.
Bik Sumi cemberut. Bibirnya manyun ke depan. Ia sungguh tak rela, gadis yang diasuhnya sejak bayi lepas dari pengawasannya. Sardi dan Suradi sampai menutup kuping saat ia mengomeli keduanya yang hanya melihat Safira dan Cakra dari jarak jauh saat tiba ditempat ini.
"Bik Sumi ayo kesana dulu, habis itu kita pulang". Bujuk Safira.
"Janji ya ndoro ayu Safira, kita pulang. Bik Sumi sudah kangen sambel bledek buatan mbok Darsi".Ucapnya riang
"Iya janji, ayo cepat kesana dulu" Katanya lagi
Bik Sumi kemudian undur diri. Ia berjalan sambil sesekali menoleh kebelakang membuat Safira gemas bukan main.
__ADS_1
"Bik Sumi nggak usah noleh noleh gitu. Jalan saja lurus ya". Perintah Safira.
Cakra dan Safira menunggu sampai bik Sumi duduk dibawah pohon rindang, barulah mereka memulai pembicaraan.Cakra mengawali dengan menanyakan terlebih dulu apakah Safira sudah siap dan mendapatkan anggukan dari gadis cantik itu.
"Aku ingin bertanya tentang perjodohan yang diusulkan uyut Satria kepada ayah ibumu. Awalnya mereka menolak tapi setelah mendapatkan jaminan bahwa kedua klan akan duduk bersama untuk membahas hal ini dan disaksikan para sesupuh kedua belah pihak, kedua orang tuamu menyetujuinya. Apa pendapatmu?". Tanya Cakra hati hati. Dilihatnya perubahan muka sang pujaan yang menegang.
"Kalau kau tidak ingin menjawab, cukup gelengkan kepalamu, Safira. Disini aku ingin menyelesaikan baik baik bukan membebanimu". Ucap Cakra.
"Aku hanya terkejut, secepat itu uyut Satria punya rencana. Aku masih bingung. Jujur aku belum bisa berfikir apa apa". Ungkap Safira lugu.
"Tak apa. Aku suka jawabanmu yang apa adanya". Kata Cakra
"Safira, kau bisa mengungkapkan isi hatimu saat pertemuan kedua klan nanti. Tanya hatimu, karena yang menjalani seumur hidup adalah dirimu. Jika kau bersedia kau akan menjadi istriku selamanya. Hanya maut yang bisa memisahkan kita". Tutur Cakra.
"Cakra, boleh aku tanya tentang pernikahan paman Jayendra? Aku dengar paman dijodohkan dengan bundanya Ang untuk melemahkan kekuatan Jalmo Peteng. Apa benar seperti itu?".
"Kau benar. Titik titik Jalmo Peteng yang tersebar langsung porak poranda saat kebahagian dan kebaikan terjadi, salah satunya dengan pernikahan. Jika bukan karena itu, budhe Bening tidak mungkin mau menikah lagi. Cintanya pada pakdhe Guntur sangat luar biasa dalam".
"Jadi pernikahan itu juga merupakan pengorbanan begitu?".
"Tepatnya kerelaan, kebesaran hati dan keikhlasan. Tanpa itu pernikahan budhe Bening akan bertepuk sebelah tangan. Kau pasti tau kisah tuan Jayendra bukan?".
"Iya. Aku tahu. Pakdhe Jayendra patut untuk bahagia. Cintanya pada bundanya Ang sangat besar dan tulus".
"Pernikahan Ang dan adik adiknya punya maksud yang sama, Safira. Ang mengesampingkan egonya. Bunga Cantik Abadi sebagai pertanda dengan siapa ia menikah. Kau tahu bunga misterius itu sampai saat ini dipercaya kedua klan sebagai simbol dan tanda pernikahan. Dan hati keduanya dekat bertepatan tumbuhnya bunga itu".
"Aku tahu. Bunga itu seperti mak comblang".
"Iya kau benar. Saat nanti bunga itu hadir di kediamanmu, hatimu akan mendekat pada jodohmu, Safira".
"Bunganya sudah datang padaku tiga tahun yang lalu".
"Apa maksudmu sudah datang?"
__ADS_1
"Iya, ia datang di dekat kolom kecil yang ada di Taman Bunga buatanku. Baunya wangi. Apalagi setelah kesentuh, kuncupnya langsung mekar. Ada seperti bunga Dandelion bercahaya, membuatku seperti melayang, masuk lewat kepalaku. Rasanya sangat damai"
"Apa keberadaan bunga itu setelah kejadian di air terjun Banyu Arum?". Tanya Cakra spontan, membuat mata Safira melotot. Kejadian memalukan itu kembali melayang layang di matanya.